"I accept you Maxwell Del Montaña to be my husband, to have one another and keep, from now and forever. In times of trouble and joy, in times of abundance and in deprivation, in good health and sicness, to love one and another and to esteem, till death divides us, according to the sacred law, and this is my sincere faithfull promise."
Karena keserakahan ayahnya, Sara O'connor harus berakhir di tangan seorang mafia pemilik kartel terkenal di Spanyol. Dia menjadi istri dari pria yang tidak dicintainya.
Keinginannya untuk menaklukan pegunungan Himalaya harus berakhir begitu saja. Kesendirian dan kekosongan kembali dirasakan Sara ketika mata dan bibir pria itu mengatakan tidak menginginkan dirinya.
Max, nama mafia itu, Sara tidak mencintainya, tetapi janji suci sudah diikrarkan di hadapan Tuhan dan jemaat.
--------------------^-^------------------
Banyak konten horor, yang belum cukup umur, jauh-jauh sono! Dosa tanggung sendiri!😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Happy reading!
.
.
.
***
Max menarik tangan Sara dengan kasar agar keluar dari rumah makan itu.
"Apa kau kelaparan sampai makan begitu banyak dengan pria lain? Atau kau berniat selingkuh dariku, huh?"
Menyeret langkahnya mengikuti Max, Sara meronta dari genggaman sang suami yang terlihat sangat marah.
"Dia temanku, Max. Dan juga aku tidak pernah selingkuh darimu."
"Omong kosong! Kau jelas-jelas tertawa dengannya, bagaimana denganku? Kau selalu memasang tampang sialanmu itu saat bersamaku!"
Teriakan penuh amarah itu sontak menghentikan langkah Sara. Ia enggan mengikuti langkah Max lagi.
"Apa kakimu digigit kucing, Bodoh? Kenapa tidak jalan?!"
"Kau menyeretku dengan kasar," cicit Sara hati-hati.
Max melepaskan cekalannya. "Kau ingin lembut? Dalam mimpimu! Kau tidak pantas diperlakukan dengan lembut."
Sara menggerutu dalam hati. Ia menghentak-hentakkan kakinya.
Sialan kau, Max. Pergilah ke neraka! Kau benar-benar iblis!
Namun, ia tidak ingin sikap keras kepalanya membuat Max semakin marah. Karena itu, ia berubah menjadi seorang yang lembut untuk menenangkan hati Max.
"Sayang, jangan marah-marah, ok? Aku tidak tahan ingin menciummu kalau wajah marahmu itu menatapku. Kau sangat tampan dan menggemaskan."
Dan benar saja, Max langsung memalingkan wajahnya dengan datar. "Jangan berbicara omong kosong! Kau tidak pantas menciumku!"
Cih, sangat kekanak-kanakan! Setiap hari kau ingin aku cium dan sekarang berdalih dengan sangat cepat? Dasar pembual!
Berbuat seimut mungkin, Sara menarik lengan Max dan mengapitnya dengan manja. Ia mengedipkan matanya dan tersenyum manis pada pria itu.
"Aku ingin menciummu sekarang, Sayang. Jangan marah lagi ya? Aku milikmu seorang bukan milik yang lain. Ayo pulang, kalau tidak aku akan membunuh para wanita yang melihatmu dengan mata lapar itu."
Sara menunjuk sekumpulan wanita yang kebetulan sedang melirik ke arah mereka.
Tanpa menjawab, Max mengikuti Sara yang menariknya. "Beraninya kau menarikku seperti itu, Sara. Kau mau mati ya?"
Sara terkekeh namun dalam hati ia menyimpan seribu kejengkelan.
Bilang saja kau suka kutarik! Lihatkan, kau tidak menolak! Kau benar-benar setengah iblis, hati dan mulutmu tidak sejalan.
"Di mana mobilmu?" tanya Sara mengalihkan perhatian.
"Jalan saja ke mana pun kau mau! Tarik saja, huh! Aku akan membunuhmu kalau sampai tanganku memerah!"
Depresi-depsresi! Aku tidak menyangka akan menghadapi pria tua yang sedang merajuk ini! Sungguh hebat!
"Hahaha, bagaimana mungkin aku membunuhmu, Sayang. Aku tidak mau kehilanganmu."
Apa? Apa yang baru saja kukatakan? Hahaha, aku pasti sudah gila sekarang. Sepertinya benar-benar gila menghadapi badak gila ini.
"Berhenti bicara omong kosong! Aku lapar! Belikan aku makanan!"
"Kenapa kau tidak makan tadi, Sayang? Makanan di sana sangat enak."
Sara baru menyadari bahwa perubahan ekspresi Max bisa membunuhnya.
"Kau ingin aku makan makanan sisa dari pria selingkuhanmu? Kau bodoh, lebih baik aku kelaparan dari pada makan di sana dengan air liurnya menetes di mana-mana!"
Tapi sekarang kau lapar, bukan?! Haha, sungguh menyebalkan!
"Maafkan aku, Sayang. Kau ingin makan apa? Aku akan membelinya untukmu."
"Seperti yang kau makan tadi!"
Meski sangat datar, bagi Sara menikmati wajah kesal sang suami membuatnya bersemangat menggoda.
"Yang mana? Hehehe, maaf aku melupakan apa saja yang baru saja aku makan."
"Kau mau mati? Pergi belikan! Kau lupa karena kau senang melihat pria jelek itu 'kan? Katakan saja biar aku bunuh dia untukmu!"
Ahhh, bagaimana cara menghadapi badak gila ini?
"Maaf, maaf, aku sudah ingat."
Kabur secepat mungkin dari sana, Sara masuk kembali ke dalam rumah makan itu dan memesan makanan yang sama seperti yang dimakannya tadi.
"Sara, kau kembali lagi?"
Kenneth mengejutkannya.
"Haha, suamiku ingin makan ini." Ia menunjuk pada lembar menu.
Kenneth menatap intens wajah yang sumringah itu dan ada rasa tidak suka dalam dirinya melihat senyum Sara.
"Kenapa kau yang datang beli?"
"Dia sedang tidak enak badan."
Meski merasa ada yang mengganjal di hatinya, Kenneth memaksakan untuk tersenyum. "Kita akan bertemu lagi, Sara. Sampai jumpa."
"Eh? Ya, sampai jumpa. Terima kasih atas makanan tadi."
***
"Kenapa lama sekali? Apa kau kembali berselingkuh dengan brengsekk idiot itu? Kau mau mati?!"
Sara memutar bola matanya jengah, seperti apa sifat Max yang sebenarnya. Kadang waras dan kadang seperti orang gila yang kehilangan sandal jepit.
Perubahan-perubahan mood pria itu membuatnya sedikit kesal, namun tetap menjaga bibirnya tetap tersenyum.
"Mereka perlu memasak lagi, Sayang. Aku membeli sedikit lebih banyak, mungkin kau akan menyukainya dan minta tambah," elaknya menutupi fakta bahwa dia sempat berbincang dengan Kenneth.
"Kau ingin membuatku jadi pria buncit dan berbentuk bola, huh?! Rupanya kau benar-benar cari mati, cepat berikan aku makanannya!"
Senyum sinis di bibir Sara terukir ketika Max mengecap makanan yang dibelinya. Satu suapan saja sudah disemburkan keluar oleh Max.
"Kau ingin membunuhku dengan barang pedas ini?! Buang semua!"
Sara menahan tawa, dia sengaja menjebak Max dengan makanan pedas.
"Maaf, Sayang. Memang seperti itu makanannya."
"Membodohiku? Mendekat ke sini!"
Max terus memerintah dan marah-marah tidak jelas, dan dengan enggan Sara mendekat ke kursi kemudi Max.
"Lebih dekat lagi!"
Karena tidak bisa menahan keseimbangan saat Max membentaknya, Sara terhuyung.
"Tidak tahu malu! Kau sudah berselingkuh dan masih menciumku, huh? Lepaskan tanganmu!"
Saat Sara melepaskan cengkramannya di bahu Max, tangan pria itu kembali menariknya.
"Beraninya kau menarik kembali tanganmu?! Apa kau sudah bosan punya tangan?!"
Aaaa .... Apa yang kau inginkan badak gila? Mulut dan tubuhmu berkata lain!
"Hahaha, maaf, Sayang. Aku tidak akan menariknya lagi."
"Terlalu naif, tarik tanganmu!" Max menghempaskan tangan Sara.
Gila, tengik, brengsekkk!! Apa maumu?! Kau tidak tahu malu sekarang? Sangat suka menyiksaku, huhuhu. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kemarahan dan kegilaannya sudah mencapai level kritis!
"Sayang, kalau kau tidak mau memakannya, aku akan menghabiskannya, ok?"
Sara sudah bersiap-siap memakan sebelum Max menarik tangannya dan memasukkan makanan itu ke mulutnya.
"Kau akan mati kalau berani makan makanan milikku! Suapi aku!"
Sara terus menggerutu dalam hatinya. Tetapi bibir dan tangannya memaksa bekerja sama. Ia menyuapi Max.
"Kau menyetirlah, aku akan menyuapimu."
Salah lagi, Max mendelik ke arahnya. Ia meringis.
"Kau benar-benar ingin membunuhku? Bagaimana kalau aku tidak fokus dan kita kecelakaan? Banyak hal yang belum ku lakukan, aku tidak akan mati untuk sementara waktu."
Perempuan itu menghembuskan napasnya gusar, namun tetap pelan takut mengganggu emosi pria gila di sampingnya itu.
"Kau benar, maafkan aku."
Sara membersihkan kemudi yang kotor oleh semburan makanan dari mulut Max dan satu tangannya menyuapi Max sampai makanan itu habis.
Tidak diragukan lagi, dia benar-benar istimewa dalam berkata dan bertindak. Seperti roda yang berputar, tak pernah bertemu setiap jari-jarinya.
"Terima kasih," ucap Max tulus setelah ia meneguk sebotol air mineral.
"Hah?!"
Sara tersentak kaget, sejak kapan pria itu berhenti marah karena setahunya dari awal sampai akhir ia menyuapi, mulut Max terus berkomat-kamit, mengumpat dan meremehkan dirinya.
"Kau tuli?"
Huft, mulai lagi!
"Haha, aku mendengarnya, Sayang. Maaf."
Dengan mata yang tak berkedip, Max menatap dalam manik cokelat itu.
"Aku tidak suka kau dekat dengan pria jelek itu."
"Kenapa? Apa kau cemburu?"
Sara tergelak membayangkan jika apa yang diucapkannya adalah kenyataan.
"Kau tertawa? Panggil aku sayang dan cium aku!"
Sontak perempuan itu menghentikan tawanya. Ia melirik ke arah Max dan pria itu benar-benar serius dengan perkataannya.
Aku menyesal telah mengatakan itu, tolong aku, Tuhan. Dia berubah jadi zombie yang menakutkan.
Sara berdehem untuk menetralkan degup jantungnya yang mulai bertalu-talu. "Apa kau demam? Kenapa kau berubah begitu cepat?"
"Kau gila? Jangan menyentuhku dengan ekspresi seperti itu!"
Kambuh lagi!
Sara cepat-cepat menarik tangannya.
"Apa kau ingin aku terus marah-marah dan depresi melihatmu tertawa bersama pria jelek itu, huh? Lakukan perintahku tadi!"
Sedikit takut, Sara mengecup pipi Max. Rendahkan ego ini terlebih dahulu, menenangkan iblis di dalam dirinya yang paling utama.
"Jangan marah lagi, oke? Sekalipun banyak pria tampan di luar sana yang mengamatiku, hanya kau suamiku seorang. Pria paling baik dan paling tampan sedunia."
Tuhan, bagaimana mungkin aku mengatakan kalimat memalukan dan tidak masuk akal seperti itu? Sial, aku benar-benar sudah gila.
Bukannya membaik, ruapanya emosi Max bertambah. "Ini yang menjadi alasanku tidak membiarkanmu keluar rumah! Mulai sekarang kau tidak boleh keluar dari kamar, makan di kamar dan beraktifitas di sana, bahkan pelayan di rumah tidak boleh melihatmu apalagi seorang pria seperti Adrian."
Bahkan kau cemburu pada pelayan? Apa masuk akal?
"Kau bilang apa tadi? Banyak pria mengamatimu? Sudah bosan hidup ya? Siapa mereka? Aku akan membunuhnya!"
Aaaawwww ..., kau benar-benar pria pecemburu level akut, Max.
.
.
.
***