Diawali dengan kisah percintaan Anggita Nindya sejak duduk di bangku SMA, yang sangat amat menyukai kakak kelasnya yang bernama Rama. Cintanya tak terbalaskan dan terlupakan ketika Rama lulus sekolah. Rama adalah cinta pertama Gita.
Mereka di pertemukan lagi di perusahaan tempat Gita bekerja. Perusahaan itu adalah milik keluarga Rama. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu lagi. Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah cinta mereka bisa bersatu? Sedangkan, Rama telah memiliki tunangan. Namun, perasaan Gita pada Rama tak berubah sedikitpun.
Akankah cinta pertama itu bisa terwujud? Atau malah sebaliknya?
Staytune terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu saja bayangmu
Satu bulan telah berlalu. Gita dan Gilvan semakin dekat. Gita selalu diantar dan dijemput oleh Gilvan. Gilvan selalu menemani hari-harinya. Gita merasa nyaman dengan Gilvan. Dia lelaki yang pengertian, lelaki yang selalu mendengarkan keluh kesah Gita di manapun ia berada.
Gita dan Gilvan sedang istirahat jam makan siang di kantin.
"Jadi pengawas ribet gak sin, Van?" Tanya Gita disela-sela ketika mereka makan.
"Ya enak, kerjanya gak capek kayak kamu. Cuma, kalau ada masalah sedikit saja duh habis aku. Yang pertama dimarahin pasti aku, Git." Jelas Gilvan.
"Tanggung jawabnya besar ya, Van." Ucap Gita
"Sebesar tanggung jawabku padamu, Gita." Gilvan tersenyum
"Ehh, kamu apaan sih, Van!" Gita tersipu.
"Git, maaf!." Gilvan memegang dagu Gita, ada makanan di bawah bibirnya.
Hangat sekali. Bibirnya sangat manis. Senyumnya menawan, dagunya sangat menggoda. Maafkan aku Hafiza, Aku sepertinya mulai menyukai temanku. Semoga kau di sana tak marah padaku. -Gilvan dalam hati-
"Maaf Git, ada sisa makanan di dagumu." Gilvan berdebar
"Ehh, i..iya. Tidak apa-apa Van." Ucap Gita
"Malam minggu ini kamu ada acara gak?" Tanya Gilvan mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya tidak ada Van." Gita menjawab
"Aku ingin nonton film di bioskop. Kamu mau gak nonton bareng aku?" Ajak Gilvan
"Boleh, tapi jangan terlalu malam." Ujar Gita
"Tentu saja, jam 9 juga pasti aku sudah mengantarmu pulang." ucap Gilvan
"Baiklah, Van"
"Git?" Gilvan nervous
"Iya, kenapa Van?" Gita polos
"Kamu sangat cantik." Gilvan jujur.
DEGG. Gilvan yang berbicara tapi seakan Rama yang mengucapkannya. Selalu saja bayang-bayang Rama hadir di setiap hari-hari Gita. Niat hati jauh dari Rama dan ingin melupakannya,ni Tapi, Rama serasa tetap ada disisinya meskipun jarak telah memisahkan mereka.
Ada apa ini? Ada apa dengan hatiku? Gilvan kan yang mengatakan itu padaku? Mengapa aku merasa Rama-lah yang mengucapkan hal itu. Mengapa bayang-bayangnya sulit sekali hilang didalam ingatanku? Kumohon, jangan ganggu aku kak Rama. Kau selalu menghantui pikiran dan hatiku.
"Van, aku gak usah diantar sampai ke kontrakan. aku turun di stasiun aja. Aku mau ke rumah Ibuku!" Pinta Gita
"Rumah Ibumu di Johor bahru kan? Tidak terlalu jauh kok. Daripada kamu naik MRT, mending aku antar aja. Lebih cepat tidak harus menunggu lama keberangkatan kan. Bagaimana?" Ajak Gilvan
"Ehh, tak perlu repot-repot, Van. Aku gak mau bikin kamu kayak tukang ojek. Aku bisa sendiri kok." Gita menolak dengan halus.
"Aku gak apa-apa kok, Git. Aku jadi ojek cintamu setiap hari aku rela." Gilvan mulai gombal.
"Ih, kamu. Dasar." Gita mencubit perut Gilvan
Biarkan pikiranmu terganggu olehku, Gita. Aku senang kau tersipu seperti ini. Aku akan membuka hatiku kembali. Sepertinya dia orangnya. -Gilvan dalam hati-
"Beneran aku, Git!!! Aku anterin aja, ya ya?" Gilvan memaksa
"Baiklah, kalau kamu memaksa." Gita pasrah
Dan teringat lagi. Saat dimana aku tak bisa pulang karena tak ada kendaraan. Kau lewat dan memaksaku untuk pulang bersamamu. Hal yang membuatku canggung, sekaligus membuatku bahagia. Hari itu, kisah kita dimulai. Penantian cintaku sempat terbalas olehmu, meskipun tak lama, aku tetap bahagia. Hati kecil ini masih sangat-sangat merindukanmu dan kenangan kita. Biarkan aku mengingatmu seumur hidupku. Meskipun aku tak bersamamu, tapi kenangan indahmu tetap melekat di hatiku, semoga kau mendengarnya, Rama Hanggara, Kaulah Priaku.
Gita telah naik motor Gilvan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Ayah dan Ibunya Gita. Selama perjalanan, Gita hanya melamun. Mengingat kenangannya bersama Rama. Meskipun waktu mereka sangat singkat, tetapi kenangan mereka sangatlah banyak. Ketika seperti ini, Rama melekatkan tangan Gita pada pinggangnya, hal yang sama pun dilakukan Gilvan, dengan berkata demi keamanan. Hal tersebut benar-benar seperti Rama yang mengatakannya. Mengapa sifat Gilvan selalu saja seperti Rama?
Mengapa? mengapa aku tak bisa melupakan kak Rama? Dan mengapa sifat Gilvan, hampir mirip dengan kak Rama? Tolong buang semua hal yang berhubungan dengan kak Rama. Aku sungguh tak bisa melupakan dia kalau bayang-bayangnya selalu hadir dalam setiap ingatanku.
perjalanan memakan waktu kurang lebih tiga jam. Gita sangat lelah. Ia segera merebahkan badannya di kursi hangat rumah Ayahnya.
"Kamu, baik-baik saja kan putri Ayah?" tanya Ayah Gita.
"Baik, Ayah. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Tapi, kali ini aku sangat merindukan kalian. Jadi, aku menyempatkan kesini." Gita memeluk ayahnya.
"Ayah juga sangat rindu kepada peri kecil ayah yang cantik dan baik hati." Ayah Gita memuji.
Kak Rama? Apa julukan mu padaku? Peri cantik yang baik hati kan? Kak Rama, perkataan mu selalu melekat dalam hati dan pikiranku. Ketika ada yang berkata mirip dengan perkataan mu, hatiku selalu refleks mengingatnya. Sungguh, kau buat hatiku penuh dengan semua kenanganmu. -Gita dalam hati-
"Nak, kamu pasti capek. Ini, minumlah dulu." Ibu tersenyum, sekilas melirik kearah Gilvan.
"Te..terimakasih, Bu!" Jawab Gilvan dengan sopan.
"Ini siapa Gita? Kau tak mengenalkannya pada Ayah?" Tanya Ayah
"Eh, iya. Ini Gilvan, Ayah. Rekan kerja ku di kantor" Gita berbohong
Karena dahulu, ia berkata masih kerja di kantor yang dulu, hanya ini di cabang Malaysia.
"Kamu jaga anak saya baik-baik ya!" Pinta Ayah Gita.
"Ehh, i..iya Om. Saya pasti menjaganya dengan baik." Gilvan gugup
"Nak, Gilvan.. Ini sudah malam, lebih baik kamu menginap saja disini ya. Kamu bisa tidur dikamar tamu, biar Gita tidur dikamar Ibu." pinta Ibu Gita
"Ehh, tidak apa bu. Saya akan pulang saja, tidak akan memakan waktu lama, kok." Gilvan menolak dengan halus.
"Tidak usah sungkan. Kalau kamu memaksakan pulang, kami khawatir. Karena ini sudah malam sekali." Ayah Gita menambahkan.
"Ba..baiklah. Terimakasih atas perhatiannya, Om, tante." jawab Gilvan sopan.
Gilvan segera masuk ke kamar yang diperintahkan Ibu Gita. Ia istirahat di sana. Gita tidur dengan Ibunya, dan ayahnya tidur di ruang keluarga. Ketika dikama, Ibunya mengajak Gita ngobrol dan bertanya,
"Git, itu siapa?" tanya Ibunya
"Itu, temanku Bu!" Jawab Gita santai
"Kok kayak pacaran? Kamu masih pacaran gak sama orang marketing yang waktu itu nyusul kamu ke bogor?" tanya Ibu polos
"Orang marketing? Yang nyusul ke bogor? Emang ada? Siapa Bu?" Gita heran
"Ehh, kamu masa lupa! Itu, siapa sih namanya? Eh Siapa ya? Ehhh, Rama kan?" tanya Ibu serius.
"Kak Rama? Ibu tau darimana dia anak marketing? dan kenapa Ibu sangka dia pacar aku?" Tanya Gita serius.
"Dia sendiri yang bilang sama Ibu, dia katanya orang marketing. Ya ibu gak tau marketing itu apa, setahu Ibu sales. Eh, iya dia bilang katanya dia sales. Emang kamu pacaran kan sama dia? Ibu tahu kok, kamu ngambek maksa ke bogor buat ngehindarin Rama, eh si Rama malah tetep nyusul ke Bogor. Itu romantis banget namanya Gita!" Ibu seperti anak muda lagi
"Hahhhh? Ibu..... Ibu kok bisa sepolos itu sih? Sejak kapan dia jadi sales coba? Dia itu direktur perusahaan aku, Bu! Dulu dia menjahili ku karena ulah ibu, tapi aku lupa bertanya pada Ibu, apa saja yang telah ibu katakan" Gita tertawa
Ibu Gita sangat terkejut, karena ia ingat sekali berbincang kepada Rama menjelek-jelekkan direkturnya, dia tak menyangka bahwa direkturnya adalah Rama sendiri, orang yang sedang ia bicarakan waktu itu.
"HAHHHHHHH? Aduh, masa sih Git? Yang bener kamu? Mana Ibu jelek-jelekin direktur kamu, yang kata kamu nyebelin itu kan? Ibu kira bukan Rama orangnya. Haduh, malu sekali rasanya ibu kalau berjumpa lagi dengannya." Ibu menutup mukanya.
Kita tak akan berjumpa lagi dengannya, Bu! Ibu tak perlu khawatir. Semoga saja dia sudah melupakan perkataan lelucon Ibu. Tapi, aku yakin kak Rama tak akan marah pada Ibu. Ia pasti sangat menyayangi Ibu, benar kan Kak? Ehh, aku ini kenapa sih? -Gita dalam hati-
"Tapi, masa direktur bisa jadi pacar kamu?" Ibu penasaran
"Aku sudah bilang, aku bukan pacarnya, Bu!" Jelas Gita
"Tapi dia bilang benar kok, dia bilang sama Ibu, dia akan menjaga mu, dia tak akan menyakitimu. Dan perkataannya terdengar sangat tulus sekali. Hati ibu sudah merestui dia, Gita!" Ibu jujur
"Tapi, Bu.. Bukan seperti itu." Gita menyanggah
*Aku harus bilang apa sama ibu? Maafkan anakmu ini, Bu! Kalau aku bilang, aku hamil? dan Kak Rama lah yang menghamiliku? Akankah Ibu masih berkata merestuinya? Hatiku sakit mengingat kembali nama itu. Selalu saja terjadi, ketika aku ingin membuang mu jauh, kau seperti tak tahu malu datang lagi dan lagi.
Tapi, apakah kau benar berkata begitu pada Ibuku? Kau berani mengatakan sesuatu yang mustahil pada Ibuku? Herannya aku, Ibuku bisa percaya padamu, Kak! Aku adalah satu-satunya orang yang sulit percaya padamu.
Ah, hati dan pikiranku... Kumohon, buanglah Rama, lupakan Rama. Dia tak ada disini, cukup. Cukup sudah, jangan ungkit lagi apapun tentangnya. Itu hanya akan membuatku sakit.
🎵🎵Takkan pernah 'kan terkikis setia ini
Meskipun kita harus terpisah dan kau telah jauh di sana
Takkan hilang sabarku untuk menanti dirimu 'tuk kembali
Bersama semua rindumu di sana
Dan mewarnai lagi redup hati ini yang lelah menanti🎵🎵*
*Bersambung**
liburan apa cari Gita .. heran aku .. mau diam kok lama lama ga tahan juga ya