NovelToon NovelToon
Magang Di Hati Bos Muda

Magang Di Hati Bos Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga / Teen School/College / CEO / Romansa
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Satu kesalahan di lantai lima puluh memaksa Kirana menyerahkan kebebasannya. Demi menyelamatkan pekerjaan ayahnya, gadis berseragam putih-abu-abu itu harus tunduk pada perintah Arkan, sang pemimpin perusahaan yang sangat angkuh.
​"Mulai malam ini, kamu adalah milik saya," bisik Arkan dengan nada yang dingin.
​Terjebak dalam kontrak pelayan pribadi, Kirana perlahan menemukan rahasia gelap tentang utang nyawa yang mengikat keluarga mereka. Di balik kemewahan menara tinggi, sebuah permainan takdir yang berbahaya baru saja dimulai. Antara benci yang mendalam dan getaran yang tak terduga, Kirana harus memilih antara harga diri atau mengikuti kata hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Cahaya di Ujung Lorong Gelap

Kotak besi lift menghantam dasar fondasi dengan bunyi dentuman yang sangat memekakkan telinga hingga debu semen berhamburan menutupi pandangan mata. Tubuh Kirana terlempar ke sudut ruangan yang sempit, sementara Arkananta mendekapnya sekuat-tenaga untuk menahan benturan yang sangat mematikan tersebut. Kirana merasakan cairan hangat mengalir dari dahinya yang membentur dinding baja, menciptakan noda merah pekat di atas lantai yang sudah remang-remang.

"Tuan Arkananta, tolong jangan lepaskan tangan saya sekarang juga!" jerit Kirana dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Arkananta tidak menjawab, ia hanya mampu mengerang pelan karena kakinya terjepit di antara reruntuhan mesin lift yang sudah hancur berantakan. Ia mencoba mengatur pernapasannya yang mulai tersengal-sengal akibat kepulan asap hitam yang mulai masuk dari celah pintu yang miring. Kirana merangkak mendekati Arkananta, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya demi memastikan pria itu masih bernapas dengan baik.

"Kirana, segera keluar dari sini melalui celah di atas langit-langit, jangan pedulikan keadaan saya lagi!" perintah Arkananta dengan suara yang sangat parau.

Kirana menggelengkan kepalanya dengan sangat keras, air matanya jatuh membasahi telapak tangan Arkananta yang sudah dipenuhi oleh luka-luka goresan tajam. Ia mencari sebuah tuas atau benda apa pun yang bisa digunakan untuk mencongkel besi yang menjepit kaki sang bos muda tersebut. Di tengah kegelapan yang sangat mencekam, Kirana menemukan sebuah batang besi panjang yang terlepas dari kerangka pintu lift.

"Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda sendirian di tempat yang sangat mengerikan ini, Tuan!" tegas Kirana sambil mulai mengungkit besi penghalang itu.

Dengan kekuatan yang luar biasa dari dorongan rasa sayang yang terpendam, Kirana berhasil menggeser beban besi tersebut secara perlahan-lahan. Arkananta segera menarik kakinya yang sudah mulai membiru, lalu ia berusaha berdiri meskipun tubuhnya tampak sangat goyah dan tidak stabil. Mereka berdua mendongak ke arah lubang ventilasi di atas mereka, melihat secercah cahaya redup yang berasal dari lampu darurat koridor lantai dasar.

"Pegang bahu saya, kita harus melompat ke arah kabel baja yang masih tergantung itu sekarang juga!" seru Arkananta sambil mengangkat tubuh Kirana.

Kirana menggapai kabel yang sangat licin tersebut, tangannya yang halus mulai terluka akibat gesekan logam yang kasar dan sangat panas. Mereka merayap naik seperti bayangan yang bergerak di tengah kesunyian gedung yang sedang sekarat karena ledakan bertubi-tubi di lantai atas. Saat mencapai tepian lantai dasar, Kirana melihat bayangan seseorang sedang berdiri menunggu mereka dengan memegang sebuah obor minyak.

"Siapa di sana? Jangan mendekat atau saya akan melakukan tindakan yang sangat nekat!" ancam Arkananta sambil melindungi posisi Kirana di belakangnya.

Ternyata sosok itu adalah Indra yang berhasil selamat dari lorong ventilasi sebelumnya, meski wajahnya kini dipenuhi oleh perban darurat yang sangat kusam. Indra memberikan isyarat agar mereka segera berlari menuju lorong bawah tanah yang menghubungkan gedung pusat dengan area parkir rahasia di seberang jalan. Suara sirine polisi dan mobil pemadam kebakaran mulai terdengar sangat nyaring dari arah permukaan, namun mereka tahu bahwa bahaya yang sebenarnya masih mengintai di dalam kegelapan.

"Clarissa sudah menyiapkan pasukan pemanah beracun di pintu keluar utama, kita harus lewat lorong limbah sekarang juga!" ujar Indra dengan nada yang sangat serius.

Kirana merasa mual saat mencium bau busuk yang sangat menyengat dari arah lorong limbah yang gelap dan dipenuhi oleh air hitam yang mengalir deras. Namun, ia tidak punya pilihan lain karena suara langkah kaki para pengejar mulai terdengar bergema sangat keras di koridor belakang mereka. Arkananta memegang tangan Kirana dengan sangat erat, memberikan keyakinan bahwa mereka akan bisa melewati semua cobaan ini bersama-sama.

"Tetaplah berada di belakang saya, Kirana, lorong ini memiliki banyak jebakan yang sangat mematikan bagi orang yang tidak berpengalaman," bisik Arkananta.

Mereka berjalan merunduk di bawah pipa-pipa besi yang sudah berkarat, sesekali menghindari tetesan cairan kimia yang jatuh dari atap lorong yang sangat lembap. Kirana melihat sebuah pintu besi kecil yang bertuliskan larangan masuk, namun Arkananta justru mengeluarkan kunci tembaga yang tadi sempat ia ambil kembali dari Kirana. Pintu itu terbuka, menampakkan sebuah ruangan yang berisi ratusan arsip lama keluarga Dirgantara yang selama ini dianggap sudah musnah terbakar.

"Ini adalah cahaya yang kita cari selama ini, semua bukti kejahatan Bagas dan Clarissa tersimpan rapi di dalam kotak-kotak kayu ini," ungkap Arkananta dengan mata yang bersinar.

Kirana mengambil salah satu dokumen yang berjudul tentang rahasia penari keraton, ia menemukan foto ibunya yang sedang tersenyum manis bersama seorang pria yang sangat mirip dengan Arkananta. Namun, di bawah foto tersebut terdapat sebuah catatan kaki yang menyatakan bahwa Kirana bukanlah putri kandung dari Sekar, melainkan seorang anak yang dititipkan untuk dilindungi. Kirana merasa dunianya kembali berputar hebat, kenyataan baru ini terasa jauh lebih menghancurkan daripada ledakan bom yang tadi ia alami.

"Jika saya bukan anak ibu Sekar, lalu siapa sebenarnya orang tua kandung saya yang tega membuang saya ke tengah konflik berdarah ini?" tanya Kirana dengan suara yang sangat lirih dan penuh kepedihan.

Arkananta terdiam, ia tampak tidak berani menatap mata Kirana karena ia mengetahui sebuah kebenaran yang jauh lebih gelap di balik catatan kaki tersebut. Sebelum ia sempat memberikan penjelasan, sebuah anak panah beracun melesat dari arah kegelapan lorong dan menancap tepat di bahu Indra hingga pria itu jatuh tersungkur. Kirana berteriak histeris, sementara dari ujung lorong muncul sosok pria bertopeng naga emas yang tadi ia kira sudah tewas di atas gondola.

"Berikan dokumen itu atau saya akan memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa keluar dari lorong limbah ini hidup-hidup!" ancam pria bertopeng itu sambil menyiapkan anak panah berikutnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!