Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 - Sidang Akhir Mila
Tiga hari setelah insiden pingsan itu, Mila akhirnya diperbolehkan pulang. Meskipun wajahnya masih sedikit pucat, binar matanya sudah kembali. Valen benar-benar menjadi "satpam" kesehatan bagi Mila; ia memastikan Mila makan tepat waktu dan hanya mengizinkan Mila memegang laptop maksimal empat jam sehari.
H-2 Menuju Sidang Akhir
Malam itu, Mila duduk di meja belajarnya, menatap slide presentasi yang sudah ia susun bersama Valen melalui video call tadi sore. Rasa gugup itu datang lagi. Tangannya dingin, dan pikirannya mulai melantur membayangkan pertanyaan-pertanyaan sulit dari dosen penguji.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Valen masuk.
[Coba lihat ke balkon kamar kamu. Ada paket darurat untuk pejuang gelar.]
Mila mengernyitkan dahi. Ia berjalan menuju balkon dan menemukan sebuah kotak kayu kecil yang tergantung di seutas tali yang ditarik dari bawah. Di bawah sana, Valen berdiri sambil melambaikan tangan, mengenakan jaket tebal dan helm.
"Kak! Ngapain malam-malam ke sini?" bisik Mila setengah berteriak agar tidak membangunkan Oma.
Valen hanya menunjuk kotak itu dengan ibu jarinya, lalu memberikan isyarat agar Mila membukanya.
Di dalam kotak itu, ada sebuah MP3 Player kecil berwarna perak dan selembar cokelat hitam organik. Ada juga catatan kecil:
"Kalau deg-degan, pakai headset-nya, makan cokelatnya, terus dengerin track nomor satu. Itu mantra rahasia buat sidang lusa. Tidur, ya. Jangan begadang. Calon suami kamu nggak mau liat kamu pingsan lagi di depan penguji."
Mila tertawa kecil sambil memegang dadanya yang berdesir. Ia segera memasang headset dan menekan tombol play.
Alunan nada Keytar yang sangat akrab di telinganya mulai mengalun. Kali ini bukan lagu sedih atau melodi cepat, melainkan aransemen lagu semangat yang lembut namun bertenaga. Di tengah lagu, ada rekaman suara Valen yang disisipkan.
"Milana Stefani Hardianto, kamu adalah orang paling hebat yang aku kenal. Akuntansi itu cuma angka, tapi kamu adalah masa depan. Tarik napas, fokus, dan ingat... aku nunggu kamu di depan ruang sidang dengan kejutan besar."
Mila menatap ke bawah lagi, namun motor Valen sudah melaju pergi, menyisakan lampu merah di kejauhan. Malam itu, Mila tidur dengan senyum yang sangat tenang.
Hari sidang akhir pun tiba. Gedung Fakultas Ekonomi tampak lebih riuh dari biasanya. Mila berdiri di depan ruang sidang dengan blazer hitam dan rok senada. Rambutnya diikat rapi, memberikan kesan profesional. Di sampingnya, Bunda Selfi, Ayah Faul, dan tentu saja April serta Robi memberikan dukungan. Oma di rumah menunggu kabar Mila ditemani Tante Dewi.
Namun, mata Mila terus mencari satu sosok yang sejak pagi belum memberikan kabar. "Mana Kak Valen, Bang?" tanya Mila pada Robi.
"Tadi sih katanya ada urusan mendadak di kafenya, Mil. Biasa lah, bos muda," jawab Robi sambil melirik jam tangan, seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
Mila sedikit kecewa, namun ia mencoba fokus. Saat namanya dipanggil untuk masuk ke ruang sidang, ia menarik napas dalam-dalam.
Dua jam berlalu dengan penuh ketegangan. Dari balik pintu yang tertutup rapat, keluarga Hardianto menunggu dengan cemas. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Mila keluar dengan wajah yang sulit dibaca. Matanya berkaca-kaca.
"Gimana, Mil?" tanya Bunda Selfi langsung memeluknya.
Mila terdiam sejenak, lalu perlahan ia menunjukkan draf skripsinya yang sudah ditandatangani oleh tiga dosen penguji dengan nilai A. "Lulus, Bunda... Mila lulus!"
Tangis haru pecah di koridor itu. Namun, di tengah kegembiraan itu, suara petikan instrumen yang sangat unik tiba-tiba terdengar dari arah taman fakultas. Suaranya kencang, membelah keramaian koridor.
Mila menoleh. Di bawah sana, di tengah lapangan kampus yang dikelilingi mahasiswa lain, Valen berdiri dengan Keytar-nya yang terhubung ke speaker portable. Ia memainkan melodi kemenangan yang sangat megah.
Di samping Valen, ada sebuah spanduk besar yang dipegang oleh beberapa staf Wangsa Cafe yang bertuliskan:
"SELAMAT UNTUK MILANA STEFANI HARDIANTO, S.E. – DARI CALON SUAMI DAN PENGGEMAR NOMOR SATU KAMU."
Mila menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya dengan kegilaan yang dilakukan laki-laki sedingin Valen.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Si Valen mah nggak mungkin nggak dateng," bisik Robi sambil terkekeh.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️