"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14 -Peringatan di Balik Kehangatan
Beberapa hari berlalu, kehidupan pernikahan Aksara dan Aylin berjalan biasa saja—nyaris tanpa kemajuan berarti. Aksara sibuk dengan urusan perusahaan, sementara Aylin mulai bekerja di kafe milik Aksara sebagai asisten chef. Kebetulan, itu adalah tempat di mana Arvano menjabat sebagai manajer.
Aylin menolak bekerja di kantor karena tidak merasa bebas, atau lebih tepatnya, merasa bidang itu tidak sesuai dengan keahliannya. Namun, selama bekerja di sana, Arvano sama sekali belum menampakkan diri di hadapan Aylin. Belum saatnya, begitu pikir Arvano.
Hari ini Aylin berencana pulang lebih cepat. Ia akan berkunjung ke kediaman Kakek Harsa karena sang kakek secara khusus meminta Aylin memasakkan makanan favoritnya.
“Aylin, kamu pulang sekarang?” tanya Renata, kepala chef, sambil melirik jam di dinding.
“Iya, Mbak. Maaf ya,” balas Aylin dengan wajah penuh sesal.
“Nggak apa-apa kok, aku mengerti,” ujar Renata sambil menepuk pundak Aylin. Ia terkekeh kecil. “Lagian kamu itu menantu orang kaya, Lin. Harusnya ongkang-ongkang kaki di rumah, bukan kerja berat begini.”
Aylin ikut tertawa. “Dari sebelum nikah aku memang suka kerja, Mbak. Kalau berhenti malah badan rasanya sakit semua.”
Renata mengangguk sambil kembali mencatat bahan-bahan yang mulai habis. Kafe sedang tidak terlalu ramai karena jam istirahat kantor telah usai. Biasanya akan kembali penuh saat jam pulang kerja dan malam hari. Beruntung, kafe itu memiliki dua chef dan beberapa asisten.
“Ya sudah, kalau begitu siap-siap saja. Suamimu pasti bentar lagi datang,” ujar Renata, dia juga tahu bahwa Aylin adalah istri Aksara.
“Iya, Mbak. Aku ke loker dulu,” kata Aylin.
Aylin berjalan menuju ruang ganti, mengambil barang-barangnya dan baju bersih. Ia memutuskan mandi terlebih dahulu sambil menunggu Aksara datang menjemput.
Beberapa menit kemudian, Aylin keluar dari kamar mandi dengan penampilan rapi dan segar—tak ada lagi asisten chef yang beraroma bawang.
*
*
Aylin baru saja merapikan tasnya, dia pelan-pelan mulai bisa belajar merias dari Olivia. Dan saat itu juga, ponsel di sakunya bergetar.
Mas Aksa: Aku sudah di depan.
Aylin tersenyum kecil. Ia berpamitan pada Renata, lalu melangkah keluar kafe. Mobil Aksara terparkir tak jauh dari pintu masuk. Begitu Aylin duduk di kursi penumpang, Aksara meliriknya sekilas.
“Kamu wangi,” ucapnya singkat.
Aylin refleks menunduk malu-malu, merapikan ujung lengan bajunya. “Habis mandi.”
Mobil melaju meninggalkan area kafe. Dari balik kaca, Arvano berdiri di lantai dua, menatap kepergian mereka dengan sorot mata gelap. Senyum tipis tersungging di bibirnya—bukan senyum senang, melainkan senyum seseorang yang sedang menyusun rencana.
“Pelan-pelan saja,” gumam Arvano. “Semua ada waktunya.”
Perjalanan menuju rumah Kakek Harsa terasa lebih tenang. Aylin menatap jalanan, sesekali memainkan jemarinya sendiri.
“Kakek minta kamu masak apa?” tanya Aksara memecah hening.
“Ayam saus mentega sama sambal goreng kentang,” jawab Aylin. “Katanya masakan rumahan bikin beliau rindu Nenek.”
Aksara mengangguk. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya setiap kali Aylin menyebut keluarga—dengan cara yang sederhana dan tulus.
Sesampainya di kediaman Kakek Harsa, suasana terasa hangat. Aroma teh dan kayu tua menyambut mereka. Harsa sudah menunggu di ruang makan dengan senyum lebar.
“Wah, cucu menantu Kakek datang!” serunya riang penuh kasih sayang.
Aylin menyalami Harsa dengan hormat. “Kakek kelihatan sehat.”
“Karena tahu kamu mau datang,” balas Harsa sambil terkekeh.
Aylin langsung menuju dapur. Tangannya cekatan, gerakannya tenang—seolah dapur adalah tempat paling aman baginya. Aksara berdiri di ambang pintu, memperhatikan tanpa bicara. Untuk pertama kalinya, ia melihat Aylin bukan sebagai bagian dari kesepakatan, melainkan sebagai istri yang sedang mengurus keluarganya.
Makanan terhidang tak lama kemudian. Harsa mencicipi satu sendok, lalu terdiam.
“Rasanya… persis,” ucapnya lirih. “Seperti masakan Nenek mu Aksa.”
Aylin tersenyum kecil. “Aku senang Kakek suka.”
Mata Harsa berkaca-kaca. Ia menatap Aksara lama, lalu berkata pelan, “Jaga dia baik-baik.”
Aksara mengangguk. “Iya, Kek.”
Namun di balik kehangatan itu, di tempat lain, seseorang tengah menunggu celah. Dan ketika kebahagiaan terasa terlalu tenang, biasanya badai sedang bersiap datang.
Setelah makan, Aylin memilih bersantai di ruang baca, sementara Kakek Harsa masuk ke kamar untuk beristirahat.
“Aylin,” panggil Kirana.
“M-Mami?” Dengan gugup, Aylin berdiri.
“Duduklah,” titah Kirana.
Mereka duduk berseberangan, terhalang sebuah meja kecil. Kirana melirik buku di tangan Aylin—sebuah novel romansa dengan akhir bahagia.
“Kamu suka membaca?” tanya Kirana pelan.
“Mami juga. Tapi, Aylin… khayalan tidak selalu sama dengan kehidupan nyata.”
Nada suaranya terdengar tenang, namun mengandung maksud yang dalam.
“Ma-maksudnya?” Aylin menelan ludah.
“Jangan terlalu jauh bermain peran dengan Aksara,” lanjut Kirana, menatap lurus ke mata menantunya. “Karena…”
Kirana berhenti sejenak.
“Karena apa, Mi?” suara Aylin hampir berbisik.
“Masa lalu yang belum selesai… akan kembali.”
Tanpa menunggu tanggapan, Kirana bangkit dan meninggalkan ruang baca. Aylin terpaku di tempatnya.
Jangan terlalu dekat? Masa lalu?
Apa maksudnya masa lalu Aksara akan kembali?
Tatapan Aylin kosong. Ada ketakutan samar yang menyusup—bagaimana jika semua ini memang hanya sementara? Bagaimana jika suatu hari ia harus menjelaskan pada Mama Rosalind bahwa pernikahan ini tak pernah benar-benar nyata? Hanya untuk kesepakatan saja.
Sementara itu, di kamar pribadinya, Aksara menerima panggilan dari Arvano.
“Kamu berubah, Aksa,” suara Arvano terdengar pelan, sarat kekecewaan.
“Aku nggak berubah, Van. Aku tetap Aksara yang dulu,” jawabnya singkat.
“Kalau begitu, buktikan. Datang ke club malam di Jalan Mawar malam ini.”
Aksara terdiam sesaat. “Oke. Aku datang.”
Telepon terputus. Di sisi lain, Arvano tersenyum puas sebelum menenggak habis minumannya.
Sore harinya, Aylin dan Aksara pamit pulang. Kebetulan, Abian juga sudah kembali.
“Kenapa nggak menginap saja?” tanya Kakek Harsa dengan nada kecewa.
“Maaf, Kek. Lain kali saja. Mama Rosalind masih sendiri, dan aku belum menemukan pembantu yang cocok,” jawab Aksara. Aylin mengangguk setuju.
“Baiklah,” ujar Kakek. “Tapi jangan lupa cepat beri Kakek cicit!”
“Dad,” tegur Abian.
“Apa? Salah, memang?” Harsa menoleh ke Kirana. “Kamu nggak mau punya cucu?”
“Ma-mau, Dad,” sahut Kirana hati-hati. “Tapi anak itu bonus, bukan paksaan. Kalau cepat syukur, kalau belum ya sabar.”
Kakek Harsa mengibaskan tangan, tampak tak sepenuhnya setuju.
“Doakan saja, Kek. Kami pamit dulu,” ujar Aksara.
Aylin ikut menyalami mereka. Saat memeluk Kakek Harsa, lelaki tua itu berbisik pelan, “Sabar ya.”
“Iya, Kek,” jawab Aylin lirih.
Setelah Aksara dan Aylin pergi, ruang keluarga mendadak hening. Kakek Harsa menatap kosong ke arah pintu.
“Itu akibat kalian memanjakannya,” celetuknya tiba-tiba.
“Kenapa, Dad?” tanya Abian.
Namun Harsa tak menjawab. Ia justru berlalu begitu saja, meninggalkan Abian dan Kirana.
“Kenapa Daddy?” tanya Kirana cemas.
“Entahlah.”
Kirana menarik napas panjang. “Pi… Mami harap Daddy nggak pernah tahu soal Aksara dan Arvano.”
Abian terdiam.
Kirana tahu, ia sudah berusaha memisahkan mereka. Tapi entah mengapa, ia dan Abian selalu tak berdaya. Bukan hanya karena perasaan—melainkan karena satu hal yang paling ia takutkan:
reputasi keluarga Danendra dan Maharani buruk.
Bersambung ...
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣