Rayyan, anak yang bercita-cita menjadi seorang Wali Kota. namun cita-citanya harus terhenti saat ia menderita sakit keras. selama hidupnya kemudian ia jalani di tempat tidur rumah sakit, sampai ia meninggal dunia.
namun setelah ia meninggal ia hidup kembali di sebuah dunia baru yang tak pernah ia pikirkan.
sihir, dunia yang dapat menggunakan sihir. di dunia yang ajaib itu, Rayyan di berkahi sihir terkuat Yaitu akses ke Toko Online antar dimensi.
dengan kekuatan nya ini ia berusaha mewujudkan mimpinya untuk menjadi wali kota.
ia juga mendapat kan teman baru, Seorang ELF CANTIK, DWARF, MANUSIA SETENGAH HEWAN BAHKAN SEKOR NAGA.
namun hidup di dunia baru yang penuh dengan konflik tidaklah mudah. Rayyan di hadapkan dengan kesulitan dan permasalahan pelik seperti penghianatan, perbudakkan dan tentu para penjahat sihir yang sangat kejam.
salah satu tantangan terberat Rayyan adalah saat ia harus bertarung dengan 6 Dark Magic.
bagaimana keseruan petualangan Rayyan yang penuh aksi dan F
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Terhormat
“Apa? Ular bisa bicara?!” teriak salah satu penduduk.
Cebol tak bisa menahan tawanya. “Haha, Kapten, lihat tuh! Purple malah bikin pertunjukan sulap di dermaga!”
Yeppo memijat pelipisnya sambil menghela napas panjang. “Kalian ini bikin malu. Bukannya memperkenalkan Purple dengan benar, malah membiarkannya jadi atraksi dadakan.”
Rayyan melangkah maju, mencoba menenangkan situasi. “Semua orang, dengarkan aku! Purple ini teman kita. Dia membantu kami di Ring Fire. Tanpa dia, mungkin kami tidak akan kembali ke sini dengan selamat.”
“Tapi dia besar sekali, Kapten!” seru salah satu penduduk, matanya masih penuh rasa takut.
Purple, yang merasa sedikit tersinggung, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. “Kau tahu apa yang lebih besar daripada tubuhku? Hatiku.”
“Wah, Purple mulai bijak, nih!” komentar Cebol sambil terkikik.
Pink maju dan berdiri di samping Rayyan. “Sudahlah, kalian semua. Kalau Kapten Rayyan bilang dia aman, berarti dia aman. Kita harus percaya.”
Kerumunan mulai tenang, meski beberapa orang masih tampak waspada. Salah satu anak kecil malah mendekat dengan rasa ingin tahu. “Apa dia benar-benar baik?” tanyanya polos.
Purple menundukkan kepalanya, memperlihatkan senyum terbaik yang bisa dilakukan seekor ular. “Aku bahkan tidak makan manusia, Nak. Aku lebih suka makan… hmm, apa itu namanya, I indo mie?”
Anak kecil itu terkikik, dan suasana mulai mencair.
***
Setelah semua kembali tenang, rombongan berjalan ke arah pusat kota. Penduduk menyambut mereka dengan senyum dan pelukan hangat.
“Kami sudah mendengar kabar tentang pertempuran kalian. Kalian semua benar-benar pahlawan,” kata salah satu tetua kota sambil memeluk Rayyan.
Rayyan tersenyum canggung. “Ah, itu semua karena kerja sama tim. Aku hanya beruntung punya teman-teman hebat.”
Cebol menyeringai lebar. “Kalau begitu, Kapten, boleh dong aku minta kenaikan gaji? Kan aku juga teman hebatmu!”
“Gaji? Sejak kapan kita ini digaji?” Rayyan melotot.
“Yah, kita kan pekerja keras, Kapten. Setidaknya beri aku bonus pancake,” jawab Cebol sambil tertawa.
“Pancake buatanmu itu lebih cocok untuk dijadikan senjata!” balas Rayyan, membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.
Di tengah keramaian, paracetamol menghampiri Yeppo. “Jadi, bagaimana rasanya kembali ke rumah setelah petualangan yang gila itu?”
Yeppo tersenyum tipis. “Melelahkan, tapi aku senang kita semua selamat. Oh, dan aku punya banyak cerita untuk diceritakan padamu nanti.”
“Termasuk soal ular raksasa?” paracetamol menunjuk ke arah Purple yang sedang melingkar di tengah alun-alun.
“Tentu saja. Purple itu legenda berjalan sekarang,” jawab Yeppo sambil terkikik.
para tetua kemudian mengajak Rayyan untuk ke gedung rapat.
para tetua ini adalah pemimpin dari para budak yang pindah daru Ring Fire.
***
Tetua-tetua Kota Cahaya duduk melingkar di dalam aula pertemuan sederhana yang terbuat dari kayu dan batu. Aroma teh herbal yang mereka seduh perlahan menyebar, menciptakan suasana damai yang kontras dengan ketegangan sebelumnya. Rayyan duduk di tengah, dikelilingi Cebol, Yeppo, dan Purple yang kini melilit tiang kayu di pojokan seperti dekorasi hidup.
"Jadi, dengan kekalahan Hurria dan kembalinya kalian dari Ring Fire, apa rencana berikutnya untuk kota ini?" tanya salah satu tetua. Rambutnya yang putih seperti kapas berkilauan di bawah cahaya lampu sihir.
Rayyan menghela napas dalam, mencoba terlihat bijaksana. “Rencana utama adalah membangun kembali kota dan memperkuat teknologi yang sudah kita miliki. Optik telah meninggalkan warisan besar, dan aku tidak ingin itu sia-sia.”
Cebol menyela, duduk dengan santai di kursi rotan yang terlihat terlalu besar untuk tubuh kecilnya. "Kapten, ngomong-ngomong soal warisan, aku punya ide nih. Gimana kalau kita bikin festival untuk menghormati Optik? Tapi, ya, festival kecil-kecilan aja. Jangan sampai bikin kas negara jeblok."
Tetua lainnya mengangguk pelan, meskipun ekspresi wajah mereka terlihat sedikit skeptis. “Festival? Apa itu akan membantu pembangunan kota?”
Cebol langsung bangkit dari kursinya. “Tentu saja, Pak Tetua! Festival bisa menarik perhatian orang-orang dari luar. Kita bisa jual makanan, suvenir, bahkan tur ke laboratorium Optik. Itu kan pundi-pundi uang, euy!”
Rayyan mengusap dagunya, berpikir. “Idenya nggak buruk, Cebol. Tapi kita juga perlu fokus ke proyek besar. Aku ingin memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga air yang lebih besar, dan teknologi baru yang menggunakan batu sihir.”
Yeppo menatap Rayyan dengan ekspresi cemas. “Tapi, Kapten, persediaan batu sihir kita menipis, kan? Kalau mau ekspansi, kita harus mulai menambang lebih banyak. Itu butuh tenaga kerja tambahan, dan...”
"Dan aku tahu harus bagaimana," potong Rayyan, mencoba terlihat yakin meskipun pikirannya sedang kalut. “Kita akan buat skema kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain. Mereka pasti tertarik membeli teknologi kita, terutama kalau kita bisa menjanjikan solusi melawan monster.”
Purple, yang sejak tadi diam di pojokan, tiba-tiba mengangkat kepalanya. "Rayyan, tapi jangan lupa, semakin banyak kita memanfaatkan batu sihir, semakin menarik perhatian pihak-pihak berbahaya. Nggak semua orang bakal senang kalau kita mendominasi pasar teknologi.”
Ucapan Purple membuat suasana di ruangan itu hening. Rayyan mengangguk perlahan, menyadari beratnya tanggung jawab yang ia pikul.
***
Beberapa hari kemudian, suasana dermaga Kota Cahaya berubah menjadi lebih hidup. Kapal-kapal baru yang membawa persediaan kayu, batu, dan alat berat mulai berdatangan. Pekerja-pekerja lokal dan para mantan budak dari Ring Fire bekerja bahu-membahu, membangun kembali fondasi kota.
Cebol, seperti biasa, menjadi pusat perhatian. Ia berdiri di atas tumpukan kayu dengan megafon kecil yang entah dari mana ia dapatkan.
“Oke, semuanya! Ayo kerja yang rajin! Ingat, kalau pekerjaan ini selesai, aku traktir makan malam di warung Mak Suri!”
“Janji, ya? Jangan kabur kayak kemarin!” teriak salah satu pekerja dari bawah.
“Hei, aku nggak kabur! Itu namanya strategi hemat anggaran!” Cebol menjawab dengan ekspresi serius, membuat orang-orang tertawa.
Sementara itu, Yeppo terlihat sibuk mencatat rencana pembangunan di buku besar yang sudah penuh coretan. Ia mengomel kecil setiap kali ada pekerja yang salah menempatkan material.
“Batu itu harus di sisi kiri, bukan kanan! Apa kalian nggak baca rencana ini?” teriak Yeppo dengan nada kesal, tetapi tetap terdengar imut.
Rayyan berdiri di tepi dermaga, memandangi laut yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Ia merasa sedikit lega melihat kemajuan yang telah dicapai kota ini, meskipun tantangan besar masih menunggu di depan.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berlari mendekat. Salah satu warga berteriak, “Kapten! Ada tamu dari kerajaan tetangga yang ingin bertemu dengan Anda!”
Rayyan menoleh dengan alis terangkat. “Tamu? Siapa mereka?”
“Saya kurang tahu, Kapten, tapi mereka bilang ini tentang perdagangan teknologi batu sihir.”
Mendengar itu, Rayyan langsung mengangguk. “Baiklah, aku akan temui mereka. Yeppo, Cebol, kalian ikut denganku!”
Cebol menoleh sambil mengangkat alis. “Apa ini artinya aku bakal dapat komisi dari negosiasi ini? Aku kan tangan kananmu, Kapten.”
Rayyan memutar mata. “Komisi apanya? Paling-paling kau cuma dapat makan siang gratis. Ayo cepat!”
Dengan langkah cepat, mereka bertiga menuju aula pertemuan untuk menghadapi tamu yang bisa saja menjadi awal dari perubahan besar bagi Kota Cahaya.
***
Rayyan duduk dengan posisi sedikit gelisah di kursi kayu besar aula pertemuan. Tangannya bermain-main dengan koin emas di atas meja, mencoba terlihat keren di depan dua tamu dari kerajaan tetangga. Di sebelahnya, Cebol sudah duduk nyender santai dengan kaki kecilnya menggantung-gantung sambil ngemil permen gula batu yang entah dari mana dia dapatkan. Sementara itu, Yeppo sibuk memeriksa catatan dengan wajah serius, sesekali melirik Rayyan seolah ingin memastikan sang kapten nggak bikin kesalahan.
Dua tamu itu, seorang pria berbadan kekar dan seorang wanita elegan dengan gaun mewah, duduk berseberangan dengan mereka. Keduanya tampak membawa aura wibawa, tapi Cebol sepertinya nggak peduli sama sekali.
"Jadi, Kapten Rayyan," ujar wanita itu dengan suara lembut tapi tegas. "Kami mendengar bahwa Kota Cahaya memiliki teknologi batu sihir yang sangat maju. Kami datang untuk membahas kerja sama dan... mungkin, tawar-menawar yang menguntungkan kedua belah pihak."
Rayyan mengangguk sok paham, meskipun otaknya masih mencoba merangkai jawaban yang pas. “Ya, benar sekali. Teknologi batu sihir kami, uh... bisa dibilang revolusioner. Tapi sebelum kita bicara soal kerja sama, bisa nggak jelasin dulu, kalian dari kerajaan mana?”
Pria berbadan kekar itu, yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara. “Kami dari Kerajaan Helion. Kami baru mendengar soal Kota Cahaya setelah berita tentang kehancuran Ring Fire tersebar luas.”
Cebol tiba-tiba nyengir, menatap pria itu sambil mengunyah permen dengan berisik. “Hah? Jadi kalian baru tau soal Kota Cahaya karena gosip? Wah, update banget ya, Bang. Selamat datang di peradaban!”
Rayyan hampir saja menyembur tawa, tapi buru-buru menutup mulutnya. Wanita dari Helion itu hanya mengangkat alis, sementara si pria kelihatan nggak terpengaruh sama sekali.
"Cebol," bisik Yeppo dengan suara rendah. "Diam sedikit, bisa nggak?"
“Bisa sih,” jawab Cebol santai. “Tapi nggak mau.”
Yeppo menghela napas panjang. Sementara itu, Rayyan mencoba mengembalikan suasana. “Oke, mari kita lanjutkan. Jadi, apa yang sebenarnya kalian harapkan dari kerja sama ini?”
Wanita itu tersenyum kecil, tetapi ada sedikit ketegangan di balik senyumnya. “Kami ingin membeli teknologi batu sihir yang kalian miliki. Tentu saja, kami bersedia membayar mahal untuk itu. Kami juga bisa menawarkan perlindungan jika Kota Cahaya menghadapi ancaman dari kerajaan lain.”
Rayyan berpikir sejenak. Tawaran itu terdengar menarik, tapi di sisi lain, dia tahu ada risiko besar jika teknologi mereka jatuh ke tangan yang salah. Ia menoleh ke Yeppo untuk meminta pendapat.
Yeppo segera membuka catatannya dan mulai bicara dengan nada serius. “Teknologi batu sihir ini bukan cuma soal nilai jual. Kalau sampai disalahgunakan, dampaknya bisa merusak keseimbangan dunia sihir. Kita harus sangat berhati-hati memilih mitra.”
Rayyan mengangguk setuju, lalu menatap tamu-tamunya lagi. “Kami nggak menolak kerja sama, tapi kami butuh waktu untuk mempertimbangkan tawaran kalian. Ini bukan keputusan yang bisa diambil dengan cepat.”
Pria kekar itu tiba-tiba menyeringai. “Kalau kalian menunda terlalu lama, mungkin kerajaan lain akan datang lebih dulu dengan tawaran yang lebih menarik. Ingat, di dunia ini, waktu adalah segalanya.”
Ucapan itu terdengar seperti ancaman halus, tapi Rayyan tetap menjaga ekspresi wajahnya. “Kami paham, dan itu alasan kenapa kami nggak mau gegabah. Kami butuh kejelasan soal apa yang akan kalian lakukan dengan teknologi ini. Kalau memang hanya untuk tujuan damai, kami akan mempertimbangkannya.”
Cebol yang dari tadi diem-diem mendengarkan, tiba-tiba nyeletuk lagi. “Eh, ngomong-ngomong, kalau misalnya kerja sama ini jalan, kalian mau bayar pake apa? Emas? Batu permata? Atau mungkin... permen gula batu?”
Rayyan menoleh cepat, menatap Cebol dengan tatapan tajam. “Cebol!”
“Apa? Aku cuma tanya,” jawab Cebol dengan ekspresi polos.
Wanita dari Helion itu terkekeh kecil. “Kami punya banyak sumber daya, termasuk emas dan batu permata. Kalau kalian punya permintaan khusus, kami juga bisa mempertimbangkannya.”
Rayyan merasa ada sesuatu yang aneh dengan keramahan mereka, tapi dia memutuskan untuk tidak menunjukkan keraguannya. “Baik, kita akan membahas lebih lanjut soal ini di pertemuan berikutnya. Untuk sekarang, izinkan kami menyiapkan laporan lengkap soal teknologi ini dan apa yang bisa kita tawarkan.”
Kedua tamu itu mengangguk setuju, lalu bangkit dari tempat duduk mereka. “Kami akan menunggu kabar dari kalian,” ujar wanita itu sebelum meninggalkan aula.
Setelah mereka pergi, suasana di ruangan langsung berubah. Cebol langsung melompat turun dari kursinya dan berlari ke meja teh, mengambil sisa permen gula batu.
“Kapten, mereka serius banget ya. Untung ada aku yang bikin suasana jadi lebih santai,” ucapnya sambil mengunyah permen.
Yeppo menatapnya dengan ekspresi datar. “Santai apanya? Kamu hampir bikin mereka pergi karena komentar nggak pentingmu.”
“Eh, justru karena aku, mereka tahu kalau kita ini tim yang fleksibel dan nggak terlalu formal. Itu strategi namanya,” balas Cebol dengan percaya diri.
Rayyan hanya menggeleng sambil tertawa kecil. “Kau ini memang nggak ada duanya, Cebol. Tapi Yeppo benar, kita harus lebih hati-hati ke depannya. Mereka kelihatan ramah, tapi aku nggak yakin sepenuhnya soal niat mereka.”
Purple, yang dari tadi diam di sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. “Aku setuju dengan Kapten. Kita harus mengumpulkan lebih banyak informasi soal Kerajaan Helion. Kalau perlu, kirim mata-mata ke sana.”
Rayyan mengangguk. “Itu ide bagus. Kita nggak bisa membiarkan mereka tahu lebih banyak tentang kita tanpa kita tahu apa-apa soal mereka.”
Di malam harinya, Rayyan berdiri di balkon kamarnya, memandangi kota yang perlahan mulai bangkit kembali. Cahaya lampu sihir menerangi jalan-jalan, menciptakan pemandangan yang damai namun penuh dengan harapan.
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka, dan Cebol muncul dengan wajah penuh semangat. “Kapten, aku punya ide buat nama proyek kerja sama kita nanti!”
Rayyan menoleh dengan alis terangkat. “Apa lagi sekarang, Cebol?”
“‘Proyek Gula Batu Cahaya!’ Gimana? Keren, kan?”
Rayyan tertawa keras, merasa sedikit lega di tengah semua beban pikirannya. “Cebol, kau ini memang aneh. Tapi ide itu... ya, biar aku pikirkan lagi.”
Malam itu, Rayyan kembali ke tempat tidurnya dengan pikiran yang penuh, tetapi hatinya merasa lebih ringan. Dengan teman-teman seperti Cebol, Yeppo, dan Purple di sisinya, dia yakin apapun tantangan yang datang, mereka akan mampu menghadapinya bersama.
Semangka ya
Malah ngeluarin suara kambing
Tanda kekecewaan tingkat tinggi
Rayyan menang banyak 🤣🤣🤣
Yang diliat gituan malah 😅
Gawat ini
Kaya dah akoh langsung
Kan emang pendek dwarf itu 🤣🤣🤣
Aku nelangsa denger dia dikasih nama cebol terus
Lagian manggilnya cebol 🤗🤣