Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Istri Kontrak
Dua hari. Dua hari penuh aku habiskan di atas ranjang itu, disiksa oleh demam dan diabaikan oleh suami sendiri. Selama dua hari itu, Arvino memenuhi perintah Papa. Dia tidur di sofa (meski membelakangiku), memastikan ada makanan di nakas, dan mengizinkan Mbok Nah merawatku. Tapi tak sepatah kata pun terucap darinya kecuali untuk menanyakan kabar Lili.
Aku bangun di pagi hari ketiga. Rasanya seperti terlahir kembali. Tubuhku terasa ringan, dan demamku telah hilang. Hanya rasa perih di hati yang masih tersisa, bahkan semakin dalam.
Aku bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajahku. Kemudian aku menatap pantulan diriku di cermin besar kamar itu.
Wajahku masih pucat dan tirus, tapi di mata itu... ada sesuatu yang berbeda. Rasa sakit masih ada, namun kini tertutup oleh lapisan es. Aku lelah menjadi korban. Aku lelah menangis untuk pria yang buta karena dendam dan duka.
Inner Monologue Aluna:
Aku adalah Aluna Hardinata. Aku menyelesaikan S2 di usia 21 tahun. Aku adalah dokter bedah yang seharusnya sedang menyelamatkan nyawa, bukan terbaring seperti orang bodoh karena penyakit psikosomatis. Aku menikahinya demi wasiat Mbak Sarah dan demi Lili. Jika Arvino hanya melihatku sebagai kontrak, baiklah. Aku akan menjadi 'Istri Kontrak' yang sempurna dan profesional.
Aku menarik napas dalam-dalam. Tekadku menguat.
Aku segera mandi air hangat. Aku memilih setelan kantor sederhana berwarna navy dari koperku—bukan gaun rumah tangga yang lembut. Aku merapikan rambutku, mengikatnya tinggi, dan memoles wajahku dengan riasan tipis. Aku ingin tampil profesional, tanpa cela. Aku ingin dia melihat bahwa wanita yang dia hina ini adalah wanita yang kompeten, bukan gadis kecil yang menangis hanya karena tidak diizinkan menyentuh keponakannya.
Aku menuruni tangga menuju ruang makan. Papa, Mama, Nenek, dan Ardo sudah berkumpul.
"Aluna!" seru Mama lega, menghampiriku dan memelukku erat. "Syukurlah kamu sudah sehat, Nak. Mama khawatir sekali."
"Aku baik-baik saja, Ma," jawabku, senyumku tulus untuk Mama, tapi tidak selebar dulu.
"Kamu terlihat cantik dan segar," puji Nenek sambil menggenggam tanganku. "Wajahmu tidak lagi muram seperti beberapa hari terakhir."
Aku duduk di meja makan. Semuanya terasa normal, seolah badai sudah berlalu.
"Hari ini Papa akan mengurus izinmu lagi, Nak," ujar Papa, menatapku penuh harap. "Kamu harus kembali bekerja. Jangan biarkan trauma menghentikan cita-citamu."
"Terima kasih, Pa. Tapi aku tidak bisa," jawabku lembut, tapi tegas.
"Kenapa?"
Aku menoleh ke arah Lili yang sedang ditimang oleh Sus Rini di dekat meja.
"Aku istri Arvino, Pa. Aku ibu pengganti Lili. Tugasku adalah merawatnya. Aku harus melaksanakan wasiat Mbak Sarah dengan baik," kataku, lalu melirik ke arah Arvino yang baru saja masuk ke ruang makan, tampak terkejut melihat penampilanku yang rapi.
Arvino duduk di kursinya, memasang wajah datar dan dingin seperti biasa, tapi matanya sempat menelisikku dari ujung rambut sampai kaki.
"Aku akan mengambil cuti panjang dari karier medisku, Pa," lanjutku, mengabaikan tatapan Arvino. "Fokusku sekarang adalah memastikan Lili mendapat lingkungan terbaik dan asupan medis yang tepat. Arvino dan aku akan membesarkannya. Secara profesional."
Papa tampak bangga, sementara Arvino, yang sedang menyendok nasi goreng, tiba-tiba berhenti.
"Aku tidak perlu bantuanmu untuk membesarkan anakku," sela Arvino sinis. "Lili sudah punya Sus Rini. Gajinya mahal, tapi dia lebih kompeten dan tidak mudah sakit."
Aku menatap Arvino, tatapanku tenang dan dingin, tanpa ada emosi terluka.
"Sus Rini memang kompeten, Kak," kataku, suaraku terdengar profesional, bukan suara istri yang memelas. "Tapi Sus Rini adalah karyawan. Aku adalah ibu sah Lili. Secara psikologis dan legal, kehadiran ibu kandung atau ibu sah jauh lebih penting bagi tumbuh kembang anak, terutama pada usia kritis ini."
Arvino memasang ekspresi terkejut. Dia tidak menyangka aku akan meladeninya dengan logika dingin.
"Aku sudah memutuskan. Aku akan menjalankan peranku. Aku akan menyusun jadwal Lili, termasuk asupan gizinya, vaksinasi, dan stimulasi motoriknya. Aku juga akan mengambil alih tugas malam hari. Aku adalah dokter, Kak. Aku tahu apa yang terbaik untuk Lili. Dan sekarang, aku punya legalitas untuk melakukannya."
"Kau mengancamku?" desis Arvino, suaranya tercekat.
Aku tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai mataku. "Aku tidak mengancam. Aku hanya menegaskan kontrak kita, Kak. Kita menikah demi Lili. Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai partner yang mengurus Lili, dan Kakak menjalankan kewajiban sebagai partner penyedia kebutuhan. Tidak lebih, tidak kurang."
Aku meletakkan sendokku, lalu berdiri, menatapnya lurus.
"Aku tidak akan pernah menyentuhmu. Aku tidak akan pernah mengganggu privasimu. Aku akan memastikan jarak profesional kita terjaga. Jadi, tenang saja. Aku tidak tertarik dengan ranjangmu, Kak. Aku hanya tertarik pada kesehatan keponakanku."
Aku membungkuk sedikit pada Papa dan Mama. "Aku sudah selesai sarapan. Aku akan pergi ke kamar Lili untuk mengecek jadwal tidurnya, lalu aku akan menyusun resep makanan pendamping ASI-nya. Permisi."
Aku berbalik dan meninggalkan ruang makan.
Di belakangku, aku bisa mendengar Arvino membanting sendoknya ke piring.
"Kurang ajar! Wanita itu!" teriak Arvino.
"Arvino! Jaga ucapanmu!" tegur Papa.
Aku mengabaikan kekacauan di ruang makan. Aku berjalan menuju kamar Lili, di mana Sus Rini sedang menimangnya.
"Sus Rini," kataku dengan nada otoritatif. "Mulai hari ini, semua jadwal Lili, mulai dari tidur, menyusui, hingga jadwal tummy time harus sesuai persetujuanku. Berikan aku semua catatan hariannya. Aku akan menyusun jadwal baru untuknya. Setelah Arvino pergi, kamar Lili adalah wilayah kerjaku. Anda paham?"
Sus Rini, yang biasa hanya tunduk pada Arvino, terkejut melihat perubahan drastisku. "Baik, Nyonya Aluna," jawabnya patuh.
Aku tersenyum puas. Dinding pertahanan telah kubangun.
Aku mungkin tidak bisa memiliki hatinya, tapi aku tidak akan membiarkan Arvino merenggut harga diriku. Mulai sekarang, aku tidak lagi Aluna yang lemah. Aku adalah dokter yang sedang menjalankan tugasnya di sebuah rumah sakit bernama 'Rumah Tangga Raharja'.
Malam harinya, Arvino masuk ke kamar utama setelah selesai mengurus Lili. Dia terlihat lelah.
Dia menatapku yang sedang membaca jurnal kedokteran di sofa. Dia berjalan ke lemari, mengambil bantal dan selimut.
"Kau tidur di mana?" tanyaku dingin, tanpa mengalihkan pandangan dari jurnal.
"Tidur di kamar tamu. Aku tidak tahan ada di ruangan yang sama denganmu," jawab Arvino tajam.
"Bagus," aku menutup jurnal dan menatapnya. "Aku juga tidak nyaman. Pastikan saja Papa tidak tahu."
Dia mendengus, lalu berbalik hendak keluar.
"Kak Arvino," panggilku.
Dia berhenti di ambang pintu, menoleh dengan tatapan lelah.
"Tolong, besok pagi jangan lupa minum vitamin B kompleks. Dan jangan begadang, kantung matamu menghitam. Ingat, Kakak adalah Direktur. Jaga kesehatan Kakak, demi Lili dan demi saham kita."
Arvino menatapku lama, seolah sedang mencoba mengenali siapa wanita di depannya ini. Wajahnya yang kelelahan menunjukkan sedikit kebingungan.
Tanpa berkata apa-apa, dia membanting pintu dan pergi.
Aku kembali membuka jurnal.
Luka sudah membatu, saatnya membangun benteng.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️