ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Hening menyelimuti kami.
Udara terasa berat, seolah dunia menahan nafasnya sendiri. Setelah semua itu terucap, Ari berdiri di sisiku dengan senyum kecil yang nyaris rapuh. Senyum yang tidak lahir dari kebahagiaan, melainkan dari kelegaan setelah luka terlalu lama dipendam.
Di hadapan kami, Julian meronta.
Rantai kutukan menancap ke lengan, kaki, dan dadanya. Setiap gerakan kecilnya disambut bunyi krek—krek besi yang menegang, diikuti desahan tertahan dan darah yang menetes ke aspal.
Tes… tes…
Warna merah itu mengalir, mengotori sepatu mahalnya.
“Jangan menatapku seperti itu,” kataku sambil tersenyum mengejek.
Julian menggeram, matanya merah oleh amarah dan ketidakpercayaan.
“Biar kutebak,” lanjutku santai. “Setelah kau berhasil memperbaiki koneksimu dengan Ari waktu itu, kau tidak pernah bertanya apa pun, bukan?”
Julian terdiam.
“Kau tidak mencari tahu apa yang terjadi selama koneksi itu rusak,” kataku pelan, tapi setiap kata kutekankan. “Yang kau lakukan hanya marah. Membentaknya. Menanyakan kenapa dia membiarkan aku hidup.”
Rahang Julian mengeras.
“Kau arogan,” kataku lagi. “Dan terlalu kekanak-kanakan untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang lolos dari kendalimu.”
Matanya bergetar.
“Bahkan sekarang pun,” aku tertawa kecil, “kau masih lebih bodoh dari dugaanku.”
“DIAM!” bentaknya, suaranya pecah oleh frustasi. “Kau manusia rendahan! Jangan bilang kau sudah merencanakan semua ini!”
“Hehe…” aku mengangguk ringan. “Tentu saja.”
Julian membeku.
“Dari cerita Ari,” lanjutku, “aku menarik satu kesimpulan sederhana. Sebelum bertemu denganku, identitas Ari hanyalah kutukan yang menyerahkan tubuhnya pada siapa saja, digerakkan oleh hasrat dan nafsu yang dipaksakan.”
Ari menunduk, jarinya mengepal.
“Tapi setelah bertemu denganku,” kataku, “lahir satu emosi yang tidak kau perhitungkan.”
Aku menatap Julian lurus-lurus.
“Cinta.”
“Omong kosong!” Julian meraung. “Emosi tak berguna seperti itu tidak bisa menciptakan identitas!”
“Ah… benar,” kataku sambil mengangguk. “Aku salah memilih kata.”
Aku tersenyum tipis.
“Bukan menciptakan identitas baru.”
Semua orang terdiam.
“Melainkan… memperkuat identitas lamanya.”
“A-Arya…?” suara Ari bergetar. “Apa maksudmu…?”
Aku menoleh padanya.
“Ari,” kataku pelan, “kau memang terlahir kembali sebagai kutukan balas dendam. Tapi bukan hanya untuk membunuh orang yang kau benci.”
Matanya melebar.
“Kau juga terlahir sebagai kutukan yang ingin membalas dendam pada dirimu sendiri.”
Napas Ari tersendat.
“Pada dirimu yang dulu hidup tanpa siapa pun. Tanpa teman. Tanpa kasih sayang. Tanpa cinta.”
Aku tersenyum pahit.
“Karena itulah, di kehidupan barumu sebagai kutukan… kau berharap bisa merasakannya.”
Air mata menggenang di mata Ari, tapi tidak jatuh.
Aku kembali menatap Julian.
“Di bawah pelecehan dan penghinaanmu,” kataku dingin, “amarah Ari terkubur. Identitas aslinya tenggelam di bawah identitas palsu yang kau ciptakan.”
Aku melangkah satu langkah mendekat.
“Sekarang akan kuberikan satu pertanyaan padamu, Julian.”
Aku melangkah setengah langkah mendekat. Suaraku tenang, tapi tajam.
“Kenapa Ari, yang tenggelam dalam nafsu, bisa melahirkan sesuatu yang kau sebut kutukan pelacur… sebuah identitas baru. Tapi cinta—emosi yang jauh lebih kuat—tidak pernah kau akui mampu menciptakan apa pun? Tidak pernah ada kutukan cinta, bukan?”
Julian terdiam.
Mulutnya terbuka, lalu tertutup kembali. Tenggorokannya bergerak naik turun.
“I-itu…”
Suara itu tercekat. Untuk pertama kalinya, kepercayaan dirinya runtuh tanpa sempat disembunyikan.
Aku tersenyum kecil. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang sudah menerima betapa rapuhnya semua ini.
“Jujur saja, aku juga tidak tahu jawabannya.”
Julian menatapku tajam, seperti hendak menerkam.
“Tapi yang aku tahu,” lanjutku, “saat koneksi kalian rusak, tidak ada identitas baru yang lahir. Yang muncul justru identitas lamanya. Identitas Ari yang paling dalam. Identitas yang sejak awal ingin merasakan cinta, bukan untuk orang lain… tapi sebagai balas dendam pada dirinya sendiri.”
Ari menegang di sampingku. Nafasnya tertahan.
“Identitas itu keluar,” kataku pelan, “dan menenggelamkan identitas palsu yang kau tanamkan. Kutukan pelacur. Budakmu.”
Julian menggertakkan gigi.
“Kau panik,” lanjutku tanpa ampun. “Kau berusaha membangunkan kembali identitas palsunya. Tapi disitulah kau membuat kesalahan.”
Aku menatap langsung ke matanya.
“Kau tidak menyadari bahwa emosi Ari padaku ikut tertanam di dalam identitas palsu itu.”
Wajah Julian memucat.
“Itulah sebabnya Ari datang ke rumahku,” lanjutku. “Dengan hasrat dan nafsu yang kau ciptakan… bercampur dengan cinta tulus seorang gadis. Dua hal yang seharusnya tak pernah bersatu. Dan dari sanalah lahir obsesi.”
Aspal terasa semakin dingin di bawah kaki kami.
“Hening menyusul,” aku menarik napas singkat, “aku menolaknya mentah-mentah. Hatinya hancur, tapi Ari tidak akan menyakiti pria yang dicintainya.”
Aku mengangkat bahu pelan.
“Setelah dia pergi, aku langsung ke rumah Adelia. Karena jelas, jika Ari gagal, kau pasti mengirim seseorang untuk membunuhku.”
Julian menggeram, tapi tak membantah.
“Dan benar saja,” lanjutku. “Penyihir bayaranmu tertangkap. Penyewanya terungkap. Penyihir lain datang ke keluargamu. Adelia sudah menduga keluarga Adikara akan mengorbankan kambing hitam.”
Aku menoleh sebentar ke Ari, lalu kembali ke Julian.
“Setelah itu, aku hanya perlu menunggu. Menunggu Ari datang lagi. Dengan pisau dapur untuk bertahan hidup. Karena aku tahu, kau tidak akan pernah membuang Ari.”
Julian menggigit bibirnya.
“Kami berjalan bersama. Atau harus kukatakan berkencan?”
Aku tersenyum tipis.
“Dan aku yakin, begitu Adelia melihatku berjalan dengan kutukan, dia tidak akan tinggal diam.”
Aku menghela nafas pelan.
“Pertemuan dengan Kelvin dan Luna memang di luar dugaan. Tapi sisanya berjalan mulus. Penyihir-penyihir itu melawan Ari. Dan kau, Julian… tentu akan muncul. Untuk memastikan Ari tidak gagal lagi.”
Aku menunjuk perutnya.
“Dan di saat kau lengah, aku menusukmu.”
Keheningan jatuh berat.
“JANGAN BERCANDA!”
Julian meraung, penuh amarah dan keputusasaan.
“Jadi kau ingin bilang, manusia biasa sepertimu, tanpa energi kutukan, lebih mengerti tentang teknik keluargaku sendiri daripada aku? Tuan muda dari Empat Keluarga Besar?!”
“Hm.”
Aku memiringkan kepala.
“Bukan lebih tahu. Semua itu hanya tebakan. Kemungkinan. Potongan-potongan yang kusatukan.”
Julian membeku.
“Apa? Jadi semua ini bukan rencana?”
Aku mengangkat bahu ringan.
“Keberuntungan.”
Matanya membelalak.
“Tapi bagaimanapun juga,” tambahku sambil tersenyum sinis, “hasilnya sesuai harapan.”
“Kau gila…”
Suara Julian bergetar.
“Kau mempertaruhkan nyawamu demi wanita yang baru kau temui sekali. Dengan keberuntungan semata.”
“Hehe.”
Aku menyeringai.
“Mungkin. Kalau Ari menggunakan teknik pesonanya dengan sungguh-sungguh, semuanya pasti sudah berakhir buruk.”
Julian tersentak.
“Tunggu… lalu kenapa kau tidak terpengaruh waktu itu? Aku yakin dia menggunakannya!”
Aku tidak menjawab.
Ari menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya. Bukan cinta lagi. Bukan juga kebingungan.
Ia melangkah maju.
“Siapa yang peduli dengan hal seperti itu?” ucapnya datar.
Aura di sekelilingnya berubah. Berat. Menekan.
“Julian,” lanjut Ari, suaranya dingin dan jernih,
“kau akan melihat neraka sekarang.”
Julian menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Ti-tidak… Ari. Kumohon. Aku akan memberimu apa pun. Apapun yang kau mau.”
Ari menghela nafas panjang.
“Dulu,” katanya pelan,
“saat aku memohon ampun ketika masih manusia…”
Ia menatap Julian lurus ke mata.
“…apa kau mengabulkannya?”
Julian gemetar.
Ketakutan dan keputusasaan akhirnya merobek sisa harga dirinya.
Ari mengepalkan tangan kanannya perlahan, seolah sedang menahan sesuatu yang berdenyut di dalam telapak itu. Otot lengannya menegang, lalu mengendur. Ia mengangkat tangan tersebut setinggi dada, meluruskan telunjuk dan jari tengah ke depan. Gerakannya presisi, tenang, nyaris ritualistik. Tidak ada ragu. Tidak ada emosi yang bocor.
Dalam sekejap, sesuatu berdesir.
Awalnya hanya lapisan tipis, transparan, seperti embun yang membeku di udara. Lalu menebal. Berputar. Mengembang. Udara di sekeliling kami bergetar halus, seperti sedang ditarik paksa. Aspal di bawah kaki berderak lirih. Cahaya malam tampak terdistorsi, seolah dipelintir oleh tangan tak terlihat.
WUUUMM—
Gelombang energi itu meluas tanpa suara ledakan, membentuk kubah raksasa yang menutup rapat, besarnya nyaris sama dengan pemisah ruang yang sebelumnya diciptakan Adelia.
“Hm… jadi kutukan juga bisa menggunakan pemisah ruang,” gumamku pelan.
Ari menoleh sedikit ke arahku.
“Arya,” ucapnya.
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Mundur sedikit.”
Tanpa bertanya, aku melangkah ke belakang. Naluriku berteriak bahwa apa pun yang akan terjadi setelah ini bukan sesuatu yang seharusnya kusaksikan dari dekat.
Ari mengangkat kedua tangannya setinggi dada. Jari-jarinya bergerak perlahan, membentuk segel tangan yang asing. Telapak tangan saling berhadapan, ibu jari menyilang ke dalam, sementara telunjuk dan jari tengah membentuk lingkaran sempit. Seolah-olah ia sedang mengurung sesuatu yang tak kasatmata di depan dadanya.
Segel itu tampak sederhana.
Tidak rumit, tidak mencolok.
Namun ada beban di sana.
Tekanan yang membuat dada terasa sesak, seperti berdiri di depan pintu besi yang sedang dikunci dari sisi dalam.
Udara di sekeliling kami bergetar, pelan tapi pasti.
Getarannya merambat melalui kulit, melalui tulang, membuat bulu kudukku berdiri tanpa alasan yang jelas.
“Penciptaan wilayah,” gumam Ari.
Suaranya datar, hampir tanpa emosi.
“Ruang Hasrat Terlarang.”
Dalam satu tarikan nafas—
sesuatu di dunia ini bergeser.
Rantai-rantai berwarna merah muda meledak dari udara dan aspal. Bukan muncul, melainkan seolah dipaksa lahir. Rantai itu melilit, berputar, saling mengait dengan kecepatan brutal, membentuk bola raksasa yang menutup rapat dan menggantung di udara.
Ari dan Julian tertelan di dalamnya.
Dunia di luar… terputus.
Di dalam wilayah itu, Julian terhuyung. Rantai-rantai yang sebelumnya menancap dan menahan tubuhnya terlepas satu per satu, jatuh ke lantai dengan bunyi logam yang hampa. Luka-lukanya menutup. Darah mengering, lalu menghilang, seolah penderitaannya barusan tidak pernah ada.
“Ha… hah…?” napas Julian tersengal.
Ia mendongak.
Aspal telah lenyap.
Malam menghilang.
Yang tersisa adalah ruang kelas lama mereka.
Papan tulis kusam. Meja kayu penuh coretan nama. Jendela yang memantulkan cahaya sore hari, persis seperti ingatan yang seharusnya telah lama mati.
“Kelas…?” gumam Julian. Matanya bergetar.
Lalu tubuhnya bereaksi.
Panas menjalar dari dalam. Nafasnya menjadi berat. Pikirannya dipenuhi dorongan yang menjijikkan, mendesak, dan tak bisa ia tolak. Hasrat itu naik tanpa kendali, seperti api yang disiram bensin.
“Ah… A-Ari—”
Ia menoleh.
Ari berdiri beberapa langkah darinya. Tegak. Tenang. Wajahnya kosong, matanya dingin, sepenuhnya sadar.
Julian tersenyum miring, tubuhnya condong ke depan.
“Akhirnya…” gumamnya. “Kau milikku—”
Ia menerkam.
PLAK!
Tamparan itu terdengar kering.
Tubuh Julian terlempar, menghantam deretan meja hingga hancur berantakan. Ia terguling, terbatuk, matanya membelalak tak percaya. Bukan karena sakit—melainkan karena realitasnya runtuh.
Ari berjalan mendekat.
Langkahnya pelan. Terukur. Setiap langkah terasa seperti menekan dada Julian dari dalam.
Ari berhenti tepat di hadapannya.
Menatap ke bawah.
“Selamat datang,” ucapnya datar.
Matanya menyipit sedikit.
“Di neraka.”
Di luar bola rantai merah muda raksasa yang Ari ciptakan, aku berdiri terpaku, menatap kubah itu dengan napas tertahan.
Rantai-rantai itu berputar perlahan, memantulkan cahaya aneh, seolah dunia di dalamnya benar-benar terpisah dari kenyataan.
“Teknik apa itu…?” tanyaku lirih, tanpa sadar.
“Penciptaan wilayah,” jawab Adelia dengan napas tersengal. Suaranya lemah, tapi matanya tetap tajam. “Teknik tingkat tinggi. Targetnya dikurung sepenuhnya di dunia yang diciptakan penggunanya.”
Aku menoleh padanya dan segera mendekat. Tubuhnya tampak kehilangan tenaga. Aku menopangnya sebelum lututnya benar-benar menyerah.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku.
Adelia terkekeh kecil, nafasnya masih berat. “Yah… begitulah.”
Ia mengangkat tangan perlahan. Cahaya di sekeliling kami bergetar, lalu menghilang saat pemisah ruang miliknya ditarik kembali. Bahunya turun, seolah beban besar baru saja dilepaskan.
“Adelia!”
Suara itu datang bersamaan dengan langkah tergesa. Kelvin dan Luna berlari ke arah kami, wajah mereka jelas diliputi kekhawatiran.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Luna cepat, matanya menyapu tubuh Adelia dari ujung kepala sampai kaki.
“Begitulah,” jawab Adelia lagi, memaksakan senyum yang jelas tidak sekuat biasanya.
Kelvin lalu menoleh padaku. Tatapannya serius.
“Bagaimana denganmu, Arya?”
“Hm?” aku mendongak.
“Bahumu terluka, kan?” katanya, nada suaranya menekan. “Kau juga menusuk Julian tadi. Itu pasti tidak mudah bagimu.”
Aku melirik sekilas bahuku, lalu mengibaskan tangan. “Ah… tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
“Jangan memaksakan diri,” ujar Kelvin tegas.
Aku tidak menjawab. Hanya terdiam, menatap ke arah kubah rantai yang masih berdiri, seolah ada sesuatu di dalam sana yang belum benar-benar bisa kutinggalkan.
“Aku akan menggendong Adelia,” kata Luna akhirnya.
Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil alih tubuh Adelia dan menggendongnya di punggungnya dengan hati-hati.
“Aku masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi,” lanjut Luna sambil melangkah perlahan. “Tapi pertanyaan itu bisa menunggu. Sekarang kita harus pergi dari sini dan mengantar Adelia ke rumah sakit.”
“Hei,” keluh Adelia lemah dari punggung Luna. “Kau harus bertanggung jawab karena sudah memanfaatkanku, Arya. Traktir aku makan nanti.”
Aku terkekeh kecil. “Hehe… akan kutraktir kau makan sepuasnya, sampai kau tidak sanggup melihat makanan lagi.”
Kami berempat kemudian berjalan pergi, meninggalkan lokasi itu perlahan.
Di belakang kami, pemisah ruang yang Ari ciptakan masih berdiri—sunyi, tertutup, dan menyimpan neraka yang tidak akan pernah diketahui siapapun selain mereka yang terkurung di dalamnya.