NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Lelah

Kursi besi di ujung koridor terasa lebih dingin dari biasanya. Suara peralatan medis di dalam sana terdengar begitu nyaring dari yang seharusnya. Sementara sepasang kaki itu tak kujung mendapatkan tenang yang dia damba.

Alana menggigit ujung kukunya terus menerus sejak tiga puluh menit terakhir. Tatapannya kosong menatap lantai rumah sakit, namun tak dapat dipungkiri kegelisahan itu tampak pekat di balik matanya. Genangan bening tak dapat lagi ditutupi pada permukaan mata itu.

"Halo, Kinan," sapa Sukma pada seseorang di seberang sambungan telepon.

Mendengar itu, Alana mengalihkan perhatiannya dari lantai dingin rumah sakit. Tatapannya kini mengarah pada Sukma yang kini juga sama paniknya. Wajar saja, dia bahkan meninggalkan anaknya yang masih tertidur pulas di kamar bersama dengan Dipo yang masih dalam kondisi mabuk di ruang tamu tadi.

Alana cukup merasa bersalah akan hal ini. Jika saja dia tidak berusaha menghubungi Dipo beberapa hari yang lalu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Ibunya mungkin masih tertidur pulas di kamarnya. Dia dan Sukma sudah pasti sedang beristirahat dengan tenang malam ini.

Sukma yang sedang menghubungi Kinan kini bertemu pandang dengan Alana. Dengan senyuman kecil di wajahnya, dia berusaha menyalurkan ketenangan pada Alana yang tampak kacau malam ini.

"Maaf banget Mbak ganggu waktu kamu. Kamu bisa ke rumah sakit sekarang nggak, Ki?" ucap Sukma begtu mendengar sahutan Kinan dari seberang sana.

Tampak Sukma mengangguk cepat. "Iya, sekarang. Kamu temani Alana di sini, ya. Mbak masih ada urusan di luar."

Untuk beberapa saat wanita itu terdiam. Hening yang berlangsung hanya beberapa detik itu mamu membuat Alana tercekat menunggu. Entah mengapa dia mengharapkan kehadiran pria itu malam ini.

Setelah terdiam cukup lama, Sukma akhirnya mengembuskan nafas lega. "Ya udah. Langsung ke IGD ya, Ki."

Begitu Kinan mengiyakan dan sambungan telepon terputus, Sukma menoleh ke arah Alana. Dia tahu ada sesuatu yang tak lazim di antara kedua adik iparnya itu. Ada sesuatu di balik pernikahan mereka.

Alana menenggelamkan wajahnya di antara dua telapak tangannya. "Syukurlah, dia mau ke sini," gumam Alana.

Entah apa yang dia syukuri dengan kedatangan Kinan nantinya. Alana hanya berharap dia tak sendirian di situasi seperti ini. Dia juga mengerti bahwa Sukma harus menangani Dipo terlebih dahulu setelah ini.

"Dek," panggil Sukma seraya menyentuh pelan bahu Alana. "Mbak pulang dulu, ya. Tadi kan Mas Dipo langsung ditinggal gitu aja."

Alana mengangguk. "Makasih ya, Mbak. Udah bantu aku bawa Ibu ke sini," balas Alana.

Mendengar itu, Sukma tersenyum kecil sambil ikut mengangguk. "Kamu tenang, ya. Nanti kalau butuh apa-apa bisa telepon Mbak. Oke?"

Alana tersenyum mengiyakan. Matanya mengantar kepergian Sukma yang berjalan semakin menjauh dari hadapannya. Dia tentu mengerti hati wanita itu sama kacaunya dengan hatinya sekarang.

Daun pintu yang berjarak beberapa meter darinya masih tertutup rapat. Kelambu bilik masih betah menyembunyikan tubuh ibunya yang tak sadarkan diri. Sementara, dirinya di sini hanya bisa memandangi dari kejauhan.

Dalam hatinya dia menyesal. Bagi Alana, semua ini bermula darinya. Jika dia tidak menuruti permintaan ibunya untuk mengundang dan mengusahakan Dipo untuk datang, pria itu tak akan muncul malam ini. Ibunya tak akan melihat Dipo yang datang dengan kondisi kacau seperti tadi.

Sukma mungkin tidak akan tersulut emosi. Alana mungkin tidak akan pernah mendengar kalimat menyakitkan itu dari Dipo. Dia mungkin juga tak akan pernah melayangkan telapak tangannya pada pipi pria yang merupakan kakak kandungnya itu.

"Aku keterlaluan ya, Bu?" tanya Alana pada sang ibu yang tentu masih tak dapat mendengar.

Di mata orang lain kini mungkin Alana terlihat seperti orang gila yang berbicara dengan udara kosong di sekitarnya. Menuturkan pertanyaan yang tak ada jawabannya. Mengatakan berbagai hal dengan dengung gumam bagai lalat yang berterbangan di sekitar tempat yang kumuh.

Namun, Alana hanya ingin mengungkapkan isi hatinya. Tumpukan rasa penyesalan yang entah mengapa menjulang tinggi di dalam dadanya malam ini. Membuatnya merasa sesak dalam waktu yang bersamaan.

Alana kembali menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Tak ingin lagi melihat bayangan para perawat dan dokter muda yang berlalu lalang tanpa ada berita kejelasan tentang kondisi ibunya di balik tirai itu. Alana bahkan ta memedulikan getar ponsel di samping tubuhnya yang menampilkan nama kontak Kinan di sana.

"Alana!" panggil sebuah suara yang tak jauh darinya.

Bersama dengan Alana yang mengangkat kepalanya, pintu ruangan yang Alana tunggu-tunggu akhirnya terbuka. Seorang dokter dengan seorang perawat keluar dari sana dengan raut yang tak dapat dijelaskan.

"Keluarga Ibu Laksmi," panggil sang perawat.

Alana yang hendak menoleh ke arah Kinan, langsung mengurungkan niatnya. Dia biarkan Kinan berdiri di sana untuk beberapa saat. Sementara dirinya menghampiri dokter yang berdiri di sana.

"Gimana kondisi Ibu saya, Dok?" tanya Alana.Jemarinya saling bertaut cemas di depan tubuhnya.

Wanita dengan stetoskop yang mengalung di lehernya itu menarik nafas sejenak. "Beruntungnya tidak apa-apa. Tapi, Ibu kamu masih harus berada di dalam pantauan kami dalam beberapa hari ke depan."

Alana terdiam sejenak. "Rawat inap, Dok?" tanyanya.

Dokter itu mengangguk mantap. "Iya. Hanya beberapa hari saja sampai kondisinya membaik."

"Terima kasih, Dok," ucapnya sebelum dokter dan perawat di depannya itu pergi dari hadapannya.

Begitu ruang di depannya kosong, Alana menunduk lemas. Kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya. Alisnya berkerut dan matanya terpejam erat. Alana dapat merasakan kedua bola matanya memanas untuk sepersekian detik.

Begitu dia membuka matanya, sebuah bayangan tinggi menyapa pandangannya. Seorang pria tinggi sudah berdiri di sampingnya dengan sekantung plastik berisi air mineral. Hanya bergeming di sampingnya tanpa mengatakan apa pun.

Lalu, sebuah usapan halus dapat Alana rasakan di punggungnya. Usapan yang entah mengapa Alana merasa membutuhkannya saat ini. Membuatnya merasa dimengerti alih-alih terus menerus menyalahkan diri sendiri.

"Nangis aja kalau mau nangis." Suara Kinan terdengar lebih lembut dari biasanya. "Saya temani kamu di sini," lanjutnya sambil masih terus mengusap punggung Alana.

Mendengar itu, bahu Alana akhirnya bergetar pelan. Deru nafas yang semula di tahan-tahan dengan hela nafas panjang berkali-kali, kini mulai terdengar basah. Matanya yang semula memerah dan hangat, mulai mengalirkan air mata yang sudah lama dia tahan.

Kinan terus mengusap punggung itu pelan. Berusaha menyalurkan rasa aman dan nyaman untuk Alana meluapkan perasaannya. Kinan tahu rasanya berada di posisi Alana dan dia tak mendapatkan dukungan apa pun kala itu. Maka dari itu, dia berada di sini sekarang.

"Nangis aja sampai kamu ngerasa lega," ucapnya mengiringi isak Alana yang tertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!