💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Janji yang terasa berat.
Langit sore sudah mulai berwarna jingga, Viona menyilangkan tangannya di depan dada dengan mata yang masih terpaku pada pemandangan luar kaca mobil yang mulai redup. Pandangannya memang menatap jauh ke luar jendela, namun matanya tidak fokus pada pemandangan yang lewat. Pikirannya terbang jauh memikirkan Arsen yang belum juga membalas pesan-pesannya.
"Sudah sejak siang aku tidak melihatnya di kantor. Apa mungkin dia masih bersama dengan wanita itu?" gumamnya dalam hati, hatinya mulai kesal memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi antara Arsen dengan Clara.
Farel yang sedang mengemudi pun menoleh saat menyadari Viona terus melamun sejak mereka masuk kedalam mobil. "Kamu diam saja dari tadi. Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Viona sedikit terkejut dan segera mengalihkan pandangannya ke arah Farel. "Tidak ada apa-apa kok, mungkin aku hanya sedikit capek saja."
Namun jawaban itu hanya omong kosong belaka. Dalam benaknya dia terus memikirkan apa yang sedang dilakukan Arsen sekarang bersama dengan Clara.
Farel mengernyitkan kening, jelas dia tidak percaya dengan jawaban Viona. Dia sedikit mengurangi kecepatan mobil saat lampu lalu lintas menyala merah.
"Apa Paman menghukummu lagi?" tanyanya sambil menatap ke arah Viona dengan tatapan penuh selidik. "Atau mungkin kamu sedang memikirkan seseorang?"
Viona menoleh kembali ke arah Farel dengan cepat, "Kamu bicara apa sih, Rel? Aku sudah bilang aku cuma capek. Paman tidak menghukumku dan aku tidak sedang memikirkan siapa-siapa."
Farel mengangguk perlahan, tapi ekspresinya masih menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya. Lampu lalu lintas mulai berubah menjadi hijau, dia menekan pedal gas dengan hati-hati sambil pandangannya sesekali terarah ke arah Viona.
"Kita sudah bertunangan, aku tidak suka kalau kamu sampai memikirkan pria lain," ucapnya dengan nada yang sedikit menurun. "Aku paling tidak suka dikhianati, Viona."
Suara Farel yang sedikit menurun membuat suasana di dalam mobil jadi semakin berat. Viona merasa dadanya sedikit sesak, tangannya secara tidak sadar menggenggam ujung roknya.
"Kamu salah paham, Rel. Aku tidak pernah berpikir tentang orang lain," tegasnya meskipun hatinya sedikit goyah. Pikiran tentang Arsen yang belum membalas pesan membuatnya sulit fokus untuk membela diri.
Farel menghela napas panjang, matanya tetap terpaku pada jalanan depan. "Aku hanya mengingatkan saja, Vi. Kita sudah punya komitmen satu sama lain. Papaku juga sudah mempercayakanmu padaku, jadi aku harus menjaga kamu dan juga hubungan ini dengan baik."
Dia menumpukkan tangannya ke atas tangan Viona yang ada di atas pangkuannya, "Aku mencintaimu, Vio. Kamu juga sudah mencintaiku kan?"
Viona menutup mata sejenak, merasa seperti ada beban berat yang menghimpit hatinya. Dia tidak bisa menjawab dengan tegas seperti sebelumnya, kata-kata 'aku mencintaimu' seolah terkunci dalam tenggorokannya.
"Aku menghargai perasaanmu, Rel," ucapnya dengan suara pelan, menghindari pandangan Farel. "Kamu dan keluargamu selalu ada untukku, terimakasih."
Tangannya yang ditutupi oleh tangan Farel tetap tidak bergerak. Dia tahu jawaban itu bukanlah jawaban yang ingin didengar oleh tunangannya.
Farel mengerutkan kening, ekspresinya semakin mendung. "Jadi itu saja? Hanya menghargai?" Suaranya terdengar kecewa. "Kita sudah bertunangan, Vio. Tapi bukannya semakin dekat, aku justru merasa hubungan kita ini semakin jauh."
Viona menoleh ke arah jendela, perasaan bersalah mulai menyelimuti dirinya. "Sekarang aku benar-benar lelah dan tidak bisa berpikir dengan jernih, Rel. Tolong, jangan bicarakan tentang hal ini dulu," pintanya dengan nada lemah.
Farel menghela napas lagi, dia perlahan menarik tangannya kembali dan menumpukkan kedua tangannya di setir, pandangannya fokus pada jalanan yang sudah mulai gelap.
"Baiklah," ucapnya dengan suara yang terdengar lemah. "Aku tidak akan memaksamu bicara sekarang."
Suasana di dalam mobil kembali sunyi, hanya terdengar bunyi mesin dan suara angin yang menyelinap masuk melalui celah jendela.
Viona tetap menatap keluar kaca mobil, matanya menatap jauh dengan tatapan kosong. Hatinya penuh dengan kekacauan, rasa khawatir tentang Arsen, rasa bersalah pada Farel, dan kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan dengan hubungan yang terjalin karena janji mendiang ayahnya dengan papanya Farel. Janji itu kini terasa begitu berat baginya.
-
-
-
Viona turun dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun, melangkahkan kakinya cepat menuju pintu utama. Sementara Farel hanya bisa menatap dari belakang sebelum akhirnya mengikuti masuk.
"Viona, Farel, kalian sudah pulang, Nak." sapa Saskia begitu melihat putra dan calon menantunya datang. Kemudian wanita itu melangkah mendekat ke arah Viona yang sudah berdiri di bawah anak tangga.
Viona hanya mengangguk pelan sebagai balasan sapaan Saskia, "Tante kelihatannya lagi bahagia banget."
Saskia tersenyum lebar dan mengangguk dengan antusias. "Ya dong, sayang. Akhirnya Tante mendapatkan kabar baik dari Clara. Clara bilang pertemuannya dengan Arsen tadi siang sangat menyenangkan. Dan dia juga bilang kalau mereka berdua sangat cocok, jadi Tante ingin mengundang Clara untuk makan malam di rumah besok malam."
Viona terkejut mendengarnya, bibirnya sedikit terbuka dan matanya melebar, "Menyenangkan? Cocok? Apa-apaan ini! Apa yang sudah dilakukan oleh Paman mesum itu sebenarnya?"
"Tante mau mengundang Clara makan malam ke rumah?" tanya Viona lagi untuk memastikan, memaksakan sebuah senyuman diwajahnya.
"Benar sekali, sayang. Kamu dan Farel harus membiasakan memanggilnya dengan sebutan Tante Clara biar bisa lebih dekat, dan bahkan mungkin nanti Tante Clara akan menjadi bagian dari keluarga kita juga," ucap Saskia dengan mata yang bersinar penuh harapan.
Viona hanya mengangguk pelan, senyum yang dia paksakan mulai goyah, "Sebenarnya apa yang sudah Paman obrolkan dengan wanita itu sampai wanita itu merasa cocok dengan Paman?"
Farel yang berdiri didekat mereka pun akhirnya memberi tanggapan, "Baguslah jika ada wanita yang mau dekat dengan Paman. Jadi Paman bisa secepatnya menikah dan keluar dari rumah ini."
"Farel!" bentak Saskia, pandangannya beralih menatap sang putra dengan tatapan menajam. "Jaga bicara kamu! Paman Arsen tinggal disini atas permintaan kakek. Lagipula ini adalah rumah kakek, jadi paman memang sudah seharusnya tinggal di rumah ini!"
Farel hanya menanggapinya dengan tak acuh, bahunya sedikit terangkat dan wajahnya tetap menutup kemarahan yang tersembunyi. Dia malas melanjutkan perdebatan dengan mamanya, apalagi ada Viona disana. "Sudahlah, aku capek mau mandi dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari Mamanya, Farel langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga. Saskia hanya bisa menatap ke arah kepergian putranya dengan tatapan sedih, lalu kembali memasang senyum dan menoleh ke arah Viona.
"Viona, kamu ganti baju dulu habis itu bantu Tante siapin buat makan malam ya sayang," ucap Saskia dengan nada lembut, mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Viona masih berdiri dengan wajah bingung, tapi kemudian dia mengangguk pelan dan tersenyum. "Baik, Tante."
Suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah tersebut. Viona yang baru saja berbalik pun menghentikan geraknya, telinganya terpaku pada suara tersebut. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan diikuti dengan sosok Arsen yang masuk dengan wajah yang terlihat lelah namun tetap membawa aura tenang yang selalu membuat hati Viona bergetar. Rambutnya sedikit berantakan, dan jas kantornya sudah dilepas hingga hanya menyisakan kemeja putih yang digulung bagian lengannya hingga ke siku.
Arsen menghentikan langkahnya begitu dia sampai di ruang tengah, menatap Saskia yang berdiri dengan wajah bersinar bahagia, lalu beralih menatap Viona yang masih berdiri disamping Saskia dengan tatapan bingung yang terpaku padanya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian menatapku dengan tatapan seperti itu?"
-
-
-
Bersambung...