seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Gang sempit itu terasa semakin menyesakkan. Dinda berlutut di samping ranjang, tangannya yang gemetar mengusap keringat dingin di dahi Dita. Ia bisa merasakan sepasang mata Dika yang tajam dan sedingin es sedang menguliti setiap jengkal penampilannya—terutama dress mahal yang melekat di tubuhnya.
"Kak, aku tanya sekali lagi. Siapa orang di depan itu? Dan kenapa Kakak pakai baju kelas atas begini?" Suara Dika rendah, namun penuh tuntutan.
Dinda menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang sesak. "Dia... dia Leo, Dik. Rekan kerja Kakak di kantor pusat. Kemarin ada acara makan malam mendadak dengan klien besar, Kakak tidak sempat pulang dan dipinjamkan baju ini karena baju kerja Kakak kotor terkena tumpahan kopi. Jangan berpikir macam-macam, yang penting sekarang Dita!"
Dika tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia tidak bodoh, namun kondisi Dita yang mulai mengerang kesakitan membuatnya terpaksa menyimpan kecurigaan itu di dasar hatinya.
"Dita sesak lagi, Kak. Kita harus ke puskesmas sekarang," ucap Dika sambil menyambar jaket lusuhnya.
Dinda mengangguk cepat. "Iya, ayo. Kakak bantu bopong."
Saat mereka keluar dari pintu kontrakan, Leo masih berdiri di sana dengan raut wajah cemas. Melihat Dika menggendong Dita yang terkulai lemas, Leo langsung mendekat.
"Nona Dinda, biar saya antar pakai mobil. Jauh lebih cepat," tawar Leo sigap.
"Tidak perlu," potong Dika dengan suara yang menyayat. Ia menatap Leo dengan kebencian murni. "Puskesmas cuma di ujung gang. Aku masih punya tenaga buat gendong adikku sendiri. Jangan ikut campur."
Dika melangkah lebar-lebar, menggendong Dita di punggungnya. Dinda berlari kecil di sampingnya, sesekali membetulkan posisi kepala Dita agar tidak terguncang. Leo terpaksa mengikuti dari jarak beberapa meter, tidak berani mendekat namun tetap waspada.
Di ujung gang, di dalam mobil sedan hitamnya, Alan menyaksikan pemandangan itu. Ia melihat Dinda yang berlari dengan sisa-sisa tenaga setelah malam yang ia hancurkan. Ia melihat Dika yang tampak begitu gagah sekaligus rapuh menjaga adiknya. Alan mencengkeram kemudi, ingin sekali keluar dan merengkuh Dinda, namun ia tahu, kehadirannya saat ini hanya akan menyulut api yang lebih besar.
****
Suasana di dalam puskesmas kecil itu gaduh. Dokter jaga segera memeriksa kondisi Dita. Setelah pemeriksaan singkat yang menegangkan, dokter tersebut melepas stetoskopnya dengan wajah muram.
"Kondisi sel darahnya turun drastis. Ada indikasi infeksi sekunder karena daya tahan tubuhnya yang sangat lemah. Puskesmas tidak punya peralatan yang memadai untuk menangani krisis leukemia seperti ini. Nona Anindita harus segera dirujuk ke rumah sakit besar di pusat kota," jelas Dokter tersebut.
Dika yang berdiri di pojok ruangan mendadak mematung. "Rumah sakit besar? Biayanya... biayanya pasti mahal, Dok."
Dinda segera menggenggam tangan Dika yang gemetar. "Jangan khawatir soal biaya, Dik. Kakak... Kakak punya sedikit tabungan dari bonus admin kemarin. Kita fokus ke Dita dulu, ya?"
Dika menatap mata kakaknya dalam-diam. Ia tahu Dinda berbohong. Ia tahu sisa saldo di buku tabungan mereka tidak akan cukup bahkan untuk biaya pendaftaran di rumah sakit besar. Namun, melihat Dita yang mulai mendapatkan bantuan oksigen tambahan, Dika hanya bisa mengangguk pelan. "Ya sudah, Kak. Aku ikut ambulans."
Ambulans puskesmas segera disiapkan. Dika naik ke dalam, menggenggam tangan Dita erat-erapan. Sebelum pintu ambulans ditutup, ia menatap Dinda. "Kakak cepat menyusul. Selesaikan urusan administrasinya."
Dinda mengangguk, mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur. Saat ambulans itu melesat pergi dengan sirine yang memekakkan telinga, Dinda terduduk lemas di bangku tunggu puskesmas. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak tanpa suara.
Uang apa? Ia sama sekali tidak punya uang.
"Nona Dinda..."
Dinda mendongak. Leo berdiri di hadapannya.
"Tolong tenanglah. Tuan Alan sudah menginstruksikan saya untuk membereskan semua biaya ini. Anda tidak perlu pusing soal administrasi puskesmas atau rumah sakit rujukan nanti," ucap Leo lembut.
"Tidak!" Dinda berdiri dengan sisa harga dirinya. "Saya tidak mau uangnya! Katakan pada Bos-mu itu, jangan pernah campuri urusan keluarga kami lagi!"
Tiba-tiba, pintu kaca puskesmas terbuka. Sosok jangkung Allandra Ryuga melangkah masuk. Ia tidak lagi peduli jika ada orang yang mengenalinya. Ia langsung menghampiri Dinda.
"Dinda, dengarkan aku—"
"Pergi, Tuan! Pergi!" Dinda memukul dada Alan, namun pria itu tidak bergeming. "Tuan sudah menghancurkan saya semalam! Apakah itu belum cukup? Sekarang Tuan mau membeli nyawa adik saya juga?"
Alan menangkap kedua pergelangan tangan Dinda, menahannya dengan lembut namun pasti. "Dita butuh perawatan intensif di rumah sakit yang sudah aku siapkan. Dokter spesialis terbaik sudah menunggu di sana. Kalau kau menolak bantuan ini sekarang, kau sama saja membiarkan Dita dalam bahaya."
"Saya bisa cari jalan lain!" tangis Dinda pecah.
"Jalan apa?" tanya Alan tajam, menusuk kenyataan. "Pinjam rentenir? Menjual rumah kontrakanmu yang bukan milikmu itu? Sadarlah, Dinda. Hanya aku yang bisa menyelamatkan Dita saat ini."
Dinda terdiam. Isakannya menjadi lirih. Ia melihat ke arah meja administrasi di mana petugas puskesmas sudah memandang mereka dengan tatapan bingung. Ia memikirkan Dita yang sedang berjuang bernapas di dalam ambulans. Ia memikirkan Dika yang menunggunya dengan harapan kosong.
Dinda menatap Alan dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang membuat Alan merasa lebih rendah daripada sampah.
"Baik," bisik Dinda, suaranya terdengar seperti lonceng kematian bagi martabatnya sendiri. "Bayar semuanya. Berikan Dita pengobatan terbaik."
Alan menghela napas lega, namun kalimat Dinda selanjutnya membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Anggap saja... uang itu adalah bayaran karena Tuan sudah membeli kesucian saya semalam," lanjut Dinda dengan senyum pahit yang menyayat hati. "Tuan membayar, saya menyerahkan diri. Jadi, jangan sebut ini sebagai bantuan atau cinta. Ini transaksi. Saya menjual harga diri saya demi nyawa adik saya. Puas, Tuan Alan?"
Alan tertegun. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia benar-benar peduli, namun kata-kata Dinda terlalu nyata untuk disangkal. Di mata Dinda, ia hanyalah seorang pembeli yang kejam.
"Leo, selesaikan semuanya di sini," perintah Alan dengan suara yang parau. Ia kemudian menatap Dinda. "Ayo, aku antar ke rumah sakit rujukan. Dika sudah menunggu."
Dinda tidak menjawab. Ia berjalan mendahului Alan menuju mobil, langkahnya kaku seolah ia adalah boneka tanpa nyawa. Ia telah menyerah. Demi Dita, ia rela menanggalkan seluruh kehormatannya dan menjadi milik pria yang paling ia benci di dunia ini.
***
Bersambung...