NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: BISIKAN DI BALIK DINDING

Jam menunjukkan pukul 02.47 ketika Alea terbangun untuk ketiga kalinya.

Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena dinginnya AC yang menyergap tulang. Tapi karena suara itu lagi.

Tok. Tok. Tok.

Tiga ketukan pelan. Bukan dari pintu. Tapi dari dinding. Tepat di belakang kepala tempat tidurnya.

Alea duduk perlahan. Jantungnya berdebar, tapi ia paksakan tenang. Ia psikiater forensik. Pernah mewawancarai pembunuh berantai di sel isolasi. Pernah masuk ruang mayat sendirian jam 3 pagi untuk keperluan riset. Tidak ada yang bisa menakutinya.

Tok. Tok. Tok.

Tiga kali lagi. Sama pelannya. Seperti anak kecil yang mengetuk pintu kamar orang tua di tengah malam.

Alea turun dari tempat tidur. Kakinya menginjak karpet tebal berbulu—kehangatan palsu di ruangan sedingin ini. Ia berjalan ke dinding, menempelkan telinga.

Hening.

Lalu—

Tok.

Kali ini lebih keras. Seperti balasan. Seperti seseorang tahu ia mendengarkan.

Alea mundur selangkah. Matanya menyusuri dinding. Cat putih polos. Tidak ada celah. Tapi nalurinya sebagai penyidik bicara lain. Ia mulai mengetuk-ngetuk dinding, mencari bagian yang berbeda bunyinya.

Thok. Thok. Thok.

Padat.

Thok. Thok—

BUK.

Suara hampa. Ada ruang kosong di balik sini.

Alea mematikan lampu ponsel. Matanya terbiasa gelap. Ia telusuri dinding dengan ujung jari, mencari sambungan, mencari ketidakrataan. Di dekat lemari antik besar, jari-jarinya menemukannya: garis tipis vertikal. Hampir tidak terlihat.

Dinding ini punya pintu rahasia.

---

Alea menekan garis itu. Tidak terjadi apa-apa. Digeser ke kiri. Ke kanan. Tetap tidak ada reaksi.

Ia menghela napas frustrasi. Matanya beralih ke lemari di sampingnya. Lemari kayu jati ukiran lawas, setinggi hampir 3 meter. Terlalu besar untuk kamar tamu. Terlalu sengaja diletakkan di sini.

Alea mencoba menggeser lemari itu.

Tidak bergerak.

Dicoba lagi, dengan seluruh tenaga. Hasilnya sama.

Ia berjongkok, memeriksa kaki lemari. Dan di sanalah—di bawah ukiran naga—sebuah lubang kecil. Sebesar jari kelingking. Seperti tempat memasukkan kunci.

Kunci.

Alea menoleh ke nakas. Di laci pertama, ada kunci tua yang ia temukan di saku jas saat pertama tiba. Ia kira itu kunci lemari biasa. Tapi lubang ini...

Ia mengambil kunci itu. Memasukkannya.

Klik.

Lemari itu bergeser sendiri—tanpa suara, tanpa getaran—membuka lorong gelap di belakangnya.

---

Aroma pertama yang menyambutnya: debu dan waktu. Tapi di bawahnya ada yang lain. Sesuatu yang manis. Busuk. Seperti bunga yang ditinggal terlalu lama di vas tanpa air.

Alea menyalakan ponsel, menyorot ke dalam. Lorong sempit, hanya cukup untuk satu orang. Dinding bata ekspos berjamur. Lantai semen retak.

Ia melangkah masuk.

Setiap langkahnya menggema aneh—seperti lorong ini menelan suara, bukan memantulkannya. Udara makin dingin. Bukan dingin AC. Tapi dingin lembap bawah tanah.

Lima meter. Sepuluh meter.

Lalu lorong itu melebar. Membuka ke ruangan kecil.

Dan Alea berhenti.

---

Dinding ruangan ini penuh foto.

Bukan foto biasa. Foto-foto anak kecil. Bocah laki-laki, usia sekitar 5-8 tahun. Dalam berbagai pose: sedang makan, sedang tidur, sedang menangis, sedang tertawa. Puluhan foto. Mungkin ratusan. Menempel di dinding dengan paku berkarat.

Tapi yang membuat bulu kuduk Alea merinding:

Semua mata di foto itu dihitamkan.

Bukan dicoret. Tapi dihitamkan dengan spidol, dengan tinta, dengan sesuatu yang tebal sampai menembus kertas. Seperti seseorang ingin memastikan bocah itu tidak bisa melihat—atau tidak ingin dilihat balik.

Alea mendekat. Senter ponselnya menyorot satu foto: bocah itu sedang tidur, pipi gembur, rambut ikal. Matanya—bekas mata itu—dua lubang hitam pekat.

Ia lanjut ke foto berikutnya. Sama. Berikutnya. Sama.

Di sudut ruangan, ada meja kecil. Di atasnya: gunting berkarat, lilin bekas, dan sebuah buku.

Alea mengambil buku itu. Sampulnya usang, tidak berjudul. Ia buka halaman pertama.

---

"Hari ke-1. Aku dikurung di sini. Papa bilang aku harus belajar jadi kuat. Tapi gelap. Aku takut gelap."

Tulisan anak kecil. Pensi. Huruf besar-besar.

Alea balik halaman.

"Hari ke-7. Aku tidak tahu siang atau malam. Papa kasih makan sekali sehari. Roti. Air. Aku minta lampu, Papa bilang tidak boleh."

"Hari ke-14. Aku lihat mama. Tapi mama tidak bergerak. Papa bilang mama tidur. Tapi mama sudah di sini lama sekali. Matanya terbuka."

Jemari Alea gemetar. Ia balik halaman lebih cepat.

"Hari ke-30. Aku tidak mau lihat mama lagi. Aku tutup mata mama pakai spidol. Sekarang mama tidur nyenyak."

"Hari ke-45. Papa bilang aku harus bunuh anjing. Aku tidak mau. Papa marah. Papa kunci aku lagi."

"Hari ke-60. Aku sudah tidak tahu siapa aku. Kadang aku lihat diri sendiri dari atas. Aku tidur. Aku bangun. Tapi rasanya bukan aku."

Halaman terakhir.

"Hari ke-90. Papa buka pintu. Papa bilang aku boleh keluar. Tapi aku tidak mau. Di luar ada Damian. Damian yang tidak takut gelap. Damian yang bisa bunuh anjing. Damian yang disayang Papa.

Aku tinggal di sini saja."

Halaman selanjutnya kosong. Sampai halaman paling belakang.

Di sana, tulisan berbeda. Dewasa. Rapi. Dengan tinta hitam:

"Aku bunuh dia 20 tahun lalu. Tapi dia tidak pernah benar-benar pergi."

Alea jatuhkan buku itu. Mundur. Membentur dinding.

Dari arah lorong, terdengar suara.

Langkah kaki kecil. Pelan-pelan. Mendekat.

Alea membeku. Ponselnya jatuh. Senter mati.

Gelap total.

Langkah itu berhenti. Tepat di depannya. Alea bisa merasakan kehadiran—sesuatu yang kecil, yang hangat, yang bernapas.

Lalu suara itu.

Lirih. Lugu. Mengiris.

"Kak... main sama aku?"

---

Alea ingin berteriak. Tapi suaranya hilang.

Tangannya meraba-raba mencari ponsel. Menemukannya. Menyalakan senter.

Di depannya—

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi di dinding, di antara foto-foto itu, satu foto baru menempel. Foto yang sebelumnya tidak ada. Foto bocah laki-laki, piyama sutra kebesaran, rambut ikal acak-acakan.

Matanya juga dihitamkan.

Tapi di foto itu, bocah itu tersenyum.

Dan di bawah foto, tulisan baru:

"Sekarang aku punya teman."

Alea berlari. Meninggalkan ruangan, melewati lorong, mendorong lemari yang masih terbuka. Ia keluar ke kamar, membanting lemari hingga tertutup. Jatuh berlutut di lantai. Napasnya memburu.

Lima menit. Sepuluh menit.

Ia mencoba meyakinkan diri itu hanya halusinasi. Stres. Kurang tidur.

Lalu dari balik dinding—

Tok. Tok. Tok.

Bukan tiga kali. Tapi dua kali.

Seperti kode.

Seperti balasan.

Dan Alea tahu, tanpa bisa menjelaskan, artinya:

"Aku tunggu.

---[BERSAMBUNG...]╰⁠(⁠ ⁠・⁠ ⁠ᗜ⁠ ⁠・⁠ ⁠)⁠➝

Apakah Damian Kecil akan muncul lagi? Apa yang sebenarnya terjadi di ruang bawah tanah itu? Dan mengapa Damian dewasa tidak pernah memberi tahu Alea tentang lorong rahasia di kamarnya?

Jangan lewatkan Bab 4: DAMIAN KECIL. Alea akan bertemu langsung dengan penghuni lorong itu—dan dunia akan berubah selamanya.

Like, komen, dan share jika kamu berani lanjut baca! 🖤

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!