Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat Presisi
Gavin menarik napas lega saat melihat belasan pasang mata bulat boneka kucingnya masih berkilau sempurna. Baginya melihat tutu balerina yang tidak lecet adalah sebuah pencapaian hidup.
Gavin membawa kardus itu ke rak khusus di sudut ruang kerja. Aruna mengekor, masih menahan tawa melihat pemandangan suaminya yang gagah tapi sangat protektif terhadap boneka berbulu.
Sini Mas, aku bantuin taruh. Yang baju pink taruh di tengah aja biar cantik," kata Aruna.
Gavin langsung menangkis tangan Aruna pelan, "Jangan, Runa! Tangan kamu baru saja menyentuh kantong belanjaan. Ada residu mikroplastik dan debu jalanan. Tolong gunakan sarung tangan katun atau minimal cuci tangan dengan sabun antiseptik selama dua puluh detik sebelum menyentuh bulu-bulu ini."
Aruna menggeleng-gelengkan kepala, "Iya, Iya, Bapak Auditor. Sudah steril nih!"
Gavin mulai mengeluarkan satu per satu bonekanya. Ia mengambil sebuah kuas kecil yang bulunya sangat halus, biasanya dipakai untuk membersihkan lensa kamera atau alat-alat make up mahal.
"Perhatikan Runa, cara membersihkan tutu balerina ini tidak boleh ditekan. Kamu harus menggunakan teknik swiping searah jarum jam untuk meminimalisir kerusakan serat tilenya. Jika ada debu membandel, kita gunakan kompresor udara tekanan rendah." kata Gavin sambil terus membersihkan boneka-boneka kucingnya.
"Mas, ini boneka kucing bukan komponen mesin pesawat! Masa pakai teknik swiping segala?" tanya Aruna heran.
"Preservasi itu penting, Sayang. Boneka ini adalah saksi bisu konsistensi saya dalam menjaga keteraturan. Lihat, posisinya harus menghadap tepat sembilan puluh derajat ke arah pintu masuk agar estetika ruangan tetap terjaga." kata Gavin lagi.
Setelah para kucing balerina kembali ke singgasananya, Gavin langsung beralih ke dapur. Belanjaan dari minimarket tadi masih tergeletak di atas meja. Ini adalah momen yang paling ditunggu Gavin: Restocking.
"Runa, tolong pisahkan barang berdasarkan wujud zatnya. Cairan di sebelah kanan, padatan di sebelah kiri." kata Gavin.
"Gavin, ini kecap sama saos sambal kan sama-sama cair, masa dipisah juga?" tanya Aruna.
"Tentu dong, Sayang. Saos sambel memiliki viskositas yang lebih tinggi. Kita urutan berdasarkan tinggi kemasan. Dari yang paling jangkung dipojok kiri, sampai yang paling cebol di pojok kanan,' jelas Gavin.
Aruna hanya bisa menonton saat Gavin mulai memasukan kaleng sarden dengan label yang semuanya menghadap ke depan secara sempurna. Tidak ada satupun kaleng yang posisinya miring satu milimeter pun.
"Mas, kalau aku mau ambil garam, terus posisinya geser dikit, aku bakal kena denda nggak?" tanya Aruna.
Gavin tersenyum tipis tanpa menoleh, "Tidak ada denda, tapi kamu wajib melakukan reposisi sesuai koordinat semula. Hidup yang teratur akan mengurangi beban kognitif otak kita saat mencari bumbu dapur, Runa."
Sambil memeluk Gavin dari belakang, Aruna berkata, "Iya deh. Tapi Mas, meskipun kamu gila aturan begini, aku senang karena rumah kita jadi kayak katalog majalah tiap hari. Rapi banget!"
"Itu tujuannya, biar kamu lebih fokus mencintai saya tanpa perlu pusing mencari dimana pembuka kaleng." kata Gavin.
Gavin menutup kembali lemari dapur dengan bunyi klik yang memuaskan. Semua barang kini berdiri sejajar seperti barisan prajurit yang siap diinspeksi.
*******
Malam minggu pertama sebagai suami isteri biasanya identik dengan makan malam romantis di luar, tapi bagi Gavin Adnan, malam minggu adalah waktu yang tepat untuk melakukan "Audit Hiburan akhir pekan"
Di ruang tengah Gavin sudah berdiri tegak dengan laptop di pangkuannya. Aruna datang denga membawa semangkok popcorn yang tentunya sudah dipastikan Gavin tidak menggunakan mentega berlebih agar tidak mengotori kain sofa.
"Mas, yuk ah! Katanya mau nonton film. Aku udah siap nih, mau yang romance atau horor?" kata Aruna.
"Sebentar, Runa. Saya sudah melakukan kurasi terhadap lima film yang sedang tranding . Berdasarkan data IMDb, saya telah mengeliminasi film dengan rating di bawah tujuh koma lima untuk menghindari pemborosan waktu pada konten yang tidak berkualitas." kata Gavin.
Gavin memutar layar laptopnya ke arah Aruna. Di sana ada tabel excel (lagi) dengan kolom: judul, durasi, rating dan lot twist probability.
Aruna menepuk jidatnya, "Ya ampun.... Mas, mau nonton film aja seleksinya ketat banget kayak mau masuk CPNS. Pilih satu aja yang seru!"
"Saya sudah memutuskan kita menonton film aksi ini, durasinya seratus lima puluh menit. Namun, karena besok pagi pukul enam kita harus kembali ke rutinitas operasional, kamu ke toko dan saya ke kantor, saya telah membagi durasi nonton menjadi tiga segmen." kata Gavin lagi.
Aruna bengong, "Hah? Maksudnya dibagi-bagi gimana?"
"Segmen satu, lima puluh menit pertama untuk pengenalan karakter. Lalu jeda lima menit untuk peregangan otot dan hidrasi. Segmen dua lima puluh menit menuju konflik utama. Dan segmen tiga, penyelesaian. Dengan sistem ini, kita akan selesai tepat pukul dua puluh dua, memberikan waktu tiga puluh menit untuk proses shutdown tubuh sebelum tidur". kata Gavin panjang lebar. Yang sudah memakan waktu beberapa menit, ya kan?
Aruna ketawa, "Mas, kalau filmnya lagi seru terus tiba-tiba distop buat peregangan otot, yang ada aku emosi, bukan rileks!"
"Emosi yang tidak terencana, akan meningkatkan detak jantung, Runa. Itu tidak efisien untuk jadwal tidur. Mari kita mulai, kita pilih film komedi drama ini saja, ya?' jawab Gavin.
Sambil menonton mereka sesekali mengobrol soal rencana besok pagi. Aruna sudah membayangkan toko aksesorisnya yang pasti agak berdebu setelah ditinggal libur nikah.
"Besok aku buka toko jam sembilan Kayaknya aku harus datang lebih pagi buat beres-beres stok bros sama kalung yang baru dateng" kata Aruna.
"Toko aksesoris kamu letaknya hanya delapan ratus meter dari sini. Secara perhitungan lalu lintas, kamu harus berangkat pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Jika kamu berangkat terlalu pagi, penggunaan listrik untuk lampu toko sebelum jam operasional adalah pemborosan energi yang tidak perlu." kata Gavin.
"Iya, Pak Manager. Kalau Mas sendiri, gimana? Besok ada audit besar?" tanya Aruna.
"Besok saya ada rekonsiliasi data di kantor pusat. Saya sudah menyiapkan jas, dasi dan kaus kaki yang warnanya sudah saya koordinasikan dengan cuaca besok yang diprediksi berawan. Sarapan kita besok adalah oatmeal instan, waktu pembuatannya hanya tiga menit." kata Gavin lagi.
Aruna menyandarkan kepala di bahu Gavin, "Semuanya sudah diatur ya Hebat deh suamiku. Tapi Mas, besok kalau aku lagi sibuk di toko, jangan tiba-tiba sidak buat ngitung jumlah mutiara di dalam laci aku ya?"
Gavin tersenyum tipis sambil merangkul Aruna, "Selama jumlah mutiara itu tidak mempengaruhi neraca keuangan rumah tangga kita, Saya akan berusaha menahan diri, Runa. Tapi Saya tidak janji kalau melihat label harganya miring satu derajat".
Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala. Malam minggu mereka tutup tepat pukul sepuluh malam. Tidak ada nego, tidak ada tambahan durasi. Gavin mematikan TV tepat saat Credit scene film baru saja muncul.
"Waktunya regenerasi sel," ujar Gavin sambil menuntun Aruna ke kamar. Benar-benar hidup yang sangat presisi.
Bersambung....