DILARANG SPAM LIKE!!!
Andrean Agustin Farda adalah seorang duda beranak dua yang mengalami kegagalan dalam berumah tangga membuatnya trauma dengan seorang wanita dan hubungan percintaan.
Di sisi lain terdapat dua orang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya karena sang ayah yang terlalu sibuk bekerja dan ibunya yang tak pernah menemui mereka sejak kecil.
Nadia Yeristia adalah seorang gadis desa yang kabur dari desa karena tekanan dari keluarganya. Ia nekat pergi ke kota agar bisa terhindar dari tekanan dan mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Kemudian ia melamar pekerjaan sebagai pengasuh dua anak orang kaya.
Akankah Andre bisa menemukan seseorang yang bisa mencintai dan menerima kedua anaknya dengan tulus? Dan bagaimana kisah pertemuan antara babysitter dengan duda beranak dua tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mall
Hari ini adalah hari minggu yang bertepatan dengan hampir semua orang libur dari aktifitas bekerjanya. Begitu pula dengan Andre yang libur dari semua pekerjaan di kantornya. Hari ini dia akan mengajak ketiga anaknya ke mall untuk membelikan mereka baju dan sepatu terutama Abel yang sama sekali tak mempunyai perlengkapannya sendiri.
Selama hampir seminggu tinggal bersama, Abel memang masih memakai baju dan perlengkapan milik Anara. Tak sendirian, Andre pun mengajak Nadia untuk ikut bersama mereka karena Mama Anisa tengah ada keperluan pergi ke tempat arisan. Sedangkan Papa Reza memilih di rumah saja karena tak suka dengan keramaian.
Tepat jam 10 pagi, mereka berkumpul di depan rumah Andre. Saat dirasa semuanya sudah siap, mereka masuk kedalam mobil dengan Andre yang berada dibalik kemudi sedangkan Nadia berada disampingnya sambil memangku Arnold. Anara dan Abel berada di kursi belakang.
Dalam perjalanan, didalam mobil di penuhi dengan canda tawa dari Anara, Abel, dan Nadia. Sedangkan Arnold dan Andre hanya menampilkan senyum tipis dan wajah coolnya. Melihat Abel dan Anara tertawa lepas begini membuatnya sedikit lega karena anaknya tak terlalu larut dalam kesedihan. Sebisa mungkin ia akan berusaha membuat semua anak-anaknya bahagia.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mobil yang mereka naiki sampai juga di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Semua turun dari mobil dan berjalan masuk ke arah pintu masuk mall dengan Arnold yang berada digendongan Andre sedangkan Nadia menggandeng tangan Anara dan Abel.
"Wah... Besar sekali" kagum Abel.
Mata Abel terlihat berbinar-binar saat memasuki area mall, dia begitu sangat penasaran dengan beberapa toko dan wahana permainan yang ada disana. Andre dan Nadia membiarkannya karena sudah tahu kalau pasti bagi Abel ini adalah pertama kalinya datang ke tempat seperti ini.
"Kak Abel, baru pertama kali ya kesini?" tanya Anara.
Abel menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan perhatiannya kearah wahana permainan. Dia terlihat sangat senang bisa melihat keseruan arena bermain seperti yang ia lihat di TV.
"Emang kak Abel kalau beli baju dimana kalau nggak pernah ke mall?" tanya Anara lagi.
"Nggak pernah beli baju. Semua pakaian kakak dikasih sama maid yang bekerja disana secara diam-diam" ucap Abel lirih.
Mendengar hal itu, membuat kemarahan Andre semakin memuncak pada tingkah Aneta. Padahal setiap bulannya dia selalu mengirimkan uang bulanan untuk keperluan Abel tetapi pada faktanya anaknya tak mendapatkan haknya.
"ungkin olang itu ndak unya uang uat eli aju" gumam Arnold pelan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya sehingga tak ada yang bisa mendengarnya karena suara di mall sangat ramai.
Nadia yang mengerti kalau Andre tengah menahan amarahnya pun dengan lembut mengusap lengan laki-laki itu membuat sang empu menengok kearah gadis itu.
"Jangan tampakkan wajahmu saat marah itu dihadapan anak-anak. Jangan sampai mereka takut melihat wajahmu" bisik Nadia.
Andre pun segera menetralkan wajahnya yang tadi memerah dan menegang menjadi lebih santai saat dia menatap ketiga anaknya. Benar kata Nadia, didepan anak-anaknya dia tak boleh membuat mereka ketakutan.
"Kakak Abel, mulai sekarang kalau mau sesuatu langsung bilang sama papa, kakek, dan nenek ya. Sebisa mungkin mereka akan mengabulkan semua permintaan Abel" ucap Nadia dengan lembut.
Deg...
Saat Nadia mengucapkan atau memanggil dirinya papa, jantung Andre berdetak begitu kencangnya. Ada perasaan asing yang masuk kedalam relung hatinya namun dengan sesegera mungkin dia menepisnya.
Abel yang mendengarkan ucapan Nadia pun menganggukkan kepalanya paham. Sekarang dia mempunyai papa, kakek, nenek, dan saudara-saudara yang akan selalu mendampingi dan memenuhi semua kebutuhannya. Ia tak perlu memikirkan lagi kapan bisa makan enak dan punya baju bagus.
Semuanya pun akhirnya masuk kedalam toko satu persatu sambil membeli baju dan sepatu untuk ketiga anak itu. Ditambah lagi membeli perlengkapan sekolah untuk Anara dan Abel. Andre benar-benar memanjakan ketiga anaknya tanpa memikirkan uangnya yang akan habis atau tidak. Yang terpenting adalah semua kebutuhan anaknya tercukupi.
Setelah membeli semua keperluan ketiga anak kecil itu, mereka memutuskan untuk makan di salah satu restorant yang berada di mall itu. Setelah pesanan diantarkan di meja, mereka makan dengan lahapnya disuapi oleh Nadia dan Andre. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia dan harmonis.
***
Setelah selesai makan, mereka masih duduk disana sambil berbincang dan bercanda dengan ceria. Namun moment itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba saja manusia tak diundang datang disana.
Orang itu adalah Aneta dan Lian, suaminya. Rupanya Aneta telah sembuh bahkan sudah bisa jalan-jalan. Aneta segera saja menarik tubuh Abel yang masih duduk di kursi kemudian disembunyikan dibelakangnya. Melihat hal itu, Andre dan Nadia berdiri didepan Arnold dan Anara yang masih duduk.
"Kesinikan Abel" tekan Andre.
"Abel anakku, jadi aku akan membawanya pulang" seru Aneta.
Melihat perdebatan antara Andre dan Aneta membuat beberapa orang tertarik hingga berkerumun. Ternyata Aneta sengaja menaikkan intonasi suaranya agar menarik perhatian orang.
"Anak katamu? Dia anakku" ucap Andre.
"Kamu nggak boleh egois dong, mas. Abel juga anakku, walaupun kita sudah berpisah kamu tak boleh memisahkanku dengan anak kandungku sendiri. Aku yang melahirkannya" ucap Aneta lirih.
Aneta berakting sedih yang dibuat-buat membuat orang-orang disana tertipu dengan ucapannya. Ucapan Aneta itu membuat semua orang disana iba dan menyalahkan Andre. Melihat hal itu Aneta memperlihatkan senyum kemenangan yang tak dilihat oleh siapapun kecuali satu orang disana yaitu Nadia.
Andre yang melihat suasana tak mendukungnya, membuat ia sedikit gelagapan apalagi Anara dan Armold yang sedari tadi rewel memanggil kakaknya.
"Oh... Anda ibunya Abel? Kalau memang anda ibu kandungnya, kenapa saat Abel dipukuli oleh keluarga suami baru anda, anda diam saja tidak membela. Bahkan lihat saja itu di kaki, tangan, dan punggungnya masih banyak lebam. Oh... Malangnya kau Abel, punya ibu tak punya hati sepertinya. Memang kau cocoknya hanya tinggal dengan keluarga papamu yang penuh kasih sayang. Apa salah kalau papa kandungnya menjauhkan anaknya dari keluarga suami baru mamanya? Anak itu setiap hari disiksa baik secara mental maupun fisiknya" tanya Nadia sambil melihat kearah semua orang disana.
Semua orang disana seketika melihat kearah kaki Abel yang masih terlihat banyak lebam bahkan dipergelangan tangannya juga. Abel juga terlihat menangis dan tertekan berada didekat Aneta dan Lian membuat semua orang memicingkan matanya kearah suami istri itu. Terlebih Abel kini menangis terisak dan memberontak dari cekalan tangan Lian yang mencengkeramnya erat.
Aneta dan Lian menjadi panik sendiri saat semua orang disana menaruh curiga terhadap mereka.