NovelToon NovelToon
Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Anime
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
​Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
​Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
​Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Putih Yang Membeku

Perjalanan di dalam saluran ventilasi itu terasa seperti merangkak di dalam perut ular logam yang panas dan sesak. Keringat mulai membasahi dahi Yuuichi, menetes perlahan melalui lekukan wajahnya dan jatuh ke punggung tangan Chika yang berada tepat di depannya – membuat sang guru sedikit menggigil karena sentuhan dinginnya. Setiap inci pergerakan mereka harus dilakukan dengan perhitungan matang hingga paling halus; sedikit saja lutut mereka membentur dasar seng yang kasar, suara gema logam yang timbul akan menjadi lonceng kematian yang pasti mengundang makhluk raksasa yang sedang berkeliaran di bawah sana.

Setelah hampir lima belas menit merangkak dalam keheningan yang menyesakkan – keheningan yang hanya terpecah oleh suara napas yang tertahan dan gesekan baju dengan logam – Yuuichi melihat secercah cahaya yang lebih luas dari jeruji logam di depan mereka. Ujung dari lorong yang menyiksakan ini telah tiba.

"Kita sampai," bisik Yuuichi dengan suara yang penuh dengan kepuasan namun tetap waspada.

Ia meregangkan tangan untuk mencapai jeruji terakhir yang menghadap langsung ke balkon kayu gedung olahraga. Dari ketinggian sekitar lima meter ini, mereka bisa melihat luasnya lapangan basket di bawah – ruangan yang biasanya ramai dengan suara teriakan siswa saat pertandingan kini sepi dan penuh dengan kesuraman. Bau busuk yang menyengat dari tubuh yang sudah membusuk menembus ke hidung mereka, menandakan bahwa tempat ini sama sekali tidak kosong. Beberapa mayat siswa berserakan di tengah lapangan, dan pintu masuk utama di lantai bawah tampak hancur dengan bentuk yang tidak rata – jelas bekas hantaman dari si raksasa 'Tank' yang mereka lihat di aula tadi.

Yuuichi menendang jeruji itu dengan sangat perlahan menggunakan telapak kakinya, di mana ia telah melapisi lapisan energi es tipis untuk meredam bunyi benturan.

Krek...

Jeruji logam itu terlepas dengan mudah dan jatuh ke balkon dengan suara yang hampir tidak terdengar. Tanpa ragu, Yuuichi melompat turun terlebih dahulu, tubuhnya melayang di udara seolah tanpa berat sebelum mendarat dengan lincah seperti kucing di atas permukaan kayu balkon yang sedikit licin.

Segera setelah itu, ia membantu Chika, Sakura, dan Rina turun satu per satu dengan hati-hati. Saat Rina mendarat dengan posisi yang sedikit goyah, ia langsung membuka tas ranselnya yang selalu ia bawa ke sekolah dan mengeluarkan empat botol molotov buatannya – masing-masing terlihat sangat rapi dengan sumbu kain yang sudah diolesi minyak untuk memastikan mudah menyala.

"Ini tidak akan cukup untuk membunuh monster sebesar itu, Yuuichi," ujar Rina sambil memperbaiki posisi kacamatanya yang sedikit miring akibat perjalanan di saluran ventilasi. Matanya yang cerdas memindai setiap sudut lapangan dengan cepat. "Secara kalkulasi matematis, daya ledak dari bensin biasa hanya akan mampu membakar kulit luarnya dan menyebabkan sedikit rasa sakit – tidak akan cukup untuk merusak organ vital yang berada di dalam tubuhnya yang besar itu."

Yuuichi mengambil salah satu botol molotov itu dengan hati-hati, ujung jarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin. Matanya yang biasanya merah pekat berubah menjadi warna biru es yang tajam – seperti kristal es yang sedang menyala. "Itu jika kau hanya menggunakan bensin biasa, Rina. Tapi sekarang, kita tidak lagi hidup dalam dunia yang mengikuti hukum alam semesta yang lama."

Yuuichi memejamkan mata sejenak, fokus mengaktifkan fungsi sistem yang telah lama ia asah dalam ingatan masa lalunya – kemampuan yang ia pelajari setelah harus bertarung dengan berbagai makhluk buas di akhir dunia yang dulu.

[ KETERAMPILAN AKTIF: PEMBUATAN SENJATA MAGIS (TINGKAT 2) ]

[ MENGGUNAKAN MATERIAL: KRISTAL ENERGI ES (INTI KECIL) – DARI INVENTARIS SISTEM ]

[ PROSES PENGGABUNGAN MOLEKULER DIMULAI ]

Sebuah cahaya biru pudar yang lembut terpancar dari telapak tangan Yuuichi, merayap perlahan masuk melalui bagian tutup botol dan menyebar ke dalam cairan bensin yang tadinya berwarna kuning bening. Dalam hitungan detik, cairan itu berubah menjadi warna biru pekat yang mengeluarkan uap dingin yang terlihat jelas di udara hangat gedung olahraga – namun yang paling mengejutkan, cairan yang sudah dingin itu tetap bisa terbakar dan bahkan mengeluarkan nyala yang lebih terang dari biasanya.

Rina terbelalak, mulutnya terbuka lebar dalam keadaan tidak percaya. Ia mendekat dengan cepat, nyaris menempelkan hidungnya ke permukaan botol itu sambil mengeluarkan suara bisik kagum. "Bagaimana mungkin... kau bisa mengubah struktur molekul hidrokarbon secara instan tanpa menggunakan peralatan laboratorium yang canggih? Ini jelas melanggar hukum termodinamika kedua tentang konservasi energi!"

"Simpan semua pertanyaan ilmiahmu untuk nanti, Jenius," potong Yuuichi dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan. Ia menyerahkan botol yang telah dimodifikasi itu kembali ke Rina, yang kini menatapnya dengan pandangan yang bercampur antara rasa takut dan kagum yang dalam. "Ini sekarang adalah bom yang aku sebut 'Pembekuan Termal'. Saat meledak, api yang dihasilkan tidak akan menyebar ke sekeliling seperti api biasa, melainkan akan menyerap panas di sekitarnya secara ekstrem. Dalam radius dua meter dari titik ledakan, apa pun yang terkena akan membeku hingga ke tingkat sel sebelum akhirnya pecah menjadi serpihan kecil karena tekanan yang terbentuk dari perbedaan suhu yang ekstrem."

Yuuichi kemudian menoleh perlahan ke arah Sakura yang telah mengambil posisi di sisi balkon, matanya siap dan penuh fokus. "Sakura, aku ingin kau mengambil posisi di balkon seberang yang menghadap pintu masuk utama. Ada gudang peralatan olahraga di sana yang seharusnya menyimpan busur dan anak panah yang digunakan untuk ekstrakurikuler panahan. Saat monster itu masuk ke dalam gedung, gunakan mereka untuk menyerangnya. Aku ingin kau memancing perhatiannya dan membawanya ke tengah lapangan – tepat di bawah posisi aku dan Rina."

Sakura mengangguk dengan mantap, wajahnya yang biasanya lembut kini penuh dengan tekad yang kuat. "Serahkan padaku saja, Yuuichi-kun. Aku akan memastikan dia datang tepat ke tempat yang kita inginkan."

"Sensei, kamu tetap berada di belakang Rina dan bantu dia menyiapkan sumbu cadangan jika diperlukan. Juga bersiap dengan peralatan medis apa adanya – meskipun aku berharap kita tidak akan membutuhkannya," perintah Yuuichi kepada Chika yang tampak wajahnya pucat namun berusaha tetap tegar. Chika mengangguk dengan cepat, tangannya yang sedikit gemetar mulai mempersiapkan tas medis yang ia bawa.

Yuuichi sendiri berjalan ke tepi balkon, tubuhnya berdiri tegak sambil menatap pintu masuk yang hancur di lantai bawah. Detak jantungnya tetap stabil seperti jam mekanik, napasnya teratur dan dalam – menunjukkan kontrol diri yang luar biasa meskipun akan menghadapi musuh yang sangat kuat. Di kepalanya, suara Miu terdengar lebih serius dari biasanya, tanpa ada ejekan atau candaan seperti biasa.

"Dia datang dengan cepat, Kakak. Sekarang berada tiga puluh meter dari pintu masuk utama. Kecepatan geraknya semakin meningkat – sepertinya dia benar-benar mencium aroma 'makanan segar' dari kita yang berada di atas sini. Siapkan dirimu."

Bagus. Biarkan dia datang saja. Semakin marah dia, semakin mudah untuk mengontrol gerakannya, batin Yuuichi sambil menggenggam gagang katana Nichirin yang selalu ada di sisinya.

Sebuah dentuman keras yang menggema menghantam bagian sisa pintu masuk yang masih berdiri.

BRAKK!

Sosok raksasa 'Tank' itu muncul dengan gaya yang mengerikan dari balik puing-puing pintu. Otot-otot tubuhnya yang besar berkedut liar seperti sedang bergerak sendiri, dan matanya yang putih tanpa pupil menyapu seluruh isi gedung olahraga dengan tatapan yang kejam dan lapar. Ia mengeluarkan raungan yang sangat keras hingga membuat kaca-kaca jendela di bagian atas gedung bergetar hebat dan mulai retak membentuk pola seperti bunga kristal.

"Sekarang, Sakura!" teriak Yuuichi dengan suara yang jelas dan kuat, terdengar hingga ke sudut paling jauh gedung.

Wusss!

Sebuah anak panah yang ditembakkan dengan presisi sempurna meluncur dari arah balkon seberang, menghantam tepat di bahu si raksasa yang besar itu. Meskipun tidak mampu melukainya secara serius atau membuatnya terluka berat, serangan itu cukup untuk membuat makhluk itu marah luar biasa. Ia meraung dengan suara yang membuat telinga berdenging dan mulai berlari dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang besar menuju tengah lapangan – tepat di bawah posisi di mana Yuuichi dan Rina berdiri.

"Rina, jatuhkan bomnya sekarang!"

Rina tidak perlu diperintah dua kali. Ia dengan cepat menyulut ujung sumbu molotov berwarna biru itu menggunakan pemantik zippo yang selalu ada di kantong jas laboratoriumnya, lalu melemparkannya dengan presisi yang mengejutkan – menunjukkan bahwa ia bukan hanya jenius di bidang ilmu pengetahuan, tapi juga memiliki ketangkasan yang baik.

Botol itu meluncur di udara dengan indah, berputar-putar perlahan sambil menciptakan jejak cahaya biru yang memukau sebelum akhirnya meledak tepat di atas kepala si raksasa dengan suara ledakan yang tidak terlalu keras namun sangat menggema.

BOOM!

Ledakan itu tidak menghasilkan nyala api berwarna merah atau oranye seperti biasanya, melainkan ledakan cahaya putih kebiruan yang sangat menyilaukan hingga membuat semua orang harus menutup mata sejenak. Suhu di dalam gedung olahraga yang tadinya hangat seketika turun drastis hingga di bawah nol derajat Celsius – kabut tebal muncul entah dari mana karena uap air di udara membeku menjadi butiran es halus yang berterbangan di seluruh ruangan.

Raungan kesakitan si raksasa terhenti seketika, digantikan oleh suara krak... krak... yang mengerikan seperti pecahnya es besar di musim dingin. Seluruh tubuh bagian atas makhluk itu – mulai dari kepala hingga dada – membeku secara instan dalam bongkahan es hitam yang tebal dan mengkilap. Namun, seperti yang telah dijelaskan Yuuichi sebelumnya, es itu tidak hanya membekukan tubuhnya – karena dorongan energi api yang ada di dalam botol, es itu terus berkembang dan menyebabkan retakan yang semakin membesar, menghancurkan otot-otot dan tulang di bawahnya dengan cara yang sangat menyakitkan.

"Target kecepatan gerakan melambat drastis. Efektivitas serangan: 70%. Tapi hati-hati Kakak! Cangkang es yang membungkus tubuhnya mulai retak dari dalam – dia belum mati dan masih bisa menyerang!"

"Aku tahu," desis Yuuichi dengan suara yang dingin namun penuh keyakinan. Tanpa ragu, ia melompat dari tepi balkon lantai dua, tubuhnya terjun bebas dari ketinggian lima meter menuju monster yang sedang meronta dan mencoba melepaskan diri dari belenggu es yang membungkusnya. Di tengah udara yang dingin dan penuh kabut es, ia menarik katana Nichirin-nya dengan gerakan yang lancar dan indah.

[ KETERAMPILAN AKTIF: PERNAPASAN MATAHARI - FORMASI KEDUA: CAHAYA ES SURYA ]

Bilah pedang yang biasanya berwarna biru es tiba-tiba menyala dengan api biru yang sangat terang – seperti kombinasi antara es yang membekukan dan api yang membakar. Yuuichi berputar tubuhnya di udara sebanyak tiga kali, menciptakan pusaran energi yang mematikan dan sangat cepat sebelum akhirnya menghantam bilah pedangnya ke bagian leher si raksasa yang masih sebagian membeku.

"Mati kau, kesalahan biologis yang tidak seharusnya ada di dunia ini!"

SRAKKKK!

Suara gesekan pedang dengan tulang dan es terdengar jelas di seluruh gedung yang sunyi. Yuuichi mendarat dengan posisi berlutut di lantai kayu di belakang monster itu, tubuhnya tetap stabil dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun. Pedangnya telah dengan cepat disarung kembali ke dalam sarungnya dalam sekejap. Di belakangnya, kepala si raksasa yang besar dan sudah membeku itu perlahan terlepas dari lehernya dengan sangat mulus, jatuh ke lantai kayu dengan suara thud yang sedikit tumpul sebelum akhirnya hancur menjadi debu es halus yang segera menghilang di udara. Tubuh raksasanya yang besar kemudian ambruk dengan keras ke lantai, menimbulkan getaran kecil yang merambat ke seluruh bagian gedung olahraga.

Hening total menyelimuti ruangan. Tidak ada suara lain selain napas yang terengah-engah dari mereka yang menyaksikan pertempuran yang singkat namun sangat dahsyat itu.

Yuuichi berdiri perlahan, tangannya menyeka sisa uap es yang menempel di kerah jaket kulitnya yang sudah sedikit bekas es. Ia menoleh ke atas, ke arah balkon di mana ketiga wanitanya berdiri dan menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Chika menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mata berkaca-kaca karena keterkejutan dan rasa lega yang luar biasa. Sakura masih memegang busurnya dengan tangan yang sedikit gemetar, wajahnya penuh dengan kagum yang dalam pada sosok pria yang telah menyelamatkan mereka berkali-kali. Dan Rina... Rina hanya berdiri diam dengan wajah yang tenang namun mata yang berbinar penuh dengan rasa ingin tahu yang berbahaya – seolah ia telah menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada semua ilmu pengetahuan yang pernah ia pelajari.

"Pemberitahuan Sistem: Boss Area 'The Tank' telah berhasil dikalahkan."

[ HADIAH MISI BERHASIL: ]

- 10 Poin Atribut Tersedia

- KETERAMPILAN BARU DIDAPATKAN: ANALISIS MENDALAM (Dapat mengidentifikasi kelemahan musuh dalam waktu singkat setelah mengamatinya)

"Tidak buruk sekali ya Kakak. Tapi jangan terlalu cepat merasa puas atau sombong. Aku baru saja mendeteksi adanya setidaknya lima makhluk serupa di luar gerbang sekolah – bahkan mungkin lebih banyak lagi. Dan yang paling penting... mereka jauh lebih lapar dan lebih kuat daripada yang kamu kalahkan tadi."

Yuuichi menyeringai tipis – sebuah seringai yang penuh dengan karisma dan keyakinan yang membuat jantung para gadis di atas sana berdegup kencang karena alasan yang berbeda dari rasa takut. Ia mengangkat tangan dengan santai, memberikan isyarat bahwa semuanya sudah aman. "Kalau begitu, kita tidak punya waktu untuk berlama-lama di sini. Kita harus segera pergi dari sekolah ini dan mencari tempat yang lebih aman. Selain itu, aku tidak ingin terlambat untuk makan malam – setelah semua yang kita alami hari ini, kita pasti butuh makanan yang banyak untuk mengembalikan energi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!