NovelToon NovelToon
Mr. Costra

Mr. Costra

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:14.4M
Nilai: 5
Nama Author: DIANAZ

Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.


Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.


Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Camisole

Vivi mempercepat langkahnya ketika melihat mobil yang sudah dihidupkan di halaman depan mansion. Ia setengah berlari sambil tersenyum ingin menyapa laki-laki yang ia kira adalah pedro, yang terlihat ada di belakang kemudi.

Enrico yang menoleh dan melihat Vivianne segera membuka pintu dan turun dari belakang kemudi, seketika langkah Vivi berhenti tiba-tiba, matanya melotot dengan raut wajah sangat terkejut. Pria yang mengenakan kemeja abu-abu muda dan memakai kacamata hitam untuk menutupi kedua matanya tersebut adalah tuan Enrico.

"Tuan!" cetusnya keras-keras.

Enrico tersenyum, menatap Vivianne dari atas hingga ke bawah. Berhenti pada sepasang sepatu yang dipakai Vivianne. Sepatu yang ia hadiahkan untuk gadis itu. Dengan perasaan amat senang, ia kemudian memutari mobil untuk membuka pintu bagian penumpang.

"Ayo masuk. Kita berangkat agar tugas dari Bibi cepat selesai," ucapnya.

Vivi tidak bergerak, matanya menatap Enrico dari helaian rambutnya yang hitam, lalu ke matanya yang ditutupi kacamata gelap, terus sampai ke sepatu yang pria itu kenakan.

"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Enrico dengan kedua alis terangkat.

Vivianne menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, seolah mencari keberadaan seseorang.

"I--itu ...."

Enrico menunggu dengan sabar, gadis itu belum beranjak dari tempatnya berdiri, matanya mencari-cari keberadaan orang lain selain mereka yang mungkin ada di halaman.

"Di mana Paman Pedro?" tanya Vivianne.

"Pedro?"

"Iya. Kenapa malah Anda yang ada di sini?"

Enrico mengangkat kedua bahunya dan menjawab. "Karena aku dapat tugas dari Bibi Olivia ... jika ingin cepat berangkat, masuk dan duduklah, Vivianne."

"Tapi ... tapi seharusnya Pedro yang mengantarku." Vivianne masih belum bergerak.

"Pedro banyak pekerjaan, sedangkan aku hari ini tidak punya pekerjaan. Kau mau naik sendiri, atau mau kugendong dan kumasukkan ke dalam mobil?"

Mata Vivianne terbeliak lebar, ia menatap wajah Enrico, namun tidak dapat menebak apakah atasan sepupunya itu serius atau hanya bergurau dengan ucapannya barusan. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya menyembunyikan kilau geli yang terpancar di mata Enrico.

Tidak ingin menguji kebenaran kata-kata Enrico, Vivianne akhirnya bergerak dan melangkah menuju mobil. Setelah ia duduk dengan posisi nyaman, Enrico menutup pintunya dan berjalan untuk kembali duduk di belakang kemudi.

"Kita pergi," ucap Enrico sambil melirik ke arah Vivianne yang tengah mengenakan sabuk pengaman.

Setelah beberapa menit berkendara, Vivianne hanya dapat menatap lahan anggur di kiri dan kanannya. Ia mengernyit, merasa kalau jalan yang mereka tempuh, bukan jalan yang biasa dipakai untuk menuju Desa Costra Land. Namun Vivianne menahan mulutnya untuk berkomentar, ia sungguh tidak ingin memulai pembicaraan dengan tuan Enrico.

Setelah berlanjut bermenit-menit kemudian dalam keheningan, Vivianne merasa benar-benar yakin kalau mereka tidak menuju ke Desa Costra Land. Ia menolehkan kepalanya dan bertanya dengan memicingkan mata.

"Tuan," panggil Vivianne.

"Ya?" Enrico tidak menoleh, ia terus mengemudi tanpa memandang ke wajah Vivi yang mulai berkerut.

"Ini bukan jalan menuju Costra Land," ungkap Vivi dengan nada menuduh.

"Siapa yang mengatakan kalau kita akan ke Costra Land?" tanya Enrico sambil tertawa kecil, "apakah Bibi Olivia yang mengatakannya?"

Vivianne terdiam, ia teringat kalau bibi Olivia memang cuma menyuruhnya membantu membeli beberapa peralatan yang ia butuhkan tanpa menyebutkan dimana ia harus membeli peralatan tersebut. Karena hanya Desa Costra Land yang terdekat dengan mansion, Vivi mengira di sanalah ia akan membelinya.

"Kita akan mencari semua kebutuhan yang ingin Bibi beli di Kota Woodsky, tidak sampai satu jam lagi. Ada sesuatu yang juga ingin kucari di sana," jelas Enrico sambil melirik ke arah wajah Vivianne yang berkerut.

"Jangan cemberut, aku akan mengajakmu sekalian berjalan-jalan, melihat-lihat hal menarik di Woodsky," ucap Enrico dengan nada membujuk.

Vivianne tidak menanggapi, ia lalu teringat pada daftar barang yang ingin dibeli oleh bibi Olivia. Vivi merogoh kantongnya lalu mengeluarkan kertas terlipat dari dalam kantong.

"Ini daftar barang yang Bibi Oliv inginkan."

"Sebutkan satu-satu, jadi aku tahu toko siapa yang akan kita kunjungi nanti."

"Mmm ... akan saya kelompokkan dulu ... pertama, benih bibit bunga Marigold dan krisan, lalu pupuk, media tanah untuk pot dan juga pot bunga ukuran sedang. Kurasa ini bisa dicari di satu toko."

"Hmm ... kurasa tempat Lucretia pasti lengkap. Kita akan ke sana untuk membelinya, lalu ... apa lagi?"

"Sukade, keju, cokelat, sprinkle warna-warni, te ...."

"Toko makanan? Kue?" Enrico memotong ucapan Vivi.

Vivi menggelengkan kepalanya. "Bukan ... toko bahan kue. Bahan-bahannya, bukan toko yang sudah menjual kue jadi," jelas Vivi.

Enrico menganggukkan kepalanya sambil berucap, "Bahan kue ... kurasa kita bisa mengunjungi Carina. Seterusnya ... apalagi yang Bibi Oliv tulis?"

"Topi jerami, kacamata gelap ...."

"Kita akan mengunjungi Miss Alicia untuk itu. Dia punya banyak koleksi. Apalagi?"

Tanpa sadar Vivianne mengulangi dalam hati nama-nama yang disebutkan oleh Enrico.

Lucretia, Carina, Miss Alicia ... semua nama wanita ... itu nama tokonya atau nama pemiliknya?Atau pemilik sekaligus nama toko? Atau pelayan tokonya? Penjaga toko? Vivi sibuk mengira-ngira dalam hati.

"Vivi? Apalagi yang ditulis Bibi oliv?" Enrico melirik ke arah Vivi yang mengerucutkan bibir sambil menatap ke arah depan.

"Oh! ah ... emmm ...." Vivi menunduk dan membaca lagi daftar yang ada di tangannya, tapi ia mengernyit setelah membaca.

"Majalah BadBoy Rabbit?" Vivi mengeja dengan nada bertanya.

Enrico seketika tertawa, "ya, ya ... aku tahu apa itu. Lorenza pasti punya," ucapnya.

Lorenza ...

Vivianne kembali mengejanya di dalam hati setelah Enrico menyebut satu lagi nama wanita.

"Baju hangat, syal, sandal kamar ... masing-masing tiga dengan warna sama, ukuran extralarge 1 sisanya ukuran large ...." Vivianne mengernyit lagi, untuk apa Bibi Olive butuh baju hangat sampai tiga? pikirnya heran. Namun ia tidak menyuarakannya.

"Apakah itu yang terakhir ada di daftar?"

"Ya."

"Baiklah ... untuk benda-benda yang kau sebutkan terakhir, kita akan ke tempat Adelle."

Vivianne mengembuskan napas panjang. Lucretia, Carina, Miss alicia, Lorenza dan terakhir ... Adelle ... hebat sekali, ia hapal namanya. Sudah jadi langganan tetap, atau memang pernah berhubungan dengannya sejak dulu?

"Apakah ada yang ingin kau beli juga, Vivi?" tanya Enrico setelah melihat Vivi yang kembali diam.

"Tidak. Kalaupun ada, saya akan mencari sendiri di sana nanti."

"Kenapa? Aku tahu beberapa tempat yang bagus bila membutuhkan benda atau barang-barang tertentu. Katakan saja kau mau membeli apa."

Tanpa sadar Vivi tertawa meski terdengar datar dan tidak merdu sama sekali. "Tentu saja, saya sangat yakin tentang hal itu, Tuan. Anda tahu pasti harus mencarinya di tempat siapa. Bukankah begitu?"

Enrico melirik sambil menaikkan alisnya, merasa sedikit heran dengan nada suara Vivi.

"Coba saja katakan apa benda itu dan kita lihat apa aku tahu harus mencarinya di tempat siapa."

Vivi jadi merasa ingin tahu apa benar pria di sebelahnya ini punya tempat favorit tertentu setiap ingin membeli sesuatu di kota tersebut. Bagaimana dengan sesuatu yang berbau sangat wanita dan sedikit feminim, tapi tentu saja bukan sekedar gaun atau perhiasan, karena benda-benda itu tentu saja sering dibeli oleh pria tersebut untuk para wanitanya. Bagaimana dengan benda yang sangat pribadi? Apa iya pria itu juga punya tempat khusus? Yang berarti ia pernah membelinya juga untuk para wanita-wanita itu. Meski ia ingin sekali menguji apa iya pria itu juga pernah memberikan benda pribadi seperti itu, Vivi memilih bertanya dengan benda yang menurutnya tidak terlalu mencolok meski masih dalam satu golongan.

"Bagaimana dengan kamisol ... bustier ... Anda tahu saya harus mencarinya di toko siapa?" tanya Vivi dengan nada datar.

Dibalik kacamata hitamnya, Enrico melirik lagi ke wajah Vivianne. Tidak tersirat apapun di wajah manis itu, tapi entah kenapa ia merasa seperti telah melakukan kesalahan, dan pertanyaan terakhir dari gadis mungil di sebelahnya ini terasa seperti ujian baginya. Jika ia menjawab salah, Enrico merasa ia akan membuat satu langkah mundur bukannya maju untuk mendekati gadis itu.

**********

From Author,

Akhirnya bisa up satu chapter lagi. Maafkan ya, lelet.

Semoga berkenan tetap ngasih like, komentar, favorit, bintang lima dan Votenya untuk Mr. Costra.

Untuk dukungannya, author ucapkan terima kasih.

Sa****lam hangat, DIANAZ.

1
MoonChild7
entah kebarapa kali baca Mr.Costra dan selalu jatuh cinta sm playboy yg satu ini 😍😍😍
Tikus Tikus
engga bosen bacanya...sudah berulang kali bacanya ...
MPit Mpit MPit
aku mau seneng novel kaya ginih sat set sat set gak belibed..tp maniiiiis ih dr awal
MPit Mpit MPit
manissss ih
MPit Mpit MPit
kok maniiiis amat yah bab inih 😄
destiana
Luar biasa
Puspa Ayundari
hhhhhhh gue suka gaya loe ,tuan rico...
Ran Aulia
Luar biasa, te o pe banged kak , berasa nonton film romance ❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Kios Flio
omo omo...😅🤣🤣🤣🤣 ngakak thorr....
Qiao Jingjing
Dari banyaknya novel, menurutku novel ini sangat pantas diberi rating bintang ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.
YuWie
agak2 bingung dengan nama2nya
Besse Sulfiani
Kapan ada karya barunya kk. aku udh bolak balik bacanya. udh gk terhitung. jatuh cinta dengan semua ceritanya yang berlatar LN. semoga sehat, semangat dan dimudahkan rejekinya 🤲
posutara ramli ramli
Luar biasa
Fatmawatiiska Fatmawatiiska
kk dianaz,kenapa karya ngak ada lagi,ada dilapak lainnya,ini udah kesekian kalinya aku baca yg ini kk,kayak nya udah lama aku ninggalin lapak ini,pertama buka maka nama dianaz di klik, berharap ada karya yang baru,tapi Taka ada😚😚😚
Yuli Yuliana
Kecewa
Ummu Shezan
Luar biasa
guest1053764442
udah baca yg k 2 kali 🤗🤗
🥑⃟вуυηgαяι
ah rsany blm pen brhenti baca 😩😩 ada kh sekuelny😅🙈
🥑⃟вуυηgαяι
ah manizzzz kek gula2
🥑⃟вуυηgαяι
asli bkin ngekek 😅😅🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!