Rani yang masih berusia 18 tahun, dengan rela dinikahi Malik yang berusia 50 tahun, pria yang baik dan pernah menyelamatkan hidupnya. dimana Malik, pria tua itu selama lima tahun menderita disfungsi yang tak bisa disembuhkan. Dan Rani lah orang yang dapat menyembuhkan penyakit itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danira16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Panas
Dengan berat hati Rani pun harus ikut bersama suaminya, sejujurnya sangat takut nanti menghadapi mantan isteri beserta anak-anak Malik.
Bahkan kedua anak suaminya usianya saja lebih tua diatasnya, sudah pasti akan ada huru hara ataupun ketidak sukaan dari anak-anak dari suaminya.
"Jangan cemas, tidak akan ada yang berani menyakitimu." Ucap Malik menenangkan sang istri yang terlihat resah di pesawat.
Rani mengangguk, lalu ia menyandarkan badannya ke tubuh sang suami, Malik pun mengusap lembut helaian rambut hitam legam sang istri.
Perjalanan dari Bali ke kampung Rani di solo membuat Rani akhirnya terlelap tidur, Malik pun membiarkan Rani beristirahat karena sebelum berangkat pun Malik terus saja mencolok inti istrinya.
Sesampainya di bandara Rani pun terbangun, itu pun setelah ia bangunkan suaminya dengan memberikan kecupan pada bibirnya. Rani melengkuh kecil, hingga ia membuka lebar matanya.
"Sudah sampai ya mas?"
"Sudah, ayo kita segera turun. Rachmat sudah menunggu kita di luar bandara."
Rani pun berdiri dan ia berjalan disisi suaminya, dengan tangan yang terlihat mengapit lengan suaminya. Malik paham akan kecemasan yang dirasakan oleh Rani.
"Tenanglah, saya akan melindungi kamu."
Rani pun mengangguk, ia sedikit lega oleh perkataan suaminya, hingga akhirnya mereka telah melihat supir pribadinya yang telah berdiri di depan mobil mewah milik Malik.
"Tuan, nyonya..... Mereka sudah menunggu." Ucap Rachmat berjalan membukakan pintu mobil untuk tuan dan nyonya majikannya.
"Bagiamana kabar kamu Rachmat selama kami tidak ada dirumah?" Tanya Malik pada supirnya.
Keduanya pun telah masuk ke dalam mobil, dengan Rani yang duduk di sampingnya. Mobil pun berjalan agak lambat karena pintu keluar bandara ramai.
"Kabar saya cukup baik, namun sedikit memanas dirumah itu tuan. Tahu sendiri bagaimana nyonya Susan." Sahut sang supir yang menerangkan suasana dirumah Malik.
Bahkan rumah itu kini setiap harinya hanya ada kemarahan dan teriakan Susan saja yang selalu seperti itu memperlakukan para asisten rumah tangga Malik.
Malik bukannya marah, ia malah terkekeh mendengar keluhan supir pribadinya yang setia selalu menemaninya. Bahkan bagi Malik sang supir telah ia anggap seperti kerabat sendiri.
Dan kenyamanan itulah yang membuat Rachmat betah bekerja pada Malik, dan perjalanan dari bandara ke kampung menempuh waktu satu jam setengah.
Akhirnya sampai juga mobil yang dikendarai oleh Rachmat pada di kediaman besar sang majikan. Dan seperti biasanya Rahmat langsung buka pintu untuk Malik dan nyonya barunya.
Malik keluar dari mobil dengan begitu santainya, diikuti oleh Rani. Tetap setia menggenggam tangan istrinya hingga mereka memasuki rumah dengan bergandengan tangan.
Suasana yang sangat romantis itu berbanding terbalik dengan kediaman Malik yang kini telah memanas karena adanya Susan.
Susan, Andy dan Meisya baru saja selesai menikmati makan siangnya, ketiganya sontak langsung menatap sosok yang telah mereka tunggu. Sosok itu berjalan dengan santai dan gagahnya dengan menggandeng seorang gadis yang mereka tahu adalah istri baru Malik.
Pesan yang melihatnya begitu panas, terlebih perlakuan Malik yang begitu menyayangi sang gadis. Tangannya pun tiba-tiba terkepal karena menahan emosinya.
"Ayah...." Seru Mesya mendekatkan kursi rodanya mendekat pada ayahnya.
Rani melepaskan tangan Malik padanya, ia tak enak hati melihat semua menatap sinis padanya. Mesya pun mengulurkan kedua tangannya bak anak kecil.
Bahkan Malik merasa puterinya sedikit berlebihan, Mesya biasanya tak seperti ini. Gadis itu cenderung mandiri, ia jarang sekali manja padanya.
Malik yang melihat harapan sang puteri ingin meminta peluk, akhirnya membungkukkan badannya demi merengkuh tubuh puteri bungsunya.
"Ayah aku kangen, mana oleh-oleh aku?" Cecar Mesya tanpa memperdulikan Rani berdiri di samping ayahnya sedang merotasi pergerakan ayah dan anak itu.
Mesya juga seolah mengabaikan Rani dan tak menganggap dirinya ada ditempat ini, ditanya mengenai oleh-oleh putrinya Malik tentu saja tergagap.
Bahkan ia saja tak menyangka puterinya akan menyusul ke kampung, memang rencananya setelah pulang dari berbulan madu itulah Malik akan membawa Rani untuk dikenalkan sebagai isterinya pada Andy dan Mesya.
Dan sayangnya rencana itu kandas, malah kedua anaknya telah berada dikampung seakan meminta penjelasan darinya. Namun Malik paham semua itu karena campur tangan Susan, kalo tidak mana mungkin mantan istrinya itu sampai datang ke kampung juga.
"Maaf ayah lupa belikan kamu oleh oleh sayang, kamu tahukan ayah juga cepat-cepat datang kemari buat menemui kalian. Apalagi kamu nak." Tukas Malik dengan dalihnya.
Pria itu terlihat membungkuk kembali untuk mengecup kening puteri cantiknya itu, jujur Malik merasa bersalah saat ini dihadapan Mesya. Terlebih lagi gadis itu menyimpan kekecewaan atas penghianatan yang dilakukan ibunya.
Susan langsung berdecak, ia mencibir dan angkat suara atas jawaban dari Malik, yang kini telah menalak dirinya sebulan yang lalu.
"Mana ingat ayah kamu memberikan kamu oleh-oleh, karena dia sibuk dengan isteri mudanya yang cantik itu." Sindir Susan.
Rani terkesiap, ia langsung menundukkan wajahnya, ia menjadi kekurangan oksigen oleh sarkasme Sandra yang seolah menyalahkan dirinya.
Andy yang sedari kecil tahu bahwa Malik bukan ayah kandungnya kini menatap sang ayah, terlihat tatapannya lama tertuju pada kecantikan isteri ayahnya.
Andy akui istri baru ayahnya begitu cantik alami, namun ia tak habis pikir saja dengan jalan pikiran ayahnya yang menikahi gadis muda yang harusnya memanggil Malik dengan sebutan kakek.
"Kamu kini orang asing, jangan ikut campur atas apa yang aku lakukan." Sentak Malik dengan membalas perkataan sengit Susan yang terlihat jelas gak menyukai Rani, bahkan menjelek-jelekan istrinya itu.
"Memangnya aku tak berhak datang ke sini? Rumah ini juga rumah Mesya kan? Anak kamu. Anak kita." Tekan Susan sengaja mengatakannya untuk membuat Malik tersadar bahwa disela pernikahan baginya itu, masih ada Mesya puteri kandungnya.
Untuk itulah Susan licik dengan membawa-bawa nama Mesya, karena gadis itu adalah anak kandung mereka. Dan pasti Mesya juga memiliki andil atas apa yang di miliki oleh mantan suaminya.
"Aku paham itu, dan aku juga tidak akan melupakan itu. Jangankan Mesya, untuk Andy pun juga aku gak akan melupakan bahwa dia juga puteraku." Jawab Malik dengan cara adil yang ia miliki untuk memberikan semua yang ia punyai pada orang-orang terdekatnya.
Mendengar itu entah mengapa Susan terlihat lega. Lega karena setidaknya kedua anak-anak nya telah disediakan oleh Malik sesuatu yang akan memudahkan jalan hidup Andy, juga Mesya untuk masa depannya.
"Baguslah jika kamu mengingat kedua anak kamu. Tapi urusanmu padaku belum selesai Malik, atau perlukah aku masih memanggilmu dengan sebutan mas lagi, seperti dulu?"
Sudah bisa Malik tebak arah pembicaraan mantan istrinya itu, ia paham pasti Susan menginginkan juga hak nya.
Malik menarik sudut bibirnya, lalu ia duduk dengan santai di sofa dengan kaki ia silangkan.
"Sudah bisa saja tebak, tapi kamu jangan khawatirkan itu. Aku tidak akan melupakan jasamu pernah menemaniku dan menjaga Mesya tentunya." Ucap Malik, ia menarik lembut tangan Rani untuk duduk di sampingnya.
Melihat itu Sandra jengah, terlebih lagi tatapan Mesya tak bersahabat pada Rani. Sedangkan Andy ia cukup tahu diri dengan posisinya saat ini, terlebih ayahnya tidak lepas tangan akan hak mereka.
"Malik aku rasa setelah kamu berbicara dengan mereka, kau harus berbicara serius padaku." Ucap Susan.
Dirinya pun berjalan meninggalkan kedua anaknya untuk berbicara serius dengan ayah mereka, toh Susan yakin pasti Andy dan Mesya marah dan menolak isteri baru Malik.
Dengan penuh keyakinan, Susan berjalan dengan penuh percaya diri berlalu kembali ke kamarnya.
"Ayah mengapa tega dengan cepat menikah lagi? aku tahu ibu bersalah tapi mengapa bisa secepat ini ayah mendapat penggantinya? Seolah hubungan kalian sebelumnya sudah dekat dan....." Ucap Mesya yang tak mau melanjutkan kalimatnya.
Rani tak bisa berkutik, terlebih di balik ucapan Mesya terkandung rasa sesak dirinya atas keputusan Malik yang dengan terburu-buru menikahinya.
Malik ingin menjelaskannya, namun ia juga tak ingin Rani mendengarkan pembicaraan keduanya yang bisa saja memanas karena ketidaksetujuan Mesya dan Andy akan keputusan menikahi Rani tanpa meminta persetujuan dari kedua anaknya.
"Rani pergilah, biarkan aku bicara dengan Andy dan Mesya. Tunggulah saya dikamar biasa ya?" Titah Malik.
"Iya mas." Jawab Rani yang memilih segera menyingkir, untuk memberikan waktunya pada ayah dan anak itu.
Sepeninggal Rani, Malik terlihat menghela nafas panjangnya, lalu ia mulai bercerita mengenai semuanya pada kedua putera puterinya.
Itu semua awalnya karena ia ingin menyembuhkan penyakitnya untuk bisa membuat Susan bahagia.
Namun sayangnya malah saat ia pulang ingin memberikan kejutan Susan, ia malah yang terkejut akan hubungan gelap diantara Susan dan Rico.
Belum lagi ia juga baru mengetahui keduanya telah berselingkuh lama darinya, ia tahu ia salah namun demi untuk tidak ia melakukan banyak dosa lebih banyak lagi akhirnya demi kebaikan Rani dan dirinya, Malik membuat keputusan menikahi Rani.
"Jadi itu ceritanya, maafkan ayah jika mengecewakan kalian. Tapi dibalik itu ayah ingin melindungi Rani." Ucap Malik menjelaskan hubungan diantara dirinya dan Rani hingga sampai keduanya menikah.
Andy sebagai anak sulung ia paham itu, kesalahan awalnya memang pada ibunya, namun ia juga tak memungkiri kesalahan ayahnya sesaat yang malah menjadi candu.
Itu yang bisa Andy tarik kesimpulan dari penjelasan Malik atas semua cerita mengenai ayahnya dan permasalahannya.
"Lalu apakah ayah mencintai Rani?" Tanya Andy mulai penasaran akan isi hati ayahnya pada isteri mudanya.
"Jawab ayah...?" Sambung Mesya tak kalah ingin tahu dan mendesak jawaban ayahnya.
Dengan penuh keyakinan Malik pun menjawabnya.
"Ya, ayah mencintai Rani. Bukan karena kami sering begituan, atau kecantikan dan apa yang dimiliki Rani. Tapi karena kebaikan gadis itu." Jawab Malik jujur.
Dari situlah Andy tahu bahwa sang ayah menemukan tambatan hatinya di usianya yang tak lagi muda itu. Namun Mesya masih belum bisa menerimanya, baginya Rani hanya mengincar harta ayahnya.