Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Asisten dan Rival di Lantai Teratas
Pagi itu, Devan Jacob memasuki lobi utama Jacob Tower dengan perasaan yang sangat asing. Jika biasanya ia datang ke kantor ini dengan gaya bos besar yang hanya ingin meminta uang saku, kini ia mengenakan setelan jas yang rapi namun tanpa pin direksi. Di dadanya tersemat kartu identitas bertuliskan: Asisten Eksekutif – Magang.
Vanya berjalan di depannya dengan langkah cepat dan tegas, sementara Pak Hans mengikuti di belakang. Devan harus berusaha menyamai langkah panjang istrinya yang hari itu tampak sangat memukau dengan setelan kantor berwarna biru dongker.
"Tugas pertamamu," ucap Vanya tanpa menoleh saat mereka masuk ke dalam lift, "adalah menyusun ulang jadwal pertemuan siang ini dan memastikan semua berkas untuk rapat dewan sudah lengkap. Jangan ada yang terlewat, atau kamu akan pulang naik bus karena mobil perusahaan tidak akan menjemput asisten yang tidak becus."
"Iya, istriku," sahut Devan dengan nada sedikit menggoda, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Seketika langkah Vanya terhenti. Ia berbalik dengan gerakan cepat, menatap Devan dengan tatapan tajam yang seolah bisa melubangi dinding lift. Atmosfer di dalam ruang sempit itu mendadak turun beberapa derajat.
"Panggil aku Bu Vanya!" tegas Vanya dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Di kantor ini, tidak ada suami atau istri. Di sini hanya ada atasan dan bawahan. Jika kamu tidak bisa membedakan urusan rumah dan pekerjaan, silakan tinggalkan kartu identitasmu di meja resepsionis dan keluar dari gedung ini sekarang juga."
Devan tertegun, nyalinya sedikit menciut melihat kemarahan profesional Vanya. "Baik... Bu Vanya."
Begitu pintu lift terbuka di lantai tertinggi, pemandangan di lobi sekretariat langsung membuat rahang Devan mengeras. Di sana berdiri Billy Hutama. Pria itu tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memegang sebuket besar bunga lily putih favorit Vanya.
"Selamat pagi, Vanya," sapa Billy dengan senyum cerah. "Aku teringat kamu bilang sangat suka aroma lily saat kita di Paris kemarin. Kuharap ini bisa mencerahkan pagimu."
Vanya tersenyum—senyum tulus yang membuat Devan semakin terbakar cemburu. "Terima kasih, Billy. Kamu repot-repot sekali."
Devan segera melangkah maju, memposisikan dirinya di antara mereka. Ia merebut buket bunga itu dengan kasar.
"Wah, bunganya bagus sekali! Sini, biar aku—sebagai asisten—yang menyimpannya," ucap Devan sinis. "Silakan, Pak Billy, ada keperluan bisnis apa lagi? Kalau tidak ada janji, Ibu Vanya sangat sibuk."
Billy menaikkan sebelah alisnya, menatap kartu identitas di dada Devan lalu tertawa kecil. "Asisten magang? Karir yang menarik untukmu, Devan. Vanya, apakah asisten barumu ini selalu seposesif ini?"
"Dia sedang belajar, Billy. Maafkan ketidaksopanannya," ucap Vanya dingin, lalu melirik Devan dengan tajam. "Devan, taruh bunga itu di vas di ruanganku. Sekarang."
Devan mendengus, namun ia tidak bisa membantah. Ia membawa buket itu masuk ke ruangan Vanya. Ia baru sadar, menjadi asisten Vanya berarti ia harus menonton dari barisan paling depan bagaimana pria-pria berkualitas mencoba merebut perhatian wanita yang kini menjabat sebagai bosnya itu
Devan berdiri mematung di ambang pintu ruangan Vanya, tangannya masih mencengkeram buket bunga lily kiriman Billy dengan sisa-sisa tenaga yang menahan amarah. Dari posisinya, ia bisa melihat pantulan Vanya melalui kaca besar. Dan pemandangan itu benar-benar menghancurkan hatinya: Vanya sedang tertawa.
Bukan tawa sinis, bukan pula tawa formal yang biasa ia tunjukkan pada kolega bisnis. Itu adalah tawa lepas, tawa yang membuat matanya menyipit cantik—sesuatu yang hampir tidak pernah Devan lihat selama tiga tahun pernikahan mereka.
"Haha... kamu bisa aja, Billy," suara Vanya terdengar renyah hingga ke telinga Devan.
"Aku serius, Vanya. Kerja kerasmu bulan ini luar biasa, kamu butuh sedikit hiburan," sahut Billy dengan nada suara yang rendah dan menggoda. Pria itu sedikit condong ke arah Vanya, memperkecil jarak di antara mereka. "Nanti malam gimana kalau kita nonton? Ada film klasik yang baru saja di-remaster dan tayang terbatas di bioskop eksklusif pusat kota. Aku sudah siapkan tiketnya."
Devan menahan napas, berharap dalam hati Vanya akan menolak dengan alasan "jadwal padat" seperti yang selalu ia katakan pada Devan.
"Boleh," jawab Vanya ringan. "Kebetulan jadwal soreku tidak terlalu padat setelah rapat dewan. Aku rasa sedikit udara segar bukan ide yang buruk."
Billy tersenyum penuh kemenangan. "Hebat. Aku jemput jam tujuh?"
"Tentu."
"Apa-apaan ini?!" gumam Devan di balik pintu, rahangnya bergemeletuk. "Seenaknya saja mau nonton. Dia itu bos, tapi kenapa gampang sekali diajak kencan oleh si muka licin itu?"
Devan masuk ke dalam ruangan Vanya dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Ia membanting buket bunga lily itu ke dalam vas bunga besar di sudut meja Vanya hingga beberapa kelopaknya jatuh berserakan.
"Lapor, Bu Vanya," ucap Devan dengan penekanan pada kata 'Bu' yang sangat kaku. "Bunga sudah diletakkan. Dan mengingatkan saja, sebagai asisten Anda, saya punya daftar pekerjaan tambahan yang belum Anda periksa. Apa Anda yakin punya waktu untuk... kegiatan tidak penting nanti malam?"
Vanya mendongak, menatap Devan dengan ekspresi yang seketika berubah menjadi datar dan dingin—berbanding terbalik dengan ekspresinya pada Billy tadi.
"Itu bukan urusanmu, Devan. Tugasmu adalah memastikan berkas rapat selesai sebelum jam satu siang," ucap Vanya tanpa emosi. "Soal kegiatanku nanti malam, itu adalah urusan pribadiku."
"Urusan pribadi? Tapi aku ini—"
"Asisten magang," potong Vanya cepat. "Jangan lupa posisimu di gedung ini. Sekarang, kembali ke mejamu di depan dan jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin."
Devan keluar dari ruangan itu dengan perasaan terbakar. Ia duduk di meja asistennya yang kecil, menatap layar komputer dengan mata yang menyala. Ia tidak akan membiarkan kencan itu terjadi begitu saja. Jika Vanya ingin bermain profesional, maka Devan akan menggunakan posisinya sebagai asisten untuk memastikan kencan itu tidak akan berjalan mulus.
"Lihat saja nanti, Billy Hutama. Kamu pikir bisa membawa istriku pergi begitu saja? Jangan harap," desis Devan sambil mulai mengetikkan sesuatu di jadwal digital Vanya dengan senyum licik. "Satu jam sebelum jam tujuh, aku akan pastikan ada 'keadaan darurat' yang hanya bisa diselesaikan oleh sang Direktur Utama."