NovelToon NovelToon
Accidentally Wedding

Accidentally Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Kunay

Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.

"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."

"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPEDULIAN YANG TERLAMBAT

Greenindia meninggalkan kafe itu dengan perasaan tidak tenang. Keputusan untuk bekerja hanya memperumit jaring masalah yang sudah ada. Namun, kegelisahan terbesarnya saat ini adalah pesan mendesak dari Tomi. Ia harus segera kembali ke apartemen lamanya.

​Di dalam taksi, ia meminta supir untuk memacu kendaraan.

​Begitu tiba di lingkungan apartemennya, Greenindia segera menghampiri Tomi di lobi. Pria itu tampak sangat gelisah.

​“Green! Syukurlah kau datang. Aku tidak tahu harus berbuat apa,” bisik Tomi, matanya penuh kecemasan.

​“Tomi, ada apa?” tanya Greenindia, menahan nada perintah di suaranya. “Kenapa kau mengirim pesan mendesak seperti itu?”

​“Ada seorang pria yang menunggumu, Green. Dia sudah ada di dalam,” jawab Tomi, suaranya tercekat. “Dia menolak untuk pergi. Dia bilang dia tahu kau bekerja di kafe itu dan dia akan datang ke sana jika kau tidak segera menemuinya.”

​Greenindia mengerutkan kening. Siapa dia? Apakah Chester? Tapi jika itu benar, dia pasti akan tahu. Itu berarti seseorang telah menggunakan taktik yang sangat menekan, atau Tomi telah melakukan kesalahan besar. Greenindia menyembunyikan kekesalannya.

​“Baiklah, aku akan menanganinya. Kembalilah bekerja,” ujar Greenindia datar.

​Ia segera berjalan menaiki tangga. Pintu apartemennya terbuka beberapa inci. Greenindia mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk.

​Apartemennya yang kecil dan sederhana kini terasa seperti panggung teater yang sesak.

​Duduk di sofa tunggalnya, dengan punggung tegang dan pakaian bisnis yang mahal, adalah Jeremy Anderson. Kakaknya tampak kurus, wajahnya lelah seolah baru mendarat dari perjalanan lintas benua.

​Namun, kejutan sebenarnya adalah pria yang berdiri di dekat jendela, bersandar dengan anggun, memandangnya dengan mata biru yang dingin dan serius—Chester. Wajah bintang besar itu, yang seharusnya hanya ia lihat di poster atau layar, kini memenuhi ruang pribadinya.

​Greenindia membeku total. Kemarahan dingin merayapinya. Ia menoleh ke belakang, ke arah pintu. Tomi pasti langsung mengenali Chester, tetapi tidak memberitahunya. Kenapa Tomi bersikap begitu aneh? Entah bagaimana, kehadiran superstar itu di tempat persembunyiannya tidak dilaporkan, dan ini adalah sebuah bencana.

​Greenindia mengambil kendali atas emosinya, membiarkan wajahnya kembali sedatar lautan beku.

​“Ini adalah kejutan yang tidak terduga,” ujar Greenindia, suaranya tenang, diarahkan ke ruangan secara umum, mengabaikan hierarki emosional antara keduanya. “Kenapa Tomi tidak memberitahuku bahwa superstar juga ada di sini?”

​Jeremy segera bangkit. Wajahnya yang tegang seketika digantikan oleh luapan emosi dan kerinduan yang tak terbendung. Ia bergegas menuju Greenindia.

​“Green! Greenindia, astaga!” Jeremy menariknya ke dalam pelukan yang kuat, memaksakan kehangatan yang sudah lama ia tolak. “Aku merindukanmu. Aku minta maaf. Aku minta maaf aku tidak ada di sini untuk melindungimu. Aku meninggalkanmu sendirian menghadapi masalah.”

​Greenindia berdiri kaku dalam pelukan kakaknya. Ia tidak membalas. Ia mencium bau parfum maskulin yang mahal, aroma kekuasaan dan ambisi, bukan aroma perlindungan yang ia butuhkan tiga tahun lalu.

​“Aku mencarimu, Green. Aku melihat fotomu di semua berita utama, di club itu. Kau adalah Nona Anderson! Kau adalah putri Ayah! Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja sebagai pelayan. Aku harus membawamu kembali!” Jeremy melepaskan pelukan itu, memegang bahu adiknya erat-erat, matanya penuh air mata. “Bisnisku di London adalah satu-satunya cara bagiku untuk mendapatkan kekuatan finansial agar bisa melindungimu dari Ibu nanti. Aku tidak tahu kau akan menghilang seperti ini.”

​Greenindia memandang Jeremy lurus, di matanya yang dingin dan tak berkedip.

​“Sudah selesai?” tanya Greenindia, suaranya rendah dan tajam, seperti suara pisau yang diasah.

​Jeremy mengerjap. “Apa maksudmu?”

​“Apakah kerinduan dan semua alasanmu sudah cukup dengan memelukku?” Greenindia menarik dirinya dari genggaman Jeremy. “Kalau sudah, kau bisa pergi dari rumahku sekarang. Aku sedang sibuk.”

​Jeremy terhuyung mundur. Ia menatap Greenindia, tidak percaya. “Greenindia! Aku kakakmu! Setelah semua yang terjadi, kau menyuruhku pergi?”

​Greenindia menyunggingkan senyum tipis, senyum yang mengandung kemarahan yang menyakitkan. “Kakakku yang mana? Kakakku yang memilih lari ke luar negeri demi ambisi pribadinya, menggunakan dalih ‘marah pada Ibu’ sebagai pembenaran untuk meninggalkan adiknya sendirian di medan perang yang sebenarnya?”

​Ia melangkah maju. “Kau tidak peduli padaku. Kau peduli pada reputasimu sebagai Anderson yang sukses. Kau peduli pada bisnismu.”

​“Selama pelarianku, Jeremy, kau tidak pernah menghubungiku. Tidak ada telepon, tidak ada pesan, tidak ada upaya nyata untuk membawaku kembali atau memastikan aku aman,” kata Greenindia, matanya beralih ke Chester.

​“Dia,” Greenindia menunjuk Chester, yang kini berjalan pelan dari jendela, “adalah penyebab semua masalahku. Karena kecerobohannya, aku difoto dan terpaksa berurusan dengan skandal itu. Tapi di antara kalian berdua, hanya dia yang setiap hari berusaha menghubungiku.”

​“Hanya dia yang datang ke kafe itu berulang kali, menyewa orang untuk mencariku, memaksaku kembali ke kehidupannya yang glamour—meskipun itu mengancam kariernya,” kata Greenindia, kini menyuarakan kekecewaannya. “Tindakannya, meskipun destruktif, adalah tindakan kepedulian yang nyata.”

Chester terkesiap dengan pernyataan adiknya. Dia tahu. Dia tahu kalau dirinya selalu menyewa orang untuk mengawasinya selama ini.

​“Sementara kau, yang mengaku paling membelaku,” kata Greenindia, kembali menatap Jeremy, matanya kini berkilat marah. “Kau hanya muncul ketika aku menjadi berita utama di tabloid—sebagai 'pelayan' yang bergaul dengan superstar—dan itu mengancam nama Anderson yang suci.”

​Jeremy tersentak. Wajahnya yang penuh penyesalan kini berubah menjadi hancur. Ia tahu Greenindia benar. Alasan muluk-muluknya tentang ‘kekuatan finansial di masa depan’ terasa kosong. Ia telah meninggalkan adiknya dalam bahaya yang mendesak. Air mata kesadaran dan rasa bersalah mulai mengalir.

​“Greenindia… itu…” bisik Jeremy, suaranya pecah. Ia tidak punya pembelaan apa-apa lagi.

​“Hidupku selama tiba tahun terakhir tidak adil, Jeremy. Dan kau memilih untuk tidak berpartisipasi dalam ketidakadilan itu. Itu adalah pilihanmu,” balas Greenindia tanpa ampun. “Aku tidak meminta belas kasihan. Aku hanya meminta kau menerima konsekuensi dari pilihanmu: aku tidak lagi membutuhkanmu.”

​Chester, yang menyadari Jeremy sudah sangat emosional, dia yang membawanya ke sini dan akhirnya harus mengambil alih. Ia menyela dengan nada yang lebih praktis.

​“Jeremy, cukup. Dia telah membuat keputusannya,” kata Chester, suaranya tenang. Ia kemudian menoleh ke arah Greenindia. “Aku harus tahu di mana kau tinggal sekarang,” lanjut Chester, nadanya penuh perhatian. “Aku bisa memindahkanmu ke vila pribadiku di luar kota. Aku punya jaringan keamanan yang baik. Aku tidak ingin kau kembali menghadapi masalah sendirian. Bersembunyi di sini tidak akan aman untukmu.”

​Greenindia menggeleng. “Aku tidak butuh tempat persembunyianmu, Chester.”

​“Lalu, ke mana kau pergi selama satu minggu terakhir?”

​“Aku tidak bisa memberitahumu untuk saat ini. Aku hanya bisa berjanji tempatku tinggal saat ini cukup aman,” kata Greenindia. “Aku tidak membutuhkan bantuan kalian. Aku hanya butuh kalian pergi.”

​Jeremy, kini sudah sedikit tenang, memandang adiknya dengan tatapan penuh penyesalan. “Aku akan pergi, Green. Tapi aku akan tetap mencari cara untuk melindungimu. Aku akan tinggal di sini.” Jeremy berbalik dan berjalan menuju pintu.

​Chester menatap Greenindia lama, tatapannya memohon dan khawatir.

​“Aku akan pergi. Tapi jangan pernah ragu untuk menghubungiku.”

​Chester berbalik dan berjalan menuju pintu. Tepat saat ia hendak melangkah keluar, ponsel Greenindia berdering keras. Sebuah pesan masuk, nadanya tajam dan mendesak. Itu dari Rex Carson.

​Rex: Apakah terjadi sesuatu? Kenapa kau pergi dengan terburu-buru?

​Green terpaku pada layar. Tidak ada emosi di sana. Apalagi setelah pertemuannya di kafe yang sedang bersama dengan Lauren.

​Pesan lainnya juga muncul

Rex: Katakan padaku jika kau menghadapi masalah.

Green hanya menatap pesan terakhir tanpa membalasnya. Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berjalan menuju kamar yang sudah seminggu dia tinggalkan. Green merebahkan tubuh di tempat tidur, mengeluarkan obat dari dalam tasnya dan memasukkannya ke dalam mulut tanpa air minum. Rasa pahit langsung memenuhi mulutnya. Tapi tidak sepahit perjalanan hidupnya.

 

1
hasatsk
ada ya, seorang ibu kandung seperti itu kepada anaknya😭
Fera Susanti
othor..up lagi
momski
keren thor....makasih udah crazy up 🙏😍
Fera Susanti
kpn green ketemu ibunya??..
Fera Susanti
iya Thor..crazy up nya d tunggu
momski
crazy up thor jgn digantung pas lg seru 😄
Kunay: siap. ditunggu. direview satu-satu
total 1 replies
Fera Susanti
oke othor aku tunggu mereka saling jatuh cinta 🤭..
semangat up
momski
gpp thor tp syukur2 crazy up 😍
hasatsk
perjalanan Rex untuk mendapatkan greenidia tidak mudah,harus menembus benteng pertahanan Chester....
Fera Susanti
aku juga memantau mu thor🤭😬
hasatsk
tantangan Rex meluluhkan hati Chester untuk bisa menemukan greenidia...
Fera Susanti
makin seru..
Fera Susanti
serruuuu... lanjut
momski
keren.... 👏👏👏👏
Fera Susanti
Aya dong Chester,.cepat ikut mencari green..dia lagi terpuruk..jgn sampe Rex yg menemukan green lebih dulu..mau nya keluarga nya yg lebih dulu menemukan green
Fera Susanti
apa maksud dari mewujudkan permainan dengan tuan Anderson untuk terakhir kali nya??...
Kunay: tipo kk. maksudnya, permintaan. sudah diperbaiki tapi masih review. terima kasih sudah diingatkan🤭😍
total 1 replies
Fera Susanti
dih nenek2 nech cari masalah
momski
go... go.... go..... up thor
hasatsk
Lauren,bisa memanfaatkan neneknya Rex untuk menghancurkan pernikahan Rex dan greenidia..nenek Lauren menginginkan cucunya menikah dengan orang yang statusnya setara 🤣🤣
Fera Susanti
aku mh selalu menantikan up selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!