NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: HADIAH DALAM KEGELAPAN

​Kegelapan adalah satu-satunya teman yang Gwen miliki selama enam bulan terakhir. Di balik perban tipis yang selalu menutupi matanya, dunia Gwen hanyalah suara, aroma, dan sentuhan. Namun hari ini, ada sesuatu yang berbeda.

​Gwen duduk di kursi roda dekat jendela besar mansion Adiguna. Aroma parfum wood sage milik Reno—suaminya—tercium mendekat. Ada kecupan lembut di kening Gwen, disusul suara bariton yang selalu terdengar begitu menenangkan.

​"Sayang, aku harus ke kantor sebentar. Ada rapat darurat. Kamu jangan ke mana-mana, ya? Siska akan menemanimu di sini," bisik Reno lembut.

​Gwen tersenyum tipis, senyum seorang istri yang patuh. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan telat makan."

​Pintu kamar tertutup. Gwen mendengar deru mobil Reno menjauh. Tak lama kemudian, suara langkah kaki high heels yang centil mendekat. Siska, sahabat karib Gwen sejak kuliah, masuk ke ruangan itu.

​"Gwen, kamu bosan ya? Mau aku putarkan musik?" tanya Siska. Suaranya terdengar prihatin, namun Gwen tidak tahu ekspresi apa yang ada di wajah wanita itu.

​"Boleh, Siska. Terima kasih ya, kamu selalu ada untukku saat aku tidak bisa melihat apa-apa begini."

​"Tentu saja, Gwen. Kita kan sahabat sejati," jawab Siska dengan nada riang.

​Tiba-tiba, rasa pening yang luar biasa menghantam kepala Gwen. Itu adalah efek samping dari pengobatan saraf mata yang selama ini ia jalani secara rahasia dengan dokter pribadinya. Gwen memegangi kepalanya, tubuhnya gemetar.

​"Gwen? Kamu kenapa?" Siska tampak panik, tapi dia tidak menyentuh Gwen.

​"Kepalaku... sakit sekali, Sis. Aku ingin tidur sebentar."

​Siska membantunya berbaring di tempat tidur besar itu. "Tidurlah. Aku akan menjagamu di sini."

​Gwen memejamkan mata di balik kegelapannya. Namun, sesuatu yang ajaib terjadi. Kilatan cahaya mulai muncul di balik kelopak matanya. Rasa sakit itu perlahan berganti dengan sensasi sejuk. Perlahan, Gwen memberanikan diri membuka matanya sedikit demi sedikit di balik perban tipis yang agak longgar.

​Jantung Gwen hampir copot.

​Dia bisa melihat. Kabur pada awalnya, tapi perlahan bayangan kamar mewahnya mulai terbentuk. Dia bisa melihat langit-langit kamar, lampu kristal yang menggantung, dan... sosok Siska yang sedang berdiri di depan cermin, mematut diri sambil memegang salah satu kalung berlian milik Gwen.

​Gwen hampir saja bersorak dan memanggil nama Siska untuk memberitahu berita bahagia ini. Namun, gerakan pintu kamar yang terbuka membuat Gwen terdiam.

​Seorang pria masuk. Itu Reno. Bukankah dia bilang ada rapat darurat?

​Gwen baru saja akan bangun untuk memeluk suaminya, sampai dia melihat apa yang dilakukan Reno selanjutnya.

​Reno tidak menghampiri ranjang tempat istrinya yang "buta" sedang berbaring. Pria itu justru melingkarkan lengannya di pinggang Siska dari belakang. Dia mengecup leher Siska dengan rakus, sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan seorang suami di depan istrinya jika sang istri tidak buta.

​"Katanya ke kantor?" Siska mendesah manja dalam pelukan Reno.

​"Hanya alasan agar perawat cerewet itu pergi. Aku merindukanmu, Sayang," bisik Reno. Suaranya yang tadinya terdengar suci di telinga Gwen, kini terdengar seperti desis ular yang berbisa.

​Gwen membeku. Tubuhnya kaku seperti es. Di balik perban yang melonggar itu, dia menyaksikan pengkhianatan paling kotor tepat di depan matanya.

​"Bagaimana dengan si buta itu?" Siska melirik ke arah ranjang dengan tatapan jijik. "Dia tidak akan bangun?"

​Reno tertawa kecil, suara tawa yang membuat hati Gwen hancur berkeping-keping. "Dia sudah minum obat tidurnya. Meskipun gempa bumi terjadi, dia tidak akan sadar. Lagipula, dia buta, Siska. Dia hanya pajangan di rumah ini sampai aku berhasil mendapatkan tanda tangan kuasa penuh atas aset Adiguna."

​"Kamu jahat sekali, Reno," goda Siska sambil membalikkan badan dan mengalungkan tangan di leher Reno. "Tapi aku suka."

​Mereka mulai berciuman dengan panas. Tepat di samping ranjang tempat Gwen berbaring. Gwen bisa melihat semuanya. Dia melihat bagaimana tangan suaminya meraba tubuh sahabatnya sendiri. Dia melihat seringai kemenangan di wajah Siska—wanita yang selama ini ia anggap saudara.

​Air mata Gwen mengalir dalam diam, membasahi perban matanya. Sakitnya lebih hebat daripada saat kecelakaan itu menghantamnya. Hatinya seperti disayat sembilu secara perlahan.

​Jadi selama ini... aku hanya dianggap penghalang? Hanya sapi perah untuk kekayaanku?

​Gwen mengepalkan tangannya di bawah selimut hingga kuku-kukunya memutih. Amarah yang membara mulai membakar rasa sedihnya. Dia ingin bangun, menampar mereka berdua, dan mengusir mereka keluar.

​Namun, logika Gwen bekerja lebih cepat. Tidak. Jika aku mengaku bisa melihat sekarang, Reno akan melakukan segala cara untuk melenyapkanku sebelum aku sempat mengambil kembali hakku.

​Gwen menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya agar tetap tenang seperti orang tidur. Dia menutup kembali matanya rapat-rapat.

​"Mas... pelan sedikit, nanti dia bangun," bisik Siska di sela-sela ciuman mereka.

​"Biarkan saja. Dia tidak akan pernah tahu. Selamanya, dia akan menjadi tawanan dalam kegelapannya sendiri," jawab Reno dingin.

​Gwen bersumpah di dalam hatinya. Kalian pikir aku buta? Baiklah. Aku akan menjadi 'si buta' yang akan menuntun kalian berdua menuju liang lahat.

​Satu jam kemudian, setelah "permainan" menjijikkan itu selesai dan Reno benar-benar pergi, Siska mendekati ranjang Gwen. Dia mengusap pipi Gwen dengan kasar.

​"Kasihan sekali kamu, Gwen. Kaya raya, tapi tidak bisa melihat suamimu menjadi milikku. Tenang saja, setelah hartamu habis, aku akan memastikan Reno mengirimmu ke panti jompo terjauh."

​Siska tertawa meremehkan lalu keluar dari kamar.

​Begitu pintu tertutup, mata Gwen terbuka lebar. Kilat amarah terpancar dari sepasang mata indahnya yang telah kembali. Dia duduk tegak, merobek perban di matanya, dan melemparkannya ke lantai.

​Dia berjalan menuju meja riasnya. Dia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah yang pucat, tapi penuh dendam.

​Gwen mengambil ponsel rahasia yang ia sembunyikan di balik laci terkunci—ponsel yang Reno tidak tahu keberadaannya. Dia menekan sebuah nomor.

​"Halo? Saya butuh pengawal pribadi. Yang paling hebat, paling dingin, dan tidak bisa disuap oleh siapa pun."

​Suara di seberang sana memberikan sebuah nama. "Elang. Dia mantan tentara bayaran. Tapi dia punya reputasi sulit dikendalikan."

​"Saya tidak butuh orang yang mudah dikendalikan," ucap Gwen sambil menatap tajam bayangannya di cermin. "Saya butuh pemangsa untuk menghancurkan dua ekor tikus di rumah saya."

​Gwen menutup teleponnya. Dia kembali berbaring, memasang kembali perbannya dengan rapi, dan kembali berakting menjadi istri yang malang.

​Permainan baru saja dimulai.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!