Alma Fatara, gadis sakti yang muda belia, kini menjelma menjadi Ratu Siluman, pendekar cantik jelita yang memimpin satu pasukan pendekar sakti dan besar.
Berbekal senjata pusaka yang bernama Bola Hitam, Alma Fatara langlang buana demi mencari kejelasan siapa sebenarnya kedua orangtuanya.
Sejumlah kedudukan istimewa sudah dia raih di usia belia itu, menjadikannya sebagai pendekar muda yang fenomenal, disegani sesama pendekar aliran putih dan membuat pendekar jahat ketar-ketir, ditaksir banyak pemuda dan dihormati oleh pendekar tua.
Kali ini, Alma Fatara akan menghadapi dua kerajaan besar dan melawan orang yang tidak terkaalahkan. Petunjuk yang mengarahkan mendekati orangtuanya semakin terbuka satu demi satu.
Sampai di manakah kemampuan Alma Fatara dalam perjalanannya kali ini? Temukan jawabannya hanya di novel “Alma3 Ratu Siluman”.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akarmani 31: Bebasnya Para Pejabat
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Ternyata, orang yang mendekam di sel penjara di sisi kanan adalah seorang lelaki bertubuh pendek dan kekar. Rupanya model belenggunya agak berbeda dengan borgol yang memasung Pangeran Bugar Jantung.
Belenggu yang memasung kedua tangan lelaki berusia separuh abad lebih tiga belas tahun itu memiliki gigi yang menusuk pergelangan tangan, sehingga setelah dibelah oleh Golok Setia milik Debur Angkara, borgol itu masih perlu dicabut dari tancapannya di pergelangan.
Lelaki berambut gondrong dan gimbal yang juga bau itu mengenakan pakaian oranye, sama seperti yang dikenakan oleh Pangeran Berat Jantung.
Orang itu mengaku bernama Ki Tonjok Gila, seorang pendekar dari luar Istana, pernah menjadi penjahat yang meresahkan tujuh tahun yang lalu. Belenggu besi biasa masih bisa dia hancurkan dengan kesaktiannya. Jadi, urat-urat pada pergelangan tangannya dirusak untuk mencegahnya bisa mengeluarkan kesaktian tinjunya yang bisa merusak belenggu. Dengan rusaknya jaringan urat syaraf dan darah di pergelangan tangan, membuat Ki Tonjok Gila tidak bisa bertinju lagi.
“Ayo kita keluar, setelah itu kita cari makan,” kata Pangeran Bugar Jantung.
“Kok cari macan, Gusti? Kita selang (sedang) parang (perang), kita harus langsung bersarung (bertarung),” kata Ayu Wicara protes.
“Kau menurut saja. Aku yang memimpin. Aku tidak sudi satu sarung denganmu meskipun kau cantik,” kata Pangeran Berat Jantung kepada Ayu Wicara.
“Ih, Gusti. Hihihi! Benar aku memang lentik (cantik), tetapi mana sudi aku satu sarung dengan, Gusti. Hihihi! Buntung (burung) Gusti pasti sudah lama mati sudi (suri). Hihihi!” kata Ayu Wicara sambil tertawa cekikikan malu-malu.
“Hahahak!” tawa terbahak Ki Tinju Gila.
“Ayu, kau jangan banyak bicara, membuat Gusti Pangeran bingung saja,” kata Debur Angkara.
“Iya, iya,” jawab Ayu Wicara.
Maka keempat orang itupun meninggalkan sudut penjara tersebut dengan berpenerang satu obor.
Saat mereka menyusuri lorong penjara yang cukup panjang dan melalui banyak sel-sel gelap yang kosong, tiba-tiba ....
“Siapa itu?” tanya satu suara dari dalam sebuah sel yang hendak mereka lalui.
“Kalian bukan prajruit penjara,” kata suara lain, menunjukkan orang di dalam sel bukan hanya satu orang.
“Itu seperti Pangeran Bugar Jantung,” kata suara lain lebih pelan.
“Siapa kalian di dalam penjara?” tanya Pangeran Bugar Jantung dengan nada agak tinggi.
“Gusti Pangeran!”
“Gusti Pangeran!”
Orang-orang di dalam kegelapan penjara memanggil-manggil. Terdengar suara rantai besar yang bergeser dan saling berbenturan.
Debur Angkara lalu mendekatkan obornya ke teralis penjara. Maka terlihatlah tiga orang lelaki di dalam satu sel, tetapi masing-masing memiliki belenggunya sendiri.
“Aku Raden Capang, Gusti Pangeran!” sahut salah satu lelaki di dalam penjara setelah sosoknya tertangkap cahaya api.
“Menteri Kerakyatan,” sebut Pangeran Bugar Jantung.
“Aku Tindik Benik Menteri Perdagangan. Kami bersama Penasihat Banggal Tawe. Kami semua sedang terluka,” kata lelaki lainnya yang adalah Tindik Benik.
“Siapa yang memenjarakan kalian?” tanya Pangeran Bugar Jantung.
“Senopati Gending Suro. Dia yang kini menguasai kendali Istana bersama orang-orangnya,” kata Raden Capang.
Sementara Penasihat Banggal Tawe hanya terdiam. Dia sedang demam karena luka yang dideritanya.
“Aku dibebaskan oleh dua pendekar utusan Gusti Ratu Tua,” kata Pangeran Bugar Jantung. Lalu katanya kepada Debur Angkara, “Debur, bebaskan mereka semua!”
“Baik, Gusti!” pekik Debur Angkara penuh semangat.
Tring! Tring! Telentang!
Dengan gerakan menebas yang kian terlatih dan gesit, Debur Angkara dengan mudahnya membabat teralis sehingga terpotong dan jatuh berdentang di lantai penjara.
Selanjutnya adalah memotongi belenggu-belenggu pada tangan dan kaki ketiga pejabat kerajaan itu.
Ternyata kondisi ketiga pejabat sedang terluka.
“Sepertinya kalian tidak bisa diajak untuk berperang, Penasihat,” kata Pangeran Bugar Jantung.
“Kami dibuat terluka oleh para pendekar piaraan Senopati,” kata Tindik Benik.
“Biar aku bantu, Gusti,” kata Debur Angkara menawarkan jasa papahan kepada Radeng Capang.
“Terima kasih, Pendekar. Kau terlihat gagah, aku bisa menjodohkanmu dengan putriku jika Gusti Ratu memenangkan perang,” kata Raden Capang.
“Terima kasih, Gusti,” ucap Debur Angkara seraya tersenyum lebar. Terbayang di kepalanya seorang gadis cantik berkulit putih bersih dan berpakaian indah penuh emas permata, ciri khas gadis bangsawan.
Terbeliak sepasang mata Ayu Wicara mendengar tawaran Raden Capang. Jelas dia dilanda cemburu, apalagi Debur Angkara justru tersenyum dan berterima kasih.
“Gusti, biar aku bantu,” tawar ayu Wicara kepada Penasihat Banggal Tawe.
“Terima kasih,” ucap lemah lelaki berusia lebis separuh baya itu. Dia pun menerima papahan Ayu Wicara dengan merangkul bahunya.
“Apakah Gusti punya anak lelaki yang masih kutang (bujang)?” tanya Ayu Wicara kepada Penasihat Banggal Tawe.
Terkejutlah Debur Angkara mendengar pertanyaan kekasihnya itu.
“Apa yang kau lakukan, Ayu? Kenapa kau menanyakan anak Gusti yang masih bujang?” hardik Debur Angkara. Dia juga cemburu.
“Jika kau menerima disawahi (ditawari) putri Gusti Menteri, aku juga mau dibawahi (ditawari) putra Gusti Penasihat,” kata Ayu Wicara.
“Oooh, rupanya kalian sepasang kekasih,” ucap Raden Capang. “Aku tarik lagi tawaranku. Hahaha!”
“Hahaha!” tawa Ki Tonjok Gila pula. “Apakah kau perlu aku papah juga, Menteri Tindik?”
“Tidak usah. Aku masih kuat berjalan,” tolaj Tindik Benik.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah tangga yang memiliki dua bua obor penerang di dindingnya.
Namun, ketika mereka melewati satu sel paling ujung yang juga gelap, ternyata dari dalam sel ada juga yang memanggil.
“Siapa di sana?” tanya orang dari dalam sel.
Ketika obor didekatkan, ternyata mereka mendapati keberadaan Komandan Gebuk Sewu yang juga dalam belenggu borgol dan rantai besar. Dia dalam kondisi bugar tanpa luka sedikit pun.
“Komandan Gebuk Sewu!” sebut Raden Capang saat mengenali orang itu.
“Bebaskan aku, anggota Keluarga Kerajaan dalam bahaya, mereka dijaga oleh Pasukan Keamanan Istana yang tunduk kepada Senopati Gending Suro!” seru Komandan Gebuk Sewu.
“Bebaskan!” perintah Pangeran Bugar Jantung.
Maka berkumpullah para pejabat Kerajaan yang menjadi musuh Senopati Gending Suro.
Ternyata mereka berada di penjara paling bawah yang jarang dikunjungi oleh prajurit penjara. Ketika mereka naik ke lantai atas, di sana ada sel-sel penjara yang dihuni oleh-oleh banyak para penjahat kelas teri.
Di sepanjang lorong penjara, hanya ada beberapa obor yang dipasang di dinding lorong, tidak begitu menerangi sel-sel yang sarat tahanan.
Berbeda dengan tahanan penjara lantai bawah, para tahanan di penjara lantai itu tidak ada yang dibelenggu, karena memang mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjebol pintu sel atau memotong teralisnya.
“Gusti Pangeran, jika kita ingin membantu pasukan Gusti Ratu Tua, lebih baik kita bawa pasukan dari dalam penjara,” kata Komandan Gebuk Sewu.
“Pasukan apa maksudmu?” tanya Pangeran Bugar Jantung.
“Di sini ada ditahan Kelompok Lutung Pintar, kelompok pengacau yang dipimpin oleh orang bernama Emak Lutung. Dengan kebebasan dan iming-iming, mereka pasti mau menjadi pasukan kita,” kata Gebuk Sewu yang saat itu ganti memapah Penasihat.
Tap tap tap ...!
Tiba-tiba dari ujung lorong terdengar suara beberapa orang berlari.
“Akk! Ak! Akh!”
Terdengar pula suara jeritan kematian dari ujung lorong.
Suara gaduh yang tercipta di ujung lorong sana membuat rombongan Pangeran Bugar Jantung tegang.
Tiba-tiba muncul siluet beberapa lelaki yang muncul di ujung lorong dengan membawa penerangan dua obor. (RH)