Elena
"Pria itu unik. Suka menyalahkan tapi menerima saat disalahkan."
Elena menemukan sosok pria pingsan dan membawanya pulang ke rumah. Salahkah dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Tanpa Bujukan
Elena memalingkan wajah. Mustahil Revan bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Percuma membahas sesuatu hal yang sia-sia. Kecemasan mulai membalut wajahnya.
“Tenanglah Elena, Salva itu sakit amandel. Bukan kanker. Amandel bukanlah penyakit berbahaya, nggak akan mengancam nyawanya. Kita bisa cari uang itu tanpa harus terburu-buru. Lo nggak perlu secemas ini,” ujar Revan berusaha memberi ketenangan.
Tanpa diduga ucapan Revan justru membuat muka Elena berubah merah padam. Dengan tatapan tajam yang dihunuskan tepat ke bola mata Revan, gadis bermata bulat itu berkata, “Jadi lo minta gue tenang-tenang aja ngeliat adik gue sakit? Penyakit ringan ataupun berbahaya, tetap aja ngebuat gue khawatir. Lo nggak tau perasaan gue. Lo nggak tau perjuangan gue. Gue trauma ditinggal keluarga gue. Dan gue nggak mau satu-satunya orang di hidup gue ninggalin gue. Apapun yang terjadi, gue tetep harus ngedapetin uang agar secepatnya Salva bisa operasi.”
Muka Elena yang dipenuhi kecemasan semakin terlihat gusar. Trauma. Satu kata itu menjadi kunci kecemasannya yang menggejolak. Kata-kata Revan justru memancing kekesalan. Elena diteror rasa takut kehilangan yang berlebihan akibat ditinggal satu per satu orang-orang yang disayanginya. Hingga penjelasan apapun yang disampaikan Revan tidak membuat Elena mengerti.
“Oke oke, gue janji akan ngebantuin lo,” bujuk Revan berusaha meredam kemarahan Elena. “Elena, percayalah semua nggak seburuk yang lo duga. Yakinlah pada Tuhan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Salva.”
“Iya, tetap harus dengan diiringi usaha, kan? Yakin doang nggak bakal membuahkan hasil.” Mata Elena membulat.
“Tentu. Lagi pula bidan udah ngasih obat anti nyeri buat Salva. Dia nggak akan ngerasain sakit lagi.”
“Itu hanya selama dia nelen obat. Kalo udah nggak makan obat, tentu sakitnya akan kambuh lagi. Gue mau Salva sembuh. Titik.”
Revan tak punya kata-kata lagi untuk menenangkan pikiran Elena yang kacau. Revan hanya ingin kecemasan Elena berkurang. Namun ia paham ketakutan Elena berdasar sehingga tidak mudah untuk melunturkannya begitu saja.
“Gue hanya ingin lo nggak stress mikirin keadaan Salva. Itu aja.”
Elena dan Revan bersitatap. Pelan sudut bibir Elena melebar. Kata-kata Revan berhasil melunakkan hatinya. Keteduhan tatapan mata Revan begitu menyentuh.
“Lo nggak marah lagi, kan?” tanya Revan.
Elena menggeleng dan **** senyum.
“Permisi!” Aini menyembul masuk. Wajahnya yang manis selalu dihiasi senyum.
Revan berdiri menyambut kedatangan Aini.
Aini mendekati Salva. Lembut menyentuh kening bocah kecil itu. Dahi Aini berkerut. Kemudian mengukur suhu tubuh Salva dengan termometer.
“Suhu tubuhnya masih tinggi,” tukas Aini memandang wajah Revan.
Elena mengerutkan dahi. Kenapa sejak awal masuk sampai kini, pandangan Aini terus tertuju ke arah Boy? Tak sekalipun mengarah padanya.
“Obatnya diberikan terus, kan?” tanyanya pada Revan.
“Iya, gue kasih terus, kok. Salva selalu ambil obat yang gue kasih. Lalu dia minum sendiri,” jawab Revan.
Elena menggigit bibir bawah. Heran. Salva paling benci dengan obat. Dia selalu menolak setiap diberi obat. Katanya pahit, tak enak, bauk. Tapi sekarang? Apa yang membuatnya bersedia menelan obat? Ah, Revan. Dia lelaki hebat yang mampu membujuk Salva melakukan hal-hal yang dibenci.
“Revan, kulihat Salva itu periang. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa nggak nyaman, dia cenderung takut pada bidan atau alat-alat suntik,” tukas Aini sesekali mengamati wajah Salva yang matanya terpejam. “Dia menolak keras ketika kuberikan obat. Gimana caranya kamu membuatnya bisa menelan obat?”
Revan tersenyum. “Gampang. Dia nggak nolak kok waktu gue tarok obatnya ke telapak tangannya.”
“Tanpa bujukan?”
Revan mengangguk.
Aini tersenyum senang.
TBC
kan revan hampir dirampok crita'a