Aurielle Veyra (25 tahun), seorang Make Up Artist kelas dunia, dikenal mampu mengubah wajah biasa menjadi sebuah 'Mahakarya'.
Namun setelah tertidur usai bekerja tanpa henti, dia terbangun … bukan di Apartemen mewahnya.
Melainkan di raga seorang gadis yatim piatu miskin di desa terpencil dalam Kekaisaran Shang Agung, yang bernama Lin Yue. Yang meninggal karena menyerah menjalani kehidupan di dunia itu.
Di dunia tanpa kosmetik modern, Aurielle terikat dengan sebuah ruang dimensi misterius berisi resep kecantikan kuno yang telah lama hilang dari sejarah.
Dari bunga liar, mutiara, hingga ramuan rahasia, dia menciptakan kosmetik yang mampu membuat siapa pun terlihat memukau.
Namun, di balik kecantikan yang dia ciptakan …
tersembunyi rahasia racun halus, dan permainan kekuasaan yang mematikan.
Karena di dalam dunia Kekaisaran~
Sebuah wajah yang sempurna bisa menjadi sebuah 'senjata' yang mematikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 07: Keributan di Paviliun Naga Perak!
***
Pada hari kedua, matahari baru saja keluar di atas atap bercat emas Istana Naga Hitam, namun ketenangan itu langsung pecah dengan suara teriakan dan bantingan barang dari Paviliun Naga Perak.
Prang! Prang! Prang!
"AARRGGGGH!!!"
Cermin perunggu dan barang-barang mahal di kamar pribadi Selir Lan telah hancur berkeping-keping di atas lantai.
Jeritan histeris menggema di seluruh Paviliun itu, membuat tubuh para pelayan yang bekerja di sana bergetar hebat karena ketakutan.
Wajah cantik Selir Lan yang biasanya halus seperti giok, kini dipenuhi oleh bintik-bintik merah kecil dan besar bernanah yang membengkak.
Dia menatap bayangannya di pecahan cermin dengan mata memerah karena emosi dan ketakutan.
"Apa yang terjadi dengan wajahku?!" teriaknya histeris.
Akiew dan Peiyu langsung kongtow sampai dahinya membengkak, karena mereka pun tidak tahu apa-apa.
"Kami tidak tahu, Yang Mulia Selir! Pelayan ini bersalah, karena tidak mengetahuinya!" jawab mereka berdua serentak.
Selir Lan menyentuh wajahnya yang bengkak dan penuh bisul bernanah itu dengan tangan gemetar, rasa sakit dan panas terasa sangat menyiksanya.
"Mustahil! ... Mustahil jika kalian tidak mengetahuinya! Pasti ada yang menginginkan kehancuranku! Ja-lang si-alan mana yang mulai berani memanjangkan tangannya kepadaku?!" ujar Selir Lan dengan emosi yang membuncah.
Dia menunjuk ke arah meja rias disana dengan telunjuk yang bergetar hebat, seperti orang yang baru saja melihat hantu.
"Kosmetik yang aku pakai semuanya berasal dari Istana, dan selama ini tidak ada yang salah dengan itu! Kenapa sekarang bermasalah?!"
Seorang Tabib Istana senior yang baru saja datang segera maju dengan sikap yang sangat berhati-hati.
"Izinkan hamba memeriksanya, Yang Mulia Selir ..."
Selir Lan melihat Tabib itu dengan tatapan nyalang, dan dia menjawab dengan nada kasar.
"Cepat periksa! Pakai meminta izin segala! Dasar Tabib tua yang tidak kompeten!" makinya dengan wajah berang.
Tabib itu langsung memeriksa wajah Selir Lan dengan sangat hati-hati dan cermat.
Tidak lama kemudian, wajah Tabib itu berubah pucat.
"Ini ..."
"Bicara yang jelas! Jangan sampai aku potong lidahmu itu, si-alan!" ujarnya sambil menatap Tabib itu dengan tajam.
Gluk!
Tabib itu menelan salivanya dengan gugup, sebelum dia bicara.
"Anda terkena reaksi racun kulit yang sangat parah, Yang Mulia Selir ..." jawab Tabib itu dengan susah payah.
Ruangan itu mendadak hening, saat mendengar diagnosa dari Tabib tersebut.
BRAK!
Selir Lan langsung menggebrak meja, sampai semua barang yang ada di atas sana bergetar.
Lalu dia berdiri dengan murka.
"Racun ...??!!! Ja-lang mana yang berani meracuniku?!"
Akiew dan Peiyu gemetar kembali, saat mendengar pertanyaan majikannya.
Mereka benar-benar tidak mengetahui dari mana asal racun tersebut, karena selama ini penjagaan di dalam Paviliun Naga Perak sangat ketat.
Mustahil jika para penjaga bayangan itu tidak mengetahui ada orang yang menyusup ke dalamnya.
"Apakah mungkin, jika ada yang mencampur racun dengan kosmetik Anda, Yang Mulia?" ujar Akiew dengan suara bergetar.
Selir Lan merasa tercerahkan, dia juga merasa jika ada yang menyingkirkan dia dari posisinya sekarang.
Dan kemungkinan itu adalah para 'Calon Selir' yang mempunyai pendukung kuat dibelakangnya.
"Sepertinya para calon selir itu ingin bermain-main denganku, ya? Para gadis ja-lang itu tidak tahu luasnya langit ternyata ..." ujar Selir Lan dengan seringai kejam di wajahnya.
"Selidiki Paviliun Pelatihan Selir dengan seksama, dan temukan siapa yang berani 'memanjangkan tangannya' untuk menyentuh ketenanganku!" perintah Selir Lan kepada dua pelayan setianya itu.
Matanya berkilat penuh kebencian mendalam, saat dirinya diusik.
Padahal dirinya pun sangat suka mengusik wanita lain, yang dia anggap sebagai saingannya dengan kejam.
"Apakah wajahku bisa disembuhkan, Tabib?" tanya Selir Lan.
"Ampuni hamba, Yang Mulia Selir ... Hamba tidak mengetahui penawar racun wajah ini. Racun ini sepertinya sebuah racun langka, yang sudah tidak dibuat lagi di zaman Dinasti ini," jawab Tabib itu sambil bersujud.
Wajah Selir Lan langsung mengeras kembali, saat mendengar jawaban Tabib itu.
Prak!
Selir Lan melemparkan cangkir tehnya ke arah Tabib itu dengan kejam.
"Keluar dari sini sekarang juga!! Percuma menjadi Tabib, jika tidak kompeten!" teriaknya histeris.
Tabib itu langsung keluar dengan wajah memerah karena marah, dia sangat benci dengan wanita sombong yang mendominasi itu.
Mungkin itu adalah 'pelajaran' yang diberikan oleh Dewa, karena dia terlalu membanggakan kecantikan dan statusnya di dalam Istana ini.
Sampai banyak yang sudah menjadi korban kekejaman dirinya.
Setelah Tabib itu keluar, Selir Lan duduk dengan wajah murka.
"Aku pasti menemukan wanita itu ... Dan saat aku temukan, aku akan hancurkan wajahnya sampai tidak ada satu pria pun yang mau melihatnya lagi!"
"Pelayan! Sebarkan pengumuman kepada rakyat, siapapun yang berhasil menyembuhkan wajahku, dia akan mendapatkan 100 keping emas dan berada dibawah perlindunganku!"
"Hamba mengerti, Yang Mulia Selir ..."
--
Sementara itu di dalam Istana Naga Emas, Kaisar Longhui baru saja selesai membaca laporan dari kamp militer perbatasan bagian barat, saat seorang Kasim Tua meminta izin untuk bertemu dengannya.
"Hamba ingin bertemu langsung dengan Yang Mulia Kaisar," ujarnya kepada prajurit yang berjaga di sana.
"Tunggu sebentar, Kasim ..."
Setelah mendapatkan izin dari Kaisar Longhui, Kasim berjalan masuk dengan memabwa sebuah kotak kayu berwarna hitam yang terlihat elegan.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar Agung, semoga Yang Mulia hidup seratus tahun lagi ..." ujar Kasim Tua itu memberi salam.
"Bangunlah! Salammu Zhen terima. Apa yang kamu bawa, Kasim?" tanya Kaisar Longhui, setelah menjawab salam Kasim Tua itu.
"Ampuni hamba, Yang Mulia ... Kotak ini dikirim oleh salah satu calon selir, yang berada di Paviliun Pelatihan Selir," jawab Kasim itu dengan kepala menunduk hormat.
"Dari salah satu calon selir?" beo Kaisar Longhui dengan mata menyipit tajam.
"Benar, Yang Mulia ..."
Kaisar Longhui memberi isyarat mata kepada Kasim Zhang yang ada di sisinya, agar dia mengambil kotak tersebut.
Setelah kotak itu berpindah tangan kepada Kasim Zhang, Kasim tua itu langsung mengunduran diri dari dalam sana.
Tugasnya selesai, dan dia harus melaporkan kepada majikan cantiknya.
"Bukalah, Kasim Zhang. Lihat apa isinya," perintah Kaisar Longhui dengan nada penasaran.
Kasim Zhang membuka kotak itu perlahan, agar tidak merusaknya.
Ctak!
Saat kotak itu terbuka, terlihatlah sebuah botol kaca elegan dengaan isi bening yang terlihat aneh di mata mereka.
Kaisar Longhui mengambil botol tersebut, lalu dia memperhatikannya dalam diam.
"Apa ini? Kenapa bentuknya sangat cantik, namun terlihat aneh begini?" tanya Kaisar Longhui kepada dirinya sendiri.
"Hei`an Wei! Cari tahu, apa isi botol ini!" perintah Kaisar kepada penjaga bayangannya.
Tidak berapa lama kemudian, Hei`an Wei kembali dengan jawaban pasti dari Kasim tua yang ternyata masih berada di sekitaran sana.
"Lapor, Yang Mulia! Kasim tua berkata, jika pelayan yang memberikan kotak ini kepadanya, menyebutkan jika isi kotak ini sebut ... Parfum,"
"Parfum??" beo Kaisar Longhui.
Dia juga membaca tulisan kecil yang ada di label botol tersebut.
"Holing ...???"
Karena merasa sangat penasaran dengan isinya, dia membuka tutupnya, lalu menyemprotkan isinya ke udara.
Sroooot!
Aroma cedar, musk, dan amber langsung memenuhi ruangan kerjanya.
Kaisar Longhui membeliakkan matanya, sementara Kasim Zhang menghirup aroma itu sambil menutup kedua matanya.
"Yang Mulia ..."
"Ini ..."
"Ya, aroma ini sangat segar dan maskulin. Zhen belum pernah mencium aroma ini sebelumnya," ujar Kaisar Longhui dengan nada kagum.
Lalu dia menyemprotkan parfum itu sedikit ke rah pergelangan tangannya.
Sroot!
Aroma maskulin bercampur elegan itu langsung menyatu dengan aroma tubuhnya.
"Menarik!"
Kasim Zhang menundukkan kepalanya, saat melihat sebuah senyuman 'langka' yang terbit pada wajah Kaisar Tiran itu.
"Apakah Yang Mulia menyukainya?" tanya Kasim Zhang.
"Zhen sangat ... sangat menyukainya!" jawab Kaisar Longhui dengan wajah sumringah.
Dia menatap kembali botol ajaib kecil yang bernama 'parfum' itu.
"Gadis mana yang telah menghadiahkan barang berharga ini kepada Zhen?" tanya Kaisar Longhui kepada Kasim Zhang.
"Hamba juga tidak tahu, Yang Mulia. Kasim tua itu sudah hilang entah kemana ..." jawab Kasim Zhang.
"Hahahahaha! Misterius sekali! Dia sepertinya ingin Zhen yang mencaritahunya sendiri, agar tidak menambah banyak musuh ke depannya. Cerdik dan pintar!" ujar Kaisar Longhui sambil tertawa.
"Hei`an Wei! Temukan gadis yang telah membuat parfum ini, dan bawa dia langsung kehadapan Zhen! Zhen akan langsung menjadikan dia salah satu Selir Istana tanpa harus diberi pelatihan lagi!" perintah Kaisar Longhui dengan nada tegas.
"Perintah diterima!"
Wusssh!
--
Kaisar Longhui duduk diatas singgasananya dengan wajah ceria, karena dia tidak perlu memakai kantong aroma lagi sekarang.
"Jika dia benar-benar pembuatnya, maka Zhen akan menjadikan dia seorang 'Selir Samping', apapun statusnya ..." ujar Kaisar Longhui santai, yang hampir membuat Kasim Zhang tersedak salivanya sendiri.
"Yang Mulia?!"
"Hal seperti ini belum pernah terjadi di dalam Dinasti ini. Pastinya akan terjadi keributan dari semua para Menteri Anda yang menentang nanti," ujar Kasim Zhang memperingatkan dengan hati-hati.
"Zhen tahu itu, Kasim Zhang. Dan Zhen tidak akan takut berdebat dengan para Menteri tua itu."
"Jika Zhen tidak mengambil kesempatan ini, maka seorang gadis jenius itu akan tenggelam dalam ketidak-adilan dunia ini. Statusnya mungkin rendah, namun kejeniusan otaknya sangat langka!" ujar Kaisar Longhui menjelaskan panjang kali lebar kepda Kasim kepercayaannya.
Mendengar ucapan Kaisarnya, Kasim Zhang sampai tercengang.
Hanya karena sebuah wewangian langka, Kaisarnya sampai seperti ini?
Sihir apa yang ada di dalam aroma itu, sampai membuat Kaisar Tiran ini tersenyum seperti itu?
Sungguh kejadian yang sangat langka!
Kaisar Longhui berdiri dari atas singgasananya, lalu berjalan ke arah balkon Istananya.
Angin pagi membawa aroma parfum yang masih menempel dpakaian dan tubuhnya.
"Gadis yang bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa seperti ini, harus mendapatkan perlakuan khusus dari Zhen ..."
Kaisar Longhui menatap kota Kekaisaran yang sangat luas dari atas balkonnya.
"Zhen harap, dia dapat ditemukan dengan cepat ..."
--
Sementara itu di dalam Paviliun Pelatihan Selir, Lin Yue dan Mei Fang sedang bersantai di dalam sebuah taman sambil menikmati secangkir teh 'Poci' dari dunia modern.
Mei Fang terlihat sangat jauh berbeda sekarang berkat krim yang Lin Yue berikan.
Kulitnya secerah mutiara dan sehalus giok, rambutnya hitam berkilau seperti sutera, dan berkat make up flawless buatan Lin Yue, dandanan dia terlihat sangat natural dan berkilau.
Begitu pula dengan Lin Yue, selain bagian dada dan bo-kongnya yang sangat besar dan sempurna, glitter buatannya terlihat mewah saat dipakai di wajahnya.
Mereka berdua layaknya peri taman tang sedang urun ke dunia, bukan seorang gadis dari sebuah desa kecil di wilayah Kekaisaran itu.
Beberapa pelayan yang melewati mereka diam-diam meliriknya dengan tatapan kagum.
"Yue-Yue ... Kenapa mereka menatap kita begitu? Apakah ada yang aneh dengan dandanan kita hari ini?" bisik Mei Fang sambil menundukkan kepalanya.
Lin Yue tersenyum mendengarnya.
"Itu karena kecantikan kita yang diatas rata-rata ..." sahutnya santai.
Mei Fang tersipu mendengarnya.
Semua berkat pemberian Lin Yue, jika tidak ... dia pasti masih terlihat kumal sekarang.
Tiba-tiba, ketenangan mereka terganggu oleh sebuah keributan kecil di dalam koridor Paviliun.
Beberapa pelayan terlihat berlarian di dalam koridor itu.
Mei Fang menolehkan kepalanya ke arah koridor itu, dia penasaran dengan apa yang terjadi.
Salah satu pelayan Paviliun Pelatihan menegur salah satu dari mereka.
"Hey, ada apa sih? Kenapa lari-larian begitu?" tanyanya dengan wajah bingung.
Mei Fang menajamkan pendengarannya, agar dia tahu apa yang telah terjadi.
Pelayan itu menjawab pertanyaan temannya itu dengan wajah pucat.
"Selir Kehormatan Lan murka! Konon wajahnya rusak karena diracun!"
Mei Fang langsung membeliakkan matanya ke arah Lin Yue.
"Apakah itu adalah perbuatanmu, Yue-Yue?" tanyanya dengan suara lirih.
Lin Yue menyesap tehnya dengan tenang, sama sekali tidak terganggu dengan semua kejadian itu.
Lalu dia menatap sekuntum bunga persik yang jatuh ke atas meja dengan tatapan mata yang tenang.
"Aku hanya membantu 'Karmanya' datang lebih cepat saja ..." jawabnya dengan suara pelan.
Mei fang tercengang sesaat, lalu dia tertawa gugup.
"Ha-ha-ha ... Kamu benar-benar gadis yang sangat menakutkan ..."
"Ya, aku memang gadis menakutkan yang penuh dengan perhitungan. Apakah kamu masih mau berteman dengan gadis menakutkan ini?" ujar Lin Yue sambil tersenyum manis.
"Tentu saja aku mau! Walau menakutkan, namun kamu adalah saudara terbaikku di dunia ini, Yue-Yue!" sahut Mei Fang dengan nada tegas.
Lin Yue tertawa saat melihat tingkah lucu Mei fang.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia berkata dengan tenang.
"Permainan ini baru saja dimulai ... Jika Kaisar murahan itu mulai terpikat dengan hadiahku, maka dia pasti sudah mengirimkan seseorang dalam kegelapan untuk mengintaiku. Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang!"
--
Di atas atap Paviliun itu, sang pengawal bayangan milik Kaisar sedang mengintai kedua gadis cantik itu dalam diam.
Matanya yang tajam memperhatikan kedua gadis itu tanpa berkedip.
Tatapan matanya berhenti pada sosok Lin Yue.
"Aura gadis ini terasa berbeda ..."
"Apakah dia gadis itu?"
Angin berhembus dengan damai, membawa aroma bunga persik dan rahasia yang belum terungkap.
⚛⚛⚛
jadi semangat dalam menjalani niat yang mulia itu, terutama untuk kucing² manis itu..
pokoknya semangat ya 🥰
ditunggu yaa kelanjutannya author🤭
pokoknya semangat ee author
ditunggu yaa kelanjutannya author🥰