Karena suaminya menderita gangguan pada organ reproduksinya, membuat Jenna dan suaminya memutuskan untuk melakukan inseminasi. Namun, setelah Jenna hamil, ia justru di minta untuk menggugurkan kandungannya tersebut atau ia akan ceraikan oleh suaminya tersebut. Bahkan Jenna di tuduh selingkuh oleh keluarga suaminya.
Jenna memilih mempertahankan kehamilannya meski pada akhirnya ia di ceraikan dan di buang oleh suaminya.
Bertahun-tahun berlalu, Jenna menjelma menjadi ibu muda yang tangguh dan mandiri. Jenna baru saja kehilangan pekerjaan dan Ia mendaftar menjadi seorang perawat pria lumpuh yang dingin dan kejam demi menyambung hidup bersama kedua anaknya.
Meski tidak mudah awalnya, Jenna tetap bertahan hingga cinta itu perlahan mulai tumbuh diantara mereka. Saat itulah sebuah fakta besar terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Setelah mendapat gambar dan video sebagai bukti, Jenna dan Arion segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
"Kita mau langsung pulang atau kamu mau kemana dulu?" tanya Arion memecah keheningan yang sejak kejadian di parkiran tadi terjadi.
Jenna tak menjawab pertanyaan Arion. Kepalanya masih sibuk memikirkan tentang apa yang ia lihat tadi. Bagaimanapun, ia ingin memberi tahu Rosa. Tapi, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahu Rosa. Itu pasti akan sangat menyakiti sahabatnya tersebut. Apalagi, Rosa pernah mengatakan jika ia dan kekasihnya sudah merencanakan akan melangsungkan pernikahan secepatnya. Kali ini Rosa terlihat serius menjalin hubungan dengan kekasihnya tersebut.
"Jenna..." panggil Arion karena Jenna tak menanggapi pertanyaannya dan istrinya tersebut masih melamun dengan pikirannya sendiri.
"Sayang....," sekali lagi Arion memanggil Jenna. Tangan kirinya menyentuh kepala Jenna lembut. Yang mana membuat Jenna terkesiap.
"Ya, kenapa, mas?" sahut Jenna kemudian.
Arion tersenyum, "Di panggil sayang baru mau jawab," godanya.
Seketika wajah Jenna merona, "Mas apaan sih?" ucapnya malu.
"Ngelamunin apa, Hem? Dari tadi aku di cuekin loh. Diajak ngomong nggak ditanggepin. Udah macam sopir aja ini," ucap Arion pura-pura memberengut, "Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?" lanjutnya lembut.
"Aku kepikiran soal Rosa, mas. Aku ingin memberitahunya soal pacarnya tadi. Aku ingin memberitahunya dengan bukti yang aku punya. Tapi, aku takut dia akan kecewa dan sedih. Harapannya untuk hubungan mereka kali ini sangat besar. Ini pasti akan sangat menyakitkan buat dia. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku sembunyikan saja semua ini dari dia, mas? Tapi, aku tidak terima jika Rosa terus menjalin hubungan dengan pria breng sek itu," Jenna mengeluarkan apa yang sejak tadi ia khawatirkan.
Arion menghela napasnya lalu mengusap kepala Jenna dengan lembut," Rosa pasti akan lebih senang jika kamu mengatakan kebenaran kepadanya. Mungkin dia akan terluka, sakit hati dan kecewa. Tapi, percayalah itu jauh lebih baik dari pada kamu menyembunyikan hal ini dari dia. Dan jika suatu saat dia tahu, dia akan lebih kecewa dan terluka. Percayalah, dia justru akan berterima kasih kalau tahu lebih awal sebelum semuanya terlambat. Apalagi di sini ada si kembar juga yang akan menjadi korban jika ibu mereka di perlakukan tidak baik nantinya,," ucapnya mencoba menyemangati Jenna untuk mengatakan kebenarannya kepada Rosa.
Arion sendiri sedikit heran, kenapa sekarang Jenna dan Rosa begitu dekat. Mungkin karena memang pembawaan Jenna yang mudah akrab dengan orang. Apalagi mereka sering berdiskusi membicarakan si kembar yang kini tinggal dengannya dan Jenna. Sesimpel itu pemikiran Arion.
Jenna tersenyum sembari menyentuh tangan Arion yang membelai rambutnya. Apa yang di katakan oleh suaminya tersebut membuatnya semakin yakin untuk memberitahu Rosa, "Makasih ya mas, udah kasih aku saran. Nanti aku cari waktu yang tepat buat bilang sama Rosa," ucapnya.
Arion mengangguk, "Semakin cepat dia tahu akan lebih baik," ujarnya dan Jenna mengangguk setuju.
"Tapi..." ucap Arion sengaja ia jeda.
"Tapi apa, mas?" tanya Jenna.
" Tapi, Kalau Rosa dan pacarnya putus dan nggak jadi nikah, ada celah dong buat mama comblangin kami lagi, apa kamu rela?" goda Arion. Yang mana membuat Jenna langsung terdiam.
Apa yang di katakan oleh Arion sedikt banyak membuat Jenna kepikiran. Bukankah nyonya Marta mengikhlaskan Rosa untuk tidak menikah dengan Arion karena gadis itu sudah memiliki kekasih. Jika beliau tahu Rosa putus, bukan tidak mungkin akan kembali gencar menjodohkan mereka lagi.
"Kok diam lagi?" tanya Arion. Jenna tak membalas, ia hanya menatap pria yang kini duduk di sampingnya tersebut. Dalam diamnya, Jenna tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya tersebut. Ia dan Arion baru saja memulai hubungan baik ini, akankah kembali di uji oleh ibu mertuanya itu.
"Memikirkan ucapan ku tadi? Aku hanya bercanda, Jenna. Nggak usah kamu pikirkan," ucap Arion.
"Tapi, bisa saja kaku benar, mas. Mama bisa saja kembali kekeuh menjodohkan mas sama Rosa," ucap Jenna.
"Kalau aku tidak mau, mama bisa apa? Aku tetap dengan pendirianku. Kamu tetap akan dan selalu menjadi pilihan ku, sayang," Arion meyakinkan Jenna. Ia jadi merasa bersalah karena niatnya menggoda sang istri justru membuat wanita itu kepikiran.
"Mas, bisa saja kan mama melakukan hal di luar nalar demi bisa membuat mas Menikahi Rosa. Seringnya kan makin berumur, orang semakin seperti anak kecil, kadang suka tantrum sendiri. Mama salah satunya,"
Arion diam sejenak, mencari kata yang tepat untuk menenangkan Jenna," Kalau begitu gampang, aku buat kamu hamil, pasti mama nyerah, nggak berani macam-macam lagi, gimana?" ucapnya kemudian.
"Ide yang bagus tuh! Dengan begitu mama...." Jenna tak melanjutkan kalimatnya setelah sadar maksud dari yang di katakan oleh Arion barusan.
"Mama apa? Kenapa?" tanya Arion.
"Ish!" Jenna memukul pelan lengan Arion. Wajahnya sudah merona, "Apaan sih, mas?" Ia bukannya tidak tahu kalau Arion mengatakan soal kehamilan, itu artinya pria itu juga menyinggung soal proses pembuatannya.
"Emangnya kenapa? Aku nggak ada bilang apa-apa. Hayoo kamu mikirnya apa?" goda Arion.
"Aku? Emangnya aku mikir apa? Enggak mikir apa-apa juga!" ucap Jenna.
"Hem, yang benar?"
"Tau ah!" balas Jenna sembari bersedekap dan bibir sengaja di manyun-manyunkan seperti sedang merapalkan mantra.
"Hahaha!" Arion gemas dengan tingkah sang istri yang selalu berhasil memberi warna di hidupnya.
Jenna tersenyum. Semakin hari, Jenna terkadang melihat sosok lain dari Arion. Ya, seperti Arion yang sekarang ini, mau bicara sedikit banyak dan juga bercanda yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik topeng kearoganannya.
Arion meraih tangan Jenna lalu menciumnya lembut. Namun, genggaman tangannya terpaksa langsung ia lepaskan karena ponselnya berdering.
"Ck, ganggu aja!" decak Arion saat tahu asistennya yang menelepon.
"Hem!" ucap Arion begitu panggilan terhubung. Ia langsung mendengarkan apa yang Dion katakan di seberang telepon sana dan seketika raut wajah Arion berubah.
"Si al!" umpat Arion saat panggilan berakhir.
"Ada apa, Mas?" tanya Jenna.
"Orang yang menjebakmu, dia di temukan tewas di apartemennya," jawab Arion. Jenna tak tahu harus berkata apa. Ia ingin sekali orang itu tertangkap, tapi ternyata Arion kalah cepat. Orang itu keburu meninggal.
Arion tak bisa percaya begitu saja jika orang tersebut bunuh diri. Ia yakin tidak sesimpel itu. Pasti ada dalang di balik semua ini dan orang itu selangkah lebih maju dari dirinya. Sengaja menghilangkan satu-satunya bukti kejahatannya.
...----------------...
semangat up lagi yok sampe tamat kisah Jenna dan Arion kak jangan lama-lama ya up selanjutnya🥰