Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Nathan sudah ditangani oleh dokter jaga di IGD. Vania mendesis saat melihat langsung bagaimana Nathan mendapatkan sedikit jahitan di pelipis kanannya.
Resa sendiri tidak mendapatkan luka apapun karena Nathan dengan cepat memeluk Resa dan membiarkan dirinya sendiri yang terjatuh ke aspal.
Liliana mengajak anak-anak untuk menunggu di kantin rumah sakit selagi Vania menemani Nathan. Dokter pun memberikan resep obat dan mengatakan Nathan bisa pulang setelah infusan di tangannya habis.
"Tuan." panggil Vania setelah dokter dan perawat tidak ada disana.
Vania mendekat dan duduk di kursi yang tersedia di sebelah brankar tempat Nathan berbaring.
"Panggil Nathan saja." ucap Nathan sembari mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya.
Dengan sigap Vania membantu Nathan dengan memegang pundak Nathan. Melihat jarak yang cukup dekat Nathan menatap Vania dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maaf Nathan, aku cuma mau membantu." Vania yang sadar jarak mereka terlalu dekat mundur kembali dan duduk di kursi.
"Resa dimana?" tanya Nathan.
"Resa sedang bersama temanku. Nathan sekali lagi terima kasih sudah menolong Resa dan membiarkan kamu sendiri terluka." ungkap Vania sembari meremas kedua tangannya karena merasa tidak enak.
"Tidak perlu berterima kasih, ini hanya kebetulan. Jika bukan Resa sekalipun aku pasti menolong juga." jelas Nathan.
Vania benar-benar kagum dengan karakter Nathan. Vania pernah mendengar jika warga asing kebanyakan memiliki karakter yang acuh terhadap orang lain. Tapi pandangan Vania terhadap Nathan berbeda, karena Nathan memiliki sifat peduli.
"Tetap saja aku harus berterima kasih Nathan, jika kamu tidak menolong Resa, entah apa yang akan terjadi." lirih Vania pelan.
Sungguh Vania tidak bisa membayangkan jika Resa sampai tertabrak motor tadi.
"Kalau kamu mau berterima kasih, bagaimana kalau akhir pekan kita pergi jalan-jalan dengan Resa." ucap Nathan.
Vania mengerjapkan kedua matanya setelah mendengar permintaan Nathan.
"Jalan-jalan?" tanya Vania memastikan kalau-kalau dia salah dengar.
"Iya, itupun kalau memang kamu benar-benar mau berterima kasih padaku." jawab Nathan seolah-olah Vania akan menolak permintaannya.
Mendengar itu tentu saja Vania jadi semakin merasa tidak enak kalau sampai harus menolak ajakan Nathan yang sudah menyelamatkan nyawa Resa.
"Baiklah, aku setuju." jawab Vania.
Nathan bersorak dalam hati saat tidak perlu bersusah payah mencari alasan untuk mengajak Vania pergi keluar.
Setelah itu keduanya saling bertukan nomor ponsel, padahal sebenarnya Nathan sendiri sudah tahu seluruh informasi Vania termasuk nomer ponselnya.
.
.
"Bos."
Bram berlari tergesa saat Nathan menelpon dan memintanya untuk menjemput ke rumah sakit.
Vania juga Resa yang memang menunggui Nathan juga mengalihkan perhatian mereka pada sosok Bram.
"Bos kenapa?" tanya Bram saat melihat dahi Nathan tertutup perban.
Vania dengan cepat menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Nathan. Tidak lupa dia juga meminta maaf pada Bram karena sudah merepotkan dengan memintanya datang untuk menjemput Nathan.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Vania, ini memang tugas Dia." ungkap Nathan saat Vania dengan sopannya membungkuk dan meminta maaf pada Asistennya yang malah diam saja seolah menikmati momen ini.
Bram terkekeh sebentar melihat Nathan yang berbicara dengan nada yang terdengar manis pada wanita cantik yang diketahui bernama Vania ini.
Bram langsung mengingat dengan perkataan Bosnya yang ingin mengejar istri orang.
"Apa wanita ini yang dimaksud Bos. Cantik dan memang tipe si Bos." batin Bram sambil menelisik Vania dari atas sampai bawah.
Merasa di perhatikan dengan detail, Vania segera menundukan pandangannya pada Bram. Nathan yang tahu Vania tidak nyaman segera menepuk bahu Bran kencang.
"Jangan menatap seperti itu, ayo cepat antar kami pulang." tegur Nathan.
"Iya Bos siap. Mari Nona." ucap Bram mempersilahkan.
Vania awalnya tidak mau untuk di antar pulang oleh Nathan. Tapi karena Nathan memaksa jadi Vania tidak bisa menolak ajakan seseorang yang sudah menyelamatkan Resa.
Liliana sendiri sudah pulang lebih dulu saat Nathan selesai di infus dan memang Nathan sendiri yang mengatakan agar Liliana pulang duluan saja.
.
.
Selama perjalanan tidak ada obrolan yang terjadi di mobil. Resa sudah tertidur di pangkuan Vania. Nathan juga sibuk dengan ponselnya.
"Nathan." panggil Vania.
"Ya." jawab Nathan dan menoleh pada Vania.
Deg
Nathan juga Vania sama-sama berdehem saat suasana berubah canggung saat keduanya justru saling menatap. Bram yang melihat dari kaca kecil mengulum bibirnya. Bosnya yang terkenal dingin bisa salah tingkah dengan wanita bersuami. Bram tertawa dalam hati.
"Rumah saya di ujung belok kanan." ucap Vania memecah keheningan.
"Kau dengar Bram." sambung Nathan.
"Baik Nona."
Bram melajukan mobil dengan perlahan setelah Vania menunjukan rumahnya. Mobil berhenti tepat setelah Bram menghentikannya di depan pagar rumah Vania.
"Oh jadi ini rumah si brengsek itu." ucap Nathan dalam hati.
"Nathan terima kasih untuk hari ini. Semoga dahimu cepat sembuh. Jangan lupa untuk meminum obatnya." tutur Vania lembut.
Uhuk.uhuk
Di kursi depan Bram tersedak ludahnya sendiri. Luka seperti itu bahkan tidak ada apa-apanya bagi Nathan. Tapi Bos nya bertingkah seolah itu adalah luka yang parah.
"Bram." geram Nathan yang tahu pikiran asistennya itu.
"Maaf Bos tenggorokan Saya kering." jelas Bram beralasan.
Nathan pun memutar bola matanya malas. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Vania yang tampak membangunkan Resa.
"Resa bangun sayang, kita sudah sampai." ucap Vania sambil menepuk-nepuk pelan pipi Vania.
Resa hanya bergumam kecil tanpa terganggu sedikitpun.
"Boleh Aku gendong saja ke dalam?" tanya Nathan.
Vania tentu saja menolak karena dia merasa tidak nyaman jika Nathan harus masuk ke dalam rumahnya. Biarpun ini Negara asing tapi Vania tetap tidak mau ada lelaki lain masuk ke rumah selagi suaminya tidak ada dirumah.
"Tidak perlu Nathan, sampai disini saja. Lagipula suamiku sedang tidak ada dirumah." cicit Vania pelan.
Nathan menahan rasa geram saat Vania mengatakan hal itu. Padahal Nathan jelas tahu suami brengsek Vania pasti ada di kediaman istri keduanya yang tidak lain adiknya sendiri.
Tapi Nathan menahan itu dengan senyuman pada Vania dan mencoba membantu membangunkan Resa. Beruntung setelah mencoba, Resa pun terbangun. Vania dan Resa turun dari mobil namun Nathan menahan sebentar.
"Jangan lupa hubungi Aku akhir pekan ini, Aku menunggu." ucap Nathan dan di angguki oleh Vania.
Setelah melihat Vania dan Resa masuk ke dalam rumahnya, Nathan memerintahkan Bram melajukan kendaraannya.
"Bos bisa kenal Nona Vania dari mana?" tanya Bram saat perjalanan.
"Dia istri Satria." jawab Nathan pelan sambil memejamkan kedua matanya.
Mendadak Bram menginjak rem dalam, hingga membuat Nathan hampir terjungkal kedepan jika tidak menahan tubuhnya.
"Bram, Kau mau mati ya!" teriak Nathan kesal.
Bram tidak peduli dengan kemarahan Nathan, dia menoleh ke belakang untuk memastikan ucapan Bos nya itu.
"Bos jadi, Dia."
"Iya, Daniel berhasil mencari tahu identitas istri Satria. Dan Dia Vania." jelas Nathan.
Bram benar-benar tidak menyangka. Tapi yang ada di pikirannya saat ini, kenapa Bosnya malah mendekati istri Satria, bukan langsung saja memberitahukan kelakuan Satria yang menikah lagi.
"Lalu kenapa.."
"Sudah jangan banyak tanya, Aku ingin pulang." potong Nathan cepat sebelum Bram banyak bertanya lebih tentang rencananya.
.
.
......................