Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Cemburu?
Bayangan Aurin yang sangat berani membuka pakaian dan membiarkan tubuhnya terekspos di depannya melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu benar-benar membuat pikiran Gallelio menggila. Sering kali pria itu kehilangan fokus saat bertemu dengan klien. Bayangan wajah cantik yang sialnya kini terlihat semakin menarik terus saja menghantui pikirannya.
Sesaat Gallelio yang terus menyangkal perasaannya merasa dirinya benar-benar sudah gila. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak disuguhi pemandangan seintim itu, naluri kelaki-lakiannya menjadi meronta. Dan apa salahnya? Lagipula Aurin adalah istrinya, pikir Gallelio yang terkadang mengakui status gadis itu namun di lain waktu masih enggan menerima.
Namun anehnya, beberapa malam terakhir hal-hal yang nyaris sama justru lebih sering terjadi. Entah dari mana datangnya keberanian itu, gadis kecilnya kini sudah menjadi sangat berani. Amat sangat berani, mungkin karena ia merasa Gallelio tidak akan bisa menghukumnya secara langsung sebab jarak mereka yang jauh.
Siang ini Gallelio tengah menikmati makan siang di sebuah restoran bersama rekan bisnisnya setelah mereka selesai membahas proyek besar.
"Terima kasih, Pak Gallelio. Senang bisa bekerja sama dengan Anda," ujar pria matang berwibawa itu sembari menjabat tangan Gallelio sebelum akhirnya berpamitan lebih dulu.
"Sama-sama, Pak."
Kini hanya tersisa Gallelio dan asistennya di meja tersebut. Mereka pun memutuskan untuk ikut bersiap keluar dan kembali ke vila.
Ting!
Ponsel Gallelio yang berada di atas meja terus saja berbunyi. Seperti biasa, ia sudah bisa menebak dari mana datangnya notifikasi bertubi-tubi itu. Gallelio segera membuka aplikasi berwarna hijau tersebut, dan benar saja, nomor adiknya tertera di paling atas.
Kak, dua puluh juta sekarang. Saya akan mengirim kegiatan kakak ipar hari ini, pesan Ayuna di sana. Pesan itu disertai dengan tangkapan layar galeri ponselnya yang sengaja ditutupi stiker besar, sengaja ingin membuat kakaknya itu mati penasaran.
Gallelio mendesah panjang. Ia kembali mendudukkan dirinya di kursi setelah sebelumnya sempat berdiri bersiap untuk pergi.
"Matre!" ujarnya sangat pelan dengan dahi berkerut.
Meskipun mengumpat, tangannya bergerak cepat mentransfer sejumlah uang yang diminta oleh adiknya tanpa banyak protes.
Cek rekening! balasnya singkat.
Hanya butuh waktu beberapa detik setelah pesan itu terkirim, notifikasi bertubi-tubi kembali masuk ke ponselnya. Ayuna menepati janji dengan mengirimkan banyak sekali foto kegiatan Aurin seharian ini.
Kami sekarang sedang di rumah, membuat roti bersama Mama, tulis pesan Ayuna berikutnya.
Gallelio menggulir semua foto yang dikirimkan oleh adiknya. Foto Aurin dan mamanya yang sedang berdiri berdampingan membuat roti terlihat sangat bagus. Seulas senyum terbit tanpa sadar dari bibir pria itu. Guratan tipis yang sangat langka tersebut rupanya cukup jelas untuk disadari oleh Revan, sang asisten yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya.
"Ada yang lucu, Tuan?" tanya Revan memecah keheningan.
"Iya, lucu," jawab Gallelio singkat, matanya masih terfokus penuh pada layar ponsel.
Revan mengernyitkan keningnya dalam. Didorong rasa penasaran yang besar, ia akhirnya berdiri dan sedikit mengintip untuk melihat apa yang bisa membuat bosnya yang datar itu tersenyum di tempat umum.
"Nona Aurin cantik ya, Tuan?" tanya Revan sembari menyunggingkan senyum tipis.
"Iya—HAH, NGAPAIN KAMU?!" bentak Gallelio mendongak, menatap Revan dengan pandangan tajam. Tangannya bergerak secepat kilat menekan tombol power untuk mematikan layar ponselnya.
"Hanya melihat apa yang membuat Anda tersenyum di tempat umum, Tuan," jawab Revan dengan nada setengah menggoda, membuat Gallelio langsung mendelik kesal.
"Lancang!" ujarnya tajam, berusaha memulihkan wibawanya yang runtuh.
"Maaf, Tuan. Tapi Nona Aurin memang benar-benar cantik, kan?" Revan masih belum menyerah.
"Biasa saja!" jawab Gallelio ketus.
Pria itu akhirnya berdiri dari kursinya, menyimpan ponsel ke dalam saku celana, lalu berjalan cepat ke luar restoran. Ia tidak ingin memberi celah sedikit pun bagi Revan untuk terus menggodanya.
.
.
.
'Roti paling enak, hasil buatan Mama dan Kakak Ipar!'
pesan yang dikirim Ayuna disertai foto roti dan foto mereka yang tengah berada di meja makan. Namun bukan itu yang menjadi fokus Gallelio, melainkan dua orang yang duduk berdekatan dalam foto tersebut, Ezra dan istrinya, Aurin.
"Revan, lebih cepat!" perintah Gallelio mendadak berubah. Wajahnya yang tadi sempat tersenyum kini kembali datar. Ia meremas ponsel di tangannya, lalu menatap tajam ke arah jalanan di luar.
"Ambil barang saya, saya mau pulang sekarang!" perintahnya lagi dengan raut wajah dingin.
Revan sampai heran. "Tapi, Tuan. Urusan kita di sini masih ada dua ha—"
"Saya mau pulang sekarang, Revan! Cepat pesan tiket dan ambil barang-barang saya. Perkara pekerjaan, itu kamu yang urus!" ujarnya tidak menerima bantahan.
Revan hanya mengangguk, lalu berlari masuk ke dalam vila untuk mengambil koper tuannya. Tak butuh waktu lama, ia sudah keluar lagi dengan sangat cepat menuju mobil.
Mobil segera berputar arah menuju bandara. Revan juga langsung memesan tiket yang untungnya masih menyisakan jadwal penerbangan beberapa menit lagi.
...----------------...
Gallelio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman kedua orangtuanya. Tepat saat ia baru saja tiba dan memarkirkan kendaraan, Aurin, Geanetta, dan Ayuna baru saja melangkah keluar ke halaman rumah. Mereka tengah diantar oleh Mama Amanda, bersiap untuk pulang sembari membawa wadah berisi roti hasil buatan mereka.
"Loh, Gallel? Kamu sudah pulang? Bukannya seharusnya masih ada urusan dua hari lagi di sana?" tanya Mama Amanda heran sembari menghampiri putra sulungnya itu.
Gallelio kini sudah berdiri di depan mobil. Sepasang matanya langsung tertuju penuh pada sosok Aurin, memperhatikannya dengan tatapan tajam tanpa berkedip sedikit pun. Tatapan mengintimidasi itu seperti mengirimkan sinyal bahaya bagi Aurin, membuat gadis itu seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Tidak jadi, Ma. Keburu kucing saya menjadi semakin liar di rumah!" jawab Gallelio asal, membuat kening ibunya langsung berkerut dalam karena bingung.
"Kucing? Sejak kapan kamu memelihara kucing?"
"Sudah lama. Sudah ya, Ma. Gallel tidak bisa berlama-lama di sini, mau menjemput Aurin pulang," ujar Gallelio. Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung menarik pergelangan tangan Aurin dengan tegas, membimbingnya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Anet jangan lupa diajak, Gallel!" seru Mama Amanda mengingatkan cucunya yang masih berdiri.
"Dia menginap saja malam ini di sini!" tolak Gallelio mutlak.
Pria itu langsung menutup pintu mobil, masuk ke balik kemudi, dan melajukan kendaraannya membelah jalanan, sama sekali tidak memberikan celah bagi putrinya untuk ikut pulang bersama mereka.
"Sudah puas? Puas bertemu dengan adik saya hari ini?" tanya Gallelio dengan suara tajam sembari menatap mata Aurin yang langsung menoleh ke arahnya.
Mobil mereka sudah berhenti tepat di dalam garasi rumah, namun keduanya belum juga turun. Tepatnya, Gallelio sengaja masih mengunci pintu mobilnya rapat-rapat.
"Sudah berani kamu terang-terangan di belakang saya, Aurin?"
Aurin mengernyit bingung. "Apa maksudnya?" tanyanya tidak mengerti.
"Pergi ke rumah Mama tanpa memberi tahu saya, lalu di sana duduk berdekatan dengan Ezra. Apa yang kalian bicarakan? Nostalgia? Kamu mau cari muka atau memang ingin menggoda adik saya?" tanya Gallelio bertubi-tubi dengan dada yang bergemuruh naik turun.
"Terus, Tuan cemburu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...