Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Tidak bisakah kau menceraikan aku? kata Mia ketika mereka telah meninggalkan kantor pengacara keluarga Clay.
"Tidak ... kita akan tetap menjadi suami istri seperti sekarang. Dan kita juga telah melakukan yang seharusnya dilakukan oleh suami istri"
Alasan ... alasan dan alasan lain disampaikan Benjamin sedari tadi. Membuat Mia kesal saja.
"Hal itu bukanlah sesuatu yang penting. Kenapa kau terus menyebutkan hal itu sejak tadi?"
Mia merasa marah karena Benjamin terus saja mengungkit tentang mereka yag bercinta hanya dua kali.
Benjamin menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menatap Mia.
"Kita tidak akan bercerai. Itu adalah keputusanku. Kau mau atau tidak, kita adalah suami istri yang sah"
"Sebenarnya, apa yang terjadi?"
Benjamin sepertinya tidak ingin lagi menjawab pertanyaan Mia. Tangannya mengepal memegang setir mobl.
"Apa maksudmu?"
"Tante Laura sudah mengurus perceraian ini sejak lama. Dan kau juga setuju. Lalu ... kenapa semuanya menjadi seperti ini?"
Benjamin menatap Mia
"Bagaimana kalau aku bilang aku mencintaimu?" Tentu saja perkataan Benjamin suit dipercaya oleh Mia.
"Maafkan aku atas semua yang terjadi selama ini. Aku akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab padamu. Dan ... kita akan hidup bahagia mulai hari ini" lanjut Benjamin semakin membuat Mia merasa tidak nyaman. Mia memang menyukai Benjamin sejak laki-laki tu mengantarkannya ke rumah setelah ayahnya meninggal. Pernikahan yang tidak ada artinya, kekasih yang tidak pernah ditinggalkan Benjamin, ketidak pedulian ataupun perbuatan Benjamin yang kasar dapat dimaafkan oleh Mia. Tapi ini? Disaat Mia siap untuk melepaskan laki-laki yang disukainya, Benjamin mendekat dengan cepat. Menyentuhnya, menciumnya, memberikan perasaan yang selama ini selalu didambakannya. Tapi balasannya, kebebasannya kembali diambil dan Mia dilemparkan lagi ke lubang hitam gelap itu. Tentu saja Mia tidak menginginkaannya lagi. Dua tahun merana sendiri sudah cukup baginya.Dirinya juga menginginkan kehidupan seorang gadis muda berumur dua puluh dua tahun yang bebas melakukan apapun tanpa berpikir perbuatannya memiliki akibat buruk.
Tapi, duduk di dalam mobil Benjamin membuatnya sadar kalau keluarga Clay bukanlah tandingannya. Ancaman Tante Laura saat Mia tidak ingin menikah dengan Benjamin masih terngiang di telinganya. Mia tidak bisa mengorbankan usaha dan semua yang telah dicapai oleh ibunya selama ini. Belum lagi studio yang baru seumur jagung didirikannya. Kalau keluarga Clay tidak senang, maka semua yang dimiliki Mia sekarang bisa menghilang begitu saja.
Mia hanya bisa terdiam sampai mobil Benjamin berada di pekarangan rumahnya.
"Aku akan memberikanmu waktu untuk mengemasi barang. Besok akan kujemput"
Mia tetap diam dan seperti tidak ingin keluar dari mobil benjamin. Dia bingung dengan cara menghadapi ibunya yang sedang menunggu kabar baik di rumah.
Benjamin meletakkan tangannya di paha Mia dan melihatnya dari dekat. Jarak mereka tidak lebih dari satu jengkal sekarang.
"Apa kau ingin pergi ke apartemen sekarang dan kita bisa melakukannya lagi?"
Mendengar kata-kata Benjamin, Mia segera tersadar dan mendorong laki-laki yang seharusnya menjadi mantan suaminya hari ini itu.
"Tidak. Aku keluar"
Mia akhirnya keluar dari mobil dan melihat pintu rumahnya dengan gugup.
'Bagaimana ini?' pikirnya dari tadi.
Terdengar suara mobil mulai menjauh dan Mia tahu Benjamin sudah pergi dari pekarangan rumahnya. Saat Mia ingin sekali pergi juga dari rumah, ibunya keluar dari rumah dengan senyum mengembang.
"Akhirnya. Apakah kalian sudah resmi sekarang?" Pertanyaan yang tidak akan bisa dijawab oleh Mia sekarang. Dia takut menyakiti hati ibunya.
"Kenapa? Apa Mia tidak merasa senang karena akhirnya bebas dari Benjamin dan Laura? Putriku akhirnya bebas" Ibunya merasa senang sekali sekarang. Apakah Mia tega merusak kesenangan itu? tapi ini adalah kenyataan yang sedang dihadapinya sekarang.
"Ibu, Mia ingin bicara" kata Mia lalu mengajak ibunya pergi ke kamarnya dan menceritakan semuanya.
"Apa?!?!" teriak ibunya membuat Mia merasa bersalah.
"Kenapa?" lanjut ibunya.
Mia terpaksa memberitahu ibunya bahwa Benjamin kini telah berubah dan berjanji untuk memperlakukannya sebagai seorang istri. Mereka juga akan tinggal bersama di apartemen Benjamin dan menjalani hari-hari sebagai sepasang suami istri.
"Konyol. Ini hal terkonyol yang pernah ibu dengar. Apa kamu bodoh Mia?"
Tepat sekali. Mia memang merasa sangat bodoh sekali saat ini. Tidak memiliki kemampuan untuk menolak Benjamin yang berada tepat di hadapannya merupakan langkah bodoh yang dilakukan Mia.
"Apa Laura tahu tentang ini?"
"Sepertinya tahu. Tadi pagi Mia bertemu dengan Paman Jonathan dan Tante Laura sedang sakit"
Ibunya bangun dari ranjang dan berkacak pinggang. Ibunya pasti merasa marah sekali sekarang.
"Apa-apaan ini? Mereka mengingingkan pernikahan, kita harus menurutinya. Dan sekarang ... mereka tidak ingin bercerai lagi dan kita harus setuju begitu saja?"
"Bu. Sabarlah. Mungkin ini terjadi karena Tante Laura sakit atau ..."
"Hah?? Wanita itu akan menggunakan penyakit jantungnya lagi sebagai alasan kali ini? Tidak boleh. Aku akan pergi ke rumahnya dan menyuruhnya menceraikanmu dari Benjamin sekarang juga"
Mia menahan ibunya dan terpaksa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak berasal dari hatinya.
"Bu. Mia mencintai kak Benjamin"
Perasaan itu memang benar-benar ada tapi kni meredup. Dan hari ini, terpaksa Mia menggunakan alasan ini agar ibunya tidak mendatangi Tante Laura.
"Apa?"
"Kami mungkin bisa menjadi suami istri yang sebenarnya. Aku ingin sekali mencobanya Bu"
Ibunya seperti kehilangan kata-kata dan hanya bisa duuk kembali dengan lemah.
"Kau bodoh sekali Mia. Bagaimana bisa kamu sebodoh ini? Benjamin sama sekali tidak mencintaimu. Kamu tahu itu"
Ibunya menitikkan air mata dan Mia merasa sangat bersalah. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Benjamin akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang diinginkannya, itulah sesuatu yang dipelajari Mia selama tinggal sebagai istri rahasianya.
Benjamin kembali ke perusahaan dan ayahnya telah menunggu disana. Juga pengacara keluarga dan petinggi perusahaan lainnya.
"Hari ini, secara resmi aku mundur dari jabatan Presiden Direktur dan menyerahkan perusahaan pada putraku, Benjamin"
Tentu saja hal itu membuat beberapa orang bingung. Karena baru kemarin ayah Benjamin menginginkan jabatannya kembali dan hari ini sebaliknya.
"Saya mohon maaf karena kelakuan saya selama ini. Tapi saya yakin bisa meningkatkan perusahaan lebih dari sekarang. Terima kasih"
Melewati semua komentar buruk tentangnya, Benjamin kembali ke kantornya untuk menemui ayahnya.
"Apa Mia pulang ke rumahnya hari ini?"
"Aku akan menjemputnya besok dan kami akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu"
Ayahnya pasti mengerti dengan keputusan Benjamin untuk tinggal di apastemen.
"Perlakukan Mia dengan baik dan jangan pernah menyakiti perasaannya mulai sekarang. Mia adalah istri sah-mu"
"Baik ayah"
Benjamin mengantarkan kepergian ayahnya dan kembali ke ruangannya. Dia duduk di kursinya dan merasa tenang. Sebelumnya, dia sangat bingung memilih antara Olivia dan perusahaan. Dan sekarang Benjamin merasa keputusannya benar. Memiliki istri seperti Mia yang mampu membuatnya merasa selayaknya pria sejati ternyata tidak buruk juga.
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla