NovelToon NovelToon
Jodoh Ku Sepupuku

Jodoh Ku Sepupuku

Status: tamat
Genre:Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ann,,,,,,

Menikah dengan seseorang yang tumbuh bersama kita sejak kecil—yang rasanya sudah seperti saudara kandung sendiri—namun harus terpaksa menikah dengannya. Itulah yang kualami.

Namaku Alif Afnan Alfaris, seorang arsitek.
Sedangkan dia, Anna Maida, adalah adik sepupuku sendiri. Sepupu, kata ayahku, sudah sah untuk dinikahi—alasannya demi mendekatkan kembali hubungan darah keluarga. Namun sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk menikah dengannya.

Hubungan kami lebih mirip Tom and Jerry versi nyata. Setiap bertemu, pasti ribut—hal-hal kecil saja sebenarnya. Dia selalu menolak memanggilku Abang, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain. Alasannya sederhana: usia kami hanya terpaut satu hari.

Anna adalah gadis cerdas yang menyukai hidup sederhana, meski ayahnya meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya. Ia keras kepala, setia, penyayang… dan menurutku, terlalu bodoh. Bayangkan saja, ia mau dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal, di usia yang masih sanga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann,,,,,,, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ucapan Bian

Makan siang itu terasa agak terlambat. Jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul dua siang, tapi belum juga ada tanda-tanda sepupuku pulang. Suaminya pun tak terlihat.

Ke mana sih mereka berdua?

Aku mencoba menghubungi nomor Anna. Sekali. Dua kali.

Tidak aktif.

Aneh. Biasanya ponselnya selalu menyala.

Dasar Anna… dia lupa, ya, anak-anaknya sendirian di rumah? tanyaku dalam hati, kesal sekaligus khawatir.

Aku mondar-mandir di dapur, merapikan semua peralatan yang tadi kami gunakan untuk memasak dan makan. Piring-piring kucuci, meja ku elap, kursi kuatur kembali ke posisi semula. Semuanya harus rapi.

Dia pasti nggak suka kalau rumahnya berantakan.

Anna memang sangat rajin dan perfeksionis soal kebersihan. Lihat saja rumah ini—semuanya bersih, tertata rapi, bahkan seperti diukur berdasarkan ukuran dan warna. Tak ada satu pun barang yang diletakkan sembarangan.

Tiba-tiba, dari luar rumah terdengar suara salam.

“Assalamualaikum.”

Aku menoleh dan menjawab, “Waalaikumsalam.”

Pintu terbuka, menampakkan keponakan sulungku. Bocah itu kini baru masuk SMP. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan, dengan sorot mata yang tenang—sangat mirip ayahnya.

Dia berjalan menghampiriku, wajahnya terlihat heran.

“Om Alif? Kapan datang?” tanyanya. “Kok nggak bilang-bilang? Sengaja ya mau ngejutin kami?”

Aku tersenyum tipis.

“Tapi, Om,” lanjutnya pelan, “Om kayak Mama akhir-akhir ini. Sibuk banget. Kemarin aja aku yang masakin adek.”

Senyumku perlahan menghilang.

Apa maksudnya?

Aku menatap wajahnya dengan saksama—terlalu dewasa untuk usianya. Terlalu terbiasa mengambil peran yang seharusnya bukan miliknya.

“Sibuk?” ulangku pelan. “Mama kamu kerja, Nak?”

Dia mengangguk kecil, ragu.

“Bukannya kemarin dia masih bilang ke Om kalau dia pengangguran abadi?” ucapku heran. “Kemarin waktu Om nelepon, dia masih santai duduk di taman, memangku laptop.”

Dadaku terasa mengencang.

Ada yang berubah… dan aku nggak suka perasaan ini.

“Ya sudah, kamu makan dulu gih ke dapur,” ujarku lembut. “Masih ada makanan tadi. Om sengaja sisakan buat kamu.”

Keponakanku itu mengangguk, lalu melangkah pergi. Dari caranya menahan perut, aku tahu dia pasti lapar.

Belum sempat aku duduk, si bungsu sudah berlari dari halaman belakang menghampiri kakaknya.

“Kak, kok tumben pulang cepat?” tanyanya riang sambil meraih tas sang kakak, lalu memeluknya erat.

Anak itu mulai membuka resleting tas kakaknya dengan penuh rasa ingin tahu. Tak lama kemudian, terlihat beberapa bungkus makanan di dalamnya.

“Oh…” aku tersenyum kecil melihat pemandangan itu.

Rupanya keponakanku yang satu ini orangnya perhatian.

“Buat adek,” ujar sang kakak singkat.

Si bungsu langsung tertawa senang, memeluk kakaknya lebih erat seolah menemukan harta karun.

Aku berdiri mematung di tempatku, menatap mereka berdua.

Anak-anak ini terlalu cepat belajar saling menjaga…

Dan entah kenapa, perasaan itu membuat dadaku terasa hangat dan bangga.

Aku mendekat perlahan, duduk di sofa tak jauh dari mereka. Aku menunggu sampai Bian selesai membuka bungkus makanan untuk adiknya. Baru setelah itu aku bicara.

“Bian,” panggilku lembut. “Om tanya satu hal, ya.”

Bian menoleh. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit kujelaskan.

“Akhir-akhir ini… Mama kamu kenapa?” tanyaku hati-hati. “Sering capek, ya?”

Bian terdiam sejenak. Tangannya berhenti bergerak. Lalu ia mengangkat bahu kecil.

“Mama lebih sering diam, Om,” jawabnya pelan. “Kalau di rumah, Mama jarang ngomong. Terus Mama sering keluar rumah.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Keluar ke mana?” tanyaku, masih berusaha terdengar biasa.

“Bian nggak tahu,” katanya jujur. “Mama cuma bilang mau pergi sebentar.”

Aku menarik napas panjang.

“Terus Ayyan?”

Bian menunduk, lalu menatap adiknya yang sedang asyik makan.

“Mama selalu nyuruh Bian jaga Ayyan,” katanya. “Katanya jangan ribut, jangan bertengkar kalau Mama lagi pergi itu aja om.”

Dadaku terasa seperti diremas.

Anak seusia ini seharusnya mikirin sekolah dan main, bukan menggantikan peran orang dewasa.

“Papa kamu tahu?” tanyaku pelan.

Bian menggeleng. “Papa jarang di rumah, Om.”

Aku memejamkan mata sejenak.

Ada yang salah… dan rasanya jauh lebih besar dari yang aku bayangkan.

Aku mengusap kepala Bian perlahan.

“Kamu anak hebat,” kataku tulus dan prihatin, anak sekecil ini pikiran nya begitu dewasa. “Tapi ingat, kamu juga masih anak-anak.”

Bian hanya tersenyum kecil.

Dan di saat itu, satu tekad menguat di dalam dadaku—

aku tidak akan membiarkan Anna dan anak-anaknya sendirian menghadapi ini.

1
WDY
ya udah lho lif kalau memang dah cocok jadikan saja istrimu. toh anak anaknya juga dah cocok dengan kamu
WDY
aduh gimana anak anak anna dah terlanjur dekat sama alif. Thor pleaseee donk jadikan ayah sambung mereka segera
Icha sun
mungkin hidupnya terlalu sempurna jadinya bosen, makanya Rian nyari2 perkara sendiri dgn selingkuh
Icha sun
Anna kayaknya lagi ngurus surat cerai, Lif. tolonglah dampingin dia
GreenForest
Kurang apa coba Alif 🤭
GreenForest
harusnya support keluarga tuh kaya gini. Tapi apakah zaman sekarang masih ada?.😭
Meee
Untungnya mereka enggak berpisah dalam keadaan bermasalah ☺
Meee
Kalau mau pergi, pamit aj dulu bang. Daripada nanti Anna ngira kamu pergi ninggalin dia tanpa pamit
D'Mas0712
apa anna juga memiliki rasa ya sama alif?
D'Mas0712
gass nikah .. tp apa anna juga mau?
Addb_Rh
seperti ada perasaan yg sulit di jelaskan antara dua manusia dewasa ini😌
Addb_Rh
kalo gk mau di tinggal, suruh jadi bapak mu aja bian. drpd nanti kamu nangis.
Meee
Anaknya ternyata sangat open untuk posisi ayah baru, mungkin karena ayah kandung mereka gak peduliin mereka, ya 🙈
Meee
Ketakutan pamannya bisa dimengerti. Tapi keknya emang kecepetan deh 🙈 bru juga ketuk palu
WDY
Tawuran receh itu yang bagaimana thor🤭🤭🤭🤣🤣🤣
WDY
Jangan pergi donk lif. gak kesian sama anna tah
Icha sun
Om Alif sayang banget sama mama kalian. yuk, doain biar mereka bisa jadi suami istri dan jadi papa kalian
Icha sun
hangat banget sih, udah kayak rumah tangga yang harmonis 🤭
D'Mas0712
singa betina juga butuh perlindungan singa jantan lif.. 🤣🤣
D'Mas0712
kamu tidak kalah ann.. kamulah pemenangnya karena kamu mampu bertahan sampai akhir. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!