NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu lagi

Hujan turun semakin deras ketika bel pulang sekolah berbunyi terlambat karena cuaca. Anggi berdiri di halte dengan tas yang mulai basah, rambutnya menempel di dahi.

Bus yang biasa ia tumpangi sudah lewat atau mungkin dibatalkan. Ia menoleh ke kiri dan kanan, berharap keajaiban kecil, tapi jalanan hanya dipenuhi lampu rem dan air yang memercik.

“Bagus,” gumamnya kesal.

Dari kejauhan, Dara melihat sosok itu.

Seorang gadis berseragam sekolah abu - abu, berdiri kaku di halte, tasnya sudah basah, rambutnya menempel di dahi. Kecil. Terlalu sendirian untuk hujan sebesar itu.

Kaki Dara refleks mengendur di pedal gas.

Ia hampir saja melaju.

Hujan, halte, anak sekolah bukan urusannya. Ia sudah terlalu lama belajar untuk tidak mencampuri hal-hal yang bukan bagiannya. Dunia tidak memberi poin tambahan pada orang yang berhenti.

Dara menghela napas pendek. Jemarinya mengetuk setir sekali seperti menimbang keputusan yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya.

“Sebentar saja,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Mobil merah itu melambat, lalu berhenti.

Bukan karena rasa iba.

Bukan karena ingin dipuji.

Hanya karena Dara tahu rasanya berdiri sendirian, menunggu sesuatu yang tidak datang, sementara hujan terus turun seolah tidak peduli.

Padahal dulu, ketika ia masih bernama Zizi, gadis itu tidak pernah benar-benar melihatnya.

Zizi hanya ada saat disuruh. Mengambilkan. Mengantar. Menunggu. Nada suara yang kasar, perintah yang tidak pernah disertai terima kasih, semuanya masih tersimpan rapi di sudut ingatan Dara. Ia ingat bagaimana Anggi pernah membentaknya hanya karena minuman datang terlambat. Bagaimana ia pernah berdiri mematung, menahan malu, menelan kata-kata agar rumah tetap “tenang”.

Beberapa menit berlalu.

Hujan tidak juga reda, justru makin rapat, seperti tirai yang diturunkan langit tanpa niat dibuka kembali. Anggi bergeser mendekat ke tiang halte, menekuk bahu, menahan dingin yang merayap perlahan ke tulang.

Ia menoleh ke jam tangannya.

Terlambat.

Sekian detik kemudian, sebuah mobil merah muncul dari balik tirai air, menepi dengan gerakan tenang, seolah memang ditakdirkan berhenti di titik itu.

Mobil mengilap. Terlalu mewah untuk sekadar menepi. Kaca jendela turun, dan seorang perempuan dengan rambut pendek rapi menatapnya.

Dara memandang gadis di halte itu sekali lagi. Anggi, lebih kurus dari ingatannya, lebih muda, dan untuk sesaat...terlihat rapuh.

Ia bisa saja pergi. Ia punya semua alasan. Namun justru karena ia ingat rasanya diperlakukan kasar tanpa alasan, Dara membuka pintu jendela sedikit dan memanggil dengan suara tenang.

“Kamu mau ke mana?” suaranya tenang, tidak memaksa. Bukan suara Zizi yang dulu ragu. Bukan suara yang meminta diterima. Ini suara Dara, yang memilih menolong bukan karena kewajiban, melainkan karena ia sudah selesai membiarkan masa lalu menentukan siapa dirinya hari ini.

Anggi ragu dan seperti tak salah melihat. Seragamnya basah, sepatu sudah menyerah. Ia menyebutkan alamat dengan suara kecil.

“Masuk,” kata perempuan itu singkat. “Hujannya tidak akan menunggu.”

Di dalam mobil, kehangatan langsung menyelimuti. Anggi menatap interiornya dengan mata membulat—kulit halus, aroma bersih, dashboard yang bahkan kakaknya tak pernah punya. Kak Arman saja tidak sanggup beli mobil seperti ini, pikirnya, kagum.

“Mobilnya keren,” celetuk Anggi, jujur.

Perempuan itu tersenyum tipis. “Ia hanya alat.”

Di dalam mobil, suara hujan memukul kaca dengan ritme pelan. Lampu kota memantul di bodi merah mengilap, membuat Anggi sesekali melirik ke luar jendela, lalu ke dashboard, lalu ke wajah Dara di balik kemudi.

Jantung Anggi berdegup.

Dia mengenalnya.

Itu wajah yang pernah berdiri di sampingnya di kasir mall, ketika ia panik karena dompet tertinggal. Wajah yang sama yang kini memenuhi layar televisi hampir setiap malam.

Dia kan… CEO yang lagi viral itu… gumam Anggi dalam hati.

Mobil merah itu melaju mulus, terlalu sunyi untuk pikirannya yang ribut.

“Kita bertemu lagi,” ucap Anggi akhirnya, ragu tapi yakin.

Perempuan itu melirik sekilas. Singkat. Datar. “Aku tidak ingat,” jawabnya tenang, tanpa nada bersalah, seolah pertemuan manusia memang tidak selalu layak disimpan.

Anggi terdiam. Bukan karena tersinggung. Justru karena cara kalimat itu diucapkan, dingin, bersih, dan berjarak, membuatnya sadar satu hal aneh: jika ini benar orang yang sama…maka yang di hadapannya bukan lagi perempuan yang dulu mudah mengingat, melainkan seseorang yang memilih apa yang pantas dikenang.

“Aku punya utang ke kamu,” ucap Anggi akhirnya, ragu tapi jujur.

Dara tidak langsung menoleh. Tangannya mantap di setir. “Utang apa?”

“Yang di mall itu. Dan sekarang ini.” Anggi tersenyum kecil. “Aku nggak pernah dibantu orang asing dua kali.”

Dara melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Lupakan.”

Anggi mengernyit. “Serius?”

“Serius.” Nada Dara datar, tanpa beban. “Tidak semua bantuan perlu dibalas.”

Mobil melaju perlahan. Wiper bergerak teratur.

Anggi mengangguk, meski masih merasa ada ganjalan. “Tapi… kakak baik banget.”

Dara tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Aku hanya tidak suka melihat orang kecil berdiri sendirian di situasi yang tidak adil.”

Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Anggi diam.

Ia menatap lagi interior mobil yang rapi, tenang, dan terlalu mahal untuk ukuran seseorang yang bersikap seolah tidak peduli.

“Nama kakak Dara, kan?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Terima kasih,” ucap Anggi sungguh-sungguh.

Dara mengangguk kecil. “Sama-sama.”

"Ini kemana lagi ?" Dara bertanya hal alamat.

"Ke jln. Perak Indah."

Dara mengangguk singkat ketika Anggi menyebutkan alamatnya. Tangannya beralih ke setir, lampu sein menyala, dan mobil merah itu kembali melaju menembus hujan. Tidak ada jeda. Tidak ada reaksi Berlebihan. Seolah alamat itu hanyalah satu dari sekian banyak titik di peta kota.

“Belok kiri di depan, Kak,” ujar Anggi ragu, matanya melirik ke dasbor mobil yang terasa seperti dunia lain baginya.

Dara menuruti tanpa komentar.

Setiap tikungan ia ambil dengan tenang, mengikuti petunjuk Anggi satu per satu. Tidak ada tanda pengenalan. Tidak ada jeda kecil yang bisa mengkhianati ingatan lama. Wajahnya tetap netral, fokus ke jalan basah di depan. Padahal setiap nama jalan yang disebut Anggi bukan hal baru baginya.

Ia pernah menghafalnya dengan cara lain, menunggu angkot, membawa belanjaan, pulang dengan langkah kecil agar tidak dianggap lambat. Namun sore ini, Dara menyimpannya rapat-rapat.

Di kursi penumpang, Anggi mulai percaya satu hal sederhana: perempuan ini benar-benar tidak tahu.

Dan Dara membiarkan anggapan itu hidup. Karena terkadang, berpura-pura tidak mengenal adalah bentuk kendali paling halus.

.

Pintu rumah terbuka tergesa.

“Ma—!”

Anggi hampir berlari masuk, sepatu masih basah, tas tergantung asal di bahu. Napasnya belum teratur, rambutnya lembap oleh hujan. Anggun yang sedang melipat pakaian di ruang keluarga tersentak, menoleh dengan dahi berkerut.

“Kenapa teriak-teriak begitu?” tegurnya.

Anggi berhenti di tengah ruangan. Matanya membulat, wajahnya campur aduk antara kagum dan panik. “Ma… aku ketemu Dara lagi.”

Anggun membeku.

“Dara?” ulangnya pelan, seolah nama itu tidak seharusnya ada di rumah mereka.

1
Kam1la
terimakasih....😍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo hadir kak🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🌹hadiah bwt kaka🤗
Kam1la: terimakasih....😍😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
👋
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak maaf bru mampir lagi🤗
Kam1la: ok Kak, semoga terhibur
total 1 replies
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!