Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 Anggur Muda untuk Kismis
Berhenti di tengah-tengah kebun jati, aku menggelar tikar dan tanpa ragu merebahkan tubuhku di bawah naungan dedaunan.
Raka menatapku, wajahnya tampak memerah. Sekejap ia mengalihkan pandangannya dariku.
Raka duduk di ujung tikar, tangannya sibuk mengusap tengkuknya pelan, matanya sesekali mencuri pandang lalu buru-buru dialihkan ke pepohonan.
"Aku jarang begini, Mir," katanya pelan, suaranya terdengar kikuk. "Jarang bisa duduk tenang di kebun, apalagi bareng kamu."
Aku menoleh, menatapnya sekilas. Senyum tipis muncul tanpa sengaja, lalu segera kutahan. "Kenapa? Bukannya kamu sering ke kebun?"
Raka tertawa kecil, masih mengusap tengkuknya. "Kebunku kecil, dan cuma ada anggur."
Aku terdiam, membiarkan angin lewat di sela-sela rambutku. Ada keheningan yang menggantung, bukan canggung, tapi justru menenangkan.
"Meski kebunmu kecil, tapi gudang di rumahmu luas seperti bandara. Berapa banyak wine yang bisa kau tampung di sana?" Pukasku.
Raka tertawa kecil, masih mengusap tengkuknya. "Banyak, apa lagi kalau bahan dan modalnya ada di depan mata. Oh iya, menurutmu, bagaimana rasa wine buatanku?"
Aku menoleh, senyum tipis muncul. "Rasanya agak aneh dan terlalu asam, tapi tetap enak untuk diminum, Rak."
Raka mengangguk, wajahnya memerah lagi. "Itu karena aku nekat, mengurangi ragi. Ternyata rasanya malah kurang enak."
Aku tertawa kecil, suara tawa itu pecah di bawah naungan jati. "Tapi kamu berani mencoba. Itu yang bikin aku kagum."
Raka menunduk, matanya berbinar malu. "Syukurlah, ketika baru mulai meracik... aku ingin kamu jadi orang yang pertama kali mencicipinya. Aku senang itu terwujud."
Aku terdiam, membiarkan ucapan Raka berhenti begitu saja. Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan jati di atas kami.
Suara burung sesekali terdengar dari kejauhan, lalu hilang lagi, meninggalkan ruang yang semakin sunyi.
Menatap awan yang mengintip dan cahaya yang berlapis-lapis jatuh bersama daun, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan.
Raka duduk tak jauh dariku, tapi keheningan di antara kami terasa panjang, seakan waktu melambat.
Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi kata-kata. Hanya diam yang menekan, membuat dadaku bergetar.
Bayangan Marcel kembali muncul samar, bercampur dengan ketulusan Raka yang baru saja diucapkan. Dua dunia bertabrakan dalam diam.
"Sebenarnya, tadi pagi aku..."
Aku menarik napas panjang, kata-kataku terhenti di tengah kalimat. Ada sesuatu yang menekan di dadaku, membuat suaraku tak sanggup keluar.
Aku sedang berada di persimpangan perasaan. Di satu sisi, kehadiran Raka dengan ketulusannya membuatku merasa hangat, seolah ada ruang aman yang bisa kutemukan.
Senyumnya yang kikuk, matanya yang jujur, semua itu memberi rasa damai sederhana. Namun di sisi lain, ada bagian dalam diriku yang masih rapuh.
Luka lama belum sepenuhnya sembuh, dan setiap kali aku mencoba membuka diri, ada rasa takut yang muncul.
Takut kalau aku tidak bisa memberi hati yang tulus, takut kalau aku hanya akan melukai orang yang ada di depanku.
Hening di kebun ini memperbesar segalanya. Angin yang lewat, cahaya yang jatuh berlapis-lapis, suara burung yang sesekali terdengar.
Semua seakan menyoroti kegelisahan yang berputar di dalam diriku.
Aku ingin bicara, ingin jujur pada Raka, tapi kata-kata itu tertahan. Yang kurasakan sekarang adalah campuran antara hangat dan kosong, antara keinginan untuk percaya dan keraguan yang masih menempel.
Aku menarik napas panjang, lalu menoleh sedikit ke arah Raka. "Raka… sebenarnya, aku sedang ingin cerita sesuatu," ucapku pelan, suaraku nyaris tertutup oleh suara gemerisik angin yang melewati dedaunan.
Raka menatapku, matanya penuh perhatian. "Cerita apa, Mir?" tanyanya lembut, takut mendesak.
Aku menunduk, jemariku meraba tikar yang terhampar di tanah. "Pagi tadi… ada seseorang yang menghubungiku."
Raka mengusap tengkuknya, lalu mengangguk pelan. "Teman lama?" suaranya hati-hati, menuntut jawaban.
Aku tersenyum tipis, lalu bangun ke posisi duduk "Ya… bisa dibilang begitu. Aku… hanya ingin kamu tahu, tapi aku nggak bisa cerita semuanya."
Raka menatapku lebih lama, matanya penuh tanda tanya. "Mir, apa ini ada hubungannya dengan pertanyaanmu sebelumnya tentang mantan?"
Aku menarik napas, menahan tatapannya sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak ingin menyebut siapa, Rak. Tapi iya… ada kaitannya dengan masa lalu. Pagi tadi aku ditelepon, dan itu membuatku sedikit goyah."
Raka mengusap tengkuknya, wajahnya serius. "Aku mengerti. Jadi itu yang bikin kamu terlihat gelisah dari tadi."
Aku menunduk, jemariku meraba tikar. "Aku tidak mau kamu salah paham. Aku hanya ingin jujur kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranku."