Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat
Author's POV
"Xavier.. suami Sienna"
Bagai terkena petir di siang bolong yang padahal mentari sedang bersinar terang. Akshan merasakan sesak dan nafasnya mulai memburu, hatinya seperti terusuk ribuan jarum.
"Apa katanya? Suami? Sienna? Mereka sudah menikah? Kapan? Kenapa aku tidak tahu? Bahkan tidak ada yang memberitahuku. Apa yang terjadi dengan Sienna sesungguhnya?"
Akshan terus bertanya-tanya dalam hati, pikirannya melayang-layang dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.
"Sienna pergi meninggalkanku dengan anakku yang dikandungnya, setelah hampir lima tahun dia pergi, kenapa sekarang dia pulang dengan seorang pria yang mengaku suaminya?"
Akshan merasa pantas saja sejak tadi pria itu seperti menjaga jarak dan tak membiarkan Sienna jauh darinya. Apa ia tahu tentang Akshan dan Sienna? Lalu bagaimana dengan anak mereka? Apakah ia berhasil mengandung dan melahirkannya?
Segala jenis pertanyaan seakan meledakkan kepalanya. Ingin sekali Akshan membawa Sienna pergi dan membawanya ke tempat yang tak akan bisa ditemukan orang lain, hingga Akshan bisa mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang membuat sesak nafasnya.
Tapi Akshan segera sadar, keadaan mereka sekarang tidak memungkinkan, ditambah dengan adanya pria yang mengaku sebagai suami Sienna itu berada tepat di samping Sienna, terlebih pria itu memeluk erat pinggang istrinya.
Akshan hanya dapat mengepalkan tangannya, hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Sienna hanya tersenyum seolah dipaksakan, ia melihat wajah Akshan yang berubah seketika. Ia menyadari bahwa Akshan pasti terkejut dengan pengakuan Pierre.
Tapi ia berusaha untuk mencairkan kembali suasana di ruang tersebut. Ia ingin mengalihkannya dan mau mengenalkan Pierre pada Tito yang berada di sebelah Akshan. Namun baru hendak memulai percakapan, terpaksa tidak jadi karena ia mendengar pintu terbuka dan suara teriakan mulai menggema di telinganya.
"Siennaaaaa!!"
Saat orang-orang tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing, seketika buyar karena mendengar lengkingan suara perempuan, Tania. Gadis itu akhirnya datang, ia baru mengetahui bahwa Sienna ada di tempat itu karena mama dan papanya memberitahunya ketika sudah di rumah.
Tania berlari dan langsung menyerang Sienna, mereka berpelukan dan terdengar tangis keduanya yang memecah keheningan malam di ruangan itu. Nenek masih tertidur dalam komanya, sehingga tak terusik sama sekali dengan teriakan Tania.
"Siiiiiiiii.. gue kangen! Ah lu gila ninggalin gue lama banget! Jahat! Jahat!"
Tania memukuli punggung Sienna, namun dengan gerakan lembut yang akhirnya malah mengelus tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu. Keduanya saling menumpahkan rasa yang selama ini mereka tahan.
Akshan terharu karena dapat melihat kembali keakraban mereka berdua. Selama hampir lima tahun Tania mengutuki Akshan, karena menjadi penyebab Sienna pergi tanpa pamit padanya.
Akhirnya kini mereka bertemu kembali. Entah disadari atau tidak, Akshan menitikkan air matanya. 'Andai dulu yang ia nikahi adalah Sienna, ia akan melihat pemandangan itu mungkin hanpir setiap hari', gumam Akshan dalam hati.
"Maafin gue Tan, maafin gueee..."
"Gak! Gak akan!"
"Kok gitu?" Sienna mencoba melepaskan pelukannya, mungkin untuk melihat wajh sahabatnya itu. Tapi Tania mencegahnya dan terus memeluk Sienna.
"Lu punya banyak hutang sama gue, penjelasan, cerita, waktu, pokoknya lu gak boleh pergi lagi!" tegas Tania.
"Iyah sayang.. udah lepasin dulu.. engap tahuuu.."
Dengan keadaan yang masih menangis, dengan berat hati Tania melepaskan pelukannya. Tania celingukan dan akhirnya membawa Sienna duduk di sofa depan tempat tidur neneknya.
Mereka berdua duduk beraebelahan, lalu Tania membuat Sienna mengahadap ke arahnya. Sementara Akshan, Pierre dan Tito duduk di sofa tamu. Mereka hanya diam dan tak bersuara, Tito kembali membaca koran, sedangkan Akshan dan Pierre mengalihkan pikiran mereka dengan bermain ponsel.
Namun boleh saja mereka terlihat fokus pada kegiatan masing-masing, tapi ternyata telinga mereka masih seraya mendengarkan apa yang dua orang wanita di seberang sana bicarakan. (Bapack-bapack kepo haha)
"Jawab pertanyaan gue, dan lu harus, nggak, tapi wajib! Lu wajib jawab semua pertanyaan gue!" tegas Tania sambil telunjuknya mengarah ke wajah Sienna. Sienna hanya menjawab dengan anggukan.
"Lu kemana aja selama ini?"
"Guee... di Jerman"
"Gue udah ke Jerman buat nyari lo, semua keluarga gue sering ke sana tapi gak pernah berhasil nemuin lo!" ucap Tania kesal.
Sienna hanya diam, bingung harus jawab apa.
"Emang gila kekuatan dan kekuasaan keluarga Pierre, mereka bener-bener berhasil nyembunyiin gue. Tapi masa iya sih mereka nyariin gue? Ayah sama ibu gak pernah bilang, kakek sama nenek juga diem-diem bae" gumam Tania dalam hati.
"Sii..! Jawab!" Tania mulai menggerutu karena merasa diacuhkan.
"Eh.. ehmm.. udah lah gak usah bahas yang lalu-lalu Tan, yang penting kan sekarang kita udah ketemu. Gue kangen banget sama lu tau! Kita kngen-kangenan aja! Ya? Ya? Ya?" Sienna mengelak
"Gak! Lu udah janji mau jawab semua pertanyaan gue! Sekarang jawab, kenapa sampe orangtua sampe keluarga lu juga semuanya kompak banget gak mau bilang lu dimana?" Tania semakin tegas dan tak segan memberikan mimik muka mengancam agar Sienna menjawab dan berkata jujur padanya.
"Gue kan emang gak kemana-mana Tan, gue di Jerman aja kok.. Lu aja kali yang nyarinya kurang usaha... eeh" jawab Sienna ketus, kemudian nyengir kuda dan menutup rapat mulutnya, karena jawabannya berhasil membuat Tania memelototinya.