Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pisau Logika vs Benang Harapan
Bulan madu rahasia mereka (yang baru berjalan dua minggu) menabrak tembok beton bernama: Integritas Medis.
Pemicunya adalah pasien bernama Luna (19 tahun).
Luna adalah balerina muda berbakat yang sedang merintis karir internasional. Dia datang ke UGD dengan keluhan nyeri hebat di betis kanan. Awalnya dikira cedera otot biasa, tapi Rania melihat tanda bahaya yang mengerikan.
Kulit betis Luna bengkak, merah keunguan, dan ada bulla (lepuhan) berisi cairan keruh. Saat Rania merabanya, terdengar bunyi kretek-kretek halus di bawah kulit (crepitus).
"Necrotizing Fasciitis," diagnosis Rania cepat. "Bakteri pemakan daging. Ini darurat. Kita harus operasi sekarang atau infeksinya menyebar ke darah dan dia bisa mati dalam hitungan jam."
Adrian dipanggil untuk konsultasi karena ini menyangkut ekstremitas (anggota gerak) seorang penari.
Di ruang resusitasi, perdebatan itu dimulai.
"Kita harus lakukan wide excision (pembuangan jaringan luas)," kata Rania tegas sambil melihat hasil lab yang menunjukkan leukosit meroket. "Semua jaringan mati, kulit, lemak, sampai selaput otot (fascia) harus dibuang. Kalau perlu, sebagian otot betisnya juga."
Wajah Adrian mengeras. "Rania, dia balerina. Kalau kamu buang otot gastrocnemius-nya, dia nggak akan bisa pointe (jinjit) lagi. Karirnya tamat."
"Adrian, ini nyawa taruhannya. Life over limb," bantah Rania. "Kalau kita ragu-ragu, dia bakal sepsis. Gue nggak mau ambil risiko."
"Ada teknik lain," Adrian bersikeras. Dia menatap Luna yang menangis ketakutan. "Kita bisa lakukan debridement (pembersihan) konservatif dulu, kombinasi antibiotik dosis tinggi, lalu saya lakukan flap (cangkok) mikrovaskular segera untuk menutup defeknya. Kita selamatkan ototnya."
"Itu butuh waktu lama, Ad! Jaringan dia mati setiap menit!" suara Rania meninggi.
Luna, yang mendengar perdebatan itu, mencengkeram jas Adrian.
"Dokter ganteng... tolong..." isak Luna. "Jangan biarin kaki aku cacat. Kalau aku nggak bisa nari, mending aku mati aja."
Kata-kata itu menghantam Adrian. Dia menatap Rania dengan pandangan memohon. "Kasih saya kesempatan, Ran. Jangan langsung potong habis. Biar saya coba teknik limb salvage (penyelamatan anggota gerak)."
Rania menatap monitor pasien. Tensi mulai turun. Nadi naik. Tanda-tanda syok awal.
Rania menarik napas panjang. Sebagai Chief Surgeon kasus ini, keputusan ada di tangannya. Dia harus memilih: Menuruti idealisme pacarnya (dan harapan pasien) dengan risiko kematian tinggi, atau bertindak sebagai "Tukang Jagal" yang kejam tapi menyelamatkan nyawa.
"Maaf, Adrian," kata Rania dingin. Matanya tidak menatap Adrian, tapi fokus pada perawat. "Siapkan OK 1. Kita lakukan radikal debridement. Prioritas utama adalah kontrol infeksi. Estetika dan fungsi nomor dua."
"Rania!" seru Adrian tak percaya. "Kamu nggak denger pasien bilang apa?"
"Gue denger! Tapi pasien hipoksia dan syok nggak bisa berpikir jernih!" bentak Rania. "Gue dokter bedahnya. Gue yang tanggung jawab kalau dia mati. Keputusan gue final."
Adrian terdiam. Rahangnya terkatup rapat. Dia merasa dikhianati. Bukan sebagai pacar, tapi sebagai rekan sejawat yang opininya diabaikan.
Ruang Operasi.
Suasana di dalam OK 1 sedingin kutub utara. Tidak ada musik. Tidak ada candaan.
Rania bekerja dengan kecepatan dan ketegaan luar biasa. Dia membuang semua jaringan yang terinfeksi. Kulit, lemak, dan sebagian besar otot betis Luna yang sudah membusuk harus diangkat. Kaki yang tadinya jenjang dan indah, kini tampak mengerikan, menyisakan tulang dan sedikit otot yang terekspos.
Adrian berdiri di seberang meja operasi, menjadi asisten dengan diam. Setiap kali Rania memotong jaringan, Adrian merasa ngilu. Dia tahu Rania benar secara medis, tapi hatinya menolak.
"Bersih," kata Rania setelah 2 jam. "Infeksi terkontrol. Perdarahan berhenti."
Rania menatap Adrian. "Sekarang giliran lo tutup lukanya. Sebisa lo."
Adrian menatap luka menganga yang luas itu. "Nggak ada yang bisa ditutup, Rania," suaranya datar, tanpa emosi. "Jaringannya hilang terlalu banyak. Saya nggak bisa rekonstruksi fungsional. Paling cuma bisa tutup kulit (skin graft). Dia cacat permanen."
Adrian melempar pinsetnya ke nampan logam dengan bunyi keras.
"Selamat. Kamu menyelamatkan nyawanya. Tapi kamu membunuh jiwanya," bisik Adrian tajam, cukup keras untuk didengar Rania.
Rania membeku di balik maskernya. Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pisau bedah manapun.
Pasca Operasi - Koridor RS.
Rania sedang mencuci tangan di scrub station luar, membersihkan darah Luna dari tangannya. Air matanya menetes bercampur dengan air keran.
Adrian keluar dari ruang ganti. Dia sudah rapi, tapi wajahnya suram.
"Ad," panggil Rania pelan.
Adrian berhenti, tapi tidak menoleh.
"Gue nggak punya pilihan," kata Rania, suaranya bergetar. "Tensinya 80/50 waktu induksi anestesi. Bakterinya agresif banget. Kalau gue turutin mau lo buat conservative, dia bakal mati di meja operasi."
Adrian berbalik. Matanya lelah.
"Saya tahu," jawab Adrian. "Secara medis, kamu 100% benar. Itu yang bikin saya marah."
"Marah kenapa?"
"Karena saya berharap... saya berharap pacar saya punya sedikit rasa percaya sama kemampuan saya. Saya berharap kamu kasih waktu 10 menit lagi buat saya evaluasi ototnya sebelum kamu potong."
"Gue nggak bisa judi pake nyawa orang, Ad!"
"Dan itulah bedanya kita," Adrian tersenyum pahit. "Kamu melihat tubuh sebagai mesin yang harus hidup. Saya melihat tubuh sebagai wadah mimpi. Hari ini, mesinnya jalan, tapi mimpinya hancur."
Adrian menghela napas panjang.
"Saya mau pulang sendiri malam ini. Jangan ke kosan saya dulu. Saya butuh waktu."
Adrian berjalan pergi, langkahnya gontai, meninggalkan Rania sendirian di lorong yang sunyi.
Malam itu di kosan Pak Mamat, Rania mendengar suara pintu kamar sebelah (kamar Adrian) tertutup. Tidak ada ketukan di dinding. Tidak ada pesan WhatsApp "Selamat tidur, Tukang Jagal".
Rania memeluk gulingnya, menatap langit-langit kamar yang bocor. Dia menangis.
Dia menyelamatkan nyawa Luna. Tapi dia merasa baru saja mengamputasi sebagian dari hubungan mereka.
Inikah harga yang harus dibayar untuk menjadi profesional?
Di kamar sebelah, Adrian menatap tangannya. Dia tidak marah pada Rania. Dia marah pada ketidakberdayaannya sendiri. Dia marah karena "sihir" bedah plastiknya ternyata tidak berguna di hadapan maut. Dan dia kecewa karena Rania, orang yang paling dia percaya, tidak mempercayai "keajaiban" yang ingin dia tawarkan.
Dinding pemisah kamar kosan itu terasa semakin tebal malam ini.
...****************...
Bersambung....
Terima Kasih telah membaca💞 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget