Brayan adalah seorang pemuda yang waktu itu sedang dalam pengaruh minuman beralkohol. Dirinya memasuki kamarnya saat dirinya hendak beristirahat setelah puas berpesta minuman keras bersama teman-temannya.
Didalam kamar itu dia melihat ada seorang gadis yang dia pikir adalah, Syahira ~ kejadiannya yang sudah mengkhianati cintanya. Dalam keadaan mabuk, dia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
Brayan merenggut kesucian gadis itu tanpa disengaja. Dia pikir gadis itu adalah, Syahira dan dia berniat ingin memiliki gadis itu seutuhnya.
Dalam keadaan setengah sadar ternyata, Brayan salah memasuki kamar dan yang lebih parahnya lagi gadis itu bukanlah, Syahira.
Apakah, yang terjadi pada gadis itu setelah, Brayan melakukan semuanya pada dirinya?
Akankah, mereka berubah menjadi saling mencintai setelah apa yang terjadi malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lena Laiha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Masuk Kamar bab 31
Setelah selesai makan bakso, Brayan beranjak dari duduknya dan menghampiri Abang tukang bakso itu!
"Jadi berapa Bang semuanya?" tanya Brayan.
"Sama yang punya Neng Alishka juga, Mas?" tanya Abang itu.
"Iya Bang."
"Semuanya jadi seratus lima puluh ribu, Mas."
"Itu sudah sama pesanan bapak-bapak barusan Bang?" Brayan memastikan Abang tukang bakso itu tidak salah menghitung.
"Iya, Mas."
Brayan tak bertanya lagi, dia mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah dari dalam dompetnya lalu memberikan uang itu kepada Abang itu.
"Ini, Bang! Kembaliannya ambil aja."
"Terimakasih, Mas."
Brayan hanya menanggapi perkataan Abang itu dengan senyuman lalu dia menghampiri Alishka yang masih duduk di tempat semula!
"Al, aku tinggal lagi ya. Kalau ada apa-apa panggil aku aja," ucap Brayan pada Alishka.
"Kamu gak mau gabung bersama kita di sini?" tanya Syifa.
Brayan menatap Syifa lalu menyunggingkan senyuman. "Aku takut menjadi pengganggu. Kalian kan udah lama gak ketemu takutnya nanti ada obrolan yang gak boleh aku tahu."
"Nggak juga. Gak pernah ada rahasia diantara kami," sambung Henny.
"Kalian terusin aja kangen-kangenannya atau mau jalan ke Mall? Nonton atau mungkin berbelanja?"
"Memangnya kamu mau nganterin kita ke Mall?" ucap Milla.
"Dengan senang hati."
"Al, bayi aku lagi pengen apa hari ini? Dia mau makan apa?"
Tiga temannya Alishka menatap Brayan. Mereka begitu kagum pada sosok laki-laki yang kini sedang berada dihadapan mereka.
Mereka tak menyangka bahwa laki-laki yang awalnya mereka anggap berandal dan brengsek itu bisa begitu perhatian dan sayang pada Alishka.
"Gak pengen apa-apa. Tapi aku pengen beli tas," sahut Alishka.
"Tas? Boleh. Ayo kita pergi sekarang!"
Mereka pun langsung bergegas menghampiri mobil Brayan! Dan langsung berangkat ke tempat tujuan.
*******
Dikediaman Melly.
"Mulai sekarang Mama jangan paksa aku untuk mendekati Brayan lagi karena dia sudah menikah dan istrinya sedang hamil dan ya, perusahaan kita gak jadi bangkrut karena sudah mendapatkan suntikan dana dari seseorang," jelas Syahira.
Melly yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya, mengalihkan pandangannya menjadi menatap Syahira.
"Kamu yakin! Mama gak mau hidup susah ya. Siapa yang bersedia bekerjasama dengan perusahaan yang sudah hampir bangkrut itu?" Melly kembali menatap layar ponselnya.
"Bukan urusan Mama. Mulai sekarang aku yang akan memegang perusahaan, Mama diam saja di rumah dan beristirahatlah."
"Syahira, memimpin perusahaan tidaklah mudah. Meski perusahaan kita hanya perusahaan kecil tapi semua itu membutuhkan kerja keras dan sangat menguras tenaga dan pikiran. Kamu cuma anak kemarin yang belum tahu apa-apa."
"Aku akan membuktikannya dalam waktu beberapa bulan. Aku harap Mama tidak meremehkan kemampuanku." Syahira pergi meninggalkan Melly ditempat itu!
"Syahira! Syahira tunggu! Mama belum selesai bicara."
Syahira tak menghiraukan Melly, dia terus berjalan keluar dari rumahnya.
*******
Ditempat perbelanjaan.
Brayan, Alishka dan teman-temannya berjalan bersamaan memasuki sebuah toko tas dan aksesoris wanita. Mereka mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko itu untuk mencari barang yang mereka sukai.
"Barang di sini bagus-bagus ya," ucap Henny.
Milla mengambil satu tas yang disukainya lalu melihat harga tas itu.
Milla terkejut sekaligus tak percaya dengan harga tas kecil itu sampai dia melihat harganya beberapa kali.
"Gila tas sekecil ini harganya mahal banget sampai melebihi gaji aku selama satu bulan," ucap Milla didalam hatinya.
Alishka masih mencari tas yang dia inginkan, dia terus mengelilingi toko itu.
"Ada yang kamu suka?" tanya Brayan yang dari tadi hanya mengikuti Alishka dari belakang.
"Belum, aku masih mencari," sahut Alishka.
"Buset deh. Ini harga tas atau sepeda motor?"
Semua orang yang ada di toko itu menatap ke arah Henny yang berucap dengan begitu kerasnya.
"Ish! Kamu kalau bicara jangan kencang-kencang. Lihat tuh diliatin orang," bisik Syifa pada Henny.
"Maaf, keceplosan," sahut Henny kembali berbisik pada Syifa.
"Yang itu bagus," ucap Alishka.
Brayan mengambil tas yang dimaksud oleh Alishka!
"Yang ini?" Brayan memperlihatkan tas itu pada Alishka.
"Iya. Kok gak ada harganya?"
"Kalau kamu suka beli aja gak usah mikirin harganya."
"Ya udah deh, aku mau yang ini aja."
Alishka dan Brayan segera menghampiri temannya!
"Ada yang cocok gak?" tanya Brayan.
"Yang cocok banyak cuma harganya yang gak cocok," ucap Henny.
Brayan menatap Alishka. "Boleh aku belikan untuk mereka juga?"
"Terserah kamu. Uang-uang kamu bukan uang aku," ucap Alishka.
"Kan aku harus izin dulu sama kamu takutnya nanti kamu berpikir yang tidak-tidak tentangku. Aku sudah jelek dimata kamu dan aku tidak mau menambah kejelekan itu."
"Belikan saja kalau ada uangnya."
Brayan tersenyum lebar, ingin sekali dia mengecup kening Alishka namun dia tidak berani karena takut istrinya itu marah padanya.
"Kalian boleh beli yang kalian suka biar aku yang bayarin ya," ucap Brayan pada tiga gadis teman istrinya itu.
"Serius?" Milla menatap Brayan dengan matanya yang tak berkedip.
"Gak usah segitunya juga kali liatinnya. Nanti suka lagi," ucap Henny.
"Ish, apa sih kamu. Gak mungkin lah, dia kan milik Alishka."
"Serius. Anggap saja ini untuk merayakan pernikahan aku dan Alishka sekaligus untuk menyambut bayiku yang sedang dalam kandungan Alishka," ucap Brayan.
Alishka hanya diam sambil memegangi tas yang dia tidak tahu harganya berapa.
"Tapi barang di sini harganya gak ada yang murah loh," ucap Syifa.
"Gak apa-apa. Dompetku siap kosong untuk kalian, selama harganya gak seharga mobil mungkin aku masih bisa bayar."
"Ini tiga juta. Boleh?" Milla meraih tas yang tadi dia sukai dan memperlihatkannya pada Brayan.
"Ambil saja. Asal jangan tiap bulan aja kalian minta di belanjain." Brayan tertawa kecil sambil menatap Milla.
"Kalau gitu aku mau yang ini yang harganya sama dengan punya Milla," ucap Henny.
"Kamu yang mana?" tanya Alishka pada Syifa.
Syifa tersenyum tipis lalu berkata. "Nggak deh, nanti kebanyakan belanjanya."
"Gak apa-apa, ambil aja."
"Iya, tadi kan aku udah bilang gak apa-apa," sambung Brayan.
Bersambung