NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Menyelamatkan

Sebuah taksi berhenti mendadak di depan gerbang rumah keluarga Argas.

Tara langsung turun dengan napas terengah. Wajahnya pucat karena panik. Buru-buru mendekati pos satpam. “Pak! Pak!”

Satrio yang sedang berjaga langsung berdiri. “Iya Mbak?”

“Saya Tara, temannya Aurel!”

Satrio langsung mengernyit. “Ada apa?”

Tara hampir menangis. “Aurel diculik!”

Deg.

Wajah Satrio langsung berubah kaget. “Apa?!”

Tara Menjelaskannya. “Saya lihat sendiri! Ada orang bawa Aurel dengan paksa masuk mobil!”

Tanpa membuang waktu, Satrio langsung berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Tara berdiri gemetar di depan gerbang. Tangannya dingin, pikirannya kacau. Tara terus menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan Aurel pulang sendirian.

Di ruang tamu, Bagaskara baru saja melepas jas.

Indah sedang duduk sambil minum teh. Sementara Arvano baru turun dari lantai atas.

Satrio masuk dengan napas terburu-buru. “Tuan!”

Semua langsung menoleh.

“Ada apa?” Tanya Bagaskara.

Satrio terlihat panik. “Mbak Aurel, diculik!”

Deg.

Ucapan Satrio membuat suasana rumah langsung membeku.

Cangkir teh di tangan Indah hampir jatuh. “Apa?!”

Bagaskara langsung berdiri. “Jelaskan!”

Satrio buru-buru berkata, “Temannya Mbak Aurel datang, katanya Mbak Aurel dibawa orang!”

Wajah Arvano langsung berubah pucat. “Di mana Tara?!”

“Di depan.” Sahut Satrio.

Arvano langsung berlari keluar rumah tanpa menunggu lagi.

Indah dan Bagaskara ikut menyusul.

Begitu melihat Tara, Arvano langsung mendekatinya cepat. “Tara?!”

Tara langsung mengangguk panik. “Saya lihat sendiri, Aurel dibawa mobil hitam.”

“Ke mana?!” Tanya Arvano.

“Saya enggak tahu, jalannya cepat banget.” Tara mulai menangis. Lanjut ucap Tara “Maaf, saya enggak bisa nolong.”

Namun Arvano langsung menggeleng keras. “Bukan salah lo.” Meski berkata begitu, tangannya sendiri sudah gemetar hebat. Karena Arvano benar-benar takut kehilangan Aurel.

Arvano langsung mengeluarkan ponselnya. Tangannya bergerak cepat mengetik pesan di grup.

^^^Arvano: "Aurel diculik, cari sekarang juga. Bawa mobil masing-masing".^^^

Tak sampai satu menit, balasan temannya langsung berdatangan.

Alga: "APA?!"

Devon: "Lokasi terakhir?!"

Fero: "Gue langsung keluar."

Arvano mematikan hp nya lalu meletakkannya kesaku celananya.

Bagaskara langsung mengambil alih situasi. “Kita berpencar.”

Arvano mengangguk cepat. “Aku cari ke arah jalan utama.”

“Aku sama Satrio ke arah barat,” kata Bagaskara.

Indah langsung berkata panik, “Aku ikut!”

“Tidak!” Bagaskara menatap istrinya serius. Lanjut Ucap Bagaskara “Bahaya.”

Namun Indah tetap keras kepala. “Itu Aurel!”

Arvano langsung bicara cepat. “Mama di rumah aja sama Tara. Kalau Aurel balik atau ada telepon, kasih tahu kami.”

Indah akhirnya terdiam. Meski berat, Indah tahu mereka benar.

Tak lama kemudian, Beberapa mobil langsung keluar dari rumah keluarga Argas dengan cepat.

Sepanjang perjalanan, Arvano menggenggam setir sangat kuat. Pikirannya benar-benar kacau. Bayangannya Aurel terus muncul di kepalanya. Senyumnya, tawanya, dan cara gadis itu memanggil namanya.

Dan sekarang, entah bagaimana keadaan Aurel. Arvano bahkan tidak berani membayangkannya. Karena sejak mengenal Aurel, baru kali ini Arvano merasakan takut setengah mati, yaitu takut kehilangan seseorang.

Sementara itu, Aurel perlahan mulai sadar. Kepalanya terasa sangat berat, pandangannya kabur, tubuhnya lemas, dan mencoba bergerak pelan.

Namun begitu matanya terbuka, Aurel langsung membeku. Ruangannya gelap dan kotor, temboknya kusam. Bau lembap memenuhi udara.

Dan di depannya, ada dua pria asing sedang duduk sambil menatapnya.

Aurel langsung panik. “A-aku di mana?!”

Salah satu pria tertawa kecil. “Bangun juga.”

Aurel buru-buru mundur ketakutan. “Kalian siapa?!”

Namun pria satunya malah mendekat membawa botol kecil. “Minum ini.”

Aurel langsung menggeleng panik. “Enggak mau!”

Pria itu menarik dagunya kasar. “Minum!”

Aurel memberontak. Namun tubuhnya terlalu lemas. Dan akhirnya, cairan itu dipaksa masuk ke mulutnya.

Beberapa menit kemudian, kepala Aurel mulai terasa semakin pusing. Pandangannya berputar, tubuhnya melemah dan panas.

Saat itu, Aurel mulai sadar sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Tatapan kedua pria itu berubah menyeramkan. Salah satu dari mereka bahkan mulai mengeluarkan ponsel. Mau merekamnya.

Aurel langsung ketakutan luar biasa. “Jangan…” Air matanya mulai jatuh. “Tolong…”

Namun pria itu malah tertawa. “Tenang aja.”

Saat salah satu pria mulai mendekat, ada yang dorong pintu keras sekali.

BRAK!

Di sisi lain, Arvano masih menyusuri jalan demi jalan. Namun semakin lama, dadanya semakin tidak tenang.

Hingga akhirnya, mobilnya memasuki jalan yang cukup sepi. Lampu jalan mulai jarang, tidak ada rumah, tidak ada kendaraan.

Dan entah kenapa, tatapan Arvano langsung tertuju ke sebuah rumah kosong tua di ujung jalan. Keningnya langsung berkerut. Rumah itu terlihat mencurigakan. Lampunya mati. Namun pintu depannya sedikit terbuka.

Mobil Alga dan Devon datang dari belakang. “Kok berhenti?”

Arvano langsung turun cepat. “Ada yang aneh.”

Mereka semua langsung melihat rumah kosong itu. Suasana mendadak terasa dingin.

Fero yang baru datang ikut mengernyit. “Jangan bilang…”

Tanpa menunggu lagi, Arvano langsung berlari menuju rumah itu.

“ARVANO!” teriak Alga.

Namun Arvano sudah lebih dulu sampai di depan pintu. Saat mendengar suara samar dari dalam, Arvano langsung mendobrak pintu.

BRAK!! Pintu terbuka keras.

Semua langsung masuk. Pemandangan di dalam membuat darah Arvano mendidih seketika. Aurel terduduk lemas di lantai sambil menangis. Bajunya sedikit berantakan.

Sementara dua pria itu langsung panik. “SIAPA KALIAN?!”

Belum sempat mereka kabur, BUGH!

Tinju Arvano langsung menghantam salah satu pria sampai jatuh. “BERANI SENTUH DIA?!”

Alga dan Devon langsung menangkap pria satunya.

Ruangan langsung kacau.

Sementara Aurel hanya bisa menangis gemetar. “Mas…”

Arvano langsung menoleh cepat. Begitu melihat keadaan Aurel, hatinya terasa hancur.

Arvano buru-buru melepas jaketnya lalu menyelimuti tubuh Aurel. “Aurel…”

Aurel langsung memeluk Arvano sambil menangis. “Takut.” Ucapannya Aurel membuat Arvano hampir kehilangan kontrol emosinya.

“Udah… udah aman.” Tangannya Arvano gemetar saat memeluk Aurel. Karena Arvano sadar, dirinya hampir terlambat.

Tak lama kemudian, Bagaskara dan Satrio juga sampai. Begitu melihat keadaan Aurel, Wajah Bagaskara langsung gelap penuh amarah. “Kunci mereka.” Dua pria itu langsung diikat.

Sementara Arvano menggendong Aurel keluar rumah kosong. Tubuh gadis itu masih lemas karena obat. Kepalanya bersandar di dada Arvano.

Di sepanjang jalan menuju mobil, Arvano terus menggenggam tangan Aurel erat. “Jangan tidur.”

Aurel mengangguk lemah. Air matanya masih jatuh pelan.

Rumah sakit langsung ramai saat mereka datang. Dokter dan perawat buru-buru membawa Aurel masuk. Arvano berdiri di depan ruang pemeriksaan dengan napas kacau. Tangannya masih gemetar.

Alga menepuk bahunya pelan. “Dia selamat.” Namun Arvano hanya diam dengan tatapannya kosong ke arah pintu ruangan, karena pikirannya terus dipenuhi satu hal. Bagaimana kalau tadi mereka terlambat sedikit saja?

Tak lama kemudian, Indah dan Tara datang tergesa-gesa.

Tara langsung menangis saat melihat Arvano. “Gimana Aurel?!”

“Masih diperiksa.” Sahut Arvano yang singkat.

Indah duduk lemas di kursi rumah sakit dengan wajahnya pucat. Indah benar-benar menyayangi Aurel seperti anak sendiri sekarang.

Sementara itu, Dua pria penculik sudah diamankan. Namun sebelum dibawa polisi, Bagaskara sempat bertanya dingin. “Siapa yang nyuruh kalian?”

Awalnya mereka diam. Namun setelah diancam akan dipenjara lama, salah satu pria akhirnya bicara pelan. “Erika.”

Semua langsung membeku. Pria itu melanjutkan gemetar, “Dia yang nyuruh ngawasin Aurel… Dia juga yang nyuruh kasih obat.”

Wajah Bagaskara langsung mengeras. Sementara Arvano mengepalkan tangannya sangat kuat, kebencian besar mulai muncul di dalam dirinya untuk Erika.

Beberapa saat kemudian, Dokter akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan. “Pasien selamat.”

Semua langsung menghela napas lega.

Lanjut Ucap Dokter “Tapi pasien mengalami trauma dan efek obat penenang.”

Arvano langsung bertanya cepat, “Dia enggak diapa-apain kan?”

Dokter mengangguk. “Untungnya belum sempat terjadi sesuatu.” Ucapan Dokter membuat Arvano memejamkan mata lega.

Namun, di dalam rumah sakit berjarak jauh sedikit. Seseorang sedang memperhatikan semuanya diam-diam yaitu Erika. Dengan tatapannya yang dingin, tangannya mengepal kuat. “Kenapa selalu gagal.”

Saat melihat Arvano begitu khawatir pada Aurel, kebenciannya Erika justru semakin besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!