Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Amanah yang Ditagih
Langkah kaki Hana terasa sangat berat saat ia memasuki pelataran rumahnya. Kepergian Dila meninggalkan keheningan yang mendadak terasa mencekik. Pandangan Hana tertuju pada mobil mewah yang terparkir angkuh di halaman rumahnya, sebuah pemandangan yang kontras dengan kondisi finansial keluarganya yang baru saja merangkak naik dari jurang kebangkrutan.
Setiap inci keberhasilan keluarganya saat ini adalah buah dari kebaikan hati almarhumah Bu Inggit. Mengingat itu, hati Hana kembali berdenyut perih. Ia merasa seperti seorang pengkhianat jika menolak wasiat itu, namun ia merasa seperti narapidana jika menerimanya.
Hana menarik napas panjang, mencoba menata hatinya yang masih berantakan sebelum memutar knop pintu kayu jati rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Hana dengan suara yang hampir tak keluar.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab suara-suara di dalam secara serentak.
Hana melangkah masuk, namun baru dua langkah, seluruh persendiannya seolah terkunci. Oksigen di paru-parunya seakan mendadak hilang. Di ruang tamu yang tak seberapa luas itu, duduk orang-orang yang kehadirannya tak pernah ia duga akan secepat ini.
Di sana, di atas kursi rotan milik ayahnya, duduk Pak Arlan. Laki-laki itu mengenakan kemeja koko berwarna abu-abu gelap, wajahnya tampak lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tak bisa disembunyikan. Di sampingnya, duduk sepasang suami istri paruh baya yang memancarkan aura wibawa namun tenang, Umi dan Abi dari Pak Arlan.
Hana mematung. Tatapannya berserobok dengan mata tajam Pak Arlan yang kini juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara rasa bersalah, beban, dan duka yang dalam. Kejadian di kelas tadi pagi kembali terbayang, bisikan teman-temannya tentang "pelakor" seolah berdengung kembali di telinganya.
Lidah Hana kelu. Ia ingin lari kembali ke masjid, atau menghilang saja dari muka bumi saat ini juga. Kehadiran keluarga besar Pak Arlan di rumahnya hanya berarti satu hal yaitu Amanah itu sedang ditagih.
"Hana, sini duduk, Nak," suara lembut Mama memecahkan keheningan yang menyiksa itu.
Mama menghampiri Hana, menuntun putrinya yang tampak seperti raga tanpa nyawa itu untuk duduk di kursi tunggal, tepat di antara kedua orang tuanya dan berhadapan langsung dengan keluarga Pak Arlan.
Ayah Hana berdehem, mencoba mencairkan ketegangan.
"Hana, Nak Arlan beserta orang tuanya datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang menyangkut amanah terakhir almarhumah Mbak Inggit."
Hana menunduk dalam, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan dan meremas rok kainnya hingga kusut. Ia tidak sanggup menatap siapa pun.
Abi Pak Arlan kemudian mulai berbicara dengan nada yang sangat hati-hati.
"Nak Hana, kami tahu ini bukan waktu yang tepat. Kami tahu luka di hatimu karena kehilangan Inggit masih basah. Namun, ada amanat yang tertulis secara legal, yang mengharuskan kami untuk segera menyampaikannya kepada keluarga Nak Hana."
Beliau kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat, amplop yang sama yang membuat Pak Arlan terlihat begitu tertekan.
"Almarhumah Inggit menginginkan pernikahan antara Arlan dan Hana dilaksanakan segera. Bukan tanpa alasan, Inggit ingin memastikan Hana ada yang menjaga, dan Inggit juga mengatur beberapa hal terkait aset yang hanya bisa diselesaikan melalui pernikahan ini," lanjut Abi Pak Arlan.
Mendengar kata "aset", Hana sedikit mendongak, matanya berkaca-kaca. Ia tidak peduli soal uang atau harta, yang ia dengar hanyalah vonis penjara bagi masa depannya.
Pak Arlan yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. Suaranya serak dan rendah.
"Hana... saya minta maaf. Saya tahu ini sangat mendadak dan tidak adil bagimu. Saya pun tidak pernah menginginkan kita berada di posisi ini. Tapi keluarga almarhumah istri saya... situasinya tidak mudah."
Hana menatap Pak Arlan dengan tatapan yang menyayat hati.
"Kenapa saya, Pak? Kenapa harus saya yang menanggung beban ini? Bapak tahu apa yang orang-orang katakan di kampus? Mereka menyebut saya pelakor!" suara Hana pecah di akhir kalimat, air mata yang ia tahan sejak di parkiran tadi akhirnya luruh juga.
Suasana kembali hening, hanya isak tangis Hana yang terdengar. Orang tua Hana hanya bisa tertunduk sedih, mereka tahu betapa besar jasa Inggit, namun mereka juga tidak tega melihat putri satu-satunya hancur seperti ini.
Umi Pak Arlan bangkit dari duduknya, berpindah ke samping Hana dan memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Hana sayang, kami tahu kamu anak baik. Kami tidak percaya satu kata pun dari fitnah itu. Kami di sini untuk menjagamu, bukan untuk menghancurkanmu. Berikan kami kesempatan untuk melindungimu dari fitnah itu dengan ikatan yang sah."
Hana menangis di pelukan wanita yang sebelumnya menjadi ibu mertua Inggit itu. Di tengah isakannya, Hana menyadari bahwa tembok pelindung yang dibangun oleh keluarga Pak Arlan sangatlah kokoh, namun di luar sana, badai dari keluarga Inggit siap meruntuhkan segalanya.