NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tanda tanya dihari esok

Setelah Arif keluar, Dewi tetap duduk di lantai dapur sampai larut malam. Ia tidak tidur, hanya memikirkan keputusannya dan apa yang akan terjadi besok. Ia tahu Arif pasti akan kembali untuk membujuknya—dia selalu begitu ketika Dewi mulai "sulit"—namun kali ini, dia sudah bersedia menghadapinya.

Hari berikutnya, Dewi bangun lebih awal. Ia membersihkan rumah sampai bersih, memasak nasi dan sayuran sederhana yang dia beli dengan uang yang Rio kirimkan via transfer pagi itu. Dia sudah memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada Arif, bahkan untuk sesuap nasi.

Tidak lama setelah itu, bunyi motor Arif terdengar lagi—lebih cepat dan tergesa-gesa dari biasanya. Arif turun dari motor dengan wajah yang pucat, membawa tas yang terisi penuh. Dia langsung masuk ke rumah, melihat Dewi yang sedang duduk di meja makan.

"Dewi, sayangku, maaf ya kemarin aku marah," ujar Arif dengan suara yang lemah dan merendahkan diri. Dia mendekati Dewi, ingin memegang tangannya, tapi kembali menghindar. "Aku tidak maksud kataku kemarin. Aku sayang kamu, Dewi. Janganlah kita pisah."

Dewi hanya menatap nasi di piringnya, tidak mau melihat wajah Arif. "Sudah aku katakan kemarin, Arif. Aku serius mau pisah."

"Jangan, sayang. Aku akan berubah, aku janji. Kali ini serius banget," ujar Arif, berdiri di depan Dewi dengan wajah yang penuh harapan. Dia membuka tasnya, mengeluarkan selembar kertas. "Ini surat perjanjian dari aku. Aku janji akan berhenti berjudi, akan bekerja penuh waktu, akan memberi uangmu setiap hari untuk kebutuhan rumah. Lihat, aku sudah tulis semuanya."

Dewi tidak mau melihat kertas itu. "Janji itu tidak berarti apa-apa, Arif. Sudah berkali-kali kamu janji, tapi tidak pernah terpenuhi."

"Kali ini beda, Dewi! Aku sudah bicara dengan teman aku, dia mau mempekerjakan aku di penggilingan . Mulai minggu depan aku akan bekerja. Dan aku sudah mengembalikan semua uang yang aku simpan—akan kubayar hutang kita dan kebutuhanmu. Jangan tolak aku, sayang. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu."

Arif kemudian merendahkan diri, bahkan hampir bersujud di depan Dewi. "Maaf, Dewi. Maaf sudah menyakitkanmu berkali-kali. Maaf sudah tidak peduli padamu. Aku sungguh menyesal. Tolong berikan aku kesempatan terakhir. Hanya satu kali lagi."

Wajah Arif yang menangis dan merendahkan diri itu membuat hati Dewi sedikit goyah. Ada bagian dari dirinya yang masih mencintai Arif, yang masih berharap dia benar-benar akan berubah. Tapi bagian yang lain—yang sudah lelah, lapar, dan sakit hati—lebih kuat.

"Aku sudah memberi mu kesempatan berkali-kali, Arif. Sudah cukup," katanya dengan suara yang tetap tegas. "Aku sudah memutuskan. Setelah orang tua aku pulang dari kampung, aku akan memberi tau mereka tentang keputusanku ini. Kita akan bicara tentang proses perceraian bersama mereka."

Kata-kata itu membuat Arif terkejut. Dia berdiri dengan cepat, wajahnya kembali memerah—tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena panik. "Aku tidak akan mengizinkanmu memberi tau orang tua mu! Mereka akan marah pada aku, dan semua orang di desa akan tahu. Aku akan hilang nama baikku!"

"Namamu sudah hilang lama sekali, Arif. Semua orang di desa tahu kamu berjudi dan tidak bertanggung jawab," jawab Dewi dengan tenang. "Dan aku tidak peduli lagi dengan nama baikmu. Aku hanya peduli dengan hidupku sendiri yang sudah terlantar terlalu lama."

Arif kemudian mencoba semua cara untuk membujuknya. Dia bercerita tentang masa lalu ketika mereka masih saling mencintai, tentang harapan-harapan mereka yang dulu. Dia mengatakan bahwa dia akan membawa Dewi jalan-jalan, membeli apa yang dia inginkan, dan merawatnya dengan baik. Dia bahkan menangis lebih keras, membuat suara tangisnya terdengar menyakitkan.

"Tinggal di sini dengan aku, Dewi. Kita bisa mulai lagi. Aku akan bikin kamu senang, aku janji. Jangan tinggalkan aku sendirian," pinta Arif dengan suara yang bergetar.

Tetapi Dewi tetap tidak bergerak. Ia melihat Arif yang menangis, tapi tidak ada rasa belas kasihan yang muncul. Ia hanya merasa lelah—lelah melihatnya berdusta, lelah mendengar janji yang sama, lelah dengan semua drama yang dia ciptakan.

"Aku sudah membuat keputusanku, Arif. Tidak ada yang bisa mengubahnya," katanya. "Kamu bisa pulang sekarang. Atau kalau mau tinggal, silakan. Tapi jangan harap aku akan berubah pikiran."

Arif melihat Dewi dengan mata yang penuh keputusasaan. Dia tahu dia tidak bisa membujuknya lagi—kali ini, Dewi benar-benar serius. Dia mengambil tasnya, berdiri dengan lemah, dan menatap Dewi satu kali lagi. "Baiklah. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap datang ke sini sampai kamu mau memberi aku kesempatan lagi."

Setelah Arif keluar, Dewi duduk terdiam. Hatinya sedikit lega, tapi juga ada rasa sedih yang muncul. Dia sudah tinggal bersama Arif selama bertahun-tahun—meskipun penuh kesedihan, itu adalah hidup yang dia kenal. Tapi dia tahu, ini adalah langkah yang harus dia ambil untuk menemukan kebahagiaan.

Selama seminggu berikutnya, Arif datang ke rumah setiap hari. Dia selalu membawa sesuatu untuk Dewi—makanan, bunga, atau barang-barang kecil yang dia beli. Dia selalu membujuknya, menangis, dan meminta maaf. Tapi Dewi tetap tegas—dia tidak mau berbicara banyak dengan Arif, dan selalu mengulangi bahwa keputusannya tidak akan berubah.

Rio juga datang lebih sering, membawakan makanan dan obat untuk Dewi. Dia mendukung keputusannya, mengatakan bahwa itu yang terbaik untuknya. "Kamu sudah cukup kuat, Dewi. Kamu bisa hidup sendiri tanpa Arif yang selalu menyakitkanmu," ujar Rio dengan penuh kasih.

Beberapa hari kemudian, Dewi menerima telepon dari ibunya. "Sayang, ayah dan aku akan pulang besok sore. Upacaranya sudah selesai, dan kita rindu banget sama kamu," ujar ibunya dengan suara yang senang.

Dewi mengangguk, hatinya terasa kaku. Dia tahu besok akan menjadi hari yang sulit—hari dia memberitahu orang tua tentang keputusannya untuk bercerai. "Baik, Bu. Aku tunggu di rumah."

Malam itu, Dewi tidak bisa tidur. Ia memikirkan bagaimana orang tua akan bereaksi. Akan mereka marah? Akan mereka memahami? Atau akan mereka meminta dia untuk memaafkan Arif dan terus tinggal bersama?

Ia membayangkan ibunya yang menangis, ayahnya yang marah, dan semua masalah yang akan muncul. Tapi dia juga memikirkan hidupnya yang akan datang—hidup yang bebas dari kesedihan, lapar, dan kekhawatiran. Dia tahu itu tidak akan mudah, tapi dia bersedia menghadapinya.

Jam di dinding menunjukkan jam tiga pagi. Hari sudah hampir terbit, dan besok akan segera tiba. Dewi berdiri di teras, melihat matahari yang mulai muncul dengan cahaya yang lemah. Ia berdoa agar orang tua nya memahami keputusannya, agar mereka bisa mendukungnya dalam langkah baru ini.

Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa tidak ada yang pasti. Apa yang akan terjadi besok? Bagaimanakah tanggapan orang tua Dewi ketika mendengar bahwa putri mereka ingin bercerai? Semua itu masih menjadi tanda tanya yang belum terjawab—sebuah kebenaran yang dia harus hadapi ketika matahari terbit esok hari.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!