Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENERIMA UNDANGAN DANTE
"Dante mengundang ku makan malam besok di hotel Emerald, miliknya sebelum ia dan putranya pulang ke London lusa".
"Aku tidak tahu akan datang atau tidak. Tadi ia bilang mengundang ku dan suami ku makan malam bersama mereka Nia. Menurut mu bagaimana?".
Mikhaela yang sedang memangku Revan menatap Rania minta pendapat temannya tersebut.
"Dia duda kan? Kau harus pergi Mikha!", jawab Rania spontan.
"Demi Tuhan Nia, apa hanya itu yang kau pikirkan? Karena dia duda lantas aku harus menerima undangan nya?", seru Mikhaela sambil menggelengkan kepalanya dengan netra membulat mendengar jawaban Rania yang spontan itu.
"Ya, tidak ada yang salah kan dengan jawaban ku. Lagian dia sangat tampan Mikha, tahu aku yang duluan mengenalnya akan aku kejar sampai ke pelaminan", seloroh Rania tertawa cekikikan.
"Ya ampun kau ini Rania–".
"Apa yang membuat mu cekikikan seperti itu?". Suara menginterupsi Mikha dan Rania yang tengah duduk di sofa ruang kerja yang pintunya terbuka. Sandra baru saja tiba bersama dua putrinya yang cantik Mirabeth dan Dinda yang langsung menghampiri Revan yang di pangku Mikhaela.
"Mereka berdua sudah merindukan Revan, sudah dari beberapa hari yang lalu ingin bermain bersama tapi jadwal ku sangat padat", ujar Sandra yang duduk di sebelah Rania.
"Halo sayang", sapa Mikha pada Mirabeth dan Dinda. "Kenapa tidak tidur di rumah tante saja kalau kalian rindu adik Revan?".
Mendengar perkataan Mikha, Mirabeth yang berusia enam tahun itu langsung melompat girang menoleh pada mamanya. "Mau mah mau..., aku mau tidur di rumah tante dan Revan".
"Iya sayang. Tapi lain kali saja ya papa kan sedang tugas di luar kota. Nanti adik mu kesepian loh di rumah kalau mama pulang kerja malam. Lagian Mira harus les piano di rumah kan", jawab Sandra membujuk anak pertamanya tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Iya mah". Jawab gadis kecil itu dengan wajah tertunduk kecewa.
"Sekarang mumpung ketemu adik Revan, kamu bisa bermain dengannya sepuasnya". Mikhaela mengusap lembut rambut Mirabeth yang kini duduk di sampingnya.
Gadis mungil itu menganggukkan kepalanya. "Iya tante".
"Kalian belum menjawab ku, sepertinya ada yang aku lewatkan", Sandra menatap Mikha dan Rania bergantian.
"Kamu ingat incident yang Mikha alami tahun lalu San? Yang anak pemilik hotel Emerald itu loh San. Tadi anak itu datang ke sini, dan kau tahu ia tidak datang sendirian tapi dengan ayahnya loh. Wow... ternyata ayah anak itu ganteng banget. Tubuhnya seksi lagi", seloroh Rania bersemangat bercerita.
Mikhaela hanya menggelengkan kepalanya melihat temannya itu begitu antusias. "Berlebihan sekali. Makanya kamu segera menikah dengan kekasih mu, Nia. Kau dan Bagas sudah terlalu lama berpacaran".
"Dengan alasan mengambil jas-nya, laki-laki tampan itu ngajakin teman kita ini dinner di hotelnya". Rania tidak perduli dengan ucapan Mikha barusan tentang dirinya.
"Oh ya, benarkah? Wah berita penting nih", seru Sandra antusias menatap Mikha. "Kamu terima kan, Mik?".
Terdengar tarikan nafas Mikhaela. "Huhh...Rania berlebihan sekali. Bukan ngajak dinner, tapi mengundang ku makan malam biasa saja kok. Dante juga ngajak suami ku, ia nggak tahu aku sudah sendirian. Jadi aku nggak tahu mau datang nggak ke sana".
*
"Selamat malam nona Mikhaela, tuan Dante dan Eugene sudah menunggu ke hadiran kalian. Mari saya antar", sapa Luthfi asisten Dante yang telah menunggu kedatangan Mikhaela di lobby hotel.
Mikhaela menganggukkan kepalanya tersenyum pada laki-laki itu. Kemudian mengikuti Luthfi.
Beberapa jam yang lalu, Mikha memutuskan untuk pergi menerima undangan Dante. Ia datang bersama anaknya dan Ana yang akan membantunya menjaga Revan di kereta dorong.
Ternyata restoran cukup ramai pengunjung. Wajar saja Karena sekarang malam minggu.
Dari kejauhan Mikhaela sudah bisa melihat Eugene dan Dante yang tengah menelpon. Luthfi langsung mengajak Mikha ke tempat mereka.
"Permisi tuan, nona Mikhaela sudah datang", ucap Luthfi sopan memberi tahu atasannya.
Dante menoleh menatap Mikhaela, laki-laki itu segera mengakhiri percakapan melalui ponselnya. Ia berdiri dari kursi mempersilahkan Mikhaela duduk.
Dante sedikit celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang di belakang Mikhaela.
"Saya hanya bersama Revan dan pengasuhnya saja, semoga tidak masalah", ucap Mikha menjawab pertanyaan dari mimik wajah laki-laki tampan tersebut.
"Oh, kau tidak bersama suami mu?".
Mikhaela menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum menatap Eugene. Memberi tote bag berwarna putih pada anak tampan itu. Yang tampak girang menerima pemberian Mikhaela. "Semoga Eugene suka", ucap Mikhaela tersenyum.
Kedua mata Eugene berbinar melihat isi tote bag itu.
"Remote control aircraft?", teriaknya girang mengeluarkan mainan pesawat dari dalam kotak. "Thank you auntie, I really like it". Tanpa sungkan Eugene memeluk pinggang Mikhaela.
Pun Mikha mengusap lembut kepala anak tampan itu. Dante memperhatikan kedekatan putranya dengan Mikha. Walaupun mereka baru bertemu tiga kali.
Mikhaela tampak cantik malam ini dengan balutan dress selutut berwarna soft purple membuatnya tampak segar.
Tak lama kemudian, dua orang waiters mengantar makanan dan menata di atas meja. Hidangan western.
"Semoga kalian suka. Tapi kau bisa pesan makanan apapun yang kamu suka", ujar Dante.
Mikhaela tersenyum padanya. "Tidak perlu, ini sudah cukup bahkan kamu memesan makanannya terlalu banyak untuk kita saja yang makan", jawab Mikhaela melebarkan kedua matanya menatap semua hidangan yang tersaji di hadapannya.
"Aku tidak tahu, kau suka apa makanya aku pesan semuanya. Sebaiknya kita makan dulu, aku sudah lapar–".
"Dad, bolehkah aku makan di dekat Revan dan paman Luthfi?".
Dante menganggukkan kepalanya. "Tentu saja". Dante memanggil waiters agar membawa makanan putranya di meja belakang mereka di mana Ana yang memangku Revan duduk. Ada Luthfi juga di sana.
"Tunggu sebentar". Mikha memotong kecil-kecil daging steak yang akan di makan Eugene. Tindakan Mikhaela itu tak luput dari perhatian Dante.
Mikha tersenyum padanya, kemudian beralih pada makanan di atas meja. "Aku bingung mau mencoba yang mana dulu", ucap Mikhaela dengan wajah tampak menggemaskan.
"Kamu harus mencoba steak Olive Wagyu ini dari hotel ku, rasanya sangat enak. Menu kesukaan aku dan Eugene", ujar Dante mengangkat piring berisi steak yang ia maksud. Potongan daging tebal dengan minyak zaitun membuat aromanya begitu khas.
Mikha menerima piring itu. "Wah, aku dapat rekomendasi langsung sama pemilik hotel ini. Pasti rasanya tidak mengecewakan", ucap Mikhaela.
"Salah satu hidangan terbaik di sini". Dante menyuapkan potongan daging ke mulutnya seraya tersenyum melihat perubahan wajah Mikha ketika makan potongan Olive Wagyu kemulutnya.
"Benaran seenak ini?". Kedua netra indah Mikha membulat sempurna menikmati kelezatan makanannya.
"Kenapa kau tidak mengajak suami mu? Padahal aku ingin berkenalan dengannya, mengucap terima kasih atas kebaikan istrinya pada putra ku", ujar Dante menatap intens wajah cantik Mikha yang mendadak terdiam mendengar pertanyaan Dante.
...***...
To be continue
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂