Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap
Kini mereka sudah kembali pulang, perasaan gelisah, marah dan gundah. Campur aduk.
"Duh, capek banget ya, dek?!" ucap Angga sembari melemparkan dirinya diatas kasur. "Bisa gak kamu nyiapin air hangat buat aku mandi?" pinta Angga pada istrinya yang sedang menata bawaan, pun juga sama lelahnya sehabis perjalanan.
"Aku juga cepek." sahutnya ketus lalu beranjak pergi meninggalkan suaminya.
Sefia kini memilih membaringkan badannya dikamar tamu dengan perasaan gelisah.
Ia selalu terngiang-ngiang perkataan Dedi padanya, 'aku akan melangsungkan pertunangan'
"Hah, sesakit ini rasanya. Apa kamu dulu juga merasakan hal yang sama?" gumam Sefia, memegang dadanya sambil menatap langit-langit dikamarnya.
Sungguh, jika kamu membenam perasaan pada seseorang tapi tak dapat kau gapai. Maka sesakit itulah rasanya, dan kini Sefia merasakannya.
Tok tok tok
Bunyi ketukan pintu dikamar Sefia, kamar tamu. Lalu Sefia datang membukanya dengan malas, ia tahu bahwa itu adalah suaminya.
"Apa mas?" tanya-nya malas.
"Aku laper, bisa buatin aku makan gak?"
"Aduh mas! Aku capek, kamu pesen aja deh, kan bisa." sahut Sefia ingin beranjak pergi, kembali ke kasur empuknya tapi Angga menggapai tangannya untuk menahannya.
"Kamu kenapa sih dek? Dari tadi ngambek terus bawaannya."
"Aku gak ngambek mas, aku cuma lagi capek."
"Oh ya udah, ngapain terus kamu tidur disini?" tanya Angga heran.
Sefia menghembuskan nafas kasar. "Aku capek fisik dan capek hati mas."
Angga mengernyitkan dahinya. "Kamu masih marah soal kejadian kemarin?"
Sefia memilih diam, malas untuk membahas.
"Maafin mas, ya? Aku gak akan begitu lagi." Angga menggapai kedua jemari Sefia ingin mengecupnya tapi buru-buru ia menariknya.
"Susah mas, kamu selalu begitu. Maaf pun gak akan kamu lontarin kalo ga diminta."
Sefia kemudian melangkah duduk ditepi ranjang dan Angga mengejarnya.
"Kamu kenapa sih? Semenjak pertengkaran kita waktu lalu kamu udah banyak berubah, kamu gak lagi kayak dulu."
"Kayak dulu gimana, mas? Makan hati maksudnya? Aku capek sama sikap mas yang gak bisa hargain aku, aku sudah mencoba memberi yang terbaik tapi apa yang udah mas lakuin ke aku."
"Aku masih gak ngerti jalan pikiranmu, Sef!" Angga tetap merasa tak ada yang salah pada sikapnya selama ini.
"Mas, menyakiti seseorang bukan hanya karena sebuah pengkhianatan yang gablang, tapi juga dengan sikap dan perlakuan. Pernah gak mas memperlakukan aku layaknya seorang istri? Oke, akhir-akhir ini mas sudah bersikap lebih baik tapi sikap mas kemarin udah keterlaluan, bukankah kehormatanku itu cerminanmu mas? Heran deh, gitu aja gak ngerti dan gak ngerasain salah."
"Ya udah, aku minta maaf." ucap Angga enteng, dan Sefia tahu itu perkataan yang tak serius.
"Kamu bener-bener deh, mas." Sefia beranjak pergi berlalu begitu saja keluar rumah.
"Dia kenapa sih, orang aku udah minta maaf juga." dengus Angga tak mengerti.
Ketika ia ingin menyusul istrinya yang keluar tak jauh dari rumah karena sudah malam, tiba-tiba ponselnya berdering menunjukkan ada panggilan telepon dari mamanya.
"Hallo ma." jawab Angga.
"Ga, kamu bisa gak keluar sebentar?" pinta mama Lidia diseberang.
"Ada apa, ma? Tapi Angga lagi capek sekarang."
"Mama mohon sama kamu, Lia katanya lagi ditempat temannya terus gak ada taksi buat jemput dia."
"Duh, nyuruh supir mama aja kenapa sih, ma?"
"Masalahnya supir mama lagi gak enak badan, mama seharian keluar pake taksi." sahutnya beralasan.
"Oke deh mas, suruh tunggu! Aku bakal kesana sekarang."
Angga mematikan sambungan teleponnya kemudian beranjak pergi untuk menjemput Lia.
****
Sedangkan Sefia duduk sendiri di taman dekat rumahnya, begitu sedih.
"Tuhan, berikan aku sebuah jawaban! Apa yang harus aku lakukan? Aku percaya akan sebuah takdir, aku pasrah."
Sefia menghembuskan nafasnya panjang, begitu lelah dan letih. Ia kemudian beranjak kembali dan bisa mengontrol emosinya.
Saat ia memasuki rumah, ia tak lagi menemukan suaminya dimanapun.
Kemudian saat ia melangkah ke nakas dikamarnya, suaminya meninggalkan sebuah pesan dikertas 'Aku keluar dulu, kerumah mama.'
Sefia mendesah, ia tahu bahwa suaminya pergi untuk menemui wanita lain.
"Tadi bilangnya capek tapi malah keluar buat nemeuin perempuan lain. Hah, aku lah yang capek."
Sefia membanting tubuhnya diatas kasur, berharap tertelan bumi saja, sudah.
****
Angga kini sudah sampai pada tempat yang Lia katakan, ia menjemputnya dan segera mengantar ke rumahnya.
Kini mobil Angga sudah berhenti sampai tepat didepan rumah Lia.
"Masuk dulu yuk, mas!" Ajak Lia dengan manja sambil memeluk lengan Angga.
"Lain kali aja, aku mau pulang soalnya Sefi pasti lagi nungguin." sahut Angga tak peduli.
Karena ditolak, Lia pun tak kehabisan akal. Ia pura-pura pusing saat turun dari dalam mobil.
"Aduh! Pusing!" Lia mengaduh, pura-pura lunglai dan hampir terjatuh.
Sontak Angga kaget, ia buru-buru turun dari dalam mobilnya dan membantu Lia untuk berjalan.
"Kamu udah gak apa-apa?" tanya Angga ketika ia sudah mengantarkan Lia memasuki rumahnya.
Lia mengangguk dengan manja tapi ia masih melingkarkan tangannya dengan erat dilengan Angga.
"Mas jangan pergi dulu, aku buatin minum dulu. Temenin aku bentar aja ya mas? Soalnya ada sesuatu yang penting yang pengen aku sampaikan."
"Maaf Lia, ngomong besok aja! Mas mau pulang."
"Ini tentang mbak Sefia." ucap Lia membuat Angga menghentikan langkahnya.
Lia kemudian menarik lengan Angga agar duduk disofa. "Tunggu disini bentar, mas."
Angga bertanya-tanya, pasalnya seperti Lia akan mengatakan hal yang sangat penting.
Disisi lain, Lia mengambil kesempatan untuk menaruh sesuatu kedalam minuman Angga.
"Kamu akan jadi milikku malam ini." ucap Lia menyeringai sembari mengaduk-ngaduk minuman.
Setelahnya ia kembali menyodorkan minuman tersebut kepada Angga.
"Ini mas, minum dulu!"
Anggapun tak curiga langsung mengambil minuman tersebut dan langsung meneguknya.
"Cepat katakan! Kamu ingin memberitahu apa soal istriku, Sefia?" tanya Angga, tak ingin bertele-tele.
"Gini, kapan hari waktu aku bepergian. Aku gak sengaja liat mbak Sefia sama pria lain masuk kedalam restoran."
"Jangan ngaco deh! Sefia gak mungkin begitu." sahut Angga tegas.
"Beneran mas, aku gak bohong! Iya, aku memang suka sama mas tapi aku gak mungkin bohongin mas dalam hal kayak gini."
Angga mengepalkan tangannya, merasa kesal. "Aku belum yakin, apa kamu punya buktinya?"
Lia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya itu masalahnya, kebetulan ponselku mati waktu itu mas jadi aku ga bisa foto mereka langsung." sahutnya membumbuhi, berbohong.
Angga mengacak rambutnya kasar. "Aku gak percaya." ucapnya tegas tapi was-was.
Pasalnya istrinya selama ini sudah berubah, apalagi ia tak mau lagi disentuh olehnya. Itulah yang membuat Angga yakin walau hanya sebuah ucapan dari mulut Lia.
"Sebaiknya mas minum dulu aja deh, habisin! Biar gak emosi." ucap Lia sembari mengelus punggung Angga yang sudah tertunduk sedih.
Angga pun menghabiskan minuman tersebut dengan sekali teguk, tapi tak lama kemudian ia merasakan panas. Gerah.
"Kok panas ya." gumam Angga sedikit samar, ia pun kini semakin hilang kendali, serasa tenggorokannya kering dan gerah.
Pikirannya pun sudah tak dapat ia kontrol.
"Mas." sapa Lia menyeringai kemudian menangkup kedua sisi pipi Angga dengan sukarela, lalu ia mendaratkan bibirnya dibibir milik Angga.
Tentu, kali ini Angga membalas dan kehilangan kendali atas apa yang akan mereka berdua lakukan.
"Kamu benar-benar masuk perangkapku."
****
MOHON BERI DUKUNGAN KALIAN UNTUK AUTHOR YA, DENGAN CARA UCAPIN SELAMAT PADA KOLOM PENGUCAPAN DI BAWAH NAMA AUTHOR.
aku cinta kalian :*
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..