Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KISAH MASA LALU ARINI YANG MEMBUATNYA RAWAN
Pada hari kedua sesi konseling keluarga, Pak Herman mengajak Arini untuk berbagi lebih dalam tentang masa lalunya.
Ia menjelaskan bahwa seringkali pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara kita melihat dan merespons situasi di masa sekarang, termasuk bagaimana kita menghadapi masalah dalam hubungan perkawinan.
Awalnya, Arini merasa sedikit enggan untuk membuka diri tentang hal tersebut.
Namun setelah melihat tatapan yang penuh pengertian dari Pak Herman dan dukungan yang diberikan oleh Rizky yang sedang menjaga tangannya dengan lembut, ia merasa cukup aman untuk bercerita tentang masa lalunya yang tidak pernah ia bahas secara mendalam dengan siapapun, termasuk dengan Rizky.
"Sebenarnya, sebelum saya bertemu dengan Rizky, saya pernah mengalami hubungan yang sangat menyakitkan," ujar Arini dengan suara yang sedikit gemetar. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Ketika saya masih kuliah, saya pernah pacaran dengan seorang pria yang jauh lebih tua dariku. Dia tampak sangat baik dan perhatian pada awalnya, namun seiring waktu, dia mulai menunjukkan sisi yang berbeda."
Ia menceritakan bagaimana mantan pacarnya tersebut mulai mengendalikan setiap aspek kehidupannya – dari apa yang harus ia kenakan, siapa yang boleh ia temui, hingga bagaimana ia temui, hingga bagaimana ia harus berpikir.
Ketika ia mencoba untuk menentangnya, ia mengalami pelecehan emosional yang sangat parah.
Dia merasa terkurung dan tidak punya orang yang bisa dia andalkan, karena orang tuanya pada saat itu sedang sibuk dengan pekerjaan dan tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Saya merasa sangat takut dan tidak berdaya," ujar Arini dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya merasa bahwa saya tidak berharga dan tidak layak mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Hingga suatu hari, saya menemukan bahwa dia juga sedang pacaran dengan wanita lain. Saat itu, dunia saya seolah runtuh."
Ia bercerita tentang bagaimana ia harus berjuang sendirian untuk keluar dari hubungan tersebut dan menyembuhkan luka hati yang dalam.
Ia menghabiskan hampir setahun untuk bisa kembali merasa seperti diri sendiri lagi, dengan bantuan dari teman-teman dekat dan seorang konselor yang direkomendasikan oleh dosennya.
"Ketika saya bertemu dengan Rizky beberapa tahun kemudian, saya merasa bahwa dia adalah orang yang benar untuk saya," lanjut Arini sambil melihat ke arah suaminya.
"Dia perhatian, penyayang, dan selalu menghargai pendapat saya. Ia membuat saya merasa aman dan dicintai seperti tidak pernah sebelumnya. Itu sebabnya ketika saya mengetahui bahwa dia telah berselingkuh, perasaannya jauh lebih menyakitkan daripada ketika saya dikhianati oleh mantan pacarku."
Rizky mendengar cerita tersebut dengan hati yang berat. Ia tidak pernah tahu bahwa Arini telah melalui pengalaman yang begitu menyakitkan di masa lalunya.
Ia merasa semakin bersalah karena telah membuat istri nya mengalami rasa sakit yang sama sekali lagi, bahkan lebih dalam karena ia adalah orang yang dicintainya dan dipercayainya.
"Saya tidak tahu kamu pernah melalui hal seperti itu, sayang," ujar Rizky dengan suara yang penuh rasa sayang.
"Saya sangat menyesal telah membuatmu merasakan rasa sakit yang sama sekali lagi. Kamu tidak pantas mengalami hal seperti itu, terutama dari orang yang mencintaimu."
Pak Herman mengangguk dengan pengertian dan kemudian menjelaskan bagaimana pengalaman masa lalu Arini telah membuatnya menjadi lebih rawan terhadap rasa sakit akibat pengkhianatan.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang telah mengalami trauma di masa lalu, kejadian yang mirip di masa sekarang dapat memicu respons emosional yang lebih kuat dan membuat mereka merasa lebih rentan.
"Pemahaman tentang masa lalu sangat penting untuk membangun hubungan yang lebih baik di masa depan," ujar Pak Herman.
"Rizky, sekarang kamu lebih memahami mengapa Arini mungkin merasa sulit untuk mempercayai lagi dan mengapa dia bereaksi dengan cara tertentu terhadap apa yang telah terjadi. Sementara itu, Arini, kamu perlu menyadari bahwa Rizky bukanlah mantan pacarmu, dan bahwa setiap hubungan adalah hal yang berbeda."
Pak Herman kemudian memberikan beberapa latihan untuk membantu Arini menghadapi trauma masa lalunya dan memisahkannya dari situasi sekarang.
Ia menyarankan Arini untuk menulis surat kepada mantan pacarnya – meskipun tidak perlu dikirim – sebagai cara untuk mengungkapkan semua perasaan yang telah ia tahan selama ini dan memberikan kesempatan untuk memaafkannya serta dirinya sendiri.
Ia juga menyarankan agar Rizky lebih memahami kebutuhan Arini akan rasa aman dan kepercayaan, serta bagaimana ia bisa membantu istri nya merasa lebih tenang dan nyaman dalam hubungan mereka.
Setelah sesi konseling selesai, Arini dan Rizky pulang dengan hati yang lebih berat namun juga lebih jelas tentang apa yang harus mereka lakukan.
Pada malam itu, Arini memutuskan untuk melakukan latihan yang diberikan oleh Pak Herman. Ia mengambil selembar kertas dan pena, kemudian mulai menulis surat kepada mantan pacarnya dengan penuh rasa tulus.
"Kamu mungkin tidak akan pernah membaca surat ini," mulai ia menulis. "Namun saya perlu menulisnya untuk diri saya sendiri. Saya ingin mengatakan bahwa saya telah memaafkan kamu untuk semua rasa sakit yang kamu berikan padaku. Saya telah menyadari bahwa apa yang kamu lakukan padaku bukan karena kekuranganku, melainkan karena masalahmu sendiri. Dan sekarang, saya ingin melepaskan semua rasa sakit dan dendam yang telah saya bawa selama bertahun-tahun. Saya ingin fokus pada masa depan saya dengan orang yang benar-benar mencintai dan menghargai saya."
Setelah selesai menulis, Arini merasa seperti ada beban berat yang terangkat dari pundaknya. Ia membakar surat tersebut di atas kompor dapur sebagai simbol bahwa ia telah benar-benar melepaskan masa lalunya dan siap untuk melangkah maju dengan hidupnya bersama Rizky.
Rizky melihat semua itu dengan penuh kagum dan rasa sayang. Ia mendekat dan memeluk istri nya dengan erat.
"Kamu adalah orang yang paling kuat yang pernah saya kenal, sayang," ujarnya dengan suara yang penuh emosi. "Saya berjanji bahwa saya akan selalu menjaga kamu dan membuat kamu merasa aman dan dicintai. Saya tidak akan pernah lagi melakukan sesuatu yang bisa menyakitimu."
Keesokan paginya, Arini bangun dengan perasaan yang lebih ringan dan damai. Ia memasak sarapan untuk keluarga dengan hati yang lebih bahagia, sambil menyanyi lagu-lagu kesukaannya.
Tara melihat ibunya dengan senyum ceria dan bergabung menyanyi bersama.
Ketika Rizky bangun dan datang ke dapur, ia langsung merasakan perubahan pada suasana hati istri nya.
Ia merasa sangat bersyukur karena Arini telah mampu menghadapi masa lalunya dan mulai menyembuhkan luka hati yang telah lama ada.
"Saya ingin melakukan sesuatu yang istimewa untuk kamu hari ini," ujar Rizky dengan senyum hangat. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempat dimana kita pertama kali bertemu? Saya ingin mengingatkan kita berdua tentang cinta yang kita miliki sejak awal."
Arini tersenyum dengan penuh kegembiraan. "Itu adalah ide yang sangat bagus," jawabnya dengan suara yang penuh cinta. "Saya sangat menyukainya."
Mereka pergi ke taman kota yang menjadi tempat pertama kali mereka bertemu beberapa tahun yang lalu.
Tempat itu masih sama seperti dulu – dengan kolam kecil yang jernih, pepohonan yang rindang, dan bangku kayu yang menjadi tempat mereka bertukar kata pertama.
Mereka duduk di bangku yang sama, mengingat kembali bagaimana perasaan mereka pada saat itu – rasa gugup namun penuh harapan, serta rasa cinta yang mulai tumbuh di antara mereka.
"Saya masih ingat bagaimana kamu berdiri di sana dengan bunga mawar putih di tanganmu," ujar Arini dengan senyum manis, menunjuk ke arah sebuah taman bunga di dekat kolam.
"Kamu tampak sangat gugup namun sangat tampan. Saya langsung merasa bahwa kamu adalah orang yang spesial."
Rizky tersenyum dan mengambil tangannya dengan lembut. "Saya juga merasakan hal yang sama tentangmu," ujarnya. "Dan sampai sekarang, perasaan itu tidak pernah berubah.