SEQUEL MY HANDSOME TEACHER
SEASON 1
Berawal dari pertemuan pertama mereka disebuah sirkuit. Hingga berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya yang tidak bisa dikatakan sebuah kebetulan.
Agyan merasa hidupnya semakin berwarna. Begitupun Freya yang selama ini kekurangan kasih sayang, dari keluarga maupun pacarnya.
Bagaimana jika ternyata mereka memiliki takdir untuk bersatu? Akankah keadaan berpihak pada mereka?
Atau halang rintang justru menghadang ketika sebuah fakta dari masa lalu mencuat ke permukaan?
16 Juli 2020
SEASON 2
Zeinn Ethan Maheswari tidak menyukai dunia entertaint sejak kecil. Tapi sang ayah memaksanya untuk mengurus perusahaan agensi dan membuatnya terjebak skandal dengan salah satu aktris yang bernaung di agensinya.
Hidup dan Citra Zoya Hardiswara yang semula tentram dalam menjalani kariernya sebagai aktris harus ternoda ketika ia tidak sengaja terjebak skandal dengan CEO perusahaan agensi yang menaunginya.
Mengharuskan keduanya terjebak sebuah pernikahan demi memperbaiki reputasi perusahaan.
31 Januari 2021
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DevinaRayn (SpecialPart)
Oke beybih kita rehat dulu dari problem menegangkan Agyan Freya Arjun. Kita cuss ke kang kalem dulu:")
**
Bagi seorang Rayn, hidupnya yang monoton adalah sebuah ketenangan. Bangun pagi, mandi dan bersiap pergi ke kantor, serta menghabiskan setiap harinya dengan pekerjaan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya.
Dukungan penuh dari kedua orang tua, atas semua keinginan dan keputusannya membebaskan Rayn untuk menentukan jalan hidupnya sendiri dengan mandiri.
Sejak kecil, Rayn memang bercita-cita untuk bekerja di sebuan perusahaan besar, meski singgasana diduduki oleh adik dari papahnya, dia tetap menikmati posisinya sebagai general manager di perusahaan milik keluarga. Asalkan ia turut andil mengembangkan perusahaan, ia bangga menjadi bagian dari keluarga besar Zeinn.
"Mau langsung berangkat kerja?" Rayn yang sedang melihat progres pekerjaannya melalui ponsel pintar saat menuruni anak tangga mendongak, menatap Shanty yang tengah menyiapkan sarapan.
"Iya, Oma." sahutnya yang kemudian duduk di salah satu kursi meja makan. Tomy yang sedang sarapan hanya tersenyum pada cucu pertamanya.
"Kamu mampir di apartement Gyan dulu, gimana Ray?"
"Oma masak menu spesial hari ini, makanan kesukaan kamu, sama makanan kesukaannya Gyan."
"Oma denger, Gyan sekarang tinggal di apartement." Shanty berbicara tanpa henti dengan raut happy.
"Oma, perusahaan sama apartementnya Gyan, 'kan nggak searah." Rayn menolak dengan halus.
"Kan kamu bawa mobil, ngebut sedikit. Yah,"
"Oma—"
Shanty segera duduk, memasang wajah memelas di hadapan cucu pertamanya agar meyakinkan.
"Oma bangun pagi, dengan semangat empat lima. Masak makanan kesukaan kedua cucunya Oma, masa nggak ada yang mau nolong."
"Apa Oma minta tolong Pak Dory aja, tetangga sebelah yang udah Oma tolong saat nyuri ayam Bu Ningsih, dulu."
Rayn menghela nafas panjang. Begitulah hidupnya di rumah keluarga Zeinn yang hanya berisikan tiga orang anggota keluarga, ditambah dengan dua asisten rumah tangga, satu tukang kebun dan dua satpam. Hari-harinya selalu dipenuhi oleh drama keluarga, Rayn sudah terbiasa, apalagi jika sang Oma merengek seperti sekarang.
Rayn tau, Shanty dan Tomy pasti sangat rindu saat kedua orang tua Rayn masih tinggal disini. Sekarang, hanya ada Rayn sebagai pengganti, dan Shanty akan selalu bersikap manja padanya.
Next, Rayn sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan Shanty untuk merayunya.
"Cucu Oma, 'kan ganteng. Mau, ya?"
"Nanti, biar kamu Oma carikan pacar yang cantik, oke?"
Rayn menghela nafas, ia hanya bisa pasrah.
"Iya, Oma. Yaudah, Rayn berangkat sekarang."
"Sekarang? Sarapan kamu, gimana?"
"Yaudah, yaudah. Oma siapin bekel aja buat kamu, jangan nolak, loh, Ray." Shanty sibuk sendiri, bertanya dan menjawab pertanyaannya juga sendiri.
Tam lama, ia beranjak, sementara Rayn menatapnya dengan tersenyum, melihat bagaimana besar perhatian sang Oma pada kedua cucunya, ia dan Agyan.
"Begitu, Oma, kamu." Tomy angkat bicara.
"Jangan percaya kamu mau dicarikan pacar, semua temen Oma mu cucuknya cowok, memang kamu mau?"
Rayn brigidik ngeri.
"Pah, jangan macem-macem, yah." Shanty memperingatkan suaminya setelah menyiapkan bekal untuk Rayn sambil menyodorkan paper bag berisikan makanan untuk Agyan.
Rayn bangkit dari duduknya, dan menyalami Shanty. Bersiap untuk pergi ke apartement Agyan sebelum ke perusahaan nanti.
"Nanti kamu bilang sama Gyan, main kesini. Jengukin Oma, jangan sombong gituh."
"Iya, Oma."
"Jangan jadi cucu durhaka, kaya Malin Kundang. Oma nggak mau ngutuk Andreas."
Rayn menautkan alisnya, heran, sekilas menoleh pada Tomy yang menggeleng tidak mengerti.
"Kenapa Om Andre yang dikutuk?"
"Di cerita Malin Kundang, ibunya, 'kan ngutuk anaknya, bukan cucuknya!"
Hening. Bahkan cicak yang berada di dinding pun enggan melanjutkan kegiatannya. Mereka seperti berkata ; Dahlah, males.
"Yaudah. Pokoknya kamu hati-hati, yah."
Rayn mendehem, sebelum akhirnya mencium pipi Shanty dan berpamitan sekali lagi, juga pada Tomy yang masih belum menyelesaikan sarapannya.
Shanty hanya menatap kepergian cucu pertamanya. Perasaannya berdesir, ia rindu rumahnya ramai seperti dulu.
**
"Kavin, gue berangkat duluan, ya. Gue ada rapat OSIS pagi ini buat acara—"
"So penting amat, sih, rapat-rapatan mulu, kaya pejabat negara aja!" sela Vina dengan cepat. Ia sedang sarapan sendiri di meja makan, Vanesh baru keluar dari kamarnya sementara Nasya membantu Angga untuk persiapan ke kantornya.
"Emangnya loe,"
"Apaan?"
"Sibuk sendiri!"
"Gue nggak punya kesibukan,"
"Jomblo abadi, susah!"
Vina mendelik. Jomblo abadi? Kalo mau, ia sudah sejak lama punya pacar, cuma ya ....,
"Nggak usah so, laku. Loe bukan gorengan pedagang kaki lima yang mangkal di trotoar!" makinya pada sang adik.
"Sembarangan banget, sih, loe Kak!"
"Yaudah mobil pake aja, suruh sopir anterin. Gue naek taxi aja,"
"Good!"
"Jatah jajan loe bagi dua!"
"Serius loe?" Vanesh tak percaya. Ia mendaratkan tangannya di bahu Vina sedikit kasar. Membuat si mpu meringis.
"Kavin, loe kaya anak terlantar amat, sih, elaah!"
"Heh. loe—"
Perdebatan berakhir saat Angga sudah berada di meja makan, diantara mereka yang tengah berdebat hebat. Atau sebentar lagi akan berperang jika Angga tidak datang.
"Sudah ributnya?"
Vina dan Vanesh hanya saling lirik, mereka berdua memang tidak akan berani ribut jika sudah ada sang Ayah diantara mereka.
"Ayo sarapan." Nasya datang dan mencairkan suasana. Angga sudah memegang garpu dan sendoknya, sementara Vanesh masih berdiri ditempatnya tadi.
"Vanesh, kenapa kamu tidak sarapan?"
"Vanesh buru-buru, Yah. Vanesh sarapan di kantin aja!"
Gadis itu bergegas dengan cepat setelah menyalami kedua orang tuanya. Melesat menuju pintu keluar bahkan tidak menyisakan debu sedikitpun.
"Van, jangan lup—"
"Vin." Vina nyengir saat Angga melotot padanya karena berteriak di meja makan.
Ia melanjutkan sarapannya dengan tenang. Beginilah kehidupannya, tiada hari tanpa betdebat dengan sang adik. Mungkin semua orang yang memiliki sodara memang senang ribut daripada akur.
Meski hati sesungguhnya, mereka sangat saling menyayangi. Namun bagi Vina dan Vanesh, menunjukkan kasih sayang dengan cara akur dan saling memperhatikan, itu sudah maintream.
Percayalah, ribut itu menyenangkan.
Menjadi anak pertama dan masih duduk di bangku SMA diusia yang seharusnya sudah kuliah, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Vina. Ia memang bukan pekerja keras yang mati-matian membiayai hidupnya untuk menjadi anak yang mandiri.
Ia masih mengandalkan uang orang tuanya, meski ada kerja keras yang ia lakukan. Seperti membantu pekerjaan Angga misalnya, sehingga uang jajan yang ia terima dari Angga ia anggap sebagai gajihnya. Haha.
Kerja keras bukan? Meski membantu orang tua adalah sebuah kewajiban, tapi urusan pekerjaan, Vina tidak harus terlibat semasih orang tuanya bisa, tapi, ia tidak ingin menjadi tidak berguna, sehingga selalu sebisanya membantu Angga ataupun Nasya.
Angga mendidik kedua anaknya dengan tegas. Vanesh yang manja nyatanya tetap mendapat perhatian yang sama sepertinya. Angga maupun Nasya, mereka adil dalam memberikan perhatian dan kasih sayang.
Tidak membeda-bedakan.
**
Rayn hanya mengernyit saat seseorang membuka pintu apartement Agyan. Ia masih ingat dengan baik apartement saudara sepupunya itu. Tapi kenapa ....?
Apa Agyan menjual apartement demi memodif mobil sport putih kesayangannya itu?
"Ini apartement, Agyan?" tanyanya pada gadis yang membukakan pintu.
"Iya, saya pacarnya."
Rayn menggeleng dengan senyum tipis di bibirnya. Sekarang ia mengerti.
"Siapa Frey?" tak lama, Agyan muncul dan berdiri di belakang Freya. Wajah tampannya berubah jenaka saat mendapati Rayn disana.
"Eh kurir ternyata!"
"Sembarangan aja loe!" Rayn menyahut datar. Kemudian menerobos masuk ke apartement Agyan sebelum dipersilahkan. Agyan sedikit menarik Freya agar tidak bersentuhan dengan Rayn.
"Makanan dari Oma. Loe dateng ke rumah Oma kapan-kapan, dia kangen. Deket kok sombong amat!" cecarnya tanpa ampun. Sementara Agyan hanya menaikan alisnya sambil melihat isi paper bag yang diletakan Rayn di atas meja.
Freya hanya menjadi pengamat bagi mereka.
"Bukan sombong, gue sibuk. Nanti gue ke rumah Oma deh,"
"Pinter!"
Agyan hanya berdecak, ia melihat Rayn masih berdiri di tempatnya dan membuat Agyan heran.
"Nunggu apaan? Mau ke kantor, 'kan? Buruan sana!"
"Pantesan loe betah di apartement,"
Seketika Agyan melirik Freya yang dengan patuh berdiri di sampingnya.
"Frey, ini Rayn. Tukang sendal jepit keliling!" sahutnya dengan malas. Freya menyender bahunya sambil cekikikan.
Ia menjulurkan tangannya dengan sopan pada Rayn yang langsung diterima pria tampan itu.
"Freya."
"Rayn!"
Tidak sampai sepuluh detik. Agyan menarik tangan Freya agar lepas dari Rayn.
"Jangan lama-lama. Kalo orang ini habis jualan keliling terus bawa virus mematikan, gimana?" ptotes Agyan yang mendapat berbagai sumpah serapah dari Rayn jika saja ia tidak ingat jika dirinya lebih dewasa dari Agyan. Dan ia harus mengalah serta sedikit sabar. Ributnya kapan-kapan saja.
"Agyan, kamu nggak sopan!"
"Enggak papa, Frey. Gyan waktu kecil kurang ASI makannya, kaya gitu."
Agyan memutar bolamatanya jengah. Kenapa Ryan seperti cari muka dihadapan Freya? Padahal biasanya, ia tidak pernah banyak bicara
"Yaudah, Gyan. Gue ke kantor, jangan lupa, loe dateng ke rumah Oma."
"Hmm."
"Freya, duluan, ya." pamitnya. Freya hanya mengangguk sopan.
Setelah Rayn berlalu, Freya menoleh dengan penuh pertanyaan pada Agyan.
"Bang Rayn, saudara sepupu aku." jawab pemuda itu sebelum Freya buka suara.
"Iya tau!"
"Terus, kamu melotot gitu, kenapa?"
"Ya, masa aku harus merem, sih."
"Bukan gitu, Frey-Frey!"
Freya hanya mencebikan bibirnya, kemudian duduk dan mengeluarkan beberapa wadah makanan dari paper bag yang dibawakan Rayn tadi.
"Masakan Oma kamu enak."
"Aku penasaran sama dia, pasti cantik."
"Kamu ngode, Frey?"
"Apaan, sih. Gyan?" kilahnya setelah Agyan duduk di sampingnya.
"Kamu ngode buat diajak ke rumah Oma, 'kan?"
Freya tersenyum sambil menggapai tangan pemuda yang tengah menatap dengan mata memicing padanya.
"Senangnya, punya pacar super peka!"
Agyan hanya menggeleng enggan kemudian tertawa dan mengacak rambut gadis itu.
**
"Harusnya tadi bareng Ayah aja, nih!"
"Gini, 'kan. Jangankan taksi, tukang cendol aja kalau ditungguin jarang nongol!"
Jalanan padat dengan terik yang perlahan naik, membuat Vina panik karena belum menemukan taksi ataupun ojek. Menyesal ia tidak minta diantarkan pada Angga saja tadi.
Sesekali, ia mengecek jam tangan mungil yang melingkar dipergelangan tangannya. Hari ini adalah piket kelasnya, sebagai ketua kelas yang baik, setidaknya ia ingin membuktikan jika dirinya mampu bertanggung jawab dengan datang pagi.
Tapi ....,
Vina hanya mengernyit saat sebuah sedan hitam berhenti dihadapannya karena terjebak macet.
Vina melihat jarak kemacetan, sebentar lagi berakhir. Dengan cekatan ia mengetuk kaca mobil dihadapannya.
Sang pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya dengan raut terpaksa.
"Kenapa?"
"Gue nebeng, yah. Kak,"
"Saya buru-buru mau ke kantor!"
Vina mendengkus. Kemudian masuk begitu saja ke bagian penumpang di sebelah Rayn.
"Ayo!"
"Macet, Vin."
"Lagian, siapa, sih yang mau nganterin kamu?"
Vina memiringkan duduknya ke arah Rayn yang tampak enggan karena kedatangannya. Iya, karena Vina seringkali mengganggu perasaannya.
Dan. gadis ini menyebalkan, terakhir, mereka bertemu saat bertamu ke rumah Grrycia sekitar dua bulan yang lalu. Dan Rayn masih sangat ingat apa yang gadis itu katakan padanya.
"Kak Rayn, ya?"
"Pantes, nyebelin!"
Rayn mendesah ketika sekarang ia dipertemukan lagi dengan seorang Mark Devina Adelia.
"Gue cuma minta anterin sekolah, nggak sampe ke depan kelas, kok!" gadis itu kembali bersuara.
"Nggak mau!"
Jawaban yang sungguh membuat emosi.
"Kak Rayn, jangan mentang-mentang gue udah pernah empat belas kali nolak loe—"
"Lima belas, Vin." ralat Rayn dengan cepat.
Vina menghela nafas. "Oke, Kak Rayn. Jangan mentang-mentang gue udah lima belas kali nolak loe, gue mintain tolong aja loe nggak mau."
"Gue cuma minta dianter sekolah,"
"Saya buru-buru ke kantor,"
"Pilih gue apa Mbak Lastri?"
Rayn seketika mengerutkan keningnya, kenapa nama Lastri seolah akrab dengannya? Apakah ia pemilik warung kopi pinggir jalan dan Rayn pernah kasbon gorengan?
Atau makan gorengan lima biji dan ngakunya tiga biji? Ah tidak, tidak.
"Kamu jangan ngaco!"
"Tapi antrerin, gue. Please!" gadis itu memelas dengan bibir bawah terlipat ke atas dan justru membuatnya semakin menggemaskan.
Dan .....,
Rayn tidak bisa menolak.
"Saya anterin kamu. Dengan satu syarat!"
"Syaratnya?"
"Selama saya nyetir, kamu nggak boleh natap saya!"
"Bukannya loe yang sering banget natap gue, yah," itu bukan pertanyaan, tapi lebih kepada ledekkan yang menyudutkan.
"Mau di anter nggak?"
"Siap bosque!"
Rayn melajukan mobil saat mobil-mobil di depannya perlahan bergerak maju.
Pria mana yang bersedia mengantarkan gadis yang berkali-kali menolaknya untuk pergi sekolah? Hanya Rayn.
Karena menurut Rayn, dirinya itu keren.
TBC
Akan up secepatnya setelah tembus 400like❤
Kalo mao komen-koment aja gausah ragu, aku hampa kalo sepi koment. Serah mau misuh-misuh juga. Btw ini crazy up ya.