Luna Evelyn, gadis malang yang tidak diinginkan ayah kandungnya sendiri karena sang ayah memiliki anak dari wanita lain selain ibunya, membuat Luna menjadi gadis broken home.
Sejak memutuskan pergi dari rumah keluarga Sucipto, Luna harus mencari uang sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingga suatu malam ia bertemu dengan Arkana Wijaya, seorang pengusaha muda terkaya, pemilik perusahaan Arkanata Dinasty Corp.
Bukannya membaik, Arkana justru membuat Luna semakin terjatuh dalam jurang kegelapan. Tidak hanya menginjak harga dirinya, pria itu bahkan menjerat Luna dalam ikatan rumit yang ia ciptakan, sehingga membuat hidup Luna semakin kelam dan menyedihkan.
"Dua puluh milyar! Jumlah itu adalah hargamu yang terakhir kalinya, Luna."
-Arkana Wijaya-
Bagaimana Luna melewati kehidupan kelamnya? Dan apakah ia akan berhasil membalas dendam kepada keluarga Sucipto atau semakin tenggelam dalam kegelapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Siapa?
"Aku Lebih suka kamu yang disini menemaniku, Luna. kamu lebih cantik dari temanmu," ucap Fredrik, pria kencan buta yang bersama Luna.
"Kamu terlalu berlebihan. Temanku juga sangat cantik, kamu mungkin akan menyukainya jika bertemu," sahut Luna.
Fredrik tersenyum lalu mendekatkan dirinya pada Luna. "Aku suka kamu," bisiknya.
Luna terdiam. Belum pernah ia bertemu dengan pria yang tidak tahu malu seperti ini. Pria yang baru bertemu namun telah mengatakan suka, pastilah bukan pria baik-baik.
Luna pun terlihat risih dengan Fredrik, ketika pria itu menyentuh tangannya.
"Kita pindah yuk setelah ini?" tanya Fredrik.
"Pindah kemana?"
"Aku tahu sebuah bar yang sangat bagus di sekitar sini. Kita kesana?"
Luna mengernyit. Ia terlihat diam lalu melirik ke arah Selin yang masih bersama pria kencan buta nya.
Kenapa sepertinya pria yang bersama Selin lebih baik dari yang bersamaku?
"Bagaimana Luna? Kau pasti menyukai suasana di sana."
"Bar mana?" tanya Luna.
"Deluxer Bar & Cafe."
Arkana yang mendengar jelas percakapan itu hanya tersenyum miring. Dengan santai ia memakan pancake nya yang tersedia di meja.
"Eh, Arkana. Kamu nggak menghentikan Luna dengan laki-laki itu?" tanya Galih.
"Untuk apa?" tanya Arkana.
"ck..ck.. kamu ini. Luna kan pernah bersama mu, setidaknya menyelamatkan dia dari pria hidung belang seperti itu tidak apa-apa kan? Hitung-hitung sebagai balas jasa kau sudah menikmati tubuhnya."
Arkana tersenyum singkat.
"Aku telah memberikan banyak uang kepadanya. Dia bahkan bisa hidup nyaman dan kuliah dengan baik berkat aku. Apa aku perlu membalas jasanya lagi?" tanya Arkana dengan acuh.
Galih dan Dewa pun saling berpandangan.
"Aku heran denganmu, aku kira kau akan menikahi Luna. Tapi ternyata kau malah mengumumkan pertunangan mu dengan wanita lain."
"Iya, padahal kau dan Luna serasi sekali. Kalian juga telah bersama cukup lama."
"Dia hanya wanita bayaran ku, tidak akan lebih," sahut Arkana.
"Tapi kan..."
"Sudah lah Galih, Arkana bilang mereka tidak ada apa-apa," ucap Dewa mengingatkan.
"Iya tapi aku gemas sekali. Lihat saja tuh, pria itu seperti menatap mangsa nya ke arah Luna. Aku heran kenapa Arkana bisa begitu santai dan tidak peduli terhadapnya."
Arkana pun meletakkan garpu di atas piring. Pancake yang sedari tadi ia makan, kini telah habis tak bersisa.
"Sudah, kita pergi dari sini. Aku masih harus menghadiri rapat online untuk proyek besok," ucap Arkana seraya beranjak.
"Eh?" Galih melotot.
"Kamu bener akan pergi begitu saja dan membiarkan Luna?" tanya Galih.
Arkana pun tidak menjawab. Ia hanya berjalan sambil berlalu meninggalkan Galih dan Dewa yang memperhatikannya dengan heran.
Pria itu pun berjalan melewati tempat duduk Luna dan juga Fredrick, namun tanpa menoleh sedikitpun. Hal tersebut membuat Luna saat itu tersadar siapa yang baru saja lewat.
Wangi maskulin yang familiar di hidungnya, serta pembawaan dan cara jalannya yang angkuh. Luna tahu siapa pria yang baru saja melewati tempat duduknya.
Arkana?
Tiba-tiba saja tubuhnya menegang dan jantungnya berdebar sedikit lebih kencang.
Jadi dari tadi dia duduk di kursi itu?
Apa dia tahu jika aku ada di sini? Di dekatnya?
Memikirkan itu hati Luna pun terasa perih. Ia tersenyum tipis membayangkan bahwa Arkana telah berada di sana cukup lama.
Dia tahu aku ada di sini bersama pria lain. Tetapi dia tidak melakukan apapun bahkan tidak berniat memisahkan aku dari pria ini.
hahaha Luna. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?
Bukankah kau tahu dia hanya menganggap mu pelacur nya saja?
"Ayo Luna, apa kau masih ingin makan sesuatu di sini?"
Suara Fredrick pun membuyarkan lamunan Luna.
"Tidak," sahut Luna singkat.
"Jadi ikut ke bar kan?"
Luna menghela nafas dan memegang dadanya yang masih terasa berdebar dan juga sakit itu.
"Oke, aku mau," sahutnya cepat, diiringi anggukan dan senyuman puas Fredrick.
...----------------...
Tiga puluh menit berlalu di sebuah bar bintang lima. Luna telah menghabiskan dua botol minuman yang diberikan oleh Fredrick kepadanya.
Entah kenapa, melihat kepergian Arkana yang sama sekali tidak mempedulikannya, membuat Luna merasa marah. Ia ingin menumpahkan segala kemarahan dan kesedihannya tetapi ia bahkan tidak tahu harus kemana.
Akhirnya Luna pun memutuskan untuk meminum habis semua yang diberikan Fredrick. Ia ingin melupakan semua nya, dan berharap minuman itu mampu membawanya ke dunia lain yang tidak menyakitkan.
Fredrick tersenyum. Ia menyentuh bahu Luna yang terbuka dan terlihat mulus itu.
"Ayo Luna, aku antar kau pulang. Sepertinya kau terlalu banyak minum."
"Pulang? Memangnya kamu tahu rumahku?" tanya Luna yang sudah mabuk itu.
"Tidak, tapi aku akan membawamu ke tempat lain yang lebih indah."
"Oh ya? Dimana itu?"
"Nanti kau juga akan tahu. Aku akan membuatmu terbang melayang, sayang," ucap Fredrick tersenyum licik.
"Hmmm dimana dulu? Aku ingin tahu," sahut Luna dengan gaya khas orang mabuk.
Belum sempat Fredrick menjawab, seseorang pun menghampiri mereka. Seorang barista yang masih terlihat muda bersama dua orang wanita cantik dan juga sangat seksi.
"Siapa kalian?" tanya Fredrick.
"Maaf Tuan, malam ini anda terpilih menjadi tamu spesial kami. Karena itu kami menyiapkan dua model wanita yang cantik ini untuk menemani anda. Apakah fasilitas ini akan digunakan?"
Fredrick tercengang. Ia menatap kedua wanita itu secara bergantian. Tubuh yang seksi dan sintal serta wajah cantik kebarat-baratan, membuat Fredrick lupa akan niatnya pada Luna.
"Berapa yang harus aku bayar?" tanya Fredrick.
"Ini gratis dari kami Tuan. Dan sudah disetujui oleh pemilik bar ini," sahut barista itu tersenyum.
Frederik tersenyum. Ia melirik Luna sejenak lalu pandangannya kembali pada dua wanita seksi di hadapannya.
"Aku sangat menyukai Luna, tapi dua wanita ini sangat menggoda, apalagi gratis," gumam Fredrick.
"Peraturannya jika anda memilih hadiah dan fasilitas kami, anda tidak boleh membawa wanita lain yang bukan dari kami."
"Begitu?" tanya Fredrick.
"Benar Tuan. Jadi anda bebas memilih. Apakah ingin menggunakan hadiah dan fasilitas dari kami, atau tetap bersama wanita anda."
Fredrick terdiam sejenak. Lalu menatap Luna dan kedua wanita itu bergantian.
Lebih baik mencoba bersama wanita-wanita ini saja. Sepertinya Luna gadis baik-baik, rasanya aku tidak tega jika melakukan itu kepadanya.
Mungkin besok aku bisa menemui Luna lagi.
"Aku pilih hadiah ini saja."
"Baiklah Tuan, silahkan anda membawa kedua wanita ini untuk anda," ucap barista dengan senyum ramah.
Ia menangkap raut khawatir di wajah Fredrick lalu kembali tersenyum. "Tenang saja, kami memiliki jasa mengantar pengunjung sampai depan rumah untuk Tuan yang telah menjadi tamu spesial kami."
"Baiklah, aku titip gadis itu," ucap Fredrick lalu pergi bersama dua wanita tersebut.
Sementara Luna yang sudah benar-benar mabuk, hanya terduduk bersandar di kursi bar sambil sesekali memejamkan mata.
Barista yang melihat itu pun mendekat dan menyentuh pergelangan tangannya.
"Ayo nona, kita pergi dari sini, anda sudah sangat mabuk," ucapnya seraya menarik tangan Luna untuk bangun dan beranjak.
Luna mengerjapkan matanya sejenak untuk memperhatikan pria yang menariknya.
Kesadarannya yang mulai menurun itu membuatnya linglung.
"Kamu.... siapa?"