NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: SERPIHAN YANG TERLUPAKAN

Langit di atas kota Oakhaven tidak pernah benar-benar biru. Bagi Kai, warna itu hanyalah mitos yang diceritakan dalam buku-buku lama atau lukisan-lukisan pudar di galeri yang jarang dikunjungi orang. Di sini, langit adalah kanvas monokrom; gradasi abu-abu yang membosankan, seolah-olah tuhan sedang malas mencampur warna dan membiarkan segalanya nampak seperti jelaga yang basah.

Kai berdiri di tepi balkon apartemennya yang sempit di lantai empat. Pagar besinya yang berkarat terasa dingin di bawah jemarinya yang pucat. Ia tidak memakai jaket, hanya kemeja tipis berwarna abu-abu tua yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, membiarkan angin musim dingin yang tajam menyentuh kulit lehernya. Rasa dingin itu adalah satu-satunya hal yang meyakinkannya bahwa ia masih hidup, bahwa saraf-sarafnya belum sepenuhnya mati rasa oleh rutinitas yang mencekik.

Lalu, partikel kecil itu jatuh.

Satu serpihan salju mendarat di ujung hidungnya sebelum mencair seketika. Kai menengadahkan kepalanya. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan ribuan bintik putih itu turun dari angkasa dengan keanggunan yang tidak adil. Salju adalah paradoks bagi Kai; ia indah, tapi ia mematikan segala sesuatu yang disentuhnya. Ia menutupi kotoran kota dengan selimut putih yang murni, namun di bawahnya, sampah dan bau busuk tetap ada, hanya tersembunyi untuk sementara.

"Kenapa kau selalu melakukan itu?"

Sebuah suara memecah kesunyian. Kai tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang bicara. Itu adalah tetangga sebelahnya, seorang pria tua bernama Pak tua Aris yang selalu merokok cerutu murah di balkon sebelah.

Kai tetap menatap langit. Rambut hitamnya yang berantakan tertiup angin, menutupi sebagian matanya yang sayu. "Melakukan apa?" suaranya serak, jarang digunakan untuk percakapan panjang.

"Menatap langit seolah kau sedang menunggu seseorang menjatuhkan tali untuk menarikmu keluar dari dunia ini," Aris terkekeh, suara batuk kering mengikuti tawa itu. "Kau masih muda, Kai. Kau seharusnya berada di bawah sana, di bar, mencari kehangatan dari tubuh seseorang atau segelas wiski. Bukan berdiri di sini menjadi patung es."

Kai menarik napas panjang, menghirup udara dingin yang terasa seperti pisau di paru-parunya. "Di bawah sana terlalu berisik, Pak Aris. Terlalu banyak orang yang berpura-pura bahagia hanya karena lampu-lampu neon menyala terang. Di sini, setidaknya, aku tahu persis betapa sepinya aku."

Aris terdiam. Ia mematikan cerutunya di pagar balkon. "Sepi itu candu, Nak. Sekali kau jatuh cinta padanya, kau tidak akan pernah ingin pergi. Dan itu akan membunuhmu perlahan-lahan."

Kai tidak menjawab. Ia tidak takut pada kematian yang perlahan. Ia justru lebih takut pada kehidupan yang dipaksakan. Setelah Aris masuk ke dalam rumahnya, Kai kembali sendirian dengan pikirannya.

Pikirannya adalah sebuah labirin tanpa pintu keluar. Ia teringat pada rumah lamanya, pada aroma kayu pinus dan suara tawa yang kini hanya menjadi gema yang menyakitkan. Ada alasan mengapa Kai memilih Oakhaven. Kota ini tidak memiliki memori tentangnya. Di sini, ia adalah orang asing di tengah kerumunan orang asing lainnya. Tidak ada yang bertanya tentang luka di pergelangan tangannya, atau mengapa ia seringkali terlihat seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang.

Ia melangkah masuk ke dalam apartemennya. Ruangan itu tidak lebih dari dua puluh meter persegi. Ada sebuah kasur di lantai, tumpukan buku yang tidak rapi, dan sebuah meja kayu tua yang penuh dengan sketsa-sketsa arang. Kai adalah seorang pelukis yang kehilangan warnanya. Sejak "kejadian itu", ia tidak bisa lagi melihat warna merah, kuning, atau biru dalam pikirannya. Semuanya berubah menjadi abu-abu. Sketsa di atas mejanya selalu sama: bayangan seorang wanita yang berdiri di tengah badai, tanpa wajah, hanya siluet yang memudar.

Kai duduk di kursi kayu yang berderit. Ia mengambil sebatang arang, jemarinya yang gemetar mulai menggores kertas putih yang bersih. Ia ingin menggambar salju yang ia lihat tadi, tapi setiap garis yang ia buat terasa salah. Salju seharusnya melambangkan kesucian, tapi di tangannya, salju itu nampak seperti abu pembakaran.

Perutnya berbunyi, pengingat kasar bahwa ia belum makan sejak kemarin sore. Ia berdiri, mengambil dompetnya yang tipis, dan memutuskan untuk keluar. Mungkin Pak Aris benar, ia butuh sesuatu yang lain selain udara dingin.

Jalanan Oakhaven di malam hari adalah perpaduan antara cahaya lampu jalan yang redup dan bayang-bayang panjang. Kai berjalan dengan tangan di dalam saku celananya, bahunya membungkuk seolah ia mencoba melindungi dirinya dari dunia. Ia melewati toko roti yang sudah tutup, toko buku tua dengan jendela yang berdebu, dan sebuah kafe kecil bernama 'The Last Note'.

Ia berhenti di depan kafe itu. Musik jazz sayup-sayup terdengar dari dalam. Biasanya ia akan terus berjalan, tapi malam ini, aroma kopi yang kuat dan hangat seolah menariknya secara fisik.

Kai mendorong pintu kaca kafe itu. Sebuah lonceng kecil berdenting. Suasana di dalam sangat kontras dengan luar. Lampu kuning temaram memberikan kesan hangat yang hampir membuat mata Kai perih. Hanya ada beberapa pelanggan. Di sudut ruangan, seorang wanita sedang memainkan piano—sebuah melodi yang lambat dan melankolis, seolah piano itu sendiri sedang menangis.

"Satu kopi hitam. Tanpa gula," ucap Kai pada barista di balik meja counter.

Barista itu, seorang gadis muda dengan rambut dikuncir kuda, menatap Kai sejenak dengan tatapan menyelidik. Mungkin karena penampilan Kai yang terlihat seperti orang yang baru saja selamat dari kecelakaan kapal. "Kau kedinginan, ya? Ingin ditambah kayu manis sedikit? Itu bagus untuk sirkulasi darah."

"Hitam saja," ulang Kai datar. Ia tidak butuh kebaikan orang asing. Kebaikan adalah utang yang tidak bisa ia bayar.

Setelah menerima cup kopinya, Kai memilih meja paling pojok, jauh dari jendela dan lampu utama. Ia menyesap kopi panas itu, membiarkan cairannya yang pahit membakar lidahnya. Itu adalah rasa yang ia kenali. Pahit. Nyata.

Matanya beralih pada wanita di depan piano. Wanita itu tidak melihat ke arah tuts, ia menatap ke depan dengan pandangan kosong yang sangat familiar bagi Kai. Itu adalah pandangan seseorang yang sudah lama menyerah pada keadaan. Melodi yang ia mainkan seolah menjadi soundtrack bagi hidup Kai selama tiga tahun terakhir.

Tiba-tiba, musik berhenti. Wanita itu menoleh, dan untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Dunia di sekitar Kai seolah berhenti berputar. Ada sesuatu di mata wanita itu—sebuah pengakuan. Seperti dua orang yang tenggelam di laut yang sama dan akhirnya saling melihat di bawah permukaan air. Wanita itu tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak mencapai mata, lalu ia berdiri dan meninggalkan piano tersebut.

Kai terpaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia menatap cup kopinya yang kini tinggal setengah. Uapnya masih mengepul, menari-nari di udara seperti hantu kecil.

Siapa dia? Dan kenapa lagunya terdengar seperti isi kepala Kai?

Kai menghabiskan kopinya dengan satu tegukan besar, rasa pahitnya tertinggal di tenggorokan. Ia berdiri dan bergegas keluar dari kafe, seolah-olah jika ia tinggal lebih lama, dinding-dinding kafe itu akan runtuh menimpanya.

Di luar, salju turun lebih lebat sekarang. Kai kembali menengadahkan kepalanya. Kali ini, ia tidak mencari pelarian. Ia mencari jawaban di antara ribuan serpihan putih itu.

"Oakhaven," gumamnya pada kegelapan malam. "Mungkin kau tidak sepi yang aku kira."

Ia berjalan pulang dengan langkah yang sedikit lebih tegas. Di kepalanya, melodi piano tadi masih berputar, bercampur dengan suara angin musim dingin. Malam ini adalah awal dari sesuatu. Entah itu awal dari kehancuran yang lebih besar, atau awal dari cairnya es yang membungkus hatinya, Kai belum tahu.

Yang ia tahu hanyalah satu hal: salju malam ini tidak lagi terasa terlalu dingin.

Saat ia sampai kembali di apartemennya, Kai tidak langsung tidur. Ia kembali ke meja sketsanya. Ia mengambil selembar kertas baru. Dengan gerakan yang lebih yakin, ia mulai menggoreskan arangnya. Kali ini, ia tidak menggambar siluet tanpa wajah. Ia menggambar sebuah piano tua di tengah badai salju, dengan satu kursi kosong di depannya.

Ia bekerja hingga larut malam, hingga jemarinya hitam oleh arang dan matanya terasa berat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Kai tidak memimpikan kecelakaan itu. Ia bermimpi tentang sebuah lagu yang tidak memiliki judul, namun memiliki rasa seperti rumah.

Besok adalah hari baru. Dan bagi Kai, hari baru biasanya berarti perjuangan baru untuk tetap bernapas. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa ingin melihat apa yang ada di balik langit abu-abu Oakhaven besok pagi.

Ia mematikan lampu meja, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan. Di luar, salju terus turun, menutupi jejak langkah Kai di trotoar, seolah ingin menghapus masa lalunya dan memberinya jalan yang bersih untuk melangkah—meskipun jalan itu masih sangat dingin.

Kai memejamkan mata, dan dalam kegelapan itu, ia berbisik pada dirinya sendiri, seolah-olah itu adalah sebuah mantra untuk bertahan hidup.

"Bernapaslah, Kai. Hanya perlu terus bernapas."

Dan musim dingin pun terus berlanjut, menyimpan rahasia-rahasia yang hanya akan terungkap saat matahari benar-benar berani menampakkan dirinya lagi. Namun untuk saat ini, bagi Kai, abu-abu sudah cukup. Untuk saat ini, ia masih ada di sini. Dan itu, untuk pertama kalinya, terasa seperti sebuah kemenangan kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!