Bagaimana jika kau mencintai anak angkatmu sendiri?
Begitulah yang tengah di rasakan oleh Maxwell. Ia adalah satu-satunya suami yang tak mengharapkan Istrinya hamil. Bahkan, saat wanita itu di harus menjalani operasi Rahim maka Maxwell-lah satu-satunya manusia kejam yang tak perduli.
Ia di paksa untuk mengangkat seorang anak untuk mengobati trauma Istrinya. Tapi, balita 4 tahun itu sangat menguji kesabaran Maxwell yang di buat hidup di dunia Fantasi dan Mitologi.
Bagaimana tidak? saat Mentari datang maka Bocah itu akan sama seperti anak pada umumnya. Ia berkeliaran membuat suara berisik memusingkan. tapi, di malam hari ia akan menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang arogan bahkan menyaingi sikap dinginnya.
Sosok yang begitu kasar dan selalu ingin membunuh membuat Maxwell hidup bagai di medan perang.
Mampukah Maxwell menundukan Sosok itu? atau ia terjebak dalam keputusan paksaan ini?
....
Tinggalkan Like, komen, Vote dan Giftnya ya say 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Maxwell!
Mentari di atas sana sudah naik sepenggalan tangan. Cahaya emasnya menembus di sela-sela dedaunan tebal Hutan yang menjadi saksi bisu keterkejutan Jirome yang mematung beku di depan Mobil menatap Tuannya yang sudah keluar dari ruangan pribadinya di Markas tapi membawa Evelyne kecil yang tampak masih tidur tapi mata abu itu sayu-sayu terbuka.
Dari mana Evelyne muncul? Kenapa bisa bersama Tuannya?
Jirome bertanya pada dirinya sendiri tapi ia tak berani mengungkapkan itu pada Maxwell yang sudah berjalan gagah melewatinya dengan Jas membungkus tubuh polos Evelyne.
"Kau ingin tinggal disini?!"
Seketika Jirome sadar dan segera membuka Pintu Mobil membiarkan Maxwell masuk kedalamnya sementara ia juga langsung duduk di kursi kemudi.
Para anggota mereka sama sekali tak terlihat di sekitar sini tapi jelas mereka tengah ada di tempat-tempatnya sendiri menatap ke arah Mobil Maxwell yang sudah mundur keluar area Lorong.
"Apa kita ke Kediaman? Tuan!"
"Hm."
Jirome tak lagi ragu memacu Mobil kembali menyusuri jalan yang pertama tadi mereka lalui. Sementara Evelyne masih nyaman di pangkuan hangat Maxwell yang memeriksa perban di lengannya.
Jauh di lubuk hati Maxwell ia lega karna kali ini Evelyne kecil tak terluka sama sekali. Bocah malang ini juga terlihat tak begitu kelelahan seperti biasanya.
"D..Dad!"
"Hm."
"Kita dimana?" tanya Evelyne merasa bingung dengan tempat ini. Ia menatap Hutan rimba yang tengah mengurung mereka dengan pandangan polos dan tak mengerti.
"Dimana Dad?"
"Kebun Binatang!" jawab Maxwell asal membiarkan Evelyne duduk di atas Pahanya.
Jas Maxwell yang ia pakai terlihat mengulum tubuh kecilnya. Tapi, Evelyne nyaman dengan pakaian ini apalagi aroma tubuh Maxwell yang maskulin bisa ia hirup dengan leluasa.
Bayangkan saja bocah 4 Tahun memakai Jas Pria dewasa sebesar itu. Jelas Evelyne hampir tak bisa bergerak tapi untung saja lengan Jas ini Maxwell gulung dengan lipatan yang rapi.
"Dad! Kenapa disini tak ada satu hewan apapun?"
"Mereka tidur," jawab Maxwell asal tapi Evelyne kecil masih bisa berpikir. Ini sudah pagi dan tak mungkin bagi hewan-hewan buas itu tidur atau bisa saja mereka tengah bersembunyi.
"Apa mereka takut pada Daddy?"
"Kau pikir wajahku semengerikan itu?" tanya Maxwell mengetuk kening mulus Evelyne dengan dua ujung jarinya.
Alhasil senyum di bibir mungil itu mekar langsung membelit leher kokoh Maxwell yang membiarkan Evelyne berdiri di pahanya.
Jirome yang melihat dari kaca spion hanya membisu karna semenjak Evelyne datang, jiwa dewasa dan kharisma seorang Ayah dari tubuh gagah Maxwell semakin memancar hebat.
"Dad!"
"Apa?" tanya Maxwell merapikan rambut Evelyne yang berantakan. Ia membiarkan kepala mungil itu bersandar ke dadanya dengan satu tangan menyangga pinggang mungil Evelyne agar tak jatuh.
Tanpa Maxwell sadari interaksi mereka persis seperti Ayah dan anak kandung yang begitu akrab.
"Leen lapar. Dad!"
"Lihat Paper-bag di sampingmu!" ucap Maxwell hingga Evelyne langsung turun dari pangkuannya menarik Paper-bag hitam yang terlihat penuh dengan Makanan ringan dan Ice Cream.
Mata abu Evelyne berbinar cerah mengambil Bungkusan Kue coklat yang terlihat sangat menggiurkan.
"Daddy yang menyiapkannya?"
"Tidak," jawab Maxwell hanya menatap kilas Evelyne tapi ia tak terkejut lagi jika kakinya langsung di jadikan ayunan bagi bocah ini.
Tubuhnya yang kecil muat di bawah sana dengan bokong duduk di atas sepatu Maxwell yang hanya membiarkan Evelyne melakukan apa yang ia suka.
"Jangan terlalu banyak. Gigimu bisa bolong."
"Leen makan sedikit," jawab Evelyne tapi jelas suapannya sangat besar. Ia makan sembunyi-sembunyi dengan mulut belepotan tanpa sepengetahuan Maxwell yang tengah bersandar ke Kursi Mobil dengan kedua mata terpejam.
Jirome yang melihat jika Evelyne makan Kue coklat begitu banyak langsung memelototinya dari kaca spion tapi Evelyne hanya mencengir kuda dengan tatapan memohon.
"Gigimu bisa sakit."
Evelyne menunjukan jari telunjuknya seakan mengatakan 'Hanya kali ini. Uncle!'
Alhasil Jirome diam kembali fokus menyetir. Mereka sudah melalui jalur pusat Kota dimana jalanan kembali ramai dengan pengendara lainnya.
Setelah beberapa lama Evelyne sudah menghabiskan Satu kotak kecil Kue Coklat dinginnya lalu dengan hati-hati bangkit kembali membuka Paper-bag di atas kursi.
Mulut dan tangan yang belepotan itu tak ia hiraukan karna sudah sangat ingin menelan satu Cup Ice Cream Strawberry yang kembali ia ambil dengan hati-hati takut Maxwell terjaga dari tidurnya.
"Daddy! Leen ambil Ice Cream, ya?" bisik Evelyne ingin kembali ke tempatnya tapi tiba-tiba Ponsel Maxwell langsung berdering.
Spontan Evelyne kembali meletakan benda itu ke atas kursi dengan gelagapan kembali duduk di Sepatu Maxwell yang langsung terbangun.
Ia mengusap wajahnya karna terasa sangat mengantuk.
"Dad! Ponselmu berbunyi!"
"Hm."
Maxwell mengeluarkan Ponselnya hingga tertera nama Sekertaris Ireein di sana. Ia mengangkat panggilan itu dengan mata terlempar ke luar jendela Mobil.
"Presdir! Tuan Marcello mencari anda di Perusahaan. Dia juga mengatakan jika anda harus segera ke Rumah Sakit Nona Violet."
Maxwell diam ingin mematikannya tapi tiba-tiba suara keras dan emosi seseorang langsung menyambar Ponsel itu.
"Maxwell!! Kau sudah sangat keterlaluan. Jika sampai hari ini kau tak datang aku benar-benar akan menghancurkan semua kenangan Ibumu!!"
Sontak wajah Maxwell mengeras langsung melempar Ponsel itu ke jendela Mobil di samping kirinya hampir mengenai Evelyne yang terkejut sampai langsung berdiri dari duduknya.
Nafas Maxwell memburu dengan darah mendidih tak terkendali sama sekali.
"D..Dad!"
Gemetar Evelyne diam di tempatnya. Maxwell berusaha menahan emosi yang tengah meluap-luap karna tak ingin menakuti Evelyne yang kali ini benar-benar terkejut padanya.
"Aku ingin membunuhnya," desis Maxwell meremas rambutnya sendiri. Terlihat jelas ia tertekan dengan keberadaan Tuan Marcello yang memanfaatkan Nama Mommynya untuk menekan ego Putranya.
Melihat Maxwell yang benar-benar terlihat frustasi dengan hasrat membunuhnya yang terus di tahan, Evelyne akhirnya menoleh pada Jirome yang menggeleng agar tak mengganggu Tuannya dulu.
"Hentikan Mobilnya!"
"Tuan kau.."
"HENTIKAN MOBILNYA!!" Bentak Maxwell hingga spontan Jirome menginjak rem hingga Ban ini berdecitan dengan Aspal panas ini.
Maxwell yang terlihat sudah kusut langsung menatap Jirome dengan pandangan penuh emosi. Seakan sudah paham akan pandangan ini, Jirome langsung menghubungi anggota mereka.
"Bawa Nona kecil kembali ke Kediaman!"
"Leen?" gumam Evelyne terkejut seraya menunjuk dirinya sendiri.
Ia beralih menatap wajah keras Maxwell yang sepertinya harus menindak keangkuhan Tua Bangka itu.
"Dad! Leen tak mau pergi."
"Jangan mencari masalah denganku lagi," tegas Maxwell tak ingin berbuat di luar batas. Ia mengambil Pistol di bawah Kursinya lalu keluar dari Mobil ini tanpa meninggalkan kata-kata yang lebih hangat.
Mobil anggota mereka sudah datang di belakang sana hingga Maxwell memasuki benda baja perkasa itu.
"Daaad!!" panggil Evelyne meloncat turun dari Mobil ini. Ia mengejar Mobil yang tadi sudah di masuki Maxwell tapi sayangnya benda itu sudah melaju kencang.
"Daaad!!! Daaaddy!!!"
Teriak Evelyne masih mengejarnya hingga Jirome langsung turun dari Mobil lalu mengejar Evelyne yang sampai jatuh ke aspal panas ini.
Jalanan yang tak lagi ramai membuat mereka bisa tenang apalagi Jack pasti sudah memantau mereka sedari tadi.
"Leen!"
"Daddy!! Daddyy hiks. Daddy!!" isak Evelyne terlihat benar-benar takut di tinggalkan.
Jirome menggendong tubuh mungil ini di tengah pemberontakan Evelyne yang masih meneriakkan Maxwell.
"Tuan hanya pergi sebentar. Tenanglah!"
"Tapi.. Tapi Daddy tengah marah. Dia marah. Uncle!" gumam Evelyne yang menganggap jika Maxwell marah padanya.
Jirome mengambil nafas dalam kembali membawa Evelyne ke arah Mobil walau harus menerima pukulan dari lengan mungil ini.
"Leen mau Daddy!! Leen mau Daddy!!!"
"Leen! Suasana hati Tuan tengah tak baik. Jangan menambah amarahnya. Hm?" bujuk Jirome tapi Evelyne diam sesaat memandangi kepergian Mobil tadi.
"Uncle! L..Leen janji tak akan membuat masalah tapi.. Tapi bawa Leen pada Daddy!"
"Jika ku bawa pulang dia juga tak akan tenang,"
Batin Jirome yang tak akan bisa mengendalikan Evelyne kecil. Apalagi ia juga tak ingin Tuannya melakukan hal yang akan membuat masalah besar nantinya.
"Leen janji akan menurut pada Uncle! Janji!"
"Jangan sampai Tuan tahu kau mengikutinya," tegas Jirome yang di angguki Evelyne. Seumur-umur baru kali ini Jirome harus mengkhianati titahan Tuannya.
..
Vote and Like Sayang..