Tidak terbayang kehidupan Elina yang tadinya biasa-biasa saja berubah dalam sekejap mata. Hari dimana ia mendapatkan kabar dari sang kekasih berselingkuh dan berhubungan intim dengan kekasih gelapnya.
Detik itu juga Elina bersumpah perasaan dan juga cintanya ia akan kubur sedalam dalamnya. Baik itu mantan pacarnya atau pria lain semuanya sama brengsek dimata gadis itu.
Namun naasnya malam itu saat ia bertemu dengan pria bernama Damian Aditama Sanjaya janji itu ia ingkari sendiri. Karena insiden itu seorang anak lahir ke dunia.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Elina selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30. Pura-pura Lupa Ingatan
"Keluar kamu sekarang dari kontrakan saya!"
Suara teriakan seseorang mengganggu waktu makan malam Elina serta Egi yang secara kebetulan hanya mereka yang berada dikontrakkan bersebelahan dengan kontrakkan Damian. Sedangkan Karina baru saja pulang ke kampung halamannya.
"Mah, tadi suara siapa?" Egi bertanya anak itu tidak jadi menyendok lauk ke piring.
Elina hanya menggeleng sebagai respon.
"Nggak usah di dengar kita makan aja nanti keburu masakan mama dingin 'kan nggak enak juga kalo di makan," sahut Elina seraya mengambilkan opor ayam ke mangkuk dan menyantapnya.
Belum lama mereka menyuap makanan di mulut seseorang dari luar mengetuk pintu sedikit keras dan dapat didengar jelas.
"Mama, bukain pintunya dulu kamu lanjut makan aja," perintahnya dan mendapat anggukan kepala dari Egi.
Elina dengan malas melangkah ke pintu dan membuka pintu kayu itu perlahan.
"Saya minta maaf mengganggu, eh saya boleh minta waktunya sebenar tidak?"
Nampak seorang ibu-ibu paruh baya yang ternyata adalah pemilik kos-kosan disana.
"Emang ada apa ya Bu, saya kan nggak pernah telat bayar kos," akunya dia heran mengapa Bu Dewi mendatanginya secara ia selalu tepat waktu kalau soal bayar kos disana.
"Bukan karna itu mba, saya cuma mau kasih tahu kontrakan saya ada yang berani ngontrak dengan harga yang lebih tinggi jadi mba Elina sama Egi cari aja kontrakan lain, saya minta maaf banget soal itu," jelasnya dan pandangannya selalu kesana-kemari seperti mencari seseorang.
Elina yang dapat menebak siapa dalang yang ingin dia meninggalkan kontrakan itu. Satu orang yang terlintas dipikirannya sudah pasti adalah Damian. Tidak ada jera-jeranya pria itu selalu menganggu hidupnya.
"Cari siapa, Damian!?"
Ibu itu langsung salah tingkah saat Elina menyebut nama Damian. Bisa gawat kalau Elina tahu bisa-bisa uang pemberian Damian lenyap seketika.
"Mba bilang apa sih saya nggak kenal Damian juga, hahah," kekeh wanita tersebut bohong malah membuat Elina semakin curiga.
Elina menghela nafas sejenak, lalu berujar.
"Bu Dewi kasih tahu aja ke Damian saya mau kami cerai dan suruh dia jangan ganggu saya lagi," tegas Elina seraya menutup kembali pintu.
Sementara itu Damian yang tak jauh setelah menyaksikan pembicaraan Bu Dewi dan Elina terlihat gusar.
Bu Dewi tampak berjalan mendekat kearah Damian.
"Tuan saya-"
"Gpp Bu, saya tetep kasih ibu uangnya."
"Makasih banyak tuan, tapi sebelumnya apa benar mba Elina istri tuan? Kok bisa tuan sama mba Elina tinggalnya berpisah."
"Kalo itu saya nggak bisa jawab soalnya ceritanya panjang."
Setelah itu Bu Dewi tidak lagi berani bertanya wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Damian seorang diri.
Awalnya Damian ingin berpura-pura merasa menyedihkan karena Bu Dewi ingin mengusirnya. Namun, Elina tampak tak peduli dan Damian mengubah rencananya lagi dengan menyuruh Bu Dewi menyampaikan kontrakan Elina akan di sewakan ke orang lain. Tapi, ekspetasinya tidak sesuai dengan realita.
Elina tambah tidak mau berbaikan dengannya.
"Mungkin cara yang aku gunakan harus seekstrim itu," gumamnya berpikir jika dia perlu menyakiti dirinya sendiri apa dengan itu Elina akan meliriknya sebentar saja.
***
Ide gilanya ternyata benar-benar dia lakukan keesokan paginya. Di depan kontrakkan Damian terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di dahinya.
Elina yang sempat melewati kontrakan pria itu seketika ia langsung tersentak panik. Gadis itu cepat menghampiri Damian.
"Damian! Damian bangun kamu kenapa bisa terluka begini?" Lirihnya mengecek denyut nadi si pria itu.
"Syukur dia masih hidup kalo gitu aku harus bawa dia ke rumah sakit," lanjut Elina memapah tubuh Damian lalu menyandarkannya ke kursi.
Beberapa menit kemudian. Taksi online datang yang sudah ia pesan melalui aplikasi di gawainya. Setelahnya Elina kembali memapah tubuh Damian masuk ke dalam mobil tersebut.
"Pak, tolong antar kami ke rumah sakit terdekat," pintanya.
Supir taksi tersebut mengangguk mengiyakan ucapan Elina.
Tidak berselang lama, mobil taksi tersebut sudah sampai ke rumah sakit mutiara jaya.
Dan disana Damian telah di rawat ke UGD.
Sepuluh menit lamanya Elina duduk menunggu akhirnya seorang dokter menghampirinya dan membawa hasil pemeriksaan.
"Gimana dok, dia nggak apa-apa kan!?" tanya Elina pada pria berbaju khusus rumah sakit itu.
"Berita baiknya dia gpp tapi berita buruknya dia mengalami gangguan pada otaknya yang artinya pasien lupa ingatan, tapi tenang saja mungkin jangka pendek dia akan mengalami hal itu. Apa nona istri dari pasien?" Dokter menjelaskan dengan detail kondisi Damian.
Elina sejenak terdiam, lalu dokter itu memanggilnya kembali.
"Nona mendengar saya kan?"
"A-iya maaf dok, apa dokter yakin dia lupa ingatan?"
"Kamu lagi meragukan hasil pemeriksaan saya?"
"Ah… bukan begitu dok, jadi suami saya akan baik-baik aja 'kan?"
Elina menutup mulutnya sendiri sebab tak sengaja menyebut Damian sebagai suaminya.
"Iya dia akan pulih tapi kamu juga harus menjaganya biar suami mu nanti cepat mengingat ingatannya kembali," pungkasnya lalu beranjak dari sana.
Ceklek…
Pintu terbuka lebar Damian didalam sana terbaring lemas. Elina masih meragukan apa yang tadi dikatakan dokter padanya.
"Kemarin dia baik-baik aja apa iya Damian lupa ingatan," gumamnya ragu.
Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Damian hingga lupa ingatan seperti ini. Coba saja pria itu terbangun Elina akan menginterogasinya.
Lalu, harapannya malah terkabul Damian yang tadinya masih menutup matanya. Terbuka sedikit demi sedikit dan tangannya ikut bergerak.
"Air…"
Elina refleks mengambil segelas air putih dan meminumkannya pada Damian.
"Kamu siapa apa aku pernah mengenalmu?" lirih Damian masih setengah sadar dengan penglihatan kurang jelas dia berusaha melihat kearah Elina.
"Kamu serius tidak tahu siapa aku? Kalo gitu nama kamu, ingat tidak!?" balas Elina terkesiap.
Damian langsung menggeleng cepat.
"Aku tidak ingat nama ku siapa, kalo boleh tahu kamu siapa apa kamu memang sudah mengenal ku sejak dulu," lontarnya ingin tahu.
"Ah… aku bukan siapa-siapa cuma orang yang bawa kamu ke sini, hmm… kalo kamu udah baik-baik aja aku permisi pamit pergi dulu," pamit Elina hendak berbalik badan menuju ke pintu.
"Ta-tapi tunggu-"
Elina yang hampir mendekati ambang pintu. Secara bersamaan dokter yang memeriksa Damian tadi tiba-tiba masuk.
"Dokter?"
"Saya disini ingin memeriksa suami anda sudah siuman apa belum. Oh… jadi tuan sudah bangun bagus lebih cepat lebih baik," jelas dokter tersebut seraya berjalan menghampiri ke ranjang pasien.
"Bagaimana perasaan anda apa masih merasakan sakit di kepala atau di bagian tubuh lainnya?"
Dokter sekaligus teman karib Damian itu mengedipkan mata memberikan isyarat kepada sang temannya untuk bertindak.
Damian yang mengerti tiba-tiba memegangi kepalanya, dan menjerit kesakitan di bagian pucuk kepala.
"Kepala saya masih sakit dok…" rintih Damian dengan berakting senatural mungkin.
"Nona, kenapa anda tidak mengabari saya kalo suami nona merasa sakit, baru saja nona berjanji menjaga pasien 'kan?" keluh Rehan si dokter tersebut sesekali tersenyum jahil pada Damian dan pria disampingnya itu membalas dengan mengajukan jempolnya.
Dan tentu saja dengan sembunyi dari pandangan Elina.
Sedangkan itu Elina yang nampak terpojok tidak bisa berkata-kata.
"Kamu bilang sendiri kan kalo pria ini suami mu seharusnya kamu merawatnya dengan sepenuh hati," sambung Rehan menyeringai.
Kalaupun sekarang ada perlombaan akting mungkin saja dia akan menduduki posisi pertama sebab siapapun yang ada disana akan mudah terpengaruh pada ucapan Rehan.
Karena Elina seperti merasa bersalah.
"Maafin saya karna lupa memberitahukan ke dokter," lirih Elina.
"Benarkan dia suami kamu," kata Rehan lagi.
"Betul."
Elina yang keceplosan kaget sendiri. Lalu, Rehan yang tampak bangga dengan aktingnya mencubit bagian perut Damian.
"Argh!" jerit Damian menatap kesal pada pria berjas putih itu.
"Terimakasih lah pada ku sekarang istri tercinta mu itu akan terjebak dalam drama mu," bisik Rehan.
"Tentu saja ku buat dia menyatakan cintanya pada ku," balas Damian smirk.
"Ingin taruhan."
BERSAMBUNG…
ninggalin jejak dulu ❤️