Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
Gedung pusat Valehart Group berdiri angkuh di tengah kota. Bangunannya megah, penuh dengan marmer gelap dan pilar-pilar besar yang seolah sengaja dibuat untuk mengintimidasi siapa pun yang masuk.
Di dalam ruang rapat utama, suasananya jauh lebih dingin. Udara di sana terasa berat oleh aroma kulit kursi yang mahal dan rasa cemas yang mulai memenuhi ruangan.
Lucien duduk di kepala meja mahoni yang panjang. Kehadirannya mendominasi segalanya saat ia menatap sekelompok investor yang tampak mulai putus asa.
"Angka-angka ini tidak masuk akal," ujar Lucien datar. Suaranya setajam mata pisau.
Ia bahkan tidak melirik dokumen di depannya. Lucien tidak perlu melakukan itu— sudah menghafal setiap kesalahan kecil yang ada di sana.
"Kalian meminta perpanjangan waktu hanya karena merasa optimis? Maaf saja, saya tidak berinvestasi pada sebuah harapan."
Investor utama di depannya, seorang pria tua dengan dahi yang berkeringat, mulai terbata-bata. Ia memajukan tubuhnya, mencoba mencari simpati.
"T-tapi Tuan Valehart, kami sudah bekerja sama dengan keluarga Anda selama sepuluh tahun. Jika Anda menarik dukungan sekarang, ratusan keluarga karyawan kami akan kehilangan segalanya dalam semalam. Kami hanya butuh sedikit waktu lagi..."
Mata abu-abu Lucien menajam, langsung membungkam pria itu sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Gunakan efisiensi, bukan emosi," potong Lucien dingin. Ia tidak peduli dengan drama keluarga yang baru saja diucapkan pria itu.
"Sejarah kerja sama tidak bisa menutupi kerugian di atas kertas. Revisi proposal ini sebelum fajar, atau saya akan mengambil alih seluruh aset kalian dengan harga sampah."
Para investor itu bergegas keluar. Langkah mereka kacau, wajah-wajah mereka pucat pasi karena sadar mereka baru saja lolos dari kehancuran total.
Begitu pintu berat itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang sedikit memekakkan telinga, Lucien tidak langsung menyentuh laporannya lagi.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk kota. Namun, pikirannya tidak ada di sana.
Tangannya bergerak tanpa sadar, mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang dingin.
"Begitu banyak orang yang bergantung pada harapan kosong," gumamnya pelan pada ruangan yang sunyi itu.
Ia teringat noda biru di jemari Aurora semalam. Berbeda dengan para investor tadi yang berantakan karena angka, Aurora tampak sangat... hidup hanya karena setumpuk pigmen warna. Sebuah reaksi yang menurut logikanya sangat konyol, tapi entah kenapa terus berputar di kepalanya.
Lucien menarik jam saku emasnya, ibu jarinya mengusap permukaan logam itu sebentar.
"Jangan kecewakan aku, Aurora," bisiknya hampir tak terdengar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Lucien mendapati dirinya sedang menghitung waktu. Bukan karena menunggu bursa saham dibuka, tapi karena ia ingin segera pulang untuk melihat seberkas warna di atas kanvas.
......................
Sementara itu di museum, Aurora benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri.
Asistennya, Bella—seorang gadis ceria dengan kacamata besar yang selalu merosot di hidung dan noda cat kuning di celemeknya—tampak hampir melompat kegirangan.
"Nyonya Aurora! Biru kobalt ini... gila! Ini benar-benar luar biasa!" pekik Bella sambil menari-nari kecil di sekitar kanvas.
"Warnanya mirip kedalaman samudra di tengah malam. Saya berani taruhan, Tuan Valehart bisa kena serangan jantung kalau melihat ini. Bayangkan! Si Raja Es, mencair hanya karena satu goresan kuas!"
Aurora tertawa. Suaranya terdengar lepas dan tulus.
"Bella, jangan konyol. Dia mungkin cuma akan mengomentari berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya catnya kering," sahut Aurora sambil terus menggerakkan kuasnya.
"Mungkin saja," Bella nyengir lebar.
"Tapi coba lihat dirimu sekarang! Anda tampak bersinar, Aurora. Ini bukan sekadar lukisan lagi. Bagi saya, ini sebuah revolusi."
"Jangan berlebihan," gumam Aurora.
Meski begitu, ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis yang mulai bermain di bibirnya. Ia melangkah mundur beberapa tindak, memicingkan mata untuk memperhatikan hasil karyanya.
Warna biru yang pekat itu tampak menyatu dengan seberkas cahaya yang samar, menciptakan sebuah ketegangan yang entah kenapa... terasa sangat mirip dengan hidupnya sendiri.
Penuh rahasia dan perasaan yang tertahan.
Saat ia mulai merapikan peralatan di studionya, rasa gugup yang aneh tiba-tiba menyergap. Jantungnya berdebar tidak karuan setiap kali ia teringat kata periksa yang diucapkan Lucien semalam.
Apa yang sebenarnya pria itu cari?
Apakah ini hanya sebuah tinjauan bisnis yang dingin untuk memastikan investasinya tidak sia-sia?
Atau, apakah ada sesuatu yang lain di balik itu semua?
Aurora menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, setiap kali ia melirik ke arah pintu studio, ia merasa seolah sedang menunggu sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penilaian sebuah lukisan.
"Aduh, Nyonya, anda sudah merapikan tabung cat itu lima kali dalam semenit," celetuk Bella sambil menyandarkan bahu di pintu.
Aurora tersentak, tangannya yang sedang memegang lap kain langsung terhenti. "Saya hanya memastikan semuanya terlihat... profesional."
"Profesional atau Nyonya takut Tuan Besar Valehart akan memeriksa sidik jari di atas meja ini?" Bella tertawa kecil, lalu mendekat dan menyenggol bahu Aurora dengan akrab.
"Tenanglah. Kalau dia tidak suka lukisan ini, biar saya yang membelinya. Saya akan membayarnya dengan cicilan seratus tahun. Bagaimana?"
Aurora akhirnya terkekeh, rasa tegang di bahunya sedikit mengendur. "Seratus tahun? Saya rasa saya akan rugi besar, Bella."
"Setidaknya saya memberikan 'apresiasi', bukan 'inspeksi'," Bella mengedipkan sebelah matanya, lalu mulai membereskan tasnya.
"Sudahlah, saya pulang duluan ya. Saya tidak mau berada di sini saat 'Raja Es' itu datang. Takut kalau saya tidak sengaja bernapas terlalu keras, dia akan langsung memecat saya dari dunia ini."
Bella melambaikan tangan dengan ceria sambil berlari kecil keluar dari studio, meninggalkan Aurora sendirian dalam keheningan yang mendadak terasa jauh lebih berat.