Filla Agatha, gadis cantik dan modis, pujaan semua orang, kekayaan orangtuanya membuat seorang Filla dikenal dan dipuja semua kalangan.
Dalam keadaan terpuruk Takdir mempertemukannya dengan Rangga pria dingin berwajah tampan pengisi harinya.
Semua berubah saat mereka ternyata hanya pasien yang terbaring koma selama 2 tahun, keberadaan Rangga tiba-tiba menjadi sebuah ilusi yang hanya milik Filla. Rangga meninggalkan Filla dengan memori tentang mereka.
Filla berusaha terus berada disisi Rangga, walau ia tahu tatapan Rangga hanya penuh dengan kebencian, Filla selalu berpura-pura tidak melihat itu, ia membutakan matanya, menulikan telinganya untuk semua sikap Rangga, Filla memberikan harapan pada dirinya bahwa suatu saat nanti Rangga akan kembali untuknya.
Dan kini, ia paham, sejauh apapun ia bertahan, jika dia bukan bagian dari alur ceritanya maka semua percuma.
Sanggupkah Filla bertahan pada memori yang hanya miliknya?
Atau ia memilih menyerah dan memulai semua tanpa Rangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julianti Izza Sufitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Mau tahu aja," celetuk Rangga masih mengompres wajahnya yang lebam dengan batu es.
"Ye, ditolongin juga," ucap Filla sambil menjitak kepala Rangga.
Rangga mengelus kepalanya, "Hobby banget sih, jitak kepala orang," ucap Rangga.
"Lo sih, ngeselin," ucap Filla membela diri.
"Lo sendiri, kenapa bela gue? Cie, sampai berantem loh sama Bintang," celetuk Rangga meledek Filla.
"Apaan sih? Lo tahu kan Bintang punya niat nggak baik? Makanya lo susulin gue," Filla menatap Rangga penuh keingintahuan.
Rangga mengangkat kedua bahunya malas. "GR banget lo, ya karena bunda lah, bunda maksa gue buat susulin lo," ucap Rangga.
Filla tambah menatap curiga, "Bunda baru tadi nelpon gue nanyain lo kemana," ucap Filla.
Rangga diam sejenak, "Tahu ah gelap," ucap Rangga tak mampu mengelak.
Filla dengan kesal menjitak kepala Rangga.
"Yudah sih!" teriak Rangga kesal sambil mengosok kepalanya yang kena jitakan Filla.
"Kenapa nggak ngomongsih? Kalau lo kasih tahu gue nggak bakal mau pergi bareng sama tu cowok," ucap Filla kesal.
"Gue kasih tahu juga lo bakal percaya? Gue nggak punya bukti, dan lo lagi bucin-bucinnya."
"Resek, gue nggak segila itu juga kali," ucap Filla sambil mendorong bahu Rangga.
"Tapi bangga gue, lo belain gue, sampai berantem sama Bintang," ucap Rangga masih meledek
"Jangan GR deh, gue nolongin sebatas kemanusiaan aja," ucap Filla sambil membuang muka.
"Terserah deh, yang jelas makasih. Eh ngomong-ngomong, lo hebat juga bela dirinya," ucap Rangga saat mengingat Filla dengan hebatnya membuat semua pereman rata dengan tanah.
"Gue gituloh," eletuk Filla mulai memasang gaya lebaynya.
"Lebay," celetuk Rangga.
Entah apa yang mereka tertawakan, tapi berakhir dengan tawa bahagia mereka berdua saat saling tatap. Memang adakalanya moment yang sederhana akan terasa bermakna.
******
Kadang ada rasa sakit menyapa hati
yang bahkan aku tak tahu apa penyebabnya.
~~
Terlihat Filla dan Rangga sedang memperhatikan Rafi yang menjelaskan sebuah soal matematika kepada mereka. Sejak tadi mereka memang tak mengerti dengan satu soal ini, dan Rafi hampir berteriak karena mereka yang sulit sekali mengerti. Sejak seminggu lalu, Rangga dan Filla selalu menodong Rafi mengajari mereka matematika, dan Rafi hanya bisa pasrah dan mulai mengajar mereka dengan terpaksa.
"Oke Dek, ngerti deh," ucap Filla sambil cengengesan.
"Iya, gue juga udah ngerti Fi," ucap Rangga santai.
"Dari tadi kali, kalau nggak ngerti juga udah aku sambel kalian berdua," ucap Rafi sambil merapikan buku-buku dan berjaan cepat menuju kamarnya, takut-takut akan diminta mengajarkan lagi.
Rangga dan Filla malah tertawa melihat Rafi yang berlari menjauh dari mereka.
"Sekarang, lo yang belajar," ucap Rangga sambil menaruh buku yang bertumpuk kehadapan Filla.
Filla membulatkan mata tak percaya dengan tumpukan buku dihadapannya, "Harus hari ini juga? Besok deh Ngga, capek dari tadi pagi kan udah belajar matematika," rayu Filla memasang wajah memelas.
"Belajar sekarang atau nggak sama sekali?" ancam Rangga sambil menatap tajam Filla.
Filla hanya bisa mendenggus, tidak bisa berkilah lagi, jika ia melawan dan memilih membantah, bisa-bisa Rangga akan berubah pikiran untuk mengajarinya, "Yaudah, kita belajar Fisika," ucap Filla sambil membuka buku Fisika yang berada ditumpukan paling atas. "Ha," ucapnya refleks karena syok dengan isi didalam buku itu. "Nggak jadi deh, mendingan belajar sejarah aja," ucap Filla sambil melempar jauh buku fisika dan mengambil buku sejarah dengan cepat.
Rangga menggeleng sambil tersenyum tipis melihat tingkah Filla, "Nggak ada, kita belajar fisika, lo kan udah niat belajar fisika, mana boleh hilang minat secepet itu," ucap Rangga sambil mengambil buku fisika yang dilempar Filla dan membukanya tepat didepan Filla.
"Tadikan udah belajar matematika, sekarang jangan hitungan lagi dong," pinta Filla memelas.
"Nggak ada tadi-tadian, sekarang ya sekarang," tegas Rangga.
Filla kembali menghela napas pasrah dan melihat halaman yang dibuka Rangga, "Yang mana?" tanya Filla malas.
"Itu halaman 50, masih juga nanya, semangat dong, lo pikir gue nggak capek ngajarin cewek otak cetek kayak lo," olok Rangga santai.
Filla dengan kesal membawa buku fisika itu dan menunjukannya tepat diwajah Rangga, sampai Rangga susah bernapas.
"Apaan sih?" tanya Rangga jengkel.
"Liat, lo buka halaman 40, lo yang **** kali," bentak Filla membuat Rangga menoleh dan ber-oh ria.
"Murid harus lebih peka," kilah Rangga.
"Cepetan kerjain," perintah Rangga sambil menunjuk soal fisika yang hampir membuat otak Filla meleleh karena letih.
Filla mengerjakan soal yang diperintahkan Rangga dengan sungguh-sungguh walau terlihat jelas ia sangat kesulitan menyelesaikannya, Rangga sesekali tertawa melihat Filla yang menggaruk keras kepalanya karena tidak mengingat rumus yang sudah Rangga wanti-wanti untuk diingat.
Rangga beranjak dari senderannya, "Lama amat, 3 soal doang, cepet," ucap Rangga sambil menarik buku dari Filla.
Dengan wajah ragu Filla menatap bukunya yang ditarik paksa Rangga, "Dikit lagi Ngga, bentar lagi napa, kan gue mau cek dulu bener apa nggak."
"Udah nggak usah banyak cincong," Rangga menatap serius soal yang dikerjakan Filla.
Filla dengan wajah ragu menatap mimik wajah Rangga yang sulit ditebak, "Gimana? Salah ya? Padahal gue udah ngerjain dengan serius lo."
Rangga menatap buku Filla lalu menatap Filla, terus ia lakukan berulang membuat Filla tambah penarasaran, "Hmmm," ucap Rangga.
"Cepetan sih kasih tahu salah apa bener, lelet amat," ucap Filla kesal dengan tingkah Rangga.
"Iya, dasar nggak pake berubah," ucap Rangga sambil melempar buku Filla keatas meja tepat dihadapan Filla.
Dengan wajah pasrah Filla mengambil buku itu dan melihat hasil yang ia peroleh. Dia menatap tak percaya pada buku yang sudah dikoreksi Rangga lalu menatap Rangga, "Beneran?" tanyanya dengan mata berbinar. "Gue bisa ngerjain semua soal fisika dengan benar? Nggak mimpi kan?" tanyanya pada Rangga masih dengan mata berbinar.
Rangga hanya bisa tertawa sambil bergeleng, "Iya, lebay banget sih, kayak nggak pernah bisa ngerjain soal fisika dengan bener," celetuk Rangga sambil mengejek.
"Emang nggak pernah," ucap Filla dengan wajah bodohnya.
"Eh busyet, dasar dodol," ejek Rangga sambil mengacak rambut Filla.
Filla menghentikan tangan Rangga yang gencar mengacak Rambutnya, "Stop Ngga!" ucap Filla kesal.
Rangga tertawa lepas melihat kekesalan Filla, "Oke, oke karena lo udah bisa menyerap pelajaran yang gue kasih dengan cepat gue kasih hadiah deh, gue teraktir lo besok dan bawa lo disuatu tempat yang pastinya lo bakal suka banget."
Seriusan? Asik, makasih Rangga," girang Filla sambil mencubit gemas pipi Rangga.
Rangga dengan cepat melepaskannya, "Stop atau gue berubah pikiran," ucap Rangga tegas membuat Filla hanya bisa menyengir kuda.
******
pdhl udh smgt mau bc klnjutannya
akhirnya up juga 😘 mksh buat up nya ka
Jgn lama2 thor muncul x
kangen ama kisah rangga filla