NOVEL SEDANG DIREVISI
Karena keterpaksaan mertua, Siska harus menjalani tekanan batin yang luar biasa,
namanya Fransiska Damayanti usia 33 tahun sementara suaminya bernama Arya Praptama berusia 35 tahun.
Selama 10 tahun Siska menjalani rumah tangganya bersama suaminya, namun belum dikaruniai anak, hingga akhirnya Siska memutuskan untuk menikahkan suaminya bersama gadis belia berusia 17 tahun yang bernama Dinda Kinara. Dinda adalah gadis yatim piatu yang tinggal disebuah desa terpencil, keterbatasan ekonomi mengharuskan Dinda menjadi tulang punggung keluarga, hingga akhirnya ia mendapatkan tawaran dari Siska untuk menjadi istri kontrak selama satu tahun sampai ia memiliki anak.
Yang penasaran bisa ikuti cerita ini langsung dibawah ini yah, sebelum membaca saya berharap kepada teman readers agar bersabar dan berlapang dada dalam membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Putri Tarimakase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam terakhir bersama Dinda
***
Malam hari saat Arya dan Dinda akan istirahat, mereka masih mengobrol tentang Ardika, tentang Siska, sebenarnya dalam hati Dinda sangat merindukan Ardika, tapi ia tak mau menyakiti hati Siska, orang yang sudah baik menolongnya selama ini.
"Dinda" panggil Arya sambil menoleh kearah Dinda yang berbaring disampingnya itu.
"Iya Tuan" sahut Dinda tersenyum.
Arya menatap Dinda dengan lekat, ia mencoba berusaha menguatkan tekatnya untuk menyampaikan maksudnya kepada Dinda.
"Malam ini adalah malam terakhirku disini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu Dinda?"
"Iya, Tuan mau tanya apa?"
"Sebenarnya aku ingin membawamu kembali ke Jakarta , apa kamu mau ikut bersamaku Dinda?"
Sejenak Dinda terdiam, tidak menjawab pertanyaan Arya, ia langsung membalikkan badannya tak berani menatap Arya.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak bisa," ucap Dinda mulai menitihkan air matanya,
"Kenapa Dinda?" tanya Arya mulai mendekati Dinda dari belakang.
"Aku tak ingin menyakiti hati nyonya lagi, biarkan aku disini saja Tuan,"
Mendengar ucapan Dinda membuat Arya terdiam, sejenak Arya menarik napasnya, lalu memeluk Dinda dari belakang,
"Maafkan aku Tuan, bukannya aku menolak, tapi aku benar-benar..."
"Coba kamu balik kesini Dinda, aku ingin melihat wajahmu,"
"Baiklah Tuan" sahut Dinda langsung mengusap air matanya ,kemudian berbalik menghadap Arya.
"Katakan padaku, kenapa kamu tidak bisa ikut? Apa hanya itu saja alasanmu? Atau begini saja, bagaimana kalau aku belikan kamu rumah di Jakarta ?, biar kita bisa dekat," ucap Arya lalu memegang lembut pipi Dinda.
"Haa tidak usah Tuan, aku tidak ingin merepotkan Tuan, lagian aku sudah punya rumah, jadi Tuan tidak perlu buang uang untuk belikan aku rumah,"
Tolak Dinda sambil memegang tangan Arya yang berada dipipinya itu.
Perlahan Arya mendekati wajah Dinda lalu mengecup kening Dinda dengan lembut.
"Ya sudah kalau itu maumu, Dinda! Aku tak akan memaksamu,"
"Terima kasih Tuan, maafkan aku tidak bisa ikut dengan Tuan,"
"Iya sayang, aku mengerti, istirahatlah sayang"
Setelah mereka terdiam sejenak, tiba-tiba Dinda berbicara pada Arya, membuat suasana malam yang hening seketika pecah.
"Tuan, bisakah aku meminta sesuatu, tapi aku malu mengatakannya,"
"Apa itu Dinda? Katakanlah tidak perlu malu-malu"
"Aku ingin punya anak lagi, biar aku gak kesepian disini, bisa kah?" tanya Dinda dengan sedikit gugup karena permintaannya yang konyol itu.
Saat mendengar permintaan Dinda, sekatika membuat mulut Arya terbuka lebar, ia tak percaya kalau Dinda akan se agresif ini meminta sesuatu.
"Aku mau kalau cuma bikinnya, tapi apa kamu yakin bisa hamil lagi secepatnya?" tanya Arya sedikit meledek.
"Ya dicoba dulu Tuan, siapa tahu aku bisa hamil lagi hihihi," kata Dinda terkekeh.
"Baiklah, kita bikin sekarang sayang yuk,"
Dinda hanya mengangguk tersenyum malu-malu menatap wajah Arya, perlahan Arya dan Dinda bangkit dari tidurnya lalu menanggalkan pakaian mereka maing-masing sambil tersenyum menatap wajah mereka satu sama lain, setelah itu mereka mulai melakukan hubungan itu untuk terakhir kali sebagai malam perpisahan mereka.
🌺🌺🌺
Keesokan paginya, Arya sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta, ia pun pamit kepada mbah, Dandi dan Dinda.
"Sayang aku pamit dulu yah"
"Iya Tuan, hati-hati yah"
"Iya Dinda terima kasih, " ucap Arya mulai menarik bahu Dinda, lalu memeluk Dinda dengan erat.
Sementara Dinda membalas pelukan Arya, tiba-tiba buliran kristal dipelupuk mata Dinda jatuh membasahi pipinya, karena akan berpisah cukup lama dengan Arya.
"Aku pasti akan merindukan Tuan,"
"Iya Dinda, aku juga akan merindukanmu Dinda" ucap Arya sambil mengelus punggung Dinda dengan lembut.
Setelah Dinda melepas pelukannya kepada Arya, ia mengusap airmatanya sambil menatap wajah Arya sebelum pergi,
"Aku pergi dulu, Dinda" ucap Arya memegang tangan Dinda lalu mengecup kening Dinda untuk terakhir kalinya, meski didalam hati ada sedikit sesak karena harus meninggalkan istri yang ia cintai itu.
Selesai berpamitan, Aryapun berlalu pergi menuju mobilnya, sebelum Arya pergi ia membuka jendela kaca mobilnya sambil melambaikan tangannya kepada Dinda. Sementara Dinda hanya bisa membalas lambaian tangan Arya dengan perasaan sedih.
Setelah Arya pergi, Dinda masuk kedalam rumah, ia berlari masuk ke kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang karena tak bisa lagi menahan tangisnya.
Bersambung..