Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
" Aku yakin pasti sekarang pria itu sedang mencari - carimu karena mengira kau adalah biang keladi dari semua kekacuan ini."
" Biarkan saja. Aku tak perduli. Lagi pula aku tak yakin jika pria pecundang itu bisa menemukan keberadaanku dengan mudah." Inara tersenyum miring. Dan memakan cake yang telah ia pesan secara perlahan. Sembari menikmati air hangat yang kini tengah merendam seluruh tubuh rampingnya.
Sungguh.. Baru kali ini ia merasa bisa menikmati hidup. Setelah semua waktunya yang paling berharga malah ia buang sia - sia untuk pria pengkhianat seperti Brian.
" Kau benar - benar telah banyak berubah Inara. Dan.. Ya..Aku menyukainya. Harusnya sedari dulu kau begini. Bukannya malah menjadi budak cinta pada sosok pria yang tak pernah mencintaimu secara tulus."
" Ya.. Anggap saja waktu itu aku terlalu bodoh menerima kenyataan. Dan sekarang, ku pastikan jika aku tak akan pernah mau menjadi gadis bodoh seperti itu lagi." kedua mata Inara menyipit tajam.
Dengan bayangan, ia akan menghancurkan Brian dan wanita murahan itu hingga mereka berdua sampai bersujud meminta ampun di kedua kakinya.
" Tunggu saja. Aku pastikan , bayangan ku ini akan menjadi kenyataan untuk kalian berdua "
______
" Apa katamu? Mereka belum bisa melacak di mana keberadaan Inara sekarang? "
" Maaf tuan. Para pengawal sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tetap saja keberadaan nona Inara tak bisa di ketemukan oleh mereka" ucapan Daniel tentu saja berhasil semakin memantik emosi jiwa Brian yang memang sudah menyala di awal karena hubungan gelapnya bersama Anita terbongkar ke publik.
" Pokoknya aku tak mau tahu. Kau harus cari sampai dapat. Dan bawa wanita itu kehadapanku."
Panggilan di matikan secara sepihak oleh Brian.
Sumpah demi apa, rasanya ingin sekali ia menghajar orang untuk ia gunakan sebagai pelampiasan atas rasa kesalnya yang saat ini ia rasakan pada Inara.
" Sial! Dimana sebenarnya sekarang dia berada. Awas saja kalau ketemu. Akan ku beri perhitungan padanya."
Sampai benda pipih Brian terlihat kembali berdering . Dengan Brian yang langsung mengangkatnya, ketika tahu jika sosok yang saat ini tengah mencoba menghubunginya adalah Anita.
" Halo Anita..."
" Brian kau ada dimana? Apa kau sudah membaca berita hari ini? "
" Ya aku sudah melihatnya Anita. Kau tenang saja. Aku janji jika semuanya akan baik - baik. Kau tak perlu terlalu memikirkannya, oke!? Fokus saja pada kesehatanmu. Pada anak kita yang saat ini ada di dalam kandunganmu. Untuk masalah ini biar aku yang akan mengurusnya."
" Ya sudah kalau begitu Brian. Aku harap semua berita sudah tak ada lagi besok pagi."
" Hmm.. Aku janji. Kau diam saja di dalam kamar. Aku akan mengutus beberapa pengawal lagi kesana untuk berjaga dan memenuhi semua kebutuhanmu."
" Terima kasih Brian. Kau benar - benar calon ayah dan suami yang baik untuku."
" Hmm..." sambungan telepon pun di matikan. Dengan perasaan aneh yang tiba - tiba saja menjalar di dalam dada Brian.
Entah kenapa lidah pria itu terasa sangat kelu untuk ia gunakan menyambut ucapan Anita yang mengatakannya sebagai calon ayah dan suami yang baik bagi wanita itu.
Dan lebih anehnya lagi. Brian malah membayangkan Inara yang mengatakan hal itu kepada dirinya.
" Sial! Sebenarnya aku ini kenapa sih!? Kenapa jadi terus menerus mengingat wanita itu? "
Brian jadi terlihat kesal sendiri.
Entah rasa apa yang ia miliki sekarang pada Inara.
Ia pun tak mengerti.
Rasa itu benar - benar terasa sangat aneh untuk ia rasakan sebagai manusia normal.
Kadang terasa kesal.
Kadang ia merasa marah.
Dan lebih anehnya lagi, ia malah merasa kesal bercampur marah sekaligus seperti merindukan Inara juga. Dengan harapan agar wanita itu bisa segera hadir di hadapannya.
Dalam pikiran ingin ia marahi, bentak sekaligus memeluk tubuh ramping itu dengan erat dan mengatakan beribu maaf padanya.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra