Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haikal Mecum
Kaina terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Haikal. Ia merasa terkejut dengan suara tegas sang suami yang seolah tengah memberi batasan, jika tidak ada istri lagi selain dirinya.
Andai, tuan muda mencintaiku. Mungkin rasanya akan sangat bahagia. Bahkan sekarang saja hatiku terasa menghangat, mendengar ucapannya. Batin Kaina sambil tersenyum tipis.
Ia berjalan keluar dari rumah bersama Haikal, sembari bergandengan tangan. Wajahnya merona karena ia merasa dicintai oleh pria tampan itu.
Memang, makin ke sini tuan muda semakin bersikap lebih baik kepadaku dan juga mesum. Dia sudah jarang membentak, walaupun nada bicaranya masih belum melunak. Batin Kaina menatap punggung sang suami.
Hingga mereka masuk ke dalam mobil. Haikal mulai menghidupkan mesinnya. Namun tiba-tiba ia terkejut, ketika mendapatkan sebuah kecupan dari Kaina.
Telinganya langsung terlihat memerah karena inisiatif yang sudah lama ia tunggu dari sang istri.
Ia menoleh dan menatap Kaina yang sedang tersenyum manis.
Tanpa sadar ia juga ikut tersenyum dan mengusap kepala Kaina dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Kaina dengan suara lembutnya.
Hati Haikal serasa dihujani ribuan bunga dan angin segar. Pipinya mulai terlihat merona karena perlakuan Kaina yang tidak dibuat-buat.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Haikal mengusap Pipi Kaina.
"Kamu sudah membela aku di depan ibumu. Aku merasa senang!" ucap Kaina tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Sudah seharusnya aku membela istri. Sekarang, tinggal kamu yang harus berbuat seperti apa agar bisa memantaskan diri," ucap Haikal tersenyum.
Kaina mengangguk. Ia tahu, jika pintar saja tidak cukup, tapi ia harus berpandai-pandai juga.
Pria tampan itu merasa gemas dengan tingkah Kaina. Andai kalau mereka saling menyatakan cinta, mungkin hal ini akan terasa begitu membahagiakan.
Tidak ada lagi kata canggung dan juga paksaan. Semuanya mengalir dengan begitu natural tanpa dibuat-buat.
Haikal menjalankan mobil keluar dari halaman rumah mewah itu. Ia menggenggam tangan Kaina dan mengecupnya sesekali.
"Kita ke supermarket dulu, ya. Aku sudah laapar banget!" ucap Haikal.
"Hmm, aku mau belanja ke pasar saja, apa boleh? Soalnya, ada beberapa bahan yang mau aku beli tapi tidak ada di supermarket," ucap Kaina lirih.
"Pasar? Becek di sana, kotor juga. Di supermarket gak mungkin ga ada, semuanya sudah tersedia!" ucap Haikal.
"Kalau tidak ada bagaimana?" tanya Kaina.
Haikal menghela nafas. "Baru kita ke pasar," ucapnya.
Kaina bertepuk tangan dengan senang. Padahal sebenarnya ia ingin melihat apakah Haikal berani masuk ke dalam pasar atau tidak.
Hingga pria tampan itu memberhentikan mobilnya di dalam satu pusat perbelanjaan. Mereka hanya menggunakan pakaian rumah yang sangat sederhana, namun semua itu barang-barang bermerek ternama.
Menggunakan masker dan juga topi, mereka berjalan bergandengan tangan seperti pasangan anak muda yang lain. Haikal mengambil sebuah troli dan mendorongnya tanpa rasa malu.
Kaina sibuk memilih beberapa bahan yang seingatnya tidak ada di dalam kulkas. Sementara Haikal juga sibuk mengambil cemilan yang memasukkannya ke dalam troli.
"Eh," Kaina terkejut melihat kereta dorong itu terlihat sudah hampir penuh karena cemilan Haikal.
"Hehe, biar gak sepi kalau lagi nonton," ucap Haikal menggaruk tengkuknya.
Kaina tersenyum dibalik masker yang ia kenakan. "Jangan cemilan semua, Sayang. Gak bagus untuk kesehatan!" ucap Kaina.
Haikal hanya tersenyum malu mendengar apa yang diucapkan oleh Kaina. Sebentar, ia terdiam dan merasa aneh. Kenapa dia begitu manis berhadapan dengan gadis ini.
Mereka lanjut membeli beberapa keperluan lain yang tidak ada di apartemen.
Ada perasaan yang menghangatkan hati Kaina. Ia merasa menjadi seorang istri yang sesungguhnya kali ini. Berbelanja, ditemani oleh suami.
Tuhan, bolehkah aku berharap? Semoga suatu hari nanti, kami memang benar-benar menjalani rumah tangga tanpa paksaan. Aku sangat berharap itu bisa terjadi walaupun hanya sebentar. Batin Kaina.
Ia melihat Haikal membeli beberapa daging dan juga ikan.
"Sayang?" panggil Kaina. "Kenapa membeli daging sebanyak itu?".
"Kita akan menginap beberapa hari di Apartemen. Biar gak belanja terus-terusan," ucap Haikal.
Kaina mengangguk, kemarin bahan masak untuk seminggu saja sudah habis dalam beberapa hari.
Setelah selesai berbelanja, mereka segera kembali ke apartemen dan melupakan misi Kaina untuk mengajak Haikal ke pasar tradisional.
Haikal terlihat kesulitan untuk mengangkat semua barang belanjaan. Sebab, tidak ada yang boleh membantunya kali ini. Ia ingin mendapatkan pujian dan kecupan lagi dari Kaina.
"Huh, akhirnya sampai!" ucap Haikal duduk di atas sofa setelah meletakkan barang belanjaan di dapur.
Kaina tersenyum dan mengambilkan Haikal minuman dingin yang ada di dalam kulkas.
"Minum dulu, Sayang!" ucap Kaina tersenyum.
Haikal menarik gadis itu agar duduk diatas pangkuannya. Ia tersenyum tipis dengan apa yang baru saja terlintas dikepalanya.
"Aku mau minta bayaran!" ucap Haikal menahan pinggang Kaina yang hendak berdiri.
"Bayaran? Ih, kan tadi kamu yang mengajak, masa minta bayaran!" rengek Kaina yang ingin lepas dari pelukan sang suami.
Sebab, ia duduk tepat di atas adik kecil yang mulai terasa berdenyut.
Haikal tersenyum manis, ia menarik tengkuk Kaina dan mengecupnya dengan sangat berhasrat. Sungguh, ia tidak bisa menahan diri untuk menyentuh gadis kecil ini.
Kaina hanya melotot, namun sekarang ia mulai menikmati dan membalas ciuman Haikal, bahkan tanpa sadar ia meremas dan juga menekan tengkuk pria tampan itu agar memperdalam peraduan mereka.
Hingga ia tersadar ketika sesuatu yang ia duduki mulai terasa mengeras. Ia segera melepaskan pagutannya dan menatap Haikal dengan nafas yang terengah.
Kaina berusaha untuk turun dari pangkuan Haikal, sehingga menimbulkan gesekan yang membuat pria tampan itu mendesaah.
Kaina terkejut dan terdiam menatap wajah Haikal yang terlihat seperti ingin mencabik-cabik dirinya.
"Sayang, tadi sudah, 'kan. Besok lagi, ya! Aku lapar," rengek Kaina memohon.
"Terus adikku bagaimana?" tanya Haikal berpura-pura cemberut.
"Gak bisa di suruh tidur lagi?" ucap Kaina lirih.
Haikal menggeleng dan melepas pelukannya. "Pergilah!".
Kaina segera berdiri dan berlalu dari sana. Ia segera pergi ke dapur sembari mengatur nafas yang terasa menderu.
Ia menyusun semua bahan sambil memisahkan bahan yang akan ia masak nanti. Haikal mengekori setiap langkahnya. Ia merasa risih karena tonjolan besar itu masih terlihat menyembul keluar.
"Masak apa, Sayang? ucap Haikal memeluk Kaina yang tengah membersihkan daging.
"Ma-masak yang cepat aja. Hmm, Sayang, bisa lepaskan dulu? Aku kesulitan untuk bergerak," ucap Kaina merasa tidak nyaman karena Haikal begitu menempel kepadanya.
"Hmm, aku ingin memelukmu!" ucap Haikal sambil mengecup pundak Kaina.
Kaina hanya bisa pasrah, sebab semakin dilarang, tuan muda ini akan semakin menjadi. Ia memasak dengan sedikit kesulitan karena Haikal yang selalu mengganggunya.
Kaina mulai merasa panas dingin ketika Haikal mulai mengusap perutnya yang masih rata. Apalagi tonjolan itu masih mengeras dan bergesekan ketika ia bergerak.
Haikal mematikan kompor dan membalikkan tubuh Kaina. Ia mengecup bibir mungil sang istri dengan sangat menuntut.
Kaina juga sudah tidak bisa menahan diri karena sentuhan Haikal yang bisa membangkitkan gairaahnya dengan begitu mudah.
"Sa-sayang!" ucap Kaina berusaha untuk menghentikan pergerakan Haikal.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia membalikkan Kaina dan langsung menyerang gadis itu dari belakang.
Mereka melakukannya lagi dengan suasana baru yang terasa lebih menantang. Kaina kembali terbuai dengan sentuhan Haikal yang begitu memabukkan.
"Akh!" lenguhan Haikal terdengar ketika ia kembali menumpahkan benih cintanya di dalam rahim Kaina.
Ia langsung memegang Kaina karena gadis itu langsung terkulai lemas. Haikal menggendongnya dan membaringkan Kaina di atas sofa.
"Istirahat sebentar, biar aku yang memasak!" ucap Haikal kembali mengecup bibir Kaina.
Tak lupa ia juga menyelimuti sangat istri. Kaina hanya mengangguk, ia mulai merasa kelelahan. Padahal, hanya sebentar saja mereka bermain namun Kaina sudah merasa lemas kali ini.
Ah, tuan muda ini kenapa begitu mesum? Semakin ke sini, dia semakin kuat mengerjaiku! Kalau seperti ini terus, aku akan lebih sering keluar masuk rumah sakit karena kelelahan!. Batin Kaina memikirkan nasibnya.
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya