NovelToon NovelToon
Cinta Kecil Mafia Berdarah

Cinta Kecil Mafia Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Beda Usia / Fantasi Wanita / Cintapertama / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zawara

Zoya tak sengaja menyelamatkan seorang pria yang kemudian ia kenal bernama Bram, sosok misterius yang membawa bahaya ke dalam hidupnya. Ia tak tahu, pria itu bukan korban biasa, melainkan seseorang yang tengah diburu oleh dunia bawah.

Di balik kepolosan Zoya yang tanpa sengaja menolong musuh para penjahat, perlahan tumbuh ikatan tak terduga antara dua jiwa dari dunia yang sama sekali berbeda — gadis SMA penuh kehidupan dan pria berdarah dingin yang terbiasa menatap kematian.

Namun kebaikan yang lahir dari ketidaktahuan bisa jadi awal dari segalanya. Karena siapa sangka… satu keputusan kecil menolong orang asing dapat menyeret Zoya ke dalam malam tanpa akhir.

Seperti apa akhir kisah dua dunia yang berbeda ini? Akankah takdir akan mempermainkan mereka lebih jauh? Antara akhir menyakitkan atau akhir yang bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zawara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bram Mode Kesal

Di dalam kamar yang gelap, aroma antiseptik dan obat luka menggantung pekat di udara, bercampur dengan hawa dingin pendingin ruangan. Bram duduk di kursi sudut, diam tak bergerak seperti gargoyle penjaga makam. Matanya terpejam, lengan kekarnya terlipat di dada, namun telinganya tetap aktif memindai frekuensi malam sebuah kutukan dari kebiasaan lamanya yang menolak mati.

Tiba-tiba, selimut keheningan itu terkoyak kasar.

DOR! DOR! RATATATA!

Kelopak mata Bram terbuka seketika. Tidak ada kantuk di sana, hanya kilat kewaspadaan yang melintas tajam di bola matanya. Kepala Bram menoleh cepat ke arah jendela yang tertutup tirai tebal. Otaknya secara otomatis membedah orkestra kekerasan di luar sana.

9mm... senapan serbu... dan itu suara tulang patah? batin Bram bertanya-tanya. Alisnya bertaut dalam.

Ia tidak merasa takut. Ia hanya merasa terganggu. Siapa orang bodoh yang memutuskan untuk mengubah perumahan elite menjadi zona perang di jam tiga pagi? Polisi? David? Atau musuh baru?

Otak taktis Bram mulai bekerja cepat; menyusun skenario pertahanan, menghitung jarak tembak, memperkirakan jumlah musuh. Ia bangkit perlahan dari kursi, hendak mengintip dari celah tirai untuk memastikan situasi. 

Namun, langkah kakinya terhenti.

"Eungh..."

Sebuah rintihan pelan, nyaris tak terdengar, lolos dari bibir Zoya. Bram membeku, lalu menoleh cepat ke arah ranjang.

Gadis itu tidak terbangun sepenuhnya, tapi tidurnya jelas terganggu. Tubuh kecil yang meringkuk di balik selimut itu tersentak setiap kali suara ledakan senjata terdengar di luar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya yang diperban, luka akibat keputusasaannya sendiri sore tadi, kini mencengkram sprei dengan gelisah, seolah ia sedang menahan rasa takut bahkan di alam bawah sadarnya.

Melihat itu, semua kalkulasi taktis di kepala Bram buyar seketika.

Pertanyaan "siapa mereka" atau "apa mau mereka" menguap, digantikan oleh hawa panas yang menjalar cepat dari ulu hati ke kepalan tangannya. Rahang Bram mengeras sampai terdengar bunyi gemeretak gigi yang ngilu. 

Gadis itu baru saja melewati neraka di kepalanya sendiri. Bram baru saja berhasil menariknya kembali dari tepi jurang, membujuknya untuk tidur dan melupakan rasa sakit barang sejenak. Bahkan ia dengan susah payah menahan diri untuk tidak menghancurkan barang-barang karena frustasi melihat Zoya melukai dirinya sendiri.

Dan sekarang? Sekumpulan sampah di luar sana berani mengacaukan satu-satunya ketenangan yang tersisa?

​"Bajingan..." geram Bram rendah. Suaranya serak dan berat, menahan ledakan emosi. 

Ia menatap pintu balkon dengan pandangan yang bisa melelehkan baja. Rasa penasarannya sudah hilang. Ia tidak peduli lagi siapa yang ada di bawah. Polisi? Tentara? David? Malaikat maut sekalipun? Masa bodoh. Ia tidak peduli taktik.

Yang ia tahu cuma satu: Zoya butuh tidur, dan sampah-sampah di halaman depan itu terlalu bising.

Bram berjalan menghentak menuju balkon. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Ia tidak akan memeriksa keadaan. Ia akan menghentikan keadaan.

Sementara itu di halaman depan, kekacauan sedang mencapai puncaknya.

Lima sosok hitam misterius itu berdiri statis mengepung sisa-sisa Cleaners dan David yang terpojok di balik mobil. Hening sejenak menyelimuti mereka setelah baku tembak brutal, menyisakan bau amis darah dan bensin yang menyengat.

​David hendak membuka mulut, hendak meneriakkan pertanyaan tentang siapa tuan mereka, ketika tiba-tiba…

PYAAARRR!!!

​Pintu kaca balkon lantai dua rumah Zoya pecah berantakan. Bukan dibuka, melainkan dihantam dari dalam. Serpihan kaca menghujani teras bawah seperti kristal tajam.

Semua orang, baik pasukan hitam misterius, Viktor, maupun David serentak mendongak kaget ke atas.

Di sana, di pinggir balkon, berdiri sesosok pria. Bram.

​Ia hanya mengenakan kaos hitam polos yang ketat mencetak otot-otot tubuhnya yang menegang karena amarah, serta celana jeans gelap. Tidak ada senjata di tangannya. Rambutnya berantakan. Kakinya telanjang tanpa alas. Tapi aura yang menguar darinya terasa lebih padat dan menyesakkan daripada ancaman lima pembunuh di bawah sana.

Mata Bram merah menyala, menatap tajam ke bawah seperti iblis yang baru saja diganggu dari pertapaannya. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar saking marahnya.

"BERISIK!!!"

Teriakan Bram menggelegar, membelah malam, lebih keras dari suara ledakan granat. Suaranya penuh dengan dominasi murni yang membuat lutut siapapun yang mendengarnya lemas.

David ternganga. Viktor mundur selangkah. Bahkan pasukan hitam misterius yang tadi terlihat tanpa emosi, kini terlihat sedikit menurunkan kuda-kuda mereka, terintimidasi oleh tekanan udara yang tiba-tiba memberat.

Bram mencengkeram pagar besi balkon. Dengan bunyi krieeet yang memilukan, besi tebal itu melengkung di bawah remasan tangannya yang brutal. 

"Kalian..." Bram menunjuk ke bawah dengan telunjuk yang gemetar karena murka. "Kalian membangunkannya."

Tanpa ancang-ancang, Bram melompati pagar balkon itu. Ia tanpa ragu, terjun bebas dari lantai dua. 

DUBRAK!

Hantaman itu mengguncang tanah. Bram mendarat dengan kedua kaki tepat di atas kap mesin mobil SUV terdepan milik David.

​Suspensi mobil itu menjerit. Kap mesin baja itu penyok dalam seketika, membentuk cekungan besar, sementara kaca depan mobil retak seribu menahan beban pendaratan “Sang Bloddy Man”.

Perlahan, Bram menegakkan tubuhnya di atas kap mobil yang ringsek. Ia berdiri tinggi di antara dua kubu yang bertikai, memutar lehernya hingga berbunyi krek. 

Tatapannya liar, menyapu David yang ternganga, lalu beralih ke pasukan hitam bertopeng itu. Bram tidak melihat "pembunuh elite". Ia hanya melihat sekumpulan anak setan yang perlu dihajar karena membangunkan bocah yang sedang tidur.

​"Aku tidak peduli siapa kalian,” ucap Bram datar, nadanya begitu dingin hingga membuat udara malam terasa membeku. Ia menatap Viktor, David, lalu pemimpin pasukan hitam itu bergantian. 

“Aku tidak peduli siapa yang mau membunuh siapa."

Bram turun dari kap mobil, kakinya menginjak aspal dengan aura dominasi yang mutlak.

"Tapi kalau ada satu saja, satu saja suara letusan lagi yang terdengar..." Bram menunjuk ke arah jendela kamar Zoya di lantai dua, lalu kembali menatap mereka dengan mata nyalang. "...Kupastikan kalian semua mati tanpa sempat berteriak."

​Ia tidak memasang kuda-kuda beladiri yang indah. Ia hanya berdiri santai dengan bahu merosot dan tangan terkepal di sisi tubuh, sikap tubuh seseorang yang sudah terlalu muak untuk bertarung dengan teknik, dan lebih memilih menghancurkan tulang lawan dengan tangan kosong.

​"Sekarang," desis Bram, "Bubar. Atau Kubuat kalian jadi bagian dari aspal ini.”

1
partini
wow
knovitriana
iklan buatmu
knovitriana
update Thor saling support
partini
🙄🙄🙄🙄 ko intens ma Radit di sinopsis kan bram malah dia ngilang
partini
ini cerita mafia apa cerita cinta di sekolah sih Thor
partini
yah ketauan
partini
Radit
partini
😂😂😂😂😂 makin seru ini cerita mereka berdua
partini
ehhh dah ketauan aja
partini
g👍👍👍 Rian
partini
seh adik durjanahhhhhh
partini
awal yg lucu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!